
Sebulan berlalu sejak kembalinya Aaron, Annelka secara resmi mengumumkan kembalinya sang kakak. Mengatakan ada kesalahan saat pemakaman. Menyertakan hasik tes DNA sebagai bukti bahwa Ben memanglah Aaron Xavier Carter, kakak Annelka. Yang dinyatakan telah meninggal sepuluh tahun lalu.
Hal yang membuat gempar seantero negeri. Hampir semua menyatakan kebahagiaannya. Masih ada yang selamat dari skenario kejam yang dibuat Duta.
Tapi tentu saja tidak dengan Neva. Dia semakin marah. Merasa tidak adil. Melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh Annelka dan keluarganya. Namun rasa itu hanyalah sekedar rasa. Karena dia tidak mampu untuk melakukan apa-apa. Dia sangat ingin membalas dendam. Sebab Neva pikir, karena Annelkalah keluarganya jadi berantakan.
Ayahnya meninggal. Mereka hidup pas-pasan, meski tidak kekurangan. Sedang sang kakak, Vando. Malah bisa hidup lebih nyaman. Karena punya bisnis sendiri. Dan lagi, Vando menggunakan nama Gabriel. Jadi bisnisnya tidak teimbas sama sekali oleh berita buruk soal sang ayah.
Berbeda dengan Neva, dia dan ibunya sekarang berada dalam pengawasan Gabriel. Pria itu memegang kendali penuh atas kehidupan Neva dan ibunya. Sebab Gabriel tahu. Watak Kania dan Neva sama busuknya dengan Duta.
Sedangkan Vando, Gabriel lebih longgar pada pria itu. Vando memang lebih dekat dengan Gabriel sejak lama. Jadi dia tidak terlalu ketat dalam mengawasi Vando.
"Nih,..." Aaron menyerahkan satu paperbag kecil pada Aya. Bumil itu sedang menikmati sinar matahari pagi di teras belakang alias berjemur.
"Apa ini?" Tanya Aya tidak paham.
"Katanya minta ganti" Jawab Aaron kesal. Mendengar kata ganti, Aya langsung sumringah. Membuka paper bag itu. Dan sepasang anting brand Cartier berada di dalamnya.
"Wahhh kau memang kakak ipar ter....
"Rolex-nya otewe. Yang dijual Zaki kan Philipe Patex, kenapa kau minta ganti Rolex?"
"Gak jadi kakak ipar terbaik, tapi termenyebalkan. Ya biarin aku minta Rolex, biar duitmu berkurang. Sepuluh tahun sama sekali nggak dipakai tapi income masuk terus" Gerutu Aya tapi wajahnya bahagia menatap anting di tangannya.
"Begini ni tukang malak gantian kena palak" Aaron balik menggerutu.
"Makanya buruan nikah sana. Biar duitnya ada yang bantuin ngabisin. Daripada aku palakin terus"
"Kamu pikir enak main nikah aja. Gak ada calon"
"Nyari dong. Asal jangan sama si dakocan itu"
Aya mendengar kabar dari Zaki, kalau ada perempuan yang suka datang ke kantor Dharmawangsa. Zaki tidak suka karena perempuan itu jelas-jelas mau menggoda Aaron.
"Dakocan?"
"Neva...anaknya si Duta, si pembunuh"
"Eehhh bumil ngomong yang baik-baik napa?"
"Uupps sorry, lupa boy. Terlalu marah sama si itu. Pokoknya jangan meladeni si dakocan itu"
"Siapa juga yang mau sama si Neva. Bukan tipeku"
"Lalu tipemu yang seperti apa? Seperti yang itu"
"Siapa?"
"Santi...kau suka padanya?"
Aaron mendengus kesal.
"Dia dulu pacarku"
"Ooo CLBK"
"Bukan, bukan belum kelar"
"Lalu kenapa putus?"
"Yeee, aku kan rampok dulu. Ya mana mau dia sama aku"
"Memang dia tahu kamu rampok?"
"Enggak, dia nggak pernah tahu aku rampok. Karena itu aku putusin dia. Aku merasa tidak pantas untuknya" Jawab Aaron sendu.
"Sekarang kau kan bukan rampok lagi. Namamu juga sudah dibersihkan. Tidak ada lagi cap rampok lagi dalam dirimu"
"Lalu?"
"Ya kejar lagi dia"
"Malu...
"Lebih baik malu daripada dia nanti diambil orang. Menyesal kamu nanti" Kompor Aya.
__ADS_1
Aaron terdiam, sedang Aya kembali menatap anting barunya.
"Kalian selingkuh ya?" Suara Annelka mengagetkan keduanya.
"Busyet dah...gue juga masih tahu diri. Gak nyelingkuhin adik sendiri"
"Berarti istri orang berani?" Tanya Annelka.
"Tergantung..kalau dia seksi, bohay. Gue mau" Jawab Aaron enteng.
"Kamu ini ...ada juga kakak gue jadi pebinor" Annelka duduk di samping Aya sambil merangkul pundaknya.
"Ada yang perawan kenapa mau yang bekas suami orang" Ucap Aya santai.
"Dia punya pacar?"
"Mantan yang belum kelar"
"Ha? Siapa? Aku kenal?"
"Kenallah, orang dia mantannya Santi"
"Santi? Santi siapa?"
"Santi yang nolongin elu. Bodoh banget sih" Gerutu Aaron.
"Ehh Kak, yang nama Santi bejibun. Makanya gue nanya, Santi yang mana?" Balas Annelka cepat.
