
Dengan mata tertutup Dika menjawab pertanyaan Dokter walau berat hati tapi Dika harus memilih antar istri dan anaknya yang harus di selamatkan.
"Dok selamatkan istri saya Dok, tapi tolong selamatkan juga anak saya Dok." Ucap Dika memilih Kiara.
Kenapa Dika memilih menyelamatkan Kiara ketimbang anaknya, karna cinta Dika pada Kiara sangat besar apa lagi rasa bersalahnya sampai saat ini masih terus menghantui dirinya. Bukannya Dika tak sayang sama anaknya sehingga dia memilih untuk lebih menyelamatkan Kiara ketimbang anaknya, karna dia fikir dia bisa bikin anak lagi suatu saat nanti, tapi kalo kehilangan Kiara Dika gak sanggup, lebih baik Dika ikut mati bersama Kiara dari pada di tinggal dengan begitu banyak rasa bersalah dan dosa yang pernah dia buat untuk Kiara, dan juga merawat anaknya seorang diri tanpa Kiara, Dika benar-benar tak mampu.
"Baik pak..." jawab Dokter Anggi.
"Nak...., apa kamu yakin dengan keputusan mu itu nak?." Tanya mama Nadin
"Yakin mah,, karna Dika tak sanggup harus kehilangan Kiara, bukannya Dika tak sayang pada anak Dika, tapi Dika gak sanggup hidup tanpa Kiara apa lagi harus membesarkan anak tanpa Kiara mah, Dika gak sanggup mah." Ucap Dika dengan air mata yang mengalir begitu saja.
"Kamu berdoa saja, semoga Dokter bisa menyelamatkan mereka." Ucap papa Juna sambil menepuk pundak anaknya.
Satu jam sudah Kiara berada di ruang operasi namun masih belum ada tanda-tanda apa pun dari dalam, dan itu membuat Dika tambah khawatir sedari tadi tak berhenti-berhenti melihat lampu operasi yang masih menyala.
Baru saja Dika berniat untuk bangun dari duduknya, Dika di kejutkan dengan tangisan bayi yang begitu nyaring membuat Dika sedikit lega.
"Mah anak aku sudah lahir mah..." ucap Dika sumringah.
Baru saja akan di jawab oleh mama Nadin sudah kedengaran lagi tangisan bayi dan bukan cuma satu ada dua bayi lagi yang menangis dari dalam sana membuat ruangan itu tampak rame dengan tangisan ketiga bayi itu, dan itu membuat Dika tambah bingung karna yang masuk ruangan operasi kan cuma Kiara kenapa ada banyak bayi yang menangis di dalam, dan itu membuat Dika bengong.
Mama Nadin yang melihat anaknya bengong langsung memeluk anaknya.
"Selamat sayang anak kamu sudah lahir.." Ucap mama Nadin sambil menangis haru.
"Selamat boy.. kamu sudah jadi papa." Ucap papa Juna juga ikut memberi selamat serta memeluk Dika.
"Mah Kiara mah.." Jawab Dika linglung.
Doakan saja Kiara selamat ya sayang." ucap mama Nadin.
__ADS_1
Ceklek...
"Suami ibu Kiara?." tanya Suster.
"Saya sus.." jawab Dika.
"Masri ikut saya kedalam Tuan untuk meng adzanin anak Tuan." Ucap suster.
Bagai mana kondisi istri saya sus?." Tanya Dika.
"Nanti Dokter Anggi yang akan menjelaskan tuan, mari!" Ucap suster dan langsung berjalan duluan masuk kedalam ruang operasi.
Saat sampai di dalam ruang operasi Dika di kagetkan dengan adanya tiga boks bayi yang berisi dua bayi berselimut warna biru di sebelah kanan dan tengah, dan yang kiri terisi dengan bayi berselimut merah.
Dika menatap ketiga bayi itu semua wajahnya nampak sama, cuma bibir bayi yang berselimut biru di tengah saja mirip seperti bibir Kiara.
