
Rafi pemuda yang genap berusia 29 tahun saat ini tak pernah menyangkan akan bertemu
dengan Rani, gadis cantik serta baik hatinya. Teduh sekali rasanya setiap kali
Rafi menatap Rani, ia jatuh cinta dengan kesederhanaan Rani. Tak hanya itu Rani
perempuan yang pantang menyerah dengan hidup membuat Rafi semakin ingin
melindungi kekasihnya itu.
Sebelumnya kisah cintanya tak pernah berjalan mulus, kali terakhir ia memutuskan untuk ke
jenjang yang lebih serius pacarnya selingkuh, dan lebih memilih pria lain.
Tak mudah bagi Rafi, ia butuh waktu lama hingga akhirnya membuka hati kembali, namun
siapa sangka ia jatuh hati pada seseorang yang secara tak sengaja bertemu di
jalan raya.
Aneh sekali bukan? Bahkan hingga saat ini Rafi masih geleng-geleng kepala mengingat
bagaimana ia secara tak sengaja menabrak angkot yang saat itu tengah berhenti
menurunkan penumpang, salah satunya Rani.
Perjalanannya menuju tempat kerja memakan waktu sekitar 45 menit, lembur dihari sebelumnya
membuat Rafi bangun kesiangan.
Jakarta kota yang sangat semrawut di pagi hari, tak hanya Rafi tampaknya semua orang ingin segera tiba di tujuannya
masing-masing, keadaan perut yang kosong membuatnya semakin tak fokus terlebih akan
ada rapat penting dengan client dikantor membuat Rafi semakin gugup.
Tak sadar dengan lampu send angkot yang menyala
tanda akan berhenti ke sisi kiri jalan, Rafi menaikkan kecepatannya dan bruk menabrak angkot yang berhenti detik itu juga, sepeda motor yang ditungganginya ambruk seketika.
Keadaan jalan raya yang sudah macet semakin parah, orang-orang berkerumunan untuk
melihat apa yang tengah terjadi.
Tak ingin memperparah kemacetan Rafi segera bangkit mengangkat motornya, namun sayang
ternyata tak semudah itu karena kakinya sebelah kiri terasa ngilu yang baru
ia sadari tertimpa sepeda motor.
Beberapa pemuda mendekat membantu untuk memindahkan sepeda motor Rafi ketepi jalan, tak
ada kerusakan yang parah sehingga Rafi hanya perlu minta maaf pada supir angkot
dan penumpang di dalamnya.
Orang-orang yang sempat berhenti mulai membubarkan diri untuk melanjutkan tujuannya
masing-masing.
Rafi mulai mengecek keadaan sepeda motornya, saat itulah Rani datang dengan mengulurkan
air mineral.
“Minum dulu Mas,” katanya sedikit terlihat canggung.
Terkejut kemudian Rafi dengan segera mengambil air mineral itu, “Terima kasih,
ya.”
Tak langsung meneguknya Rafi lanjut mengecek motornya dengan teliti sebelum nantinya kembali
mengendarai agar aman.
“Ada yang luka?”
Rafi kembali terkejut saat perempuan itu telah berdiri di sampingnya, bahkan ia
turut merunduk untuk melihat keadaan motor Rafi.
“Eh, enggak. Alhamdulillah aman,” tuturnya dengan sedikit memberikan senyum kikuk.
“Mau aku bantu bawa ke bengkel motornya?” tanya perempuan itu lagi.
Rafi tertegun, masih ada ternyata orang yang sebaik ini padahal mereka sama sekali
tak mengenal satu sama lain.
__ADS_1
“Mas?”
tanyanya lagi, karena Rafi tak kunjung memberikan jawaban.
Bukan apa-apa masalahnya posisi mereka yang semakin dekat membuat Rafi dapat melihat
dengan jelas wajah perempuan itu cantik, pikirnya.
“Mas?” tanyanya lagi.
“Eh, iya. Terima kasih ya, sebelumnya. Tapi saya sudah kesiangan mungkin nanti saja
pulang kerja baru ke bengkel,” jelasnya panjang lebar.
Rani mengangguk, “Yasudah kalau begitu, saya duluan Mas.”
Entah apa yang Rafi pikirkan ia dengan cepat menahan Rani, “Mbak, maaf kalau boleh saya
mau minta kontaknya?”
Tak langsung menjawab perempuan dihadapannya terkejut dengan permintaan Rafi yang tiba-tiba,
sebelum salah paham ia memberikan penjelasan.
“Eh saya nggak maksud apa-apa. Mungkin Mbak mau nemenin saya kebengkel nanti, tapi kalau
nggak berkenan nggak masalah.”
Namun diluar dugaannya perempuan itu hanya tersenyum dan mengangguk, “Boleh, kalau emang
Masnya butuh bantuan saya.”
Rafi dengan segera mengeluarkan ponselnya dari saku dan mengetikkan nomor ponsel yang
disebutkan Rani.
Bermula dari insiden tersebutlah akhirnya hubungan mereka berlanjut hingga saat ini, dua
tahun sudah.
Meskipun bukan waktu yang sebentar namun rasanya baru kemaren ia bertemu dengan Rani.
Mulanya ia cukup terkejut dengan cerita hidup yang telah Rani lalui, namun
sekarang dirinya merasa sangat bangga pada perempuan itu.
sangat baik, memang latar belakang pendidikan tak melulu menjamin karakter
seseorang, tak hanya itu kekasihnya dapat dikatakan perempuan yang cerdas.
