
"Ay...Aya...
Annelka mencoba memanggil istrinya. Berharap semoga telinganya tidak disumpal dengan headset bluetooth seperti biasanya. Mendengar ada yang memanggil. Aya membuka matanya.
"Sekarang jelaskan! Kenapa kau menunda kepergian kita ke sana?" Sembur Aya begitu dirinya berhasil menepi.
"Aku ada pekerjaan" Jawab pria itu singkat.
"Pekerjaanmu tidak akan ada habisnya. Begitu juga dengan uangmu"
"Kita bicara di atas"
"Tidak mau!" Aya menolak tegas. Setiap kali ada masalah, dan mereka membicarakannya di kamar. Semua pasti berakhir dengan sesi panas. Berujung dengan selesainya masalah mereka di ranjang. Annelka benar-benar pintar memanfaatkan situasi. Aya menggerutu dalam hati.
"Tidak baik membicarakan hal ini di sini" Bisik Annelka.
"Katakan saja"
"Naik dulu. Nanti aku beritahu" Annelka mencoba bernegosiasi.
Dia tahu kali ini kemarahan Aya tidak main-main. Tapi apa salahnya mencoba peruntungan. Toh selama ini. Jurus andalannya selalu berhasil menakhlukkan kemarahan Aya. Jurus andalan yang dia dapat dari Ed.
"Semarah-marahnya wanita, pasti akan takhluk kalau kau bisa membawanya ke kasur"
Jurus dari Ed, yang kalau dipikir tidak masuk akal. Tapi ternyata ampuh sekali untuk mengendalikan emosi Aya, yang suka meledak-meledak.
"Ayolah, sayang"
"Tidak mau!" Aya tegas menolak.
Hingga akhirnya, tanpa ba bi bu. Annelka membawa paksa Aya. Memanggulnya seperti karung beras.
"Annelka turunkan aku!"
Aya berteriak, namun tidak digubris oleh sang suami. Dalam hitungan detik, mereka sudah masuk ke kamar mereka. Aya langsung masuk ke kamar mandi, begitu Annelka menurunkannya.
"Kenapa ikut masuk?" Tanya Aya judes.
"Mandilah. Ngapain lagi?"
Aya menarik nafasnya dalam. Berusaha menurunkan amarahnya.
"Sekarang jelaskan ke...
"Oh shi***!" Aya langsung mengumpat. Karena begitu dia berbalik. Dia langsung disuguhi pemandangan indah tubuh sang suami. Dan tidak bisa Aya pungkiri. Tubuh itulah yang sering membuatnya menggila. Hampir setiap malam.
"Akan aku jelaskan. Kenapa aku menunda rencana kita" Annelka berucap sambil berjalan ke arah Aya. Hanya memakai boksernya. Aya seketika menelan salivanya. Benda di balik bokser itulah yang selalu memberi rasa nikmat luar biasa pada dirinya.
"Jangan mendekat!"
"Kenapa? Takut?" Ledek Annelka. Aya langsung menggeram kesal. Suaminya itu tahu kelemahannya.
"Jangan marah-marah. Nanti tidak bisa mende*** lo"
"Mesum"
"Mesum dengan istri sendiri apa salahnya"
"Annelka..." Namun detik berikutnya teriakan Aya langsung menghilang, ketika Annelka menautkan bibir mereka. Dan jika sudah begini, Aya tidak lagi bisa berkutik lagi.
__ADS_1
Ciuman Annelka benar-benar membuyarkan kemarahannya.
"Kau brengsek, Ann"
"Aku terima pujianmu, Nyonya" Kekeh Annelka di tengah aksinya mencumbu tubuh sang istri. Dan setelah foreplay yang membuat tubuh Aya tidak karuan. Annelka mulai menyatukan diri.
Di atas wastafel mereka bercinta kali ini. Dan sensasinya benar-benar berbeda.
"Kamu menyukainya?" Tanya Annelka. Menatap wajah sensual istrinya yang terus meracau menikmati setiap hentakan dari dirinya.
"Aku membencimu, Ann" Jawab Aya sambil menggigit bibirnya. Mendengar hal itu. Annelka terkekeh.
"Kalau begitu, akan kubuat kau semakin membenciku"
Satu jeritan langsung keluar dari bibir Aya. Ketika Annelka menaikkan tempo permainannya. Membuat Aya semakin gila dibuatnya.
*****
"Apa maksudmu sedang berusaha menjebak orang itu?" Tanya Aya, yang saat ini berada dalam pelukan sang suami. Setelah sesi panas mereka yang benar-benar menguras energi Aya.
Bagaimana tidak? Setelah sesi di atas wastafel. Ternyata pria itu belum juga puas. Hingga ketika mereka mandi di bilik shower. Pria itu kembali mengulangi aksinya.
"Isshh, kenapa kamu tidak naked sekalian. Apaan coba pakai baju seperti itu" Protes Annelka. Malah membicarakan soal kebiasaan Aya yang suka memakai tank top dengan hot pants tiap kali berada di kamar.
"Malah ngomongin baju. Jawab dulu pertanyaanku"
"Habisnya baju itu cuma membuat repot saja. Pakai acara buka. Padahal hanya seperti itu"
"Maunya sepertimu begitu"
Annelka mengangguk semangat.
"Jadi apa tadi jawabannya?"
"Aku sudah terlanjur memasukkan permohonan pencairan aset keluargamu. Untuk memancing reaksi orang yang berhubungan dengan kejadian itu" Annelka enggan menyebut kata pembunuhan. Takutnya nanti Aya teringat traumanya lagi.
