
Pernikahan Mbak Wiwit ternyata tak diadakan secara besar-besaran layaknya adat Jawa pada umumnya, alasannya satu Mbak Wiwit hamil duluan sebelum menikah.
Perutnya yang sudah sedikit terlihat jembling membuat keluarganya mengetahui hal tersebut, padahal Rani tahu dari cerita Ibu kalau semua dekorasi dan printilan-printilan untuk acara pernikahan telah dipesan sejak sebulan lalu begitupun dengan undangan yang telah disebar, namun sayang seminggu sebelum acara diadakan Mbak Wiwit memilih untuk jujur dengan kedua orang tuanya, Mbak Wiwit bahkan menghubungi semua orang yang telah diundang bahwa acara penikahan di cancel dengan alasan adanya kendala.
Tak banyak yang mengetahui hal ini hanya keluarga besar saja, namun namanya di kampung satu cerita bisa nyebar begitu saja layaknya virus, entah siapa yang tega membocorkan masalah itu. Rani jadi semakin takut kalau ia benaran hamil.
Mungkin Rani pun akan memilih hal yang sama seperti Mbak Wiwit, ia tak ingin mengadakan pesta besar untuk pernikahannya nanti.
Rani ikut terharu saat semua saksi mengucap sah, tanda bahwa Mbak Wiwit kini sudah resmi menjadi seorang istri. Ia cukup dekat dengan Mbak Wiwit karena jarak usia yang tak begitu jauh, terlebih sekolah di tempat yang sama jadi cukup banyak kenangan masa kecil bersama Mbak Wiwit.
Rani mendekat memberikan tissue pada Mbak Wiwit yang ternyata sudah menangis sesegukan begitu ijab Kabul selesai, mungkin haru dan juga rasa bersalah pada kedua orang tuanya karena sudah mengandung sebelum resmi menikah Rani tak bisa menebak mana yang tengah Mbak Wiwit tangisi, atau mungkin benar keduanya.
“Mbak, udah nangisnya. Nanti bedaknya luntur.” Rani membantu Wiwit mengusap air mata perempuan itu, sesekali ia menepuk pundak Wiwit menenangkan.
“Ran, piye iki aku udah malu-maluin Bapak,” cicit Wiwit.
“Udah Mbak yang lalu biarlah berlalu, sekarang Mbak udah jadi istri dan juga akan jadi Ibu, sing sabar.”
Rani tahu apa yang dirinya katanya tak membantu membuat Mbak Wiwit merasa lebih baik, terlebih saat ini Pakdhe Marno yaitu Bapak Mbak Wiwit juga menangis, hal ini tentunya membuat beliau terpukul anak perempuan satu-satunya hamil di luar nikah.
Rani tak kuat membayangkan bagaimana reaksi Bapak dan Ibu kalau itu terjadi padanya.
Setelah acara akad selesai dilanjutkan dengan makan bersama keluarga besar, meski begitu jangan harap suasana hangat seperti pernikahan pada umumnya, atmosfer di rumah Mbak Wiwit terasi kaku karena tampaknya kedua keluarga masih tak dapat menerima fakta tersebut.
Rani kemudian pulang ke rumahnya yang hanya berjarak dua rumah dari rumah Mbak Wiwit, ia merasa kegerahan mengenakan kain satin dan baju brokat berwarna biru muda di tubuhnya yang terasa sedikit ketat, terlebih suasana di rumah Mbak Wiwit yang sangat nggak enak membuat Rani memilih untuk pulang ke rumah saja, badannya masih terasa kelelahan karena baru tiba pagi tadi.
Rani ingin segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia sangat bersyukur karena sekarang hasil jerih payah dirinya selama bekerja ada hasilnya. Keluarganya dapat tidur dengan nyaman di atas kasur, sebelumnya jangan tanya Rani harus bangun dalam keadaan sakit di seluruh tubuh karena tidur hanya beralaskan karpet.
Namun sayang niatnya harus diurungkan karena ternyata adiknya yang paling kercil, Iyo sedang mengubrerk– ngubrek kamarnya.
__ADS_1
“Iyo! Kamu ngapain di kamar Mbak?” Rani kesal bukan main, terlebih baju yang ia belum sempat bongkar dalam koper saat ini berceceran di mana-mana.
“Mbak, aku penasaran Mbak dari Jakarta bawa apa saja, soalnya kata Raden temenku sekolah kalau Bapaknya pulang sekolah selalu bawa harta karun,” jelasnya polos khas anak SD.
