Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Gabriel Kecelakaan


__ADS_3

Semua orang bertepuk tangan, melihat tiga pasang pengantin yang tersenyum bahagia kepada semua tamu undangan. Sesuai keinginan ketiga pasangan pengantin. Mereka sepakat mengadakan resepsi three in one. Setelah ijab kabul antara Farrris dan Astrid tadi siang. Sedang pemberkatan Ed dan Bella serta Tria dan Eva sore tadi.


Resepsi memang bersama-sama, tapi konsep mereka bertiga berbeda. Dengan pelaminan dan dekorasi berbeda. Annelka langsung pusing mendengar budget yang harus dia keluarkan untuk pernikahan ketiga trio kwek kwek-nya ini.


"Kenapa sih?" Tanya Aya sibuk memasukkan salad buah ke mulutnya.


"Bukannya ngirit, malah bangkrut aku" Keluh sang suami. Menatap kesal ke arah ke tiga pasang pengantin yang tengah berselfi ria.


"Alah anggap saja donasi"


"Donasi, beramal apanya? Aku harus mengeluarkan dana segini...


Annelka mengangkat sepuluh jarinya.


"Itu murah. Untuk pernikahan kita?"


"Itu untuk cincinmu saja"


"Ya sudah. Jangan menggerutu. Mengeluh lagi aku lepas cincinnya"


"Lepas saja coba" Tantang Annelka.


Aya mencoba melepas cincinnya.


"Kok gak bisa?" Aya berucap heran membuat Annelka tertawa.


"Sampai kapanpun kau tidak akan bisa melepasnya" Bisik Annelka.


"Ha? Kau licik, Ann!"


Aya langsung memanyunkan bibirnya. Sambil terus memakan saladnya.


"Ay, perasaan dari tadi kamu makan itu terus" Heran Annelka.


"Enak sih"


"Enak sih enak, tapi kalau tiga piring? Yang benar saja. Nggak sakit tu perut"


"Nggak tu dari kemarin pengen makan beginian"


"Terserah deh. Yang penting gak kenapa-kenapa"


Aya hanya memberi tanda oke. Keduanya duduk di sofa di sudut ruangan. Memperhatikan lalu lalang orang di hadapan orang. Maklum, pesta tiga orang jadi satu. Jadi bayangkan saja tamunya berapa banyak.


"Kujamin mereka tidak akan bisa bobol gawang malam ini. Pasti pada tepar duluan" Batin Annelka terkekeh.


"Ay, aku kesana dulu ya. Mantanmu manggil"


Aya hanya berhemm ria. Nampak acuh.


***


Bunyi ponsel Annelka berdering tanpa henti dari tadi. Membuat tidur pasangan suami istri itu terganggu. Keduanya tidur di penthouse Annelka yang sekarang sudah jadi milik Aya.


"Siapa sih. Ganggu orang aja" Gerutu Annelka. Menyingkirkan tangan Aya yang memeluk perutnya.


Sekilas dilihatnya nama Farris yang tertera di layarnya.


"Ngapain pengantin baru gangguin gue tidur. Mau pamer apa" Gerutu Annelka.


"Halo....ngapain telepon hari gini? Mau pamer apa....


"Diam dulu. Cepat datang ke rumah sakit. Gabriel kecelakaan"


Annelka langsung berlari ke walk in closetnya.


"*Ada sesuatu yang harus aku beritahu padamu. Ini soal paman Duta. Aku mengirimkan sesuatu ke e-mai*lmu"

__ADS_1


Sebuah pesan masuk ke ponsel Annelka dari Gabriel. Saat ini jelas dia tidak bisa membuka e-mailnya.


"Ada apa?" Tanya Aya yang terbangun karena mendapati Annelka tidak berada di sisinya.


"Gabriel kecelakaan. Sepertinya serius"


Deg,


Aya langsung shock, bagaimanapun Gabriel pernah jadi bagian dari hidupnya.


"Aku ikut. Sebentar"


Wanita itu berlari ke walk in closetnya. Memakai celana. Kemeja. Lalu mengambil outer.


"Pakai itu enggak?"


"Ya pakailah. Enak saja mau dipamerin"


"Boleh dipamerin, tapi sama aku saja"


"Jangan aneh-aneh deh kamu. Ayo berangkat"


Keduanya melangkah keluar dari penthouse mereka. Menuju rumah sakit.


***


"Bagaimana?" Tanya Annelka begitu melihat Farris keluar dari ruang operasi.


"Parah Ann. Sementara ini dia koma. Pendarahan dan cidera di kepalanya parah" Jawab Farris sendu.


Di belakang mereka, Vania tampak menangis dalam pelukan Aya.


"Sabar ya, Van" Hibur Aya. Wanita itu menatap Farris penuh arti.


