MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 2 : R a f i


__ADS_3

Rafi pemuda yang genap berusia 29 tahun saat ini tak pernah menyangkan akan bertemu


dengan Rani, gadis cantik serta baik hatinya. Teduh sekali rasanya setiap kali


Rafi menatap Rani, ia jatuh cinta dengan kesederhanaan Rani. Tak hanya itu Rani


perempuan yang pantang menyerah dengan hidup membuat Rafi semakin ingin


melindungi kekasihnya itu.


Sebelumnya kisah cintanya tak pernah berjalan mulus, kali terakhir ia memutuskan untuk ke


jenjang yang lebih serius pacarnya selingkuh, dan lebih memilih pria lain.


Tak mudah bagi Rafi, ia butuh waktu lama hingga akhirnya membuka hati kembali, namun


siapa sangka ia jatuh hati pada seseorang yang secara tak sengaja bertemu di


jalan raya.


Aneh sekali bukan? Bahkan hingga saat ini Rafi masih geleng-geleng kepala mengingat


bagaimana ia secara tak sengaja menabrak angkot yang saat itu tengah berhenti


menurunkan penumpang, salah satunya Rani.


Perjalanannya menuju tempat kerja memakan waktu sekitar 45 menit, lembur dihari sebelumnya


membuat Rafi bangun kesiangan.


Jakarta kota yang sangat semrawut di pagi hari, tak hanya Rafi tampaknya semua orang ingin segera tiba di tujuannya


masing-masing, keadaan perut yang kosong membuatnya semakin tak fokus terlebih akan


ada rapat penting dengan client dikantor membuat Rafi semakin gugup.


Tak sadar dengan lampu send angkot yang menyala


tanda akan berhenti ke sisi kiri jalan, Rafi menaikkan kecepatannya dan bruk menabrak angkot yang berhenti detik itu juga, sepeda motor yang ditungganginya ambruk seketika.


Keadaan jalan raya yang sudah macet semakin parah, orang-orang berkerumunan untuk


melihat apa yang tengah terjadi.


Tak ingin memperparah kemacetan Rafi segera bangkit mengangkat motornya, namun sayang


ternyata tak semudah itu karena kakinya sebelah kiri terasa ngilu yang baru


ia sadari tertimpa sepeda motor.


Beberapa pemuda mendekat membantu untuk memindahkan sepeda motor Rafi ketepi jalan, tak


ada kerusakan yang parah sehingga Rafi hanya perlu minta maaf pada supir angkot


dan penumpang di dalamnya.


Orang-orang yang sempat berhenti mulai membubarkan diri untuk melanjutkan tujuannya


masing-masing.


Rafi mulai mengecek keadaan sepeda motornya, saat itulah Rani datang dengan mengulurkan


air mineral.


“Minum dulu Mas,” katanya sedikit terlihat canggung.


Terkejut kemudian Rafi dengan segera mengambil air mineral itu, “Terima kasih,


ya.”


Tak langsung meneguknya Rafi lanjut mengecek motornya dengan teliti sebelum nantinya kembali


mengendarai agar aman.


“Ada yang luka?”


Rafi kembali terkejut saat perempuan itu telah berdiri di sampingnya, bahkan ia


turut merunduk untuk melihat keadaan motor Rafi.


“Eh, enggak. Alhamdulillah aman,” tuturnya dengan sedikit memberikan senyum kikuk.


“Mau aku bantu bawa ke bengkel motornya?” tanya perempuan itu lagi.


Rafi tertegun, masih ada ternyata orang yang sebaik ini padahal mereka sama sekali


tak mengenal satu sama lain.

__ADS_1


“Mas?”


tanyanya lagi, karena Rafi tak kunjung memberikan jawaban.


Bukan apa-apa masalahnya posisi mereka yang semakin dekat membuat Rafi dapat melihat


dengan jelas wajah perempuan itu cantik, pikirnya.


“Mas?” tanyanya lagi.


“Eh, iya. Terima kasih ya, sebelumnya. Tapi saya sudah kesiangan mungkin nanti saja


pulang kerja baru ke bengkel,” jelasnya panjang lebar.


Rani mengangguk, “Yasudah kalau begitu, saya duluan Mas.”


Entah apa yang Rafi pikirkan ia dengan cepat menahan Rani, “Mbak, maaf kalau boleh saya


mau minta kontaknya?”


Tak langsung menjawab perempuan dihadapannya terkejut dengan permintaan Rafi yang tiba-tiba,


sebelum salah paham ia memberikan penjelasan.


“Eh saya nggak maksud apa-apa. Mungkin Mbak mau nemenin saya kebengkel nanti, tapi kalau


nggak berkenan nggak masalah.”


Namun diluar dugaannya perempuan itu hanya tersenyum dan mengangguk, “Boleh, kalau emang


Masnya butuh bantuan saya.”


Rafi dengan segera mengeluarkan ponselnya dari saku dan mengetikkan nomor ponsel yang


disebutkan Rani.


Bermula dari insiden tersebutlah akhirnya hubungan mereka berlanjut hingga saat ini, dua


tahun sudah.


Meskipun bukan waktu yang sebentar namun rasanya baru kemaren ia bertemu dengan Rani.


Mulanya ia cukup terkejut dengan cerita hidup yang telah Rani lalui, namun


sekarang dirinya merasa sangat bangga pada perempuan itu.


sangat baik, memang latar belakang pendidikan tak melulu menjamin karakter


seseorang, tak hanya itu kekasihnya dapat dikatakan perempuan yang cerdas.


