MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 42 : T a k S a m a


__ADS_3

Rafi melempar ponselnya begitu saja di atas tempat tidur, sekarang semua temannya telah mengetahui apa yang terjadi antara dirinya Rani dan juga Tama.


Bahkan Tama dikeluarkan begitu saja dari grup, yang artinya Tama tak lagi menjadi bagian mereka. Tapi entah kenapa Rafi tak masalah dengan hal tersebut.


Meski awalnya Rafi memilih untuk melepas Rani, namun nyatanya semua itu tak semudah yang ia bayangkan terlebih melihat Rani yang berusaha menerima Tama, semua itu tak adil bagi dirinya.


Seharusnya yang menjadi suami Rani dirinya, bukan orang lain. Rafi mengepalkan tangannya memukul apapun yang berada di dekatkan.


Rafi bahkan dulu menganggap Tama seorang sahabat yang baik, ia seringkali membantu Tama meski sesekali mungkin dirinya dan teman-temannya menjahili Tama namun semua itu baginya hanya lelucon. Tapi siapa sangka jika Tama orang yang akan mengkhianati dirinya, orang yang dulunya ia yakini tak akan melakukan hal sebejat itu pada siapapun.


Rafi berdecak kesal saat bel rumahnya berbunyi, siapa pula yang bertamu ke rumahnya di malam hari.


Karena bel yang terus pencet tanpa henti membuat dirinya mau tak mau harus membuka pintu, dengan ekspresi malasnya Rafi semakin membuang napas kesal mendapati teman-teman yang sedari tadi ribut di grup telah berada di depan rumahnya.


“Ngapain kalian pada kesini?” tanya Rafi malas menatap semua temannya berada di rumahnya, kecuali Tama.


Waren yang terkenal tak memiliki sopan santu nyelonong begitu saja masuk kedalam rumah, “Kita mau nemenin lo yang lagi patah hati lah sob,” ucap Waren tahu-tahu merangkul Rafi, yang langsung Rafi hempaskan begitu saja tangannya.


Meski malas, Rafi membuka lebar-lebar pintunya untuk teman-temannya Juwita merangkul Rafi, “Yaampun Rafi, lo kenapa nggak cerita sama gue sih?”


Elgin mengangkat tangannya yang membawa makanan, “Jangan sedih dong bro, kita party ya malam ini!”


“Kalian aja deh, gue banyak kerjaan besok,” ucap Rafi menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang kemudian diikuti semua temannya.


“Sebenarnya ada masalah apa sih lo sama Tama?” tanya Fauzan yang masih ingin mendengar secara langsung apa yang dirinya ketahui melalui Elgin di grup.


“Ya kurang lebihnya Tama bangsat!” ucap Elgin cepat setelah membuka kotak pizza jumbo yang dirinya bawa.


“Gin, jangan gitu. Tama juga sahabat kita,” ucap Mira mengingatkan.


“OMG, gue nggak siap kalau persahabatan kita ini bakal hancur ya, jadi orang kayak Tama yang mengkhianati sahabatnya sendiri kudu kita buang jauh-jauh! Jadi Mira, mulai sekarang Tama out!” Juwita sudah mencak-mencak tak ingin lagi ada Tama diantara mereka, namun dirinya menciut saat Mira mulai melemparkan tatapan tajam padanya.


“Gue setuju, lagian Tama sok suci banget nggak terima waktu gue ngomong kalau Rani anak polos yang gampang ditidurin, eh sekarang dia sendiri yang nidurin, cuih jilat ludahnya sendiri,” ucap Waren mencomot sepotong pizza di meja.


Namun pizza tersebut terjatuh kembali ke dalam kotak karena Rafi menendang tangannya begitu saja, “Lo hati-hati ya kalau ngomong tentang Rani!” ucap Rafi memperingatkan, “Jadi karena hal itu lo sama Tama waktu itu berantem, gue tahu sekarang gimana mulut lo yang sebenarnya.”


“Emang gue salah ?” beo Waren.


“Anjing lo!” Rafi sudah siap akan melayangkan pukulan pada Waren, untungnya semua sigap sehingga perkelahian tak terjadi.