"Benturan di kepalanya mengakibatkan cedera di tulang tengkorak bagian belakang. Di sini tepatnya...Farris menunjuk bagian bawah belakang kepala...di mana batang otak berada. Batang otak bertanggungjawab pada tingkat kesadaran manusia. Jika bagian itu bermasalah atau mengalami cidera seperti kasus Gabriel. Maka dipastikan akan terjadi gangguan pada kesadaran yang bersangkutan. Plus kita juga menemukan penggumpalan darah di kepala Gabriel. Itu semakin memperparah keadaannya"


Penjelasan Farris membuat semua orang menarik nafasnya dalam. Ada Aya, Vania, Ed, Bella, Tria, Eva juga Astrid.


"Aku tidak tahu, Vania. Ada sedikit masalah di paru-parunya juga. Jadi kita tidak tahu kapan dia akan pulih. Tapi berita gembiranya. Seluruh organ dalam lainnya boleh dikatakan oke. Kalau pun bermasalah tidak parah. Hanya tingkat kesadarannya aja yang bermasalah"


Semua kembali menarik nafasnya.


"Ya...


"...."


Ed nampak menatap ketiga rekannya penuh kode.


"Ada apa?" Tanya Annelka.


"Ini bukan kecelakaan biasa" Jawab Ed.


"Sudah aku duga" Annelka berujar.


"Maksudmu?" Tanya Tria.


"Gabriel menemuiku saat pernikahan kalian. Dia nampak ketakutan. Tapi dia tidak bicara banyak. Dan baru saja. Aku menerima pesan dari Briel. Jam 1.40"


"Itu setengah jam sebelum mobilnya di temukan oleh warga" Ed menjawab.


"Sial! E-mailku tidak bisa dibuka" Annelka mengumpat.


"Kenapa?" Tanya Farris.


"Briel bilang mengirim sesuatu ke e-mailku. Tapi e-mailku error. Ini kenapa sih. Biasanya juga tidak" Gerutu Annelka lagi.


"Sepertinya itu penting" Tambah Tria.

__ADS_1


"Dia juga bilang ingin mengatakan sesuatu soal ...Paman Duta" Tambah Annelka.


"Apa Briel mengetahui sesuatu. Mengingat dia pernah mencuri flash disk yang berisi ehemm...dari Paman Duta" Farris bertanya curiga.


"Ed, apa kau sudah tahu sebab kecelakaan Gabriel?" Tanya Tria.


"Rem blong. Tapi ada kemungkinan dia ditabrak mobil lain. Karena mobilnya remuk. Kalau hanya menabrak besi pembatas jalan. Tidak akan separah itu mobilnya" Jelas Ed.


"Ada yang bisa menemukan ponselnya" Tanya Annelka.


"Tidak ada. Waktu dia diantar kemari. Stafku tidak menemukan ponsel Gabriel di pakaiannya" Farris memberitahu.


"Di mobilnya juga tidak ada" Tambah Ed.


Sejenak semuanya terdiam.


"Apa ada kesempatan bagi Gabriel untuk sembuh?" Tanya Annelka.


"Tentu saja" Jawab Farris.


"Kalau begitu aku punya rencana" Annelka berucap serius.


Semua orang menatap Annelka.


***


"Tempatkan CCTV di seluruh ruangan perawatan Gabriel. Juga sepanjang koridor. Usahakan semuanya tersembunyi"


"Tempatkan pengawal bayangan di sekitar ruang perawatan Gabriel"


"Semua perawat dan dokter haruslah orang yang kau percayai. Kau bisa memilihnya sendiri. Aku tidak akan ikut campur soal itu"


Sederet perintah dari Annelka yang langsung mendapat anggukan kepala dari semua temannya.


"Kau yakin dia akan muncul" Tanya Farris.


"Aku yakin. Siapapun dia. Dia akan muncul. Dia akan memastikan Gabriel tidak selamat. Agar rahasianya aman"


Keduanya sedang menatap Vania yang tengah menemani Gabriel. Ironis sekali, Duta sang Paman. Anggota keluarga yang paling dekat dengan Gabriel malah tidak nampak batang hidungnya. Vanialah, yang sejak awal selalu berada di sisi Gabriel.


"Aku berharap tidak terjadi apa-apa padamu, Briel. Kami sudah cukup kehilangan orang-orang yang kami sayangi di masa lalu. Tidak akan ada lagi korban yang jatuh kali ini. Aku pastikan itu"


Batin Annelka.


***


"Apa dia mati?"


"Koma, Tuan"


"Baik, tunggu beberapa hari lagi. Jika dia masih bertahan. Aku sendiri yang akan menghabisinya"


"Berani sekali kau mencuri dari brankasku. Jangan harap kau bisa lolos dariku"


"Ada apa lagi?"


"Kami tidak menemukan flash disk itu. Dimanapun, Tuan"


"Kau bilang dia terakhir kali bertemu Annelka?"


"Iya. Tapi itu, waktu di acara pernikahan sahabat tuan Carter...


"Tidak mungkin dia akan membicarakan hal seperti itu"


"Geledah apartement Gabriel"


"Baik, Tuan"

__ADS_1


"Kau tidak akan lolos Gabriel. Akan kusingkirkan semua yang menghalangi langkahku. Kupastikan itu"


***


__ADS_2