"Mending kamu kejar dia lagi deh. Dia baik kayaknya ketimbang si dakocan"
"Dakocan? Dia ngapain?" Annelka tertarik mendengar nama Dakocan.
"Nggak dapatin kamu, dia coba menggoda Aaron"
"Ha?" Annelka melongo.
"Gue kata nggak tertarik ya" Jawab Aaron.
"Siapa juga yang mau sama si dakocan itu"
"Zaki mana?" Tanya Annelka. Biasanya hari libur begini, mereka sering menghabiskan waktu untuk mengobrol di tempat itu. Lalu siangnya mereka suka keluar, untuk sekedar jalan bareng atau ke rumah Farris. Main dengan si kembar.
Awalnya Aaron berniat untuk pindah ke rumahnya sendiri. Tapi Annelka mencegahnya.
"Pindahlah nanti. Sekarang tinggalah dulu di sini. Aku masih rindu padamu" Annelka berucap.
"Nanti kau cemburu padaku"
"Itu urusan nanti"
"Jangan marah padaku jika aku menggoda istrimu"
"Coba saja"
Jadi disinilah mereka sekarang. Tinggal bersama plus Zaki yang tidak diizinkan ngontrak.
"Yang buat ngontrak mending buat modal nikah. Udah pada tua juga belum punya istri" Oceh Aya. Membuat Aaron dan Zaki menggeram kesal.
"Kau pikir suamimu tidak tua?"
"Belum masuk tiga puluh"
"Tahun depan tiga puluh, Nyonya Cerewet"
"Kan baru mau" Jawab Aya enteng.
"Astaga, kenapa gue gak pernah menang sih lawan kamu?"
"Karena memang aku sang pemenang" Ucap Aya narsis. Aaron dan Zaki hanya bisa memutar matanya malas. Mendengar kenarsisan Aya yang masuk level akut.
"Dia pulang sebentar untuk mengurusi rumah dia yang mau dijual. Kebetulan ada yang mau beli"
"Rumah yang waktu itu?"
"Rumah yang dulu. Kalau rumah yang baru itu kami beli bersama. Jadi cuma mau dikontrakan. Buat investasi katanya. Sekalian ada saudaranya yang mau nikahan"
__ADS_1
Keluarga Zaki tidak ada yang tahu kalau Zaki seorang kriminal. Sebab sejak bertemu Aaron, pria itu memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tuanya.
"Dia mulai pintar sekarang" Puji Annelka.
"Ya baguslah. Ada kemajuan dia belajar selama ini" Tambah Aya.
"Dia pulang juga sekalian mau hunting tanah. Katanya dulu ada tanah yang lokasinya bagus untuk dijadikan hotel. Ingat waktu kalian ke sana, tidak ada hotel sama sekali kan? Nah Zaki punya ide mau bangun hotel di sana. Lokasinya strategis dekat jalan raya. Terus kata Zaki, ada pemandian dan air terjun bagus di sana. Cuma belum diekspose" Jelas Aaron.
"Wah, asistenmu pintar sekarang. Otak kriminalnya tetap berjalan" Balas Annelka.
"Aku sarankan bangun juga rumah sakit. Atau setidaknya kliniklah. Nanti isinya aku dengan Farris yang nyari"
"Siap, Nyonya Cerewet. Biar Zaki hunting tanahnya dulu. Nanti aku hubungi dia. Nanti kalau sudah deal soal tanah. Aku beritahu"
"Jangan murah-murah beli tanahnya. Kasihan mereka hidupnya susah"
"Hei, aku juga tahu itu. Karenanya Zaki sekalian mau buat lapangan kerja buat mereka. Biar nggak jadi rampok lagi. Teman preman dia kan banyak"
"Bagus itu" Puji Annelka.
"Nyonya ini masih pagi. Masak sudah mau ngemil mangga muda begitu" Aaron berucap ketika Aya mulai makan mangga.
"Seger tahu"
"Asemmmm" Aaron membuat ekspresi orang makan mangga muda.
"Terserahlah. Aku sudah capek buat ngasih tahu dia" Sahut Annelka.
"Lagian aku heran sudah jalan lima bulan kok ya masih ngidam sih" Tambah Aaron.
Sementara yang dijadikan bahan pembicaraan. Tidak peduli. Asyik dengan cemilannya.
"Aku makan tapi tidak banyak kok. Jangan khawatir. Aku tahu batasnya" Ucap Aya.
"Baguslah kalau begitu" Sang suami menimpali.
"Ya Ki, ada apa?"
Aya dan Annelka langsung menatap ke arah Aaron.
"Santimu yang mana?"
"Santi siapa?"
"Mantanmu"
"Santi Ratnadewi kalau gak salah. Kenapa?"
"Fix, dia saudara gue. Yang mau nikahan dua jam lagi"
"What?!!"
"Kalau elu masih cinta sama dia. Buruan datang. Kalau dia nikah sama orang lain, nanti elu nyesel, terus nangis darah. Gue gak tanggung ya"
Tuuut,
Aaron melongo. Sejenak ngebug dengan apa yang Zaki katakan barusan.
"Malah diam"
"La gue harus bagaimana?"
"Lu masih cinta gak sama Santi?" Tanya Aya.
"Ya, cinta"
"Rela, dia jadi milik orang lain?"
"Ya nggaklah!"
"Makanya cepetan kejar ke sana! Perjuangkan dia!" Bentak Aya.
Aaron masih ngebug. Hingga satu pesan dari ponselnya masuk. Aaron langsung membacanya.
"Brengsek!"
__ADS_1
****