
Semua orang menyuruhnya untuk tetap tenang? mana bisa.
Setelah semua temannya ia coba hubungi termasuk Mira dan Juwita, keduanya memberikan jawaban sama yaitu Petak Tiga Belas Central Industri, tanpa alasan jelas.
Sebenarnya ada apa di sana? Tama segera pulang untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Tama harus segera mendatangi tempat tersebut, kalau memang Rani berada di sana Tama tak ingin mengambil resiko jika telat menyelamatkan istrinya.
Tama masukkan beberapa barang yang mungkin nanti akan dibutuhkan, senter, tali-temali, bahkan diperjalanan pulang ia membeli petasan, garam, dan semprot cabe.
Meski Tama tak tahu banyak mengenai bela diri, namun ia dulunya seorang anak pramuka. Ada banyak alternatif yang mungkin dapat Tama lakukan untuk melawan musuh di lapangan.
Setelah semua beres, Tama mengenakan sepatunya. Ia amati kamarnya yang tampak lenggang tanpa kehadiran Rani.
"Rani aku janji akan bawa kamu pulang!" ucapnya yakin.
Tama segera mengunci pintu kamar Rani, ia masukkan kunci ke dalam tas ranselnya.
Pria itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, karena tak ingin mengganggu penghuni kamar lain.
Meski begitu Tama dikejutkan dengan gerombolan sepeda motor yang telah menunggunya di depan gang.
"Kalian ngapain?" tanya Tama bingung.
"Gue tahu lo nggak akan nunggu sampai besok pagi bos. Jadi Babe bos minta kita untuk stand by dari sekarang," terang Wawan.
"Gue nggak bisa lagi nunggu besok pagi, istri gue dalam bahaya. Lo atur deh, pastiin jangan sampai buat keributan di jalan. Apa lagi sampai menarik perhatian polisi," ucap Tama tegas membuat semua anak buah Jerris manggut-manggut di balik helmya.
"Siap, bos!" ucap Wawan siaga.
Pukul 02.45 wib pagi hari, ada sekitar sembilan pemotor dengan dua penumpang di tiap motor, mengikuti Tama.
Meski begitu mereka telah dikomando dengan baik oleh Wawan agar tak kebut-kebutan di jalanan.
Jalan raya Ibu kota kali ini sepi hanya beberapa pengendara lain terlihat melintas, jauh dari kata macet membuat Tama beserta rombongan leluasa.
Membutuhkan waktu sekitar satu jam Tama memasuki kawasan perindustrian, ia menghentikan motornya untuk mengecek kembali peta elektronik yang ada di ponselnya.
Benar, ia telah berada di titik alamat tersebut. Namun luasnya pabrik membuat Tama kebingungan di mana sekiranya pintu masuk kawasan industri tersebut.
Terlebih pagar raksasa besi melingkari tiap sudut kawasan itu membuat Tama harus mencari cara agar dapat melewatinya.
"Bos gimana di sini?" tanya Wawan yang sedari tadi sudah siaga dengan perintah Tama.
Tama kembali mengamati ponselnya, "Iya, di sini titiknya berhenti. Kita harus cara buat masuk ke dalam."
Wawan memerintahkan semua pasukan untuk mencari cara, setidaknya ada sedikit celah sebagai pintu masuk
Semuanya berpencar menyusuri pabrik besar itu dengan penerangan seadanya yang mereka miliki.
__ADS_1
Salah satu pria mendekati Wawan, "Wan lo liat tuh!"
Tama yang mendengar hal tersebut turut mengikuti arah telunjuk pria yang memanggil Wawan.
"Bos, kayanya di sana ada orang juga," kata Wawan menyampaikan apa yang dirinya lihat.
Sekitar tujuh meter dari tempatnya, terlihat orang berlalu lalang yang tengah entah merencanakan apa Tama merencanakan apa.
Satu ide muncul di otak Tama, "Kalian nyalain petasan ini," ia mengeluarkan beberapa petasan dari dalam tasnya.
"Buat apa Bos, bukannya akan bikin mereka tahu kita di sini?" tanya Wawan bingung dengan jalan pikiran Tama.
"Lo dengerin dulu!" perintah Tama kembali menggendong tas punggungnya.
"Iya bos, maaf."
Tama mengeluarkan korek api dari sakunya, "Jadi beberapa orang dari kalian nyalain petasan ini di sini. Sedangkan kita setengahnya lewat belakang sana, menuju tempat mereka."