Rani memang masih memiliki adik kecil yang masih berada di bangku sekolah dasar, tadinya Ibu mengira hanya punya anak tiga siapa sangka ternyata beliau di usianya yang sudah tak muda lagi di karuniai kembali seorang putra.
“Nggak ada Iyo, kamu hanya di bohongi.”
Iyo tak menggubris perkataan Rani, anak itu masih sibuk mengubek kamar kakaknya. Rani hanya bisa pasrah karena tak dapat langsung istirahat ia akhirnya mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum membereskan kamarnya.
“Mbak mau ganti baju dulu, jangan makin kamu acak-acak ya kamar Mbak,” tutur Rani memperingatkan meskipun yang di ajak bicara tak menghiraukannya.
Keadaan rumah sepi karena adiknya yang pertama Pratama mengenyam pendidikan di pesantren, sedangkan Rendi yang baru lulus SMP main entah kemana.
Ibu dan Bapak tampaknya masih jagongan di tempat Mbak Wiwit begitu yang Rani yakini sebelum
keributan yang disebabkan Iyo terjadi.
turut nangkring di atas tempat tidur.
Iyo dengan polosnya mengambil benda tersebut, ia lantas bertanya pada Rani, “Mbak ini apa?”
Rani semakin menelan ludah waktu tahu-tahu Ibu dari balik tubuhnya pun turut terkejut melihat benda yang saat ini Iyo angkat tinggi-tinggi.
“Lho kok kamu punya itu Nduk?” Ibu menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar dan langsung merebut benda tersebut dari tangan Iyo, “Astagfirullah Rani, ini beneran punya kamu?”
Rani sekarang kelimpungan ia bingung akan menjawab, tak ada jawaban yang Rani mampu pikirkan saat ini.
“Lha kui apa toh,” gawat ini suara Bapak yang ikut ningbrung di tengah kegelisan Rani menghadapi pertanyaan Ibunya.
__ADS_1
Rani kini merutuki dirinya sendiri bisa-bisanya ia lupa untuk menyimpan alat tes itu.
“Ini test pack buat ngetes kehamilan Pak, kok Bapak bisa lupa lha wong Ibu pernah punya waktu hamil Iyo.” Ibu kini semakin mencak-mencak jelasin hal tersebut pada Bapak.
Reaksi Bapak selanjutnya membuat Rani semakin panik jangan tanya, rasanya jantung Rani jatuh ke lantai berantakan.
“Bu, anu itu punya,,, punya teman Rani,” hanya itu yang begitu saja terlintas di otak Rani.
“Kalau punya teman kamu ngapain kamu bawa? Ngaku sama Ibu sekarang kamu hamil Nduk?” Ibu udah nangis duluan sebelum Rani mampu memikirkan jawaban selanjutnya.
“Rani! Apa benar yang Ibu bilang?” Mata Bapak sekarang sudah merah, belum lagi tangannya yang mengepal.
Rani semakin kalut apa yang harus dirinya katakan, “Pak, Rani,,,,, pokoknya nggak yang seperti Bapak dan Ibu pikirkan.”
Ibu sudah terduduk di atas tempat tidur Rani, beliau sudah nangis sambil masih memegang test pack yang belum sempat Rani gunakan itu.
“Bapak ikut sakit hati waktu tahu Wiwit hamil duluan sebelum nikah, Bapak nggak tega melihat Pakdhemu. Tapi sekarang apa ini yang harus Bapak alami Rani?” Bapak semakin keras mengepalkan tangannya.
Rani tak berani lagi menatap Bapak maupun Ibunya, ia saat ini hanya menunduk menangis masih berdiri di depan pintu. Ya Allah tolong hamba, hanya itu yang dapat Rani rapalkan dalam hatinya.
“Kamu beneran hamil?” Tanya Ibu masih dengan sesegukan.
Rani belum sempat menjawab saat pintu rumahnya di ketuk tanda mereka harus menerima tamu di situasi yang tengah terjadi saat ini.
Rani mengusap matanya yang basah, ia akan melihat dulu siapa gerangan yang datang ke rumahnya, namun yang terjadi selanjutnya membuat Rani semakin membelalakkan mata bagaimana tidak? dua pria dalam daftar yang tak ingin Rani temui lagi kini muncul di hadapannya.
Bagai petir yang menyambar di siang hari, Rani ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga bagaimana ia akan menghadapi Bapak, Ibu, dan dua manusia ini.
Kalau saja Rani pandai berakting mungkin ia ingin pura-pura pingsan saja.
__ADS_1
[]