MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 55 : T e r h a r u


__ADS_3

Rani kini bersiap akan masuk ke dalam ruangan dokter karena sudah saatnya dirinya dipanggil, sedangkan Tama masih saja meringis kesakitan di sampingnya setelah perban jahitannya diganti.


Untung saja tak ada masalah serius di organ lainnya membuat Rani merasa lega, "Mau nangis di rumah sakit?" goda Rani membuat Tama berhenti yang tengah meniup-niup luka di tangannya.


"Sakit banget, perasaan pas nggak ada kamu nggak sesakit ini. Butuh perhatian deh ini kayaknya," ucap Tama mengerucutkan mulutnya khas kalau pria itu tengah mencari perhatian Rani.


"Jangan lebay, ini bentar lagi giliran aku," ucap Rani menunjuk ruangan dokter yang telah terbuka.


"Ibu Rani," panggil salah seorang perawat.


Tama langsung bangkit mendahului Rani, entah kemana perginya Tama yang beberapa detik lalu terlihat seperti anak-anak, sekarang pria itu seperti Bapak siaga yang siap melewati apapun demi keluarganya.


Kini pria itu dengan sigap menuntun Rani, "Ayo hati-hati," ucap Tama.


"Tama, aku bisa jalan sendiri ya. Jangan terlalu berlebihan gini."


"Aku kan suami siaga sayang," ucap Tama enteng membuat Rani merasa malu karena beberapa orang menatap ke arahnya, termasuk perawat yang sudah berdiri di pintu sejak tadi ikut tertawa melihat hal tersebut.


"Silahkan masuk Bu Rani," ujar perawat tersebut mempersilahkan.


"Terima kasih," ucap Rani dengan ramah.


Begitu Rani masuk ia tampak terasa tenang dengan nuansa serba putih ruangan tersebut, terlebih seorang dokter berhijab menyambutnya dengan ramah.


"Halo Bu Rani, dan Bapak siapa?" tanya dokter tersebut tersenyum hangat membuat Rani semakin rileks.


Tama tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi, dirinya terlihat lebih antusias ketimbang Rani, "Saya Tama Bu Dokter."


"Silahkan duduk ya," ujar Dokter tersebut mempersilahkan mereka.

__ADS_1


Kemudian dokter tersebut mengecek sesuatu di komputernya sebelum menanyakannya pada Rani, "Bu Rani, sudah berapa minggu kandungannya?"


Rani mengelus lembut perutnya, "Kurang lebih tiga minggu Bu."


"Ini baru pertama kali periksa ya?" tanya Dokter tersebut kemudian masih dengan fokus pada layar komputernya.


"Sebenarnya dua kali Bu, tapi sebelumnya di kampung. Sedangkan di Jakarta baru kali ini saya periksa kandungan lagi," jelas Rani membuat Tama ingin turut memberikan tanggapannya.


"Saya ajak periksa kandungan nggak mau terus Rani nya Bu," ucap Tama yang direspon tawa kecil oleh Dokter di hadapan mereka.


"Nggak masalah Pak, sebenarnya tak terlalu sering kontrol. Hanya saja jika memang Ibu merasa tak ada masalah. Namun jika ada hal yang mengganjal boleh untuk diperiksakan," tutur Dokter tersebut.


"Iya, Bu. Alhamdulillah nggak ada masalah apapun, cuman minggu pertama sedikit mual-mual, emosi juga nggak stabil. Tapi makin kesini aman-aman saja," jelas Rani.


"Syukurlah, gimana kalau kita periksa dulu ya Bu?" Dokter tersebut menunjuk salah satu tempat tidur pasien telah lengkap dengan alat medis dan satu layar monitor di sampingnya yang Rani yakin itu alat untuk USG.


Rani kemudian mengekori perempuan berhijab tersebut, begitupula dengan Tama dibelakangnya membuat Rani heran, "Kamu mau ngapain?"


"Nggak usah ih, aku nanti buka baju lho," ujar Rani menghentikan Tama.


"Ya terus?" tanya Tama bingung.


"Jangan Tama, duduk di situ aja," tunjuk Rani pada tempat duduk mereka sebelumnya.


Dokter tersebut tertawa mendengar keduanya, "Nggak masalah Bu, kalau Bapak ingin melihat janinnya."


"Tuh kan, lagian aku suami kamu. Buka baju juga nggak masalah," kata Tama mendahului Rani begitu saja.


Meski kesal namun Rani menahannya terlebih ada orang lain di sana, nggak lucu juga kalau mereka berdebat. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang pasien tersebut, dengan Tama yang setia di sampingnya.

__ADS_1


Dokter menyiapkan alat yang akan digunakan membuat Rani sedikit gugup akan melihat anaknya, ia meraih tangan Tama yang berdiri tepat disampingnya, membuat Tama melihat ke arahnya.


Tama yang menyadari kegugupan Rani, meremas pelan tangan istrinya, "Tenang ya, nggak apa-apa. Anak kita pasti seneng kita jenguk dia."


Rani merasa lebih baik melihat senyuman pria itu, ia mengangguk coba menenangkan dirinya.


"Maaf ya Bu, boleh disingkap sedikit bajunya," ucap Dokter dengan alat di tangannya siap memeriksa perut Rani yang masih jauh dari kata buncit.


Rani menyingkap kain yang menutupi perutnya, kemudian dokter dengan perlahan menggerak-gerakkan alat tersebut.


Mereka mengamati gambar yang terlihat di monitor, "Usia kandungannya sudah tiga minggu ya, masih sangat kecil. Ukurannya kira-kira 0,0048 mm, namun kandungan Ibu saat ini tampak sangat sehat."


Rani merasa lega mendengar hal tersebut, namun rasanya sekarang ia tak sabar ingin melihat anaknya nanti. Rani menoleh ke arah Tama, ia penasaran dengan reaksi suaminya itu, dan ternyata Tama telah meneteskan air mata membuat Rani terharu.


"Tama?" panggilnya lembut.


Tama mengusap air matanya, "Anak kita Ran."


Rani mengangguk, turut larut dalam momen tersebut membuatnya ingin meneteskan air mata.


"Kamu lihat anak pinter, Ibu dan Bapak kamu terharu bahagia. Nggak sabar ingin menyambut kamu," ujar Dokter tersebut membuat Rani dan Tama tertawa.


Hati Tama menghangat, ia begitu bersyukur menyaksikan hal tersebut. Tentunya Tama tak menyangka ia sebentar lagi akan memiliki seorang anak. Ia kecup Rani lembut meski hal itu membuat perempuan itu terkejut dengan perlakuan tak terduga Tama.


"Rani, makasih ya, mau jadi istri dan sebentar lagi jadi Ibu dari anak aku."


Tama mengecup tangan Rani yang sedari tadi ia genggam.


"Makasih ya, Rani."

__ADS_1


Tama menangis semakin sesegukan membuat Rani menahan tawa melihatnya.


[]


__ADS_2