“Udah-udah tenang, lo juga jaga mulut lo!” Maditra mendorong Waren agar menjauh.


Rego yang sedari tadi diam ikut bereaksi, “Lo yang paling bangsat di sini! Lo kira gue nggak tahu apa yang udah lo lakuin?”

__ADS_1


Waren yang merasa tersudutkan tak terima, “Maksud lo apa?!”


“Waren lo diem aja deh, dari pada ngomong nggak pernah bener!” bentak Juwita yang kesal juga dengan Waren yang menurutnya sangat sok tahu itu.


“Stop! Kalian kenapa malah kaya anak TK!” Mira berteriak kesal menyaksikan keributan yang tengah terjadi.


Fauzan menepuk-nepuk Rafi menenangkan, “Udah, duduk lagi semuanya. Kita bicarakan secara dewasa ya.”


Semuanya kembali lebih menguasai emosinya, meski atmosfer tak lagi sesantai biasanya saat mereka berkumpul.


“Jadi lo mau gimana sekarang? apa kita perlu ngasih pelajaran ke si Tama?” Dimas yang sedari tadi diam saja akhirnya mengangkat bicara.


Rafi kembali menjatuhkan tubuhnya, “Terserah kalian aja.”


“Lo jangan naif Rafi, sebenarnya lo mau ngasih pelajaran buat Tama kan?” Elgin sudah lelah menghadapi temannya itu yang sok tegar, sebenarnya ia sudah berpikir untuk memberi pelajaran pada Tama namun karena Rafi selalu melarangnya untuk tak ikut campur Elgin mengurungkan niatnya.


“Elgin, ini masalah Rafi, jadi biarin dia sendiri yang menyelesaikan. Kita sebagai sahabatnya cukup dukung aja apapun pilihan dia,” ucap Fauzan yang paling bijaksana diantara mereka semua.


“Jadi lo akan diem aja kalau ngelihat teman lo diinjak-injak?” kesal Elgin.


“Bukan gitu maksud gue Nyet!” Fauzan melemparkan bantal kecil ke muka Elgin.


“Gue juga setuju kalau kita ngasih pelajaran ke si Tama,” tutur Dimas menyetujui apa yang dikatakan Elgin.


Fauzan meneguk sodanya, ia tak habis pikir dengan teman-temannya yang menurutnya kekanak-kanakan.


“Gue nggak setuju! Kalian nggak pernah mikir apa kalau Tama nggak akan pernah ngelakuin hal seperti itu,” tutur Rego, membuat semuanya menatapnya dengan tatapan aneh.


“Dan ini faktanya udah terjadi, Tama perkosa Rani. Lo masih bilang kalau Tama nggak akan ngelakuin hal itu?” Elgin naik pitam sebenarnya apa yang tengah Rego pikirkan hal itu bahkan sudah terjadi sehingga Tama dan Rani menikah, yang membuat Rafi patah hati.


“Bisa aja kan kalau ada yang jebak Tama.” Ucapan Rego sukses membuat semuanya terkejut.


“Tapi setelah gue pikirin, Tama bukan orang yang akan ngelakuin hal itu. Lo juga ngerasa kan Wi, gimana dia selalu jagain kita,” kata Mira pada Juwita yang tepat di sebelahnya sibuk dengan pizza.


“Em, iya sih. Tapi menurut gue apa yang dia lakuin tetap gak bener, dan harus dikasih pelajaran,” jawab Juwita tak mengindahkan apa yang Mira katakana.


“Lo pikir kita lagi main penyelidikan? Sekarang kita lagi ngomongin gimana ngasih pelajaran buat Tama!” kesal Elgin tetap kekeh Tama harus diberi pelajaran.


“Make sense apa yang dibilang sama Rego guys. Ya, meskipun awalnya kita masukin Tama buat kalian have fun doang, karena bisa bisa disuruh-suruh, tapi dia anak baik dari dulu. Lo ada bukti kalau sebenarnya Tama ada yang jebak?” tanya Fauzan pada Rego yang terlihat serius, tak biasanya pemuda berdarah Medan itu bersikap sedewasa ini.


Rego mengehela napas, “Itu yang gue lewatin, gue nggak punya bukti.” Namun Rego menatap Waren tajam yang tengah makan pizza dengan lahap.


