
Tama menunduk ia tentu saja menyetujui apa yang Rani katakan, memang setelah pernikahan tak sekedar cinta namun membangun sebuah pernikahan butuh banyak perjuangan termasuk memenuhi semua kebutuhan di dalamnya.
“Iya aku tahu,” jawabnya lesu.
Rani yang menyadari hal tersebut kemudian menghentikan kegiatannya, perempuan itu kini duduk tepat di samping Tama.
“Aku mau tanya satu hal boleh?”
Tama mengangkat wajahnya, kini ia menatap Rani dengan seksama mencari tahu apa kira-kira yang akan ditanyakan perempuan dengan leusng pipi itu.
“Boleh.”
Rani berpikir sejenak menimang apakah hal itu tepat untuk ditanyakan, namun kemudian ia rasa taka da salahnya menanyakannya.
“Sebelum semua ini terjadi apa kamu punya kekasih atau seseorang gitu?”
Tama lantas langsung menggeleng, “Nggak ada, pernah pacaran dua kali tapi sudah putus.”
“Yakin?” tanya Rani karena dirinya tak percaya dengan apa yang Tama katakan.
“Iya, aku pacaran pertama kali SMA, trus setahun lalu mungkin. Tapi dia sudah nikah sekarang, kami putus karena aku belum siap nikahin dia, dan juga orang tuanya nggak menyetujui kami untuk menikah,” kenang Tama.
Rani mengangguk-ngangguk, “Oke kalau gitu, setidaknya kamu nggak ada masalah sama masa lalu.”
Tama turut mengangguk setuju dengan apa yang Rani katakan, sebelum pria itu kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada Rani, “Jadi? Gimana kamu? apa kamu masih berharap sama Rafi?”
“Sedikit. Tapi yasudahlah, aku sekarang cuman mikirin keluarga aku dan anak ini.” Rani mengelus perutnya.
“Bagaimana dengan aku?”
“Kamu? memang kamu kenapa?”
“Apa kamu, masih nggak mau mikirin aku?”
Rani menatap raut wajah Tama yang kini di buat-buat cemberut berharap Rani akan luluh dengan hal itu, meskipun menurut Rani sedikit lucu tapi ia tak akan membiarkan Tama mengetahuinya.
“Kamu ya mikirin hidup kamu sendiri, aku sudah terlalu repot dengan apa yang harus aku
pikirin. Toh kamu kekeh akan menikahi aku kan, dengan apapun konsekuensinya?”
“Iya, nggak perlu kamu perjelas berulang kali Rani. Aku ingat dan sadar betul akan hal itu, aku akan bertanggung jawab sama kamu, anak kita, dan keluarga ini. Apa lagi sekarang aku punya orang tua yang baik.”
Rani menyelidik menatap Tama semakin dekat, “Jujur! Kamu apain orang tua aku?”
__ADS_1
“Apain apanya?” Tama memasang wajah bingung.
“Kok mereka bisa baik sama kamu?”
Tama merubah ekspresinya menjadi percaya diri sedikit jumawa, “Ya, karena aku anak yang baik.”
“Narsis,” cibir Rani.
Tama tertawa, “Kamu ganti baju sana, apa kamu nyaman dengan pakaian yang kamu kenakan sekarang?”
Rani turut menatap pakaian yang saat ini masih membalut tubuhnya, “Iya aku bakal ganti baju. Tapi sebelum itu, rencana kamu sekarang gimana?”
“Rencana untuk kita?”
“Yaiyalah! Meskipun kita menikah dadakan, tapi masa depan tetap harus kita rencanakan.” Rani merasa gemas.
“Kamu kalau marah-marah lucu ya,” kata Tama seraya tangannya tak sadar mencubit pipi Rani.
Rani kemudian menyingkirkan tangan Tama dari pipinya, “Apaan sih, sakit!”
Tama tak menghiraukan kekesalan Rani, “Pertama-tama aku bakal balik ke motel untuk mengambil barang-barang aku di sana, dan juga nemuin Rafi siapa tahu masih ada dia di sana. Lalu,” Tama kembali menatap Rani, lelaki itu menyentuh tangan Rani“ Kalau kamu mau balik ke Jakarta, aku akan ikut. Karena kamu masih mau kerja,
begitupun dengan aku, aku akan berusaha cari kerja. Tapi kalau kamu nggak keberatan, boleh aku minta kamu sabar dengan proses aku saat ini?”
Rani terkesiap sepertinya ia mulai tak sehat karena beberapa hari ini selalu bertemu dengan Tama, entah yang keberapa kalinya Rani selalu larut pada perkataan Tama yang serius seperti ini.
Rani menatap tangannya yang masih bertengger tangan Tama pula di sana, ia kemudian menarik tangannya.
