
"Jangan menatapku seperti itu" Aya berucap ketika dirinya tengah memeriksa Arash keesokan harinya. Hari ini dia akan libur setengah hari lagi. Jadi dia akan masuk setelah makan siang.
"Kenapa? Aku suka menatapmu seperti ini"
Aya tampak acuh. Dia sedikit terganggu dengan tatapan penuh cinta dari Arash. Perlahan Aya mengusapkan krim untuk menghilangkan lebam di bahu Arash. Sapuan tangan lembut Aya jelas membuat hati Arash berdesir hebat.
Aya yang sekarang jelas berbeda dengan Aya yang Arash kenal dulu. Wanita itu sekarang terlihat begitu cantik dan seksi. Benar-benar tipe yang Arash cari.
"Selesai" Ucap Aya membenahi kemeja milik Arash. Pria itu menatap Aya dengan pandangan yang sulit ditebak.
"Demammu sudah turun. Jangan keluyuran. Aku akan ke rumah sakit. Jadi baik-baik saja di rumah"
Pesan Aya sebelum beranjak pergi. Namun sebelum Aya bangkit dari duduknya, Arash menarik tangan Aya. Lantas dengan cepat mencium bibir Aya. Ciuman tiba-tiba dari Arash membuat Aya langsung membulatkan matanya.
Sementara Arash mulai menikmati setiap inchi bibir Aya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena Aya dengan segera melepaskan diri.
"Kau brengsek Arash!" Teriak Aya berlalu keluar dari kamar Arash. Dengan amarah memenuhi dadanya.
"Sudah tahu Arash tipe nekad masih juga dibawa pulang" Gerutu Aya sepanjang jalan menuju rumah sakit.
Sementara Arash hanya tersenyum mendengar makian Aya. Menyentuh pelan bibirnya yang baru saja mencium bibir Aya.
"Bibirnya terasa sangat manis dan lembut bahkan itu sudah bekas suaminya" Guman Arash menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Sudah tahu istri orang. Sudah ditolak juga. Masih juga ngeyel. Setelah ini jangan salahkan Aya, jika wanita itu semakin membencimu.
***
Aya melangkahkan kakinya dengan kesal masuk ke rumah sakit. Seharusnya dia bisa berangkat ke rumah sakit setelah makan siang. Tapi gara-gara kelakuan Arash. Dia jadi merasa marah di rumah. Hingga memutuskan untuk berangkat lebih awal ke rumah sakit.
Dia pikir akan ke tempat Eva lebih dulu sebelum masuk ke divisinya. Tapi ternyata Eva sedang keluar makan siang dengan Tria, sang suami. Jadi dia memutuskan untuk ke kantor Farris saja. Pasti ada Astrid di sana. Bodo amat jika kehadirannya mengganggu pasangan suami istri itu. Dia perlu melampiaskan kekesalannya.
Namun ketika dia baru saja membuka pintu. Belum masuk. Dia mendengar pembicaraan yang membuat hatinya terasa begitu marah juga sedih sekaligus.
"Apa maksudmu Annelka akan melepaskan Aya?"
"Jika Aya tidak bahagia dengan pernikahannya, Annelka bersedia mundur dan melepaskan Aya" Farris memperjelas ucapannya.
"Tapi bagaimana bisa Annelka berpikir kalau Aya tidak bahagia dengan pernikahan mereka?" Astrid bertanya.
"Bukankah kau bilang Aya sedikit murung akhir-akhir ini. Annelka juga bilang, sering mendengar Aya menangis tanpa sebab. Eva juga mengatakan kalau Aya terlihat tertekan belakangan ini"
"Memang iya...tapi masak iya Aya merasa begitu"
Mendengar hal itu Aya langsung pergi dari situ. Marah, kecewa dan sedih menjadi satu.
Bagaimana bisa Annelka berpikir untuk melepas dirinya saat dirinya sudah jatuh cinta dalam pesona sang suami. Wanita itu menangis di tangga darurat tanpa seorangpun tahu. Dan tanpa mendengarkan lebih lanjut obrolan Astrid dan Farris.
__ADS_1
"Tapi aku justru berpikir lain soal sikap Aya belakangan ini" Astrid berujar.
"Maksudmu?"
"Dia mengalami perubahan emosi secara tiba-tiba. Moodnya naik turun dengan cepat. Mood swing ingat?"
"Apa kau pikir Aya hamil?"
"Itu baru dugaanku saja. Selebihnya aku harus memeriksanya dulu"
"Tapi sekarang waktunya tidak tepat. Kita masih sibuk dengan urusan Gabriel yang kemarin hampir celaka lagi"
"Pindahkan saja ruangan Gabriel. Lalu buat rumor kalau keadaannya memburuk. Atau ingatannya hilang permanen. Dengan begitu orang itu tidak akan mengincar Gabriel lagi"
"Ide bagus" Ucap Farris setelah terdiam cukup lama.
"Dan untuk dugaanku kalau Aya hamil. Jangan beritahu siapapun. Sebelum aku melakukan tes padanya"
"Lalu bagaimana soal keinginan Annelka untuk melepas Aya"
"Annelka tidak akan melakukannya. Cintanya pada Aya terlalu besar untuknya melakukan hal itu"
"Justru karena rasa cintanya yang terlalu besar itulah, Annelka rela melepas Aya"
"Bodoh sekali"
"Apa kamu juga mengalami itu?" Tanya Astrid.