"Apa dia yang melakukan itu semua?"
"Belum pasti. Tapi Om Fabian punya dasar yang kuat untuk menuduhnya. Begitupun aku. Karena aku juga menduga. Dia ikut terlibat dalam kecelakaan keluargaku"
"Maksudmu? Dia juga melakukan hal yang sama dengan keluargamu" Tanya Aya terkejut.
Annelka mengangguk.
"Selama ini aku menyelidikinya. Mencari buktinya. Tapi nihil. Hingga kemarin anak buah Ed menemukan mekanik yang menangani mobil Papa sebelum kecelakaan itu terjadi. Karena kemungkinan mobil Papa disabotase"
"Dia benar-benar kejam"
"Keserakahan menguasai hatinya. Itu untuk kasusmu. Tapi untuk kasusku, aku belum mengetahui motifnya. Berhati-hatilah mulai sekarang. Aku tidak mau dia melukaimu. Aku tidak mau kamu berada dalam bahaya"
"Tapi jika dia tahu aku masih hidup"
"Kami masih menutupi identitasmu. Aku menggunakan surat kuasa dari Om Fabian untuk mengajukan pencairan asetmu. Tanpa menggunakan namamu"
"Berarti yang dalam bahaya om Fabian"
"Aku pikir juga begitu. Tapi kami akan selalu waspada. Jadi jangan khawatir"
"Berapa lama prosesnya?"
__ADS_1
"Paling cepat satu bulan. Makanya honeymoon-nya aku tunda"
"Honeymoon apaan? Orang tiap hari honeymoon mulu" Cebik Aya kesal.
"Kan buat ganti yang dulu. Yang aku puasa lama"
Aya langsung terdiam. Dia mengingat bagaimana Annelka terus menahan diri untuk tidak meminta haknya.
"Maafkan aku" Ucap Aya tiba-tiba. Memeluk erat suaminya. Membenamkan wajahnya dalam dada bidang polos Annelka.
"Soal?"
"Aku yang terlalu egois. Tidak memikirkan perasaanmu. Hanya memikirkan diriku sendiri"
"Yang penting sekarang tidak. Lihat, kesabaranku berbuah manis...
"Bukannya slogan kalian para pria...orang sabar, itunya besar"
"Oohh itu juga benar. Jadi kau mengakuinya?"
"Ha?"
"Besar?" Tanya Annelka melirik ke arah bawah.
"Lah kok jadi balik ngomongin itu lagi sih. Sudah, aku mau tidur. Capek. Besok schedule operasiku banyak"
Aya melepaskan pelukannya pada Annelka. Lalu berbaring memunggungi suaminya.
"Ay...aku jangan dicuekin dong"
"Bomat"
"Aku gak bisa tidur kalau gak peluk kamu" Rengek Annelka. Namun Aya hanya diam saja. Hingga Annelka yang berinisiatif memeluk istrinya.
"Ya meluk aja. Kalau gak mau dipeluk" Oceh Annelka di telinga Aya. Membuat wanita itu kegeliaan. Perlahan sepasang suami istri itu mulai memejamkan matanya. Masuk ke alam mimpi bersama-sama.
****
Seorang pria tampak mengendap-ngendap masuk ke ruang kerja Duta. Setelah memastikan semua aman. Pria itu lalu melangkah ke arah dinding di belakang meja kerja Duta.
"Aku tahu kau mengganti kodenya" Guman orang itu.
Beberapa saat mengutak atik kotak besi yang tersembunyi di balik tembok itu. Sedikit berpikir. Dia sudah mengamati Duta untuk beberapa waktu. Dan mulai mencurigai pria itu terlibat dalam beberapa korupsi yang sebagian menggunakan namanya.
Dia jelas geram. Uangnya dia tidak ikut merasakan. Namun namanya tercemar di mana-mana. Sedikit memakan waktu ketika pria itu mengulik brankas itu. Hingga tiba-tiba sebuah senyum merekah di bibirnya.
Brankas itu berhasil dia buka. Beberapa dokumen ia keluarkan. Perlahan memeriksanya. Hingga dia kemudian menemukan apa yang dia cari. Pria itu mengambil ponselnya. Lalu memotret halaman yang berisi aliran dana ke rekening Duta. Yang rekeningnya atas nama dirinya. Rekening yang dia sendiri bahkan tidak tahu dia memilikinya.
Setelah cukup puas. Pria itu mengembalikan semua berkas ke dalam brankas Duta. Pria itu sejenak terdiam. Melihat sebuah benda seperti flash disk dalam sebuah kotak seperti flash disk yang berisi adegan panas antara Aya dan Annelka waktu itu.
Sedikit mengamatinya.
"WB Group dan CG" Guman pria itu. Terdengar suara langkah orang bergerak mendekat. Pria itu buru-buru memasukkan kotak berisi flash disk itu ke dalam saku jaketnya. Menutup brankas lalu bersembunyi di balik sofa di sudut ruangan.
"Apa maksudmu ada kemungkinan Faya Wibisana masih hidup?" Tanya Duta pada Ricky. Cukup kesal ketika sang asisten menghubunginya hampir tengah malam. Namun begitu dia cukup terkejut ketika Ricky membawa informasi yang sangat berarti untuk dirinya.
"Faya Wibisana? Siapa dia? Kenapa ada begitu banyak rahasia yang kamu sembunyikan, Paman?" Guman pria itu sambil meraba saku jaketnya. Di mana dia sudah merasa mengambil satu dari banyaknya rahasia milik Duta.
***
__ADS_1