Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 21. Bertemu dia


__ADS_3

Vani terkejut saat seseorang mencolek lengannya. Jantung Vani berdegup kencang dan hatinya berdebar-debar. Lalu dia menenangkan hatinya sendiri, bahwa bisa jadi itu adalah Sasa atau Mina.


Sambil tersenyum, Vani menoleh. Senyumnya tiba-tiba menghilang dan dia hendak mundur selangkah. Tetapi ketika dia teringat bahwa saat ini dia adalah Vani, maka Vani segera menghilangkan perasaan sedih dan marahnya.


"Maaf, saya kira kamu orang yang saya kenal," ucap Deni sambil mengangguk pelan.


"Tidak apa-apa, santai saja," jawab Vani berusaha tenang.


"Kak Deni," panggil Vina.


"Vina, kamu ada di sini?" tanya Deni kaget.


"Iya, Kak. Ada beli kebutuhan wanita. Kenalin, ini kakakku Vani," jawab Vina lalu memperkenalkan Vani pada Deni.


"Deni."


"Vani."


Deni dan Vani saling bersalaman. Vani berusaha tidak menunjukkan jika Vani mengenali Deni.


"Jarang kita bisa bertemu, bagaimana kalau aku traktir kalian," ucap Deni penuh harap.


"Boleh, Kak. Vina paling suka kalau gratisan. Oh ya, Kak Deni jam segini masih berada di sini, lembur?"jawab Vina sambil menggandeng Vani dan diajaknya duduk.


"Ya. Kebetulan ada hal yang harus Kak Deni kerjakan. Tapi ternyata, lembur kali ini membawa keberuntungan. Bisa bertemu, adik manis," jawab Deni.


"Bisa saja. Tapi yang penting, dapat makan gratis," ucap Vina senang.


Deni segera memesan makanan untuk mereka bertiga. Deni terus menatap Vani tak berkedip. Hal itu membuat Vina curiga kalau Deni menyukai kakaknya.


"Kak Deni. Kak Deni suka ya, sama kak Vani?" tanya Vina mengejutkan Deni dan Vani.

__ADS_1


"Mana mungkin, aku hanya penasaran karena dia mirip dengan orang yang aku kenal," jawab Deni gugup.


"Suka juga nggak papa, Kak Deni. Kan dulu Kak Deni sering tanyain kakak Vina udah ketemu apa belum. Nah, ini kak Vani. Anggap saja dia memang kakaknya Vina," ucap Vina sambil tertawa kecil.


"Mana bisa begitu, Vina. Kak Deni, nyerah aja, nggak mau ganggu kakakmu. Dia terlihat tidak suka denganku," ucap Deni sambil berbisik.


"Kakak jangan khawatir, nanti aku bantu, oke?" ucap Vina tersenyum manja.


"Kalau begitu, makasih," ucap Deni membalas senyum Vina.


Vani diam seribu bahasa sampai makanan yang dipesan datang. Mereka makan sambil sesekali Vina menggoda Deni. Sementara Vani hanya fokus untuk makan. Di belum bisa melupakan peristiwa malam itu. Dia berusaha menekan perasaan marah dan kesal pada Deni.


Deni, meskipun dia terus bercanda dengan Vina, tetapi hatinya sangat sedih. Deni tahu dan menyadari bahwa wanita di depannya adalah Yanti, istrinya. Tetapi dia tidak bisa egois mengatakan pada Vina jika Vani adalah istrinya. Terlebih, sekarang dia sudah terlihat bahagia bersama keluarga dia yang sebenarnya.


Deni mengalah demi masa depan Vani. Jika memang mereka berjodoh, suatu saat, Vani pasti akan memaafkannya. Biarlah, Vani hidup bahagia bersama keluarga yang sangat ingin Vani temui. Deni sudah cukup bahagia, mengetahui keadaan Vani, baik-baik saja.


Makan malam, telah selesai. Vina dan Vani pamit pada Deni karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Sebelum pergi, Deni menjabat tangan Vani.


Deni pasti sudah menyadari, jika aku adalah Yanti, batin Vani.


Belum sempat Vani bertanya, Deni ternyata sudah pergi meninggalkan Vani dan Vina. Vani mencari-cari keberadaan Deni, tetapi Deni memang sudah tidak ada.


"Kak Vani cari siapa? Kak Deni?" tanya Vina menyadarkan Vani.


"Tidak. Mana mungkin aku mencari dia. Untuk apa?" jawab Vani gugup.