Waren menyadari hal tersebut ia menjatuhkan kembali pizza ditangannya, “Maksud lo apa sih anjing! Kenapa dari tadi lo mojokin gue?”

__ADS_1


“Kalian berdua pada kenapa bangsat! Rego lo ngomong sebenarnya apa yang lo tahu! Waren lo mending diem aja deh!” teriak Rafi frustasi ia mengepalkan kembali tangannya seakan siap memukul siapapun yang membuatnya semakin pusing.


Rego bangkit dari duduknya, “Gue nggak ikutan deh, terserah kalian mau gimana. Gue titik, tetap menganggap Tama orang baik dulu ataupun sekarang,” ucapnya kemudian pergi begitu saja meninggalkan rumah Rafi.


“Nggak ngerti gue maksud dia apaan,” ucap Dimas polos.


Maditra memakan pizzanya tanpa menggubris apa yang teman-temannya perdebatkan, “Gue ngikut aja gimana kalian.”


“Gue juga nggak ikut-ikutan ya, karena menurut gue ini terlalu childish. Biarin aja jadi urusan yang bersangkutan tanpa perlu kita ngotorin tangan,” tutur Fauzan meninggalkan mereka.


“Fauzan! Jangan pergi, ini kenapa jadi gini sih,” ujar Mira merasa sedih teman-temannya tak kondusif.


“Sorry Mir, kali ini gue nggak sependapat sama mereka,” ucap Fauzan mengambil tasnya dan keluar begitu saja.


“Udah biarin aja mereka, kita harus ngerencanain sesuatu buat bikin Tama kapok!” Elgin masih tak gentar ia seakan panglima yang siap melawan siapapun yang mengusik Rafi.


“Lo kenapa ngebet banget pengen ngehajar Tama Gin?” Juwita yang hari ini banyak diam akhirnya mengutarakan rasa penasarannya.


“Lo liat, gimana keadaan Rafi. Gue paling benci sama orang sok suci yang jahat sama temannya sendiri,” ucap Elgin seraya mengangkat kemejanya hingga siku karena suasana terasa makin panas.


“Raf, lo sendiri gimana? apa masih berharap Rani jadi milik lo?” tanya Dimas pada Rafi, seakan siap bertindak jika itu yang Rafi inginkan.


“Gue tadi habis berantem sama dia,” ucapnya.


“Rafi seriously? Kamu bahkan nggak pernah mukul orang sebelumnya,” ucap Mira yang terkejut mendengar fakta tersebut.


Rafi menatap langit-langit rumahnya, “Seperti yang gue bilang tadi, awalnya gue kira mudah, ternyata hari-hari gue tanpa Rani semakin menyiksa. Apalagi setelah gue tahu Tama udah beneran nggak akan biarin gue ambil Rani dari dia.”


“Oke. Berarti kita emang harus ngasih pelajaran, tenang aja Raf, apa perlu gue bikin dia lenyap?” tanya Elgin, ia tak akan sulit melakukan hal tersebut terlebih orang tua Elgin salah satu anggota DPR RI, ia mudah melakukan apa saja yang dirinya inginkan.


“Jangan langsung lenyap, nggak seru. Kenapa kita nggak main-main dulu?” Waren tahu-tahu duduk di sebelah Elgin menepuk pundak Elgin seakan siap menjadi tim.


“Please, jangan lakuin itu, Rafi kamu nggak akan setega itu kan sama Tama?” Mira menyentuh tangan Rafi, perempuan itu berharap Rafi tak melakukan kejahatan apapun pada Tama.


Rafi menatap Mira, “Aku sekarang bukan aku yang dulu Mir.”


Hal itu sukses membuat Mira terkejut, bahkan sorot mata Rafi tak lagi setenang biasanya, ia dapat melihat gejolak amarah di sana berbeda dari patah hati Rafi sebelumnya.


Sepertinya memang Rani sudah hidup dalam hati terdalam Rafi sehingga meninggalkan luka yang begitu parah.


[]


Ps. Maafkan keruwetan ini ya guysssssss :)

__ADS_1


Enjoyyy! ❤🥂


__ADS_2