"Aku rasa iya. Apalagi jika kamu sudah berada di depanku. Rasanya IQ ku tidak berguna. Yang berguna tenaga dan pusakaku" Bisik Farris sambil mencium lembut bibir Astrid. Yang langsung disambut oleh Astrid.
Astrid sudah berjanji akan melakukan apapun untuk membuat pernikahannya harmonis. Termasuk melayani keinginan Farris untuk bercinta kapanpun dan dimanapun. Maklum Farris yang baru merasakan nikmatnya bercinta. Membuat pria itu mudah tersulut libidonya.
Terkadang tidak peduli tempat dan waktu. Di ruangan Farris sudah berapa kali mereka mencuri waktu untuk memadu kasih. Bahkan mereka kerap melakukannya di mobil jika pria itu sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Seperti sekarang, keduanya sudah polos di tubuh bagian bawah mereka. Bergerak saling memberi dan menerima. Farris benar-benar sudah kecanduan dengan tubuh Astrid yang meski janda tapi nikmatnya tidak kalah dengan yang perawan.
"Oh sayang" Farris meracau ketika dia hampir mencapai puncaknya. Sama halnya dengan Astrid yang juga merasakan hal yang sama.
Hingga keduanya menegang hampir bersamaan ketika rasa itu datang hampir bersamaan.
"Terima kasih. Ini luar biasa" Ucap Farris sambil mencium kening Astrid. Wanita itu langsung mengembangkan senyumnya. Dengan Ryan, pria itu tidak selembut Farris.
Menikah dengan Farris adalah anugerah untuk Astrid. Karena itu, Astrid selalu berdoa di sepertiga malam, agar pernikahannya dengan Farris selalu diberkahi dan dirahmati. Juga satu keinginan yang selalu Astrid ucapkan dalam doanya. Anak, wanita itu sangat menginginkan hamil, buah cintanya dengan Farris.
Farris dan mertuanya tidak pernah sekalipun menyinggung soal anak di depan Astrid. Tapi Astrid tahu dengan pasti. Dua pria itu menginginkan hal itu. Anak dan cucu.
__ADS_1
Astrid baru selesai membersihkan diri di kamar mandi sang suami. Setelah sesi panas singkat mereka. Baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Ketika kemudian wanita itu kembali masuk ke dalam ruangan itu.
Muntah, Astrid langsung memuntahkan isi perutnya. Farris jelas langsung panik. Melihat wajah pucat Astrid.
"Kamu kenapa?"
"Tidak tahu. Rasanya mual, pusing. Huwekk"
Astrid kembali muntah. Selama itu, Farris dengan telaten memijat tengkuk Astrid. Membuat rasa nyaman terasa. Sedikit meringankan rasa mual dan pusingnya.
"Masuk angin?"
"Tidak tahu" Jawab Astrid. Mendudukkan dirinya di sofa ruang kerja Farris.
"Mas, bisa hubungi Sita. Aku tidak bisa melanjutkan praktekku. Pusing sekali. Minta dia mengoper dua pasienku ke dokter Agatha"
Farris cepat-cepat melakukan permintaan sang istri.
"Sudah. Aku juga menghubungi Agatha. Kebetulan dia sudah selesai dengan pasiennya. Jadi dia free"
Astrid mengangguk. Lalu meringkuk dalam pelukan Farris. Nyaman, itulah rasa yang Astrid rasakan saat memeluk tubuh sang suami.
"As, tidakkah kamu berpikir kalau kecebong premiumku sudah tumbuh jadi zigot di dalam sini" Ucap Farris tiba-tiba mengusap lembut perut Asrid.
Astrid seketika menatap wajah Farris. Berusaha mencerna kata-kata suaminya.
"Maksudmu...aku hamil?" Tanya Astrid sumringah. Farris mengangguk.
"Test pack kalau begitu" Pinta Farris.
Dan tak lama keduanya sudah menunggu hasil test pack Astrid dengan perasaan h2c...harap-harap cemas 🤣🤣
Keduanya langsung melompat bersamaan saking bahagianya ketika dua garis terbentuk di alat tes kehamilan milik Astrid.
"Alhamdullillah, semua doaku terkabul" Astrid berucap syukur dalam hati.
Sedang Farris tak henti-hentinya menciumi seluruh wajah Astrid saking bahagianya.
"Apa kubilang, kecebong Ryan amatiran. Lihat kecebong premiumku. Empat bulan langsung gol" Sorak Farris bangga.
Sedang Astrid hanya tersenyum mendengar ucapan narsis sang suami.
"Terima kasih ya Allah, engkau tidak sia-siakan kesabaranku dalam menunggu dan berdoa. Lima tahun dan engkau kabulkan permintaanku. Bersama seorang suami yang begitu mencintaku. Mau memberiku kesempatan. Mau mempertaruhkan masa depannya. Demi diriku, wanita yang dianggap mandul oleh suami dan keluarga suamiku yang dulu"
Benar-benar semua kesabaran akan berbuah manis. Astrid tak hentinya berucap syukur dalam hati.
__ADS_1
***