Tama menunjuk arah segerombolan orang tadi, "Siapa tahu memang di sana tempat Rani berada. Begitu mereka dengar suara dari arah sini, pasti mereka bakal kesini. Dan kita udah sampai sana langsung masuk."
Wawan dan anggota lainnya mengangguk paham, "Oke, bos kalau gitu."
"Oh iya," Tama kembali membuka tasnya, "Gue udah siapin senjata kalau aja kalian belum sempat kabur, tapi mereka udah duluan sampai di sini."
"Pistol? kalau pisau atau parit kita bawa bos," ucap salah satu anggota lainnya yang tak Tama ketahui namanya.
Tama menggeleng, "Bukan. Tapi ini."
"Yah bos, kok beginian?" keluh Wawan, pasalnya pengeroyokan atau perkelahian yang selama ini Wawan lakukan hanya menghajar, menembak apabila peru ia akan menusuk lawannya.
"Ini paling ampuh, senja bisa kalah sama strategi. Cukup kalian semprot matanya, langsung tumbang tanpa arah. Begitu tumbang, lo ambil semua senjata mereka, biar bisa pakai di dalam kalau ada bahaya. Gimana? Siap jelas semuanya?" tanya Tama setelah menjelaskan panjang lebar.
Serentak anak buah Jerris mengangguk paham.
"Siap? Kita mulai Sekarang!" perintah Tama.
Ia kembali menyalakan motor meticnya, begitu juga dengan yang lainnya.
Sedangkan sebagiannya telah bersiap menyalakan petasan.
"Setelah kalian bakar petasannya, siap-siap buat kabur!"
Beberapa pria itu mengangguk, mereka kemudian membakar petasan secara bergantian.
"DUARRRRRTTT" suara petasan memekakkan telinga berhasil.
Tama mulai menyusuri area belakang pabrik tersebut.
Sayangnya belum sampai tempat sasarannya tiba Tama dihadang beberapa orang dengan seragam brimob serba hitam, membuatnya harus menghentikan laju kendaraan.
__ADS_1
"Berhenti!" perintah salah satu pria berseragam tersebut dengan senjata mengacung di tangannya.
Begitupun dengan beberapa orang dibelakang Tama, ikut menghentikan motornya saat itu juga.
Tama sedikit kebingungan, mengapa yang dirinya temui bukanlah rombongan Rafi?
"Apa kalian komplotan dengan orang di dalam?" tanyanya dengan memerintahkan Tama untuk turun dari motor.
Pria itu masih mengacung-ngacungkan senjatanya.
"Saya tidak tahu siapa yang Bapak maksud, tapi saya kesini untuk menjemput istri saya." ucap Tama.
Pria dengan seragam lainnya menyuruh rombongan Tama turut turun dari motornya masing-masing.
Seorang pria lainnya menggunakan seragam melaporkan entah kepada siapa, membuat Tama sedikit mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Lapor, ada kendala. Segerombolan orang asing masuk."
Tama mengernyitkan dahinya, ada apa sebenarnya? Dari semua tempat Rego pun menyuruhnya datang ke tempat ini.
Tepat saat itu setengah rombongan Tama sampai, pria berseragam dengan sigap menyuruh mereka untuk mematikan mesin motor.
"Pak kami bukan orang jahat! Saya mau menjemput istri saya yang mereka culik!" teriak Tama yang berusaha ingin menerobos melewati pria berseragam tersebut.
Namun Tama di dorong keras, membuat dirinya terjatuh.
Wawan menolong Tama, ia tak terima bosnya itu di lukai oleh siapapun.
"Serang!" teriak Wawan.
Rombongan anak buah Jerris siap melawan mengeluarkan berbagai senjata yang mereka bawa.
"Stop!" teriak Tama membuat detik itu pula gerakan siap menyerang terhenti.
"Bos!" teriak Wawan.
Tama mengangkat tangannya, sebagai gestur agar Wawan berhenti protes.
Seorang petugas yang entah dari mana kemudian datang menghampiri Tama.
Ia membantu Tama bangkit, meski bingung Tama menerima uluran tangan pria itu.
"Makasih," ucap Tama.
Pria di hadapannya hanya diam saja, namun kemudian membuka masker yang dirinya kenakan.
"Lo ngapain ke sini Tama? Gue udah bilang tenang! Besok Rani bakal gue anterin dengan selamat!"
Tama membelalakkan matanya, ia benar-benar buntu tak ada clue sedikitpun mengenai pria itu, mengapa dia ada di sini, terlebih berada diantara semua pria yang menghadangnya, "Rego? Lo siapa?" sebenarnya?"
__ADS_1
[]