"Siapa tahu Kakak suka sama kak Deni," jawab Vina.


"Sudahlah, ayo kita pulang. Keburu nanti tempat ini tutup."


Vani dan Vina segera pulang karena takut kemalaman. Sepanjang jalan, Vani masih teringat jelas perkataan terakhir Deni sebelum pergi. Vani masih penasaran, dan ingin bertanya pada Deni. Tetapi, hal itu tidak akan mungkin dilakukannya di depan Vina.

__ADS_1


Sampai di rumah, Vani langsung masuk kekamarnya dikuti Vina. Rupanya Vina masih penasaran dengan pertemuan Vani dan Deni.


"Vina, kenapa ngikuti Kakak sampai ke kamar?" tanya Vani heran.


"Penasaran aja, mau tahu gimana perasaan Kak Vani ke kak Deni. Kasih tahu dong Kak," ucap Vina yang langsung duduk di atas tempat tidur Vani.


"Vina, kita baru saja ketemu dia. Jangan tanya yang aneh-aneh," ucap Vani sambil duduk di depan cermin.


"Meskipun kalian baru pertama bertemu, tapi dari sorot mata kak Deni, Vina sudah tahu kalau kak Deni suka sama Kakak," ucap Vina serius.


"Kamu itu masih kecil dan belum tahu apa-apa. Jangan sok jadi Mak comblang," kata Vani sambil menatap Vina yang kemudian tersenyum.


"Kak Vani, keluarga kita sudah lama kenal sama kak Deni. Bahkan, kak Deni panggil papi dengan sebutan ayah. Jadi di keluarga kita, kak Deni juga seperti anak sendiri. Walaupun kak Vani tidak terlalu suka dengan kehadiran kak Deni, mungkin Kak Vani harus membiasakan diri untuk melihat kak Deni lagi." Cerita Vina membuat Vani menghela napas panjang.


"Maksudmu, dia sering kesini? Tapi selama kakak di sini, kakak belum pernah lihat dia datang," ucap Vani penasaran.


"Kak Deni itu orang sibuk. Semenjak dia memegang bisnis sendiri, dia hanya datang kalau ada hal penting saja. Terutama dia bertanya tentang kakakku yang hilang. Setelah dapat jawaban belum ketemu, dia akan langsung pergi dan lama untuk datang lagi. Sebulan atau dua bulan dia akan datang untuk bertanya lagi tentang Kakak, " jawab Vina.


"Apa hubungan kakakmu dengan Deni, kenapa dia datang hanya untuk mencari tahu keberadaan kakakmu?" tanya Vani lagi.


"Vina pernah dengar, kalau kak Vani diculik oleh mamanya kak Deni, waktu masih kecil. Kak Deni berusaha menyelamatkan kak Vani, akan tetapi kak Vani menghilang lagi dan sampai sekarang tidak ada kabar berita." Vina melanjutkan ceritanya.


"Oh, begitu. Jadi, Deni baik juga, mau menyelamatkan kakakmu. Meskipun akhirnya kakakmu masih tetap tidak kembali. Atau, Deni merasa bersalah karena ibunya yang menculik kakakmu?" kata Vani.


"Bisa jadi kak. Tetapi, kita juga menghargai usaha kak Deni saat itu. Karena itu, kiat selalu baik menerima kedatangan kak Deni meskipun ibunya yang menyebabkan hilangnya kak Vani," jawab Vina sedih.


"Vina, apakah aku tidak akan membuat kalian sedih. Setiap hari melihatku tetapi aku bukan keluarga kalian yang sebenarnya," ucap Vani sedih.


"Kak Vani, kami sangat berterimakasih kepada kakak. Karena Kakak sudah mau memaafkan kesalahanku dan tidak menempuh jalur hukum. Meskipun nanti, kak Vani yang sebenarnya ketemu, tetapi bagiku, Kakak masih tetap kakakku. Vina malah takut, jika nanti Kakak ingat siapa diri Kakak, Kakak akan melupakan kami. Padahal aku sangat menyukai Kakak," ucap Vina lalu berdiri dan memeluk Vani erat.


"Meskipun nanti aku ingat siapa diri Kakak, aku tidak pernah melupakan kalian semua. Aku tidak akan pernah, melupakan kasih sayang yang kalian berikan padaku selama ini. Terutama kamu dan mami Winda," ucap Vani membalas pelukan Vina.

__ADS_1


Maafkan aku Vina, aku telah membohongi kalian, batin Vani.


__ADS_2