
"Apa dok? dok saya minta lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya, saya tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka berdua dok." ucap Dika sambil memegang tangan dokter itu.
"Saya akan, melakukan yang terbaik untuk pasien saya, dan kalo begitu silahkan tanda tanda tangani surat persetujuan oprasi ini, agar kami bisa langsung melakukan oprasi ini." ucap dokter itu dan langsung menyerahkan surat persetujuan oprasi pada Dika.
Dengan segera Dika langsung menandatangani surat persetujuan itu agar Kiara bisa segera di oprasi, dan setelah Dika menyerahkan kembali surat itu pada dokter tersebut dan dokter itu pun kembali masuk ke ruangan itu untuk menyiapkan oprasi untuk Kiara.
Setelah dokter itu pergi dari hadapan Dika, Dika duduk dengan lesu di samping mama Nadin, DIka menundukan kepalanya menyembunyikan air matanya yang ingin keluar setelah mengetahui orang yang sangat dia cintai kini tengah terbaring lemah di ranjang oprasi antara hidup dan mati.
"Dik, kamu harus kuat, kalo kamu lemah, siapa yang akan menyemangati dan juga menjaga Kiara, belum lagi anak anak kamu di rumah yang belum tau kondisi ibunya saat ini, kamu harus kuat dan tegar agar anak anak kamu bisa tenang dan tak khawatir pada keadaan ibunya saat ini.
"Mah, Pah, aku gak mau sampe Kiara lupa ingatan pah, apa lagi sampe lupain aku, aku gak bisa tanpa Kiara pah, aku tak bisa hidup tanpa Kiara, apa lagi sampe Kiara melupakan aku." ucap Dika sambil menangis menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Mama Nadin yang melihat anaknya menangis pun menarik Dika dalam pelukannya, mama Nadin sangat mengerti dengan perasaan Dika yang sangat mencintai Kiara.
"Kamu jangan berpikiran seperti itu, lebih baik sekarang kamu berdoa, agar Kiara bisa melewati semua ini, dan selamat seperti sedia kala. Ingat! setiap ucapan itu adalah doa, lebih baik kamu berdoa dan selalu berfikir positf." ucap papa Juna menasehati Dika.
"Benar apa yang papa kamu bilang Dik, lebih baik kamu sekarang berdoa, agar Kiara bisa melewati semua ini." Uca mama Nadin membenarkan ucapoan papa Juna.
Tak lama keluar lagi seorang dokter dari Ruagan yang sama, dan memanggil nama keluarga ibu wati.
"Keluarga ibu Wati?" tanya dokter itu saat bru keluar dari ruanggan itu.
"Bagai mana ke adaan ibu saya dok?" tanya Kevi saat sudah beraa di hadapn dokter perempuan yang tadi memanggilnya.
__ADS_1
"Saat ini ibu Wati masih belum sadarkan diri, dan cukup stabil tapi, kami harus melakukan oprasi karna tangan kirinya mengalami keretakan, dan juga kaki sebelah kanannya mengalami patah tulang pada bagian pahanya, untuk itu kami minta persetujuan melakukan oprasi untuk pasien." ucap dokter perempuan itu, dan seketika membuat semua menutup mulut tak menyangka dengan kondisi ibu Wati yang juga parah walau tak separah Kiara.
"Lakukan yang terbaik untuk ibu saya dok." Ucap Kevin.
"Iya dok, lakukan yang terbaik untuk mertua saya dok." Ucap Dika menimpali.
"Kalo begitu kami akan menyiapkan oprasi saat nanti pasien sudah sadar, dan tolong tanda tangani surat persetujuan ini agar kami bisa melakukan oprasi."Ucap dokter permpuan itu dan menyerahkan surat persetujuan itu pada Kevin agara segera di tanda tangani.
.
Bersambung.....
__ADS_1
.
Maaf ya kakak kakak semua, kalo ada salah kata dalam penulisan author, harap di mengerti ya... makasih...