Rani tahu apa yang harus dirinya lakukan meskipun sedikit lugu dan polos namun ia sangat


dewasa. Belum lagi Rani harus bertanggung jawab dengan keluarganya, terkadang


Rafi masih tak habis pikir dengan kerja keras Rani yang tak mengenal lelah,


sangat berbanding terbalik dengan tubuh mungilnya yang apabila Rafi melihatnya


rasanya ia ingin selalu melindungi dan membantu menanggung beban kekasihnya


itu.


Hal ini juga yang kemudian membuat Rafi yakin untuk mengajak Rani ke jenjang yang lebih


seriuas lagi, ia ingin Rani menjadi istrinya.


Namun Rafi dapat melihat keraguan pada diri Rani saat Rafi menyatakan niatnya, ia


tentunya tak akan memaksa.


Rafi sudah mempersiapkan diri dengan apapun jawaban yang diberikan Rani, ia tak


ingin lebih membebani Rani dengan keinginannya itu.


Seperti saat ini di dalam mobilnya masih hening ta ada yang memulai percakapan sejak Rani masuk lima menit lalu, ia menjemput Rani untuk datang ke acara salah satu teman SMA yang akan diadakan di


puncak Bogor.


Menatap perempuan yang saat ini tepat di sampingnya tengah bersandar di kursi


penumpang terlihat sedikit lesu, “Hari ini kamu capek banget ya?”


Rani mengangguk, “Iya, Mbak Lulu lagi banyak orderan. Aku sekarang juga lagi bantu


bikin model baju baru,” jelasnya.


“Wah, keren banget kamu!”

__ADS_1


Rani tersenyum mengangguk, “Alhamdulillah.”


Rafi menepuk puncak kepala kekasihnya perlahan, “Kalau kamu capek, aku nggak masalah


kok pergi sendiri,” ujarnya kemudian.


Perempuan dengan bola mata coklat itu menggeleng, “Aku nggak apa-apa kok, lagian aku mau mulai


kenal juga sama teman kamu. Oh, iya yang kamu tanya kemaren,”


“Kalau kamu belum bisa jawab sekarang nggak apa-apa Rani, kamu boleh jawab kapan aja,”


tutur Rafi dengan cepat sebelum Rani menyelesaikan kalimatnya.


“Enggak Raf, aku mau,” katanya cepat.


Rafi sangat terkejut, ia memastikan sekali lagi apa yang dirinya dengar barusan, “Rani,


kamu bilang apa?”


Menatap Rafi, “Aku mau jadi istri kamu. Aku nggak mau bikin kamu kepikiran terus, lagi


pula sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan tetap bantu


keluarga aku, tapi aku nggak mau membebani kamu, jadi aku mau kamu tetap izinin


aku untuk kerja. Selain itu keluarga kamu, apa mereka akan nerima aku?”


Rafi tak menjawab, setelah ia mendengar penjelasan panjang lebar dari perempuannya itu Rafi tak kuasa


untuk menahan diri, lantas ia memeluk Rani dengan erat.


“Terima kasih Rani, terima kasih,” ujarnya, Rafi tak kuasa membendung rasa bahagianya


saat ini.


Ia merasakan Rani turut menepuk-nepuk lembut punggungnya, setelah beberapa menit


Rafi mulai melepas pelukan mereka.


“Rani, aku tahu nggak mudah buat kamu ambil keputusan sebesar ini. Tapi tolong izinin


aku untuk turut membantu kamu, aku pengen meringankan beban kamu. Setelah kita


menikah maka keluarga kamu juga keluarga aku, begitupun sebaliknya.”


“Tapi Rafi, keluarga aku akan sangat membebani kamu. Adek-adek masuk sekolah, bapak


minta rumahnya direnovasi karena gentengnya pada bocor, aku nggak bisa kalau


hanya ngasih kamu beban,”pungkas Rani.


Rafi menggelengkan kepalanya tanda tak menyetujui perkataan Rani, “Enggak. Kamu bukan beban buat


aku, begitupun keluarga kamu. Cukup kamu di samping aku Rani, kita jalani


semuanya bareng-bareng. Ya?”


Setelah dua tahun mengenal perempuan di hadapannya itu, Rafi telah mengetahui banyak


tentang Rani yang menjadi tulang punggung keluarga.


Meski tak memiliki tingkat pendidikan yang setara dengan dirinya yang lulusan perguruan


tinggi tak jadi masalah bagi Rafi, karena lihatlah bagaimana baiknya pribadi


perempuan ini.


Rafi juga sadar ia bukan manusia yang sempurna, ia akan berusaha meyakinkan keluarganya


bahwa pilihannya itu tepat.


“Tapi, untuk ketemu keluarga kamu aku butuh waktu lagi boleh?” Kali ini Rani yang


melontarkan permintaan.


Rafi mengangguk, “Tentu saja.”


Lalu keduanya tersenyum bersama, kebahagiaan menjalar begitu saja, hati mereka turut


menghangat berbagai bayangan masa depan telah tergambar dalam pikiran keduanya.


Namun Rafi tak menyadari kegelisahan Rani yang turut hadir, ada kekhawatiran di


benaknya, entahlah ia takut, takut jika kebahagiaan ini tak berlangsung lama.


[]

__ADS_1


__ADS_2