
Ternyata firasat khawatir yang sedari tadi menggelayuti Rani, bukan tanpa alasan.
Saat ini Rani berada di tengah-tengah antara Tama dan Rego.
"Jadi maksud lo mereka bakal lolos gitu aja?"
Tama tak lagi tenang seperti biasanya, pria itu kembali terlihat serius dengan tangan mengepal di atas meja.
Untung saja pengunjung cafe tak begitu ramai.
Rego menghela napas, ia terlihat sama kesalnya, namun tak ada yang dapat pria itu lakukan.
"Sorry banget Tama, gue nggak bisa berbuat apa-apa, semua diambil alih atasan gue."
Rani hanya bisa diam, ia bergerak-gerak gelisah, apa tetap tinggal di Jakarta hidup nya akan tetap aman?
"Rego, apa termasuk Waren akan dibebaskan begitu saja?"
Rego menggeleng cepat, "Kalau Waren, memang apa yang dia lakuin fatal. Bener dugaan gue, dia memperjual belikan obat itu di market place, untungnya memang tanpa sepengetahuan keluarganya. Tapi bokap dia murka banget tahu hal ini, sampai Waren malah disuruh masukin ke penjara."
Rani menghela napas lega, setidaknya salah satu kepala dari terjadinya semuanya penyerangan padanya dan Tama berkurang.
"Trus gue harus gimana Go? Gue nggak mungkin bisa tidur tenang. Kalau Rafi kembali nyulik Rani gimana?!"
Tama masih kalut, meski begitu Rani dapat melihat gurat kekhawatiran di wajahnya.
Rani mengulurkan tangannya untuk menenangkan suaminya itu.
"Tama udah, jangan terlalu terbawa emosi," ucap Rani lembut.
"Rani, tapi aku takut. Aku takut Rafi bakal bawa kamu pergi lagi," ujar Tama dengan sorot mata yang kalut.
"Tama lo tenang, semua itu terjadi karena salah paham. Rafi kira lo yang brengsek, tapi semua itu terjadi karena ulah Waren kan?"
Rego memberikan penjelasan berharap Tama tak terlalu memikirkan hal tersebut.
Tama memutus tatapannya dari Rani, lalu berpindah pada Tama, "Tapi itu semua nggak lantas bikin Rafi akan berhenti kan?"
"Gue juga nggak percaya awalnya, tapi Rafi janji nggak akan gangguin kalian lagi. Terutama Rani," kata Rego membuat Rani kembali membuka telinganya lebar-lebar.
"Maksud kamu Rafi udah janji?"
__ADS_1
Rani tak dapat menahan rasa penasarannya.
Penjelasan Rego sempat terhenti karena Retno meletakkan segelas americano, "Sorry ya, Ran. Ni orang bakal ngomel-ngomel kalo pesanannya nggak gue anter."
Rego memasang wajah kecut, "Lagian ya, ni cewek sewot banget setiap gue kesini."
"Yakan gue kudu waspada siapa tahu lo juga jahat sama mereka berdua," tunjuk Retno pada Tama dan Rani yang ternyata tersenyum geli menyaksikan perdebatan keduanya.
"Udah ah, hussss sana kita lagi bahas hal penting!"
Rego mengusir Retno, yang dibalas dengan delikan perempuan itu.
"Terus kelanjutannya?" Tama tak sabaran.
Rego menyesap terlebih dahulu minumannya, "Ya gitu, waktu ketemu kemaren sebelum bebas dia janji sama gue. Semua ini udah selesai, dia janji nggak akan ganggu kalian lagi. Dan kalau boleh ..... " Rego menatap sekelilingnya, "Dia mau ketemu sama kalian berdua sekarang, tuh anaknya nunggu di mobil."
Sontak Tama dan Rani mengikuti arah telunjuk Rego, benar saja mobil yang semingguan ini tak Rani lihat telah terparkir di depan cafe.
Tama meraih tangan Rani, membuat Rani menatapnya.
"Rego, apa nggak masalah kalau Rani ketemu dia? kamu nggak apa-apa sayang? kalau kamu nggak siap, kita bisa suruh dia pergi."
Tama kini beralih pada Rani, meminta persetujuan, apakah Rani akan baik-baik saja.
"Tapi Go-"
"Tama, aku nggak apa-apa. Kalau memang Rafi udah tahu semuanya, seharusnya dia juga nggak akan berbuat semena-mena sama kita lagi. Terutama sama kamu," kata Rani berusaha tenang, meski ada sedikit kegugupan saat dirinya mengatakan hal tersebut.
