MENIKAH DENGAN SAHABATMU

MENIKAH DENGAN SAHABATMU
BAB 17 : U s a h a


__ADS_3

“Rani, kamu dari tadi pagi nggak makan lho,” kata Ibu mengingatkan.


Rani sudah memutuskan akan tetap lanjut mogok makan agar Bapak tak bersikeras menyuruhnya menikah. Namun sepertinya usaha Rani sia-sia karena kini tak hanya Ibu yang mengetuk pintu kamarnya terdengar Bapak juga sekarang turut menyuruh Rani makan.


“Rani makan! Mau Bapak jebol pintu kamu?”


Dengan malas Rani beranjak membuka pintu, “Rani nggak napsu makan,” ucapnya setelah mendapati Bapak dan Ibu menatapnya heran.


“Ayo makan, jangan seperti anak kecil kamu,” ujar Ibu menarik lengannya.


Rani yang tangannya masih di pegang Ibu hanya bisa melangkahkan kakinya sesuai dengan langkah Ibu, namun rasa malasnya semakin menjadi-jadi saat mendapati Tama telah berada di meja makan bersama kedua adiknya Iyo dan Rendi di sana.


“Kenapa belum pulang sih?” tanpa basi-basi Rani melontarkan kekesalannya.


“Udah makan sekarang!” titah Bapak tak mau di bantah.


Rani tak napsu makan padahal tadi perutnya sempat melilit akan tetapi setelah melihat orang yang membuatnya kesal nasi pun menjadi susah ditelan. Ia hanya memakan dua suap mungkin yang susah payah Rani suap, itupun karena dipelototi Bapak.


Rani masih  tak habis pikir, kenapa Bapak bisa menerima Tama? Bukannya Bapak seharusnya berpihak pada dirinya? Toh di sini yang anak Bapak adalah dirinya.


Setelahnya tak ada yang bercakap lagi, semuanya makan malam dengan pikiran masing-masing. Rani yang merasa tak enak hati dengan Ibunya seharian mengurung diri di kamar memutuskan akan mencuci piring, tak peduli dengan Tama yang sedari tadi ternyata memperhatikannya.


“Bu, Rani saja yang beresin,” ucap Rani saat Ibu hendak membawa piring-piring ke belakang.


“Yasudah Ibu ke depan dulu ya.” Ibu lantas meletakkan kembali piring tersebut.


Semuanya telah beranjak kecuali dirinya dan Tama, yang tak mau Rani gubris keberadaannya.


“Rani aku bantuin ya?” tawar Tama.


Rani menumpuk semua piring kotor, jangan harap ia tak akan memberikan respon apapun pada lelaki itu, bahkan Rani berharap kalau itu makhluk halus yang tak perlu dihiraukan keberadaannya.


Setelah meja makan rapi serta semua sisa lauk Rani tutup, ia beranjak ke dapur untuk mencuci semua pikir tersebut, tentunya masih dengan tama yang mengekorinya.

__ADS_1


Rani meletakkan semua piring tersebut di wastafel, Tama telah berada di sampingnya. Rani tak mau kalah ia berusaha menguasai seluruh area wastafel agar tak ada celah untuk Tama membantunya.


Saat Rani mulai membersihkan piring-piring dengan sabun Tama malah menyalakan kran air dengan memutar full sehingga semua airnya mengenai Rani.


Meski mulai emosi Rani sebisa mungkin menahannya, ia masih tak peduli dengan apapun yang Tama lakukan.


“Eh, maaf Ran, maaf,” ujar Tama panik dan segera mengecilkan tekanan air tersebut.


Tama mulai membilas piring yang telah Rani gosok dengan sabun, namun Rani masih diam tak memberikan reaksi apapun meski kini wajah serta bajunya basah.


“Rani, kamu masih belum bisa maafin aku?” tanya Tama.


Pake nanya lagi, ni orang pura-pura nggak ngerti atau gimana sih,namun semua itu hanya Rani katakana dalam hati.


“Rani, nggak masalah kalau kamu sekarang masih marah atau bahkan benci sama aku tapi aku akan tetap usaha Rani,” tutur Tama kemudian.


Terserah, jawab Rani lagi dalam hati  lagi.