“Butuh waktu berapa lama?”
“Mungkin nggak lama, tapi bisa jadi nggak sebentar juga. Aku juga akan berusaha untuk nggak lama-lama.”
“Oke, semoga apa yang akan kamu lakukan di permudah sama yang di atas.”
Meski perkataan Rani terdengar cuek, namun entah kenapa kalimat tersebut seperti jimat bagi Tama, pria itu merasa tengah disemangati oleh Rani, istrinya.
“Rani,” panggil Tama.
Rani yang sudah bangkit dari duduknya kembali menatap Tama, “Kenapa?”
“Apa kamu masih membenci aku?”
Rani tak langsung menjawab ia berpikir sejenak, “Masih.”
__ADS_1
“Butuh waktu lama untuk kamu membenci aku?”
“Mungkin.”
“Adakah hal yang bisa aku lakukan biar kamu nggak benci aku lagi?”
Rani kembali berpikir, namun ia tak menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut, “Putar waktu, buat aku nggak pernah ketemu kamu.”
Tama terpaku, ia tahu hal itu sangat mustahil tak akan mungkin dapat Tama lakukan, “Itu mustahil Rani.”
“Nggak bisa kan?”
“Maksud kamu nggak ada yang bisa aku lakukan agar kamu nggak membenci aku lagi?”
Rani mengangguk, perempuan itu kemudian meninggalkan Tama yang semakin merasa bersalah, memang sudah sepantasnya ia tahu diri. Pernikahan ini terjadi karena Rani hamil, ada bayi yang membutuhkan seorang ayah, bukan tentang dirinya dan Rani yang dapat bersatu, meskipun menurut Tama sikap Rani belakangan ini sedikit
membuatnya berharap, namun lagi-lagi itu semua tak berarti apa-apa bagi perempuan itu.
Hati Tama terasa sakit menyadari kenyataan tersebut, tetapi itulah konsekuensi atas perbuatannya sendiri. Ia memutuskan untuk tak banyak berharap lagi, anggap saja ini sebuah pekerjaan yang harus ia lakukan tak lebih dari itu.
Seperti yang telah ia katakana pada Rani, Tama kemudian memutuskan untuk mendatangi penginapannya ia akan mengemasi barang-barangnya.
Namun saat Tama hendak menutup pintu kamar Rani karena akan dirinya tinggalkan Bapak memanggilnya.
“Tama, boleh Bapak bicara sama kamu?”
Tama menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang mengering, setiap kali ia berbicara dengan Bapak Tama masih saja gugup.
“Iya Pak, boleh.” Jawabnya.
Kini Tama duduk tepat di samping Bapak Rani yang entah ingin mengatakan apa karena lima menit telah berlalu pria paruh baya tersebut masih tak mengatakan apapun. Akhirnya Tama berinisiatif untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
“Bapak, saya dan Rani berencana untuk kembali ke Jakarta. Kami akan mulai rumah tangga kami di sana.”
Bapak masih diam, sampai akhirnya beliau menghela napas, “Sebenarnya Bapak masih sulit melepas Rani untuk pergi jauh dari rumah.”
Tama berusaha memahami perasaan Bapak, “Pak, saya janji kalau Rani akan saya jaga begitupun dengan anak kami. Kami minta Bapak doakan yang terbaik untuk kami.”
Bapak lagi-lagi mengehela napas, “Rani anak perempuan Bapak satu-satunya, sedari kecil hidup dia tak bahagia. Bapak sangat merasa bersalah, terlebih sewaktu Rani nggak bisa lanjut sekolah dan malah harus kerja untuk keluarga ini.”
Tama dapat menangkap raut wajah sedih dari pria di sampingnya, “Rani perempuan yang kuat Pak. Dia sangat menyayangi keluarganya, terutama Bapak dan Ibu. Rani pasti nggak pernah merasa keberatan dengan apa yang telah dia lakukan, sebaliknya Rani pasti akan sangat sedih kalau dia tahu Bapak merasa seperti ini,” meskipun Tama belum lama mengenal Rani, dan keluarga ini namun Tama yakin hal ini yang akan di katakana Rani pada Bapak, perempuan itu pasti tak ingin Bapak merasa bersalah.
Bapak berdehem menyembunyikan kesedihannya, “Tolong jaga Rani, jangan biarkan dia terluka lagi. Kalau kamu nanti nggak mau lagi menjaga Rani dengan alasan apapun, maka kembalikan dia ke rumah ini.”
__ADS_1
Bapak kini menatap Tama dengan tegas, tak ada keraguan dalam kalimatnya, Tama bahkan menelan ludah ia seketika merasa ciut namun satu yang pasti Tama akan mempertaruhkan segalanya untuk menjaga Rani meski dengan kebencian perempuan itu.
[]