
Stelah sampai di Gedung perkantoran yang selama ini menjadi tempat kerjanya, dengan langkah besar ia segera berjalan menuju ruangan Dika yang sudah pasti ada Dika di dalamnya.
Tok..... Tok.... Tok...
" Masuk.." sahut Dika dari dalam.
"Sorry gue telat," ucap Rey saat baru masuk keruangan Dika.
"Tumben Lo telat, biasanya juga paling pertama datang ke kantor." ujar Dika tanpa melihat Rey karna Dika masih sibuk mempelajari berkas di tangannya.
"Tadi ada kejadian sebelum gua berangkat ke kantor, ban mobil kempes, dan lagi ada cewek yang datang ke gue minta tolong sambil nangis dia meluk gue." ucap Rey apa adanya karna Rey tak pernah bisa nyembunyiin apa pun dari Dika.
Dika yang mendengar penjelasan Rey pun sontak melihat sahabat sekaligus wakil dan juga asistennya itu dengan tajam, dan Dika pun penasaran dengan perempuan yang di bilang Rey barusan, karna setau Dika Rey paling anti di deketin perempuan setelah kejadian dulu.
__ADS_1
"Maksud Lo..?" tanya Dika penasaran.
"Iya, tadi ada perempuan yang datengin gue pas gue nunggu jemputan, tu cewek langsung peluk gue, dan dia bilang lagi di kejar orang mau di jual, ya gue gak tega lah, apa lagi pas lihat keadaan tu cewe ketakutan gitu, sampe bergetar badannya, dan gue lihat mukanya biru biru gitu kajian gue, makanya gue ajak di ke apartemen biar dia bisa istirahat, gak tega gue lihat tu cewe." ucap Rey jujur dan tak sadar dengan ucapannya itu membuat Dika tertarik ingin bertemu dengan cewe yang di maksud Rey, karna baru kali ini dia melihat Rey peduli pada orang lain selain keluarganya tentunya.
"Oh ya, gue keluar dulu ya mau cek ruang rapat dulu, nanti gue kesini lagi kalo udah siap." ujar Rey dan di jawab anggukan oleh Dika karna Dika masih memikirkan cewek yang di tolong Rey, dan Diki berharap semoga Rey mau memulai membuka hatinya pada perempuan biar bisa terlepas dari trauma masa lalunya.
.
"Ibu..." ucap Kiara dengan nada bergetar dengan air mata yang sudah meleleh di pipi putihnya
"Ada apa nak? kenapa menangis?" tanya ibu Wati panik, karna tak biasanya Kiara menangis seperti ini.
"Iya nak, kamu kenapa? siapa yang sudah buat kamu menangis? pasti ini ulah Dika ya?" tanya mama Nadin tak kalah panik dan mengira Dika yang sudah buat Kiara menangis seperti ini.
__ADS_1
"Enggak mah, Bu, bukan mas Dika, tapi Nina..." ucap Kiara terputus karna menangis dan entah kenapa perasannya tak enak seperti akan ada sesuatu yang akan terjadi.
"Nina kenapa naka?" tanya ibu Wati khawatir dengan menantunya itu yang belum genap dua Minggu menjadi menantunya itu.
"Nina kecelakaan Bu, mah.." ucap Kiara..
"Apa...?" tanya mama Nadin dan Bu Wati bersamaan..
.
.
Bersambung...
__ADS_1