“Meskipun yang aku lakukan memang bukan hal yang benar, tapi ada sedikit rasa syukur dalam diri aku Ran, setelah semua ini terjadi,” ujar Tama enteng yang kini dapat membuat Rani membeliakkan matanya.


“Bukan, bukan gitu maksud aku Rani. Tapi sebenarnya emang aku mulai suka sama kamu malam itu, aku juga bingung sama perasaanku sendiri,” jelas Tama meralat agar Rani tak salah paham.


Namun penjelasan Tama tak cukup membuat Rani tersentuh, sebaliknya Rani malah merasa muak dengan semua kalimat Tama, kecuali kalimat selanjutnya yang Tama katakana membuat Rani membuka lebar-lebar pendengarannya.


“Rafi masih di sini Rani, kalau kamu memang mau kembali ke dia aku bakal ngomong ke Bapak,” tutur Tama.


“Nggak perlu,” jawab Rani singkat, “Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri, lagian kami sudah selesai.”


“Bukannya kamu dan Rafi sudah mau menikah?” Meskipun Tama sebenarnya malam membahas mengenai hubungan Rani dan temannya itu tetap saja ia menanyakannya karena sepertinya hanya tentang Rafi yang menarik bagi Rani.


“Iya, sebelum ada seseorang yang merusak hidup aku,” ujar Rani sengaja menyindir orang di sebelahnya.


Tama menatap Rani sepenuhnya, “Maaf Rani, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau maafin aku?”

__ADS_1


Rani menghentikan kegiatannya ia kemudian beralih pada Tama, “Cukup pergi dari hidup aku.”


Ia berharap apa yang dirinya katakan membuat Tama sadar dan menghilang dari hadapannya saat itu juga, namun di luar dugaannya Tama malah terkekeh, “Aku nggak bisa.”


Rani menatap Tama tak percaya dengan apa yang dirinya dengar, dengan raut wajah bertanya apa yang membuat pria itu tak dapat meninggalkannya.


Tama mendekatkan dirinya pada Rani, “Karena Bapak nggak akan tinggal diam kalau aku pergi.”


Rani membeliakkan matanya, semenjak kehadiran pria itu di hadapannya sepertinya mata Rani akan copot karena terlalu sering di buat kaget oleh tingkah manusia satu ini.


“Ngaku, kalau sebenarnya Bapakku sudah kamu pelet kan?” tembak Rani.


Tama tertawa terbahak-bahak, “Astagfirullah Rani, kamu ternyata lucu juga ya.”


Kesabaran Rani benar-benar habis, ia tak kuat lagi mendengar perkataan Tama yang semakin ngawur ia kemudian bergegas akan kembali ke kamarnya lagi.


“Cie Mbak Rani, cuci piring aja berduaan,” Iyo tahu-tahu sudah berada di dapur.


Rani yang sedang emosi turut menyemprot Iyo, “Apa cie-cie?!”


“Marah-marah mulu Mbak Rani.”


Iyo lalu lari begitu saja  sebelum Rani akan mencubitnya serta memarahinya.


Tama melihat hal tersebut hanya tertawa, lucu juga keluarga ini. Jauh sekali dengan dirinya yang sedari kecil hidup jauh dari keluarganya, ia harus tinggal dengan neneknya karena ia ternyata bukan anak yang diharapkan oleh Ibunya.


Tama sebenarnya sedikit kecewa saat mengetahui Rani ternyata tak mengandung anaknya, tadinya Tama sudah bersyukur akan mendapat keluarga.


Namun perlu di ingat Tama meminta maaf dengan tulus setelah apa yang dilakukannya pada Rani. Maka Tama akan berusaha membuat Rani menerimanya, apapun akan dirinya lakukan karena Tama sudah berjanji pada Bapak perempuan itu akan bertanggung jawab menjaga Rani selamanya, hal ini juga yang membuat Bapak Rani luluh.


Namun apakah Rani nanti akan menerimanya? Akankah Rani memaafkannya terlebih masih ada Rafi yang mencintai Rani, begitupun Rani yang masih mencintai lelaki itu.


Tama berharap ada keajaiban yang membuat dirinya memiliki setidaknya sedikit ruang dalam hidup Rani, begitupun dengan hati perempuan itu.

__ADS_1


[]


__ADS_2