Rani tahu apa yang harus dirinya lakukan meskipun sedikit lugu dan polos namun ia sangat
dewasa. Belum lagi Rani harus bertanggung jawab dengan keluarganya, terkadang
Rafi masih tak habis pikir dengan kerja keras Rani yang tak mengenal lelah,
sangat berbanding terbalik dengan tubuh mungilnya yang apabila Rafi melihatnya
rasanya ia ingin selalu melindungi dan membantu menanggung beban kekasihnya
itu.
Hal ini juga yang kemudian membuat Rafi yakin untuk mengajak Rani ke jenjang yang lebih
seriuas lagi, ia ingin Rani menjadi istrinya.
Namun Rafi dapat melihat keraguan pada diri Rani saat Rafi menyatakan niatnya, ia
tentunya tak akan memaksa.
Rafi sudah mempersiapkan diri dengan apapun jawaban yang diberikan Rani, ia tak
ingin lebih membebani Rani dengan keinginannya itu.
Seperti saat ini di dalam mobilnya masih hening ta ada yang memulai percakapan sejak Rani masuk lima menit lalu, ia menjemput Rani untuk datang ke acara salah satu teman SMA yang akan diadakan di
puncak Bogor.
Menatap perempuan yang saat ini tepat di sampingnya tengah bersandar di kursi
penumpang terlihat sedikit lesu, “Hari ini kamu capek banget ya?”
Rani mengangguk, “Iya, Mbak Lulu lagi banyak orderan. Aku sekarang juga lagi bantu
bikin model baju baru,” jelasnya.
“Wah, keren banget kamu!”
__ADS_1
Rani tersenyum mengangguk, “Alhamdulillah.”
Rafi menepuk puncak kepala kekasihnya perlahan, “Kalau kamu capek, aku nggak masalah
kok pergi sendiri,” ujarnya kemudian.
Perempuan dengan bola mata coklat itu menggeleng, “Aku nggak apa-apa kok, lagian aku mau mulai
kenal juga sama teman kamu. Oh, iya yang kamu tanya kemaren,”
“Kalau kamu belum bisa jawab sekarang nggak apa-apa Rani, kamu boleh jawab kapan aja,”
tutur Rafi dengan cepat sebelum Rani menyelesaikan kalimatnya.
“Enggak Raf, aku mau,” katanya cepat.
Rafi sangat terkejut, ia memastikan sekali lagi apa yang dirinya dengar barusan, “Rani,
kamu bilang apa?”
Menatap Rafi, “Aku mau jadi istri kamu. Aku nggak mau bikin kamu kepikiran terus, lagi
pula sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan tetap bantu
keluarga aku, tapi aku nggak mau membebani kamu, jadi aku mau kamu tetap izinin
aku untuk kerja. Selain itu keluarga kamu, apa mereka akan nerima aku?”
Rafi tak menjawab, setelah ia mendengar penjelasan panjang lebar dari perempuannya itu Rafi tak kuasa
untuk menahan diri, lantas ia memeluk Rani dengan erat.
“Terima kasih Rani, terima kasih,” ujarnya, Rafi tak kuasa membendung rasa bahagianya
saat ini.
Ia merasakan Rani turut menepuk-nepuk lembut punggungnya, setelah beberapa menit
Rafi mulai melepas pelukan mereka.
“Rani, aku tahu nggak mudah buat kamu ambil keputusan sebesar ini. Tapi tolong izinin
aku untuk turut membantu kamu, aku pengen meringankan beban kamu. Setelah kita
menikah maka keluarga kamu juga keluarga aku, begitupun sebaliknya.”
“Tapi Rafi, keluarga aku akan sangat membebani kamu. Adek-adek masuk sekolah, bapak
minta rumahnya direnovasi karena gentengnya pada bocor, aku nggak bisa kalau
hanya ngasih kamu beban,”pungkas Rani.
Rafi menggelengkan kepalanya tanda tak menyetujui perkataan Rani, “Enggak. Kamu bukan beban buat
aku, begitupun keluarga kamu. Cukup kamu di samping aku Rani, kita jalani
semuanya bareng-bareng. Ya?”
Setelah dua tahun mengenal perempuan di hadapannya itu, Rafi telah mengetahui banyak
tentang Rani yang menjadi tulang punggung keluarga.
Meski tak memiliki tingkat pendidikan yang setara dengan dirinya yang lulusan perguruan
tinggi tak jadi masalah bagi Rafi, karena lihatlah bagaimana baiknya pribadi
perempuan ini.
Rafi juga sadar ia bukan manusia yang sempurna, ia akan berusaha meyakinkan keluarganya
bahwa pilihannya itu tepat.
“Tapi, untuk ketemu keluarga kamu aku butuh waktu lagi boleh?” Kali ini Rani yang
melontarkan permintaan.
Rafi mengangguk, “Tentu saja.”
Lalu keduanya tersenyum bersama, kebahagiaan menjalar begitu saja, hati mereka turut
menghangat berbagai bayangan masa depan telah tergambar dalam pikiran keduanya.
Namun Rafi tak menyadari kegelisahan Rani yang turut hadir, ada kekhawatiran di
benaknya, entahlah ia takut, takut jika kebahagiaan ini tak berlangsung lama.
[]
__ADS_1