'Ya tuhan apakah ini anak-anak ku?. kenapa wajahnya mirip semua dengan ku,, tuhan ampuni hamba yang dulu sempat menelantarkan mereka beserta istri hamba, ampuni hamba Tuhan..' Ucap Dika dalam hati dengan mata yang sudah memerah menahan tangisnya.
"Maksud Dokter istri saya melahirkan bayi kembar tiga?." Tanya Dika dengan mata berkaca-kaca.
"Benar tuan, memang selama ini tuan tidak tau kalo istri anda hamil anak kembar?."Tanya Dokter Anggi. yang di jawab gelengan dari Dika.
"Terus keadaan istri saya gimana Dok?." Tanya Dika.
"Maaf tuan.., ibu Kiara saat ini masih kritis, dan sudah di bawa ke ruangan ICU, doakan saja semoga ibu Kiara bisa melewati masa kritisnya tuan." ucap dokter Anggi.
Deg...
Bagai di tusuk ribuan anak panah jantung Dika saat mendengar Kiara tengah kritis, dan itu membuat lutut Dika tak mampu untuk menopang tubuhnya, Dika langsung berlutut sambil menangis sambil menundukkan kepalanya.
"Dok tolong selamatkan istri saya Dok..." Lirih Dika.
__ADS_1
"Kami akan melakukan yang terbaik buat ibu Kiara tuan. silakan tuan anak-anaknya di adzanin dulu." ucap Dokter Angga dan langsung menyerahkan putra pertamanya dan terus di sambut dengan tangan bergetar Dika, saat melihat putra pertamanya sangat mirip dengan nya, begitu juga dengan putra keduanya, dan juga putrinya yang juga mirip dengannya.
Stelah Dika meng adzanin anak-anaknya Dika langsung menyerahkan ketiga anaknya dengan perawat, dan Dika langsung berjalan keluar dan langsung menuju ruang ICU untuk bertemu dengan Kiara yang sudah di tunggu kehadirannya di luar ruangan ICU oleh kedua orang tuanya.
"Mah, pah.. bagai mana keadaan Kiara?." Tanya Dika.
"Masih kritis nak.. Doakan saja semoga Kiara segera bisa melewati masa kritisnya." Ucap papa Juna.
"Bagai mana keadaan cucu-cucu mama?." Tanya mama Nadin.
"Mereka sehat mah, Kiara gak akan tinggalin aku kan mah dengan anak-anak ku?." Tanya Dika menangis dalam pelukan mama Nadin
"Kamu berdoa saja ya,, sekarang kamu masuk ya, temani Kiara di dalam," Suruh mama Nadin.
Dika pun masuk berjalan menuju ranjang pasien tempat Kiara.
Dengan perasaan tak menentu Dika menghampiri Kiara yang tengah berjuang hidup dan mati Dika langsung menggenggam tangan Kiara, dan berbicara sama Kiara.
"Sayang kamu bangun ya... anak-anak kita butuh ibunya, mas gak sanggup untuk ngerawat mereka sendiri sayang...
Jangan tinggalin mas sayang...
Cepet bangun sayang.. mas kangen kamu, mas sayang kamu, mas cinta kamu, jadi mas mohon kamu bangun ya, please sayang..." lirih Dika.
"sayang kamu pasti bisa lewati ini semua kan,, kamu kan istri mas yang kuat, kamu gak pingin apa lihat anak-anak kita? bangun sayang ya... mas mohon..." ucap Dika lagi dan sudah menangis sambil terus menggenggam tangan Kiara sesekali menciuminya.
Lama dia berada di samping Kiara sehingga dia melupakan anaknya yang juga butuh dirinya, Dika sama sekali gak mau keluar dari ruangan itu meski suster dan dokter berulang kali menyuruh Dika untuk menunggu di luar, tapi Dika kekeh gak mau menunggu di luar dia ingin berada di dekat Kiara, dan terus menggenggam tangan Kiara sampai Kiara membuka matanya.
Dika menundukkan pandangannya menangis dalam diam sambil tangannya terus memegang tangan Kiara, Dika di kagetkan dengan tepukan pada pundaknya dan membuat dia mendongak mencari tau siapa yang menepuknya..
Bersambung.....
__ADS_1