Tak jauh dari tempat mereka, Rafi terlihat mulai memasuki cafe.
Hanya berjarak beberapa meter saja, pandangan Rafi langsung jatuh pada Rani.
Ada sekelabat kengerian yang Rani ingat malam itu, bagaimana Rafi yang marah besar menamparnya berkali-kali.
Refleks tangan Rani meremas lebih kuat pada tangan Tama membuat pria itu menatapnya khawatir.
"Rani, kamu yakin?"
Semua hal buruk yang pernah Rani alami, dapat terselesaikan dengan baik sejauh ini meski butuh proses panjang. Dan Rani tak ingin menyerah dengan satu masalah ini, lantas ia mengangguk.
Meski melihat jawaban Rani, Tama tetap gusar, terlebih wajah Rani yang terlihat pucat, "Go, gimana ini? Beneran aman?"
__ADS_1
Rego tak menjawab, ia lantas bangkit mendekat pada Rafi yang hampir saja di hadang oleh Retno.
Rafi tak terlihat seperti biasanya, rambutnya yang terlihat mulai memanjang acak-acakan, begitu pula dengan kumis yang mulai tumbuh ia biarkan begitu saja.
Tama semakin merapatkan dirinya pada Rani, seakan siaga dengan apapun yang akan terjadi nantinya.
Semakin dekat jarak Rafi melangkah, semakin menunduk pula Rani.
"Tama, Rani," terdengar suara ragu-ragu menyapa.
Rani masih gak berani mendongak, sedangkan Tama mulai memasang wajah tak suka.
"Lo mau menyombongkan diri lagi di hadapan gue, yang jelas-jelas nggak akan bisa kalah dari lo? lo seneng kan masih bisa berkeliaran setelah melakukan hal jahat pada orang lain?!"
Tama tak repot-repot menyembunyikan ketidaksukaannya pada kehadiran pria tersebut.
"Tenang Tama," ucap Rego mengingatkan.
Rafi menarik kursi tepat di hadapan Tama, "Bro, sorry. Gue emang goblok banget, gue kemakan omongan yang lain. Gue nggak pernah ngira kalau semua itu ulah Waren. Dan ya, gue terlalu buta dengan kemarahan sampai, ya melakukan hal bodoh itu."
Tama menatap Rafi penuh selidik, apakah masih ada kebohongan di sana.
"Gue nggak percaya. Terakhir kali lo bilang kalau akan mengikhlaskan Rani, tapi buktinya masih aja ngarepin bini gue!"
Rafi mengacak rambutnya sendiri, "Itu tololnya gue, terlalu cepat kemakan omongan orang lain. Tama, gue sekarang bener-bener nyesel. Rani, aku minta maaf."
Saat memanggil nama Rani, suara Rafi terdengar bergetar.
"Aku janji, aku janji nggak akan gangguin kamu lagi."
Rani memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, meski ia bukanlah pembaca ekspresi yang handal namun Rani dapat melihat keseriusan Rafi.
Genggaman Tama di tangan Rani semakin menguat, "Gimana gue bisa percaya sama lo?! Apa jaminannya? lo bisa aja nanti gangguin Rani lagi! Lo tahu? kami harus kehilangan anak kami gara-gara ulah lo!"
Rafi tercekat, "Gue,gue minta maaf. Rani maafin aku. Kalau emang nanti gue ngelakuin hal buruk sama Rani, gue sendiri yang akan menyerahkan diri. Gue udah ngomongin hal ini sama Rego, gue janji. Bahkan gue nggak akan mau di tolongin bokap gue lagi. Jadi tolong maafin gue Tama, Rani," ujar Rafi panjang lebar, "Kalian juga nggak perlu khawatir, gue akan ambil S2 ke Ausie, jadi ya, gue akan pergi jauh."
Mendengar kalimat terakhir yang Rafi katakan, membuat Rani akhirnya dapat bernapas dengan lega. Sedari tadi ternyata dirinya menahan napas.
Begitupun dengan Tama, urat wajahnya yang tegang terlihat mengendur.
"Clear ya, jadi semuanya udah selesai. Rafi udah mengakui kesalahannya, semuanya terserah kalian. Mau memaafkan, atau sebaliknya," simpul Rego akhirnya.
__ADS_1
Tama dan Rani saling berpandangan, apakah akhirnya mereka dapat tenang sekarang? Jika iya, semoga memang ini awal yang baik untuk mereka berdua.
[]