
Melihat kondisi Vani yang lemah dan sering pusing, Vano membawa Vani ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Vano tidak ingin melihat Vani sakit karena pasti Mami-nya akan sangat marah kalau tahu Vani saat ini sedang sakit.
Setelah cukup lama mengantre, Vani akhirnya dipanggil juga. Tetapi betapa terkejutnya Vani dan Vano, karena Dokter umum itu, meminta mereka untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan. Karena dokter itu belum yakin benar dengan kondisi Vani. Dokter juga meminta Vani, melakukan tes kehamilan agar lebih jelas lagi.
Vano memutuskan untuk langsung saja pergi ke dokter spesialis kandungan tanpa tes kehamilan terlebih dulu. Karena melihat kondisi Vani yang sudah terlihat lemah. Vano menghubungi dokter spesialis kandungan kenalannya untuk mempermudah dan agar lebih cepat bisa langsung diperiksa.
Untunglah, sang dokter sedang tidak ada pasien, sehingga mereka bisa langsung masuk. Vani berbaring untuk dilakukan USG. Dan ternyata benar, Vani dinyatakan hamil 9 Minggu. Jadi ternyata, saat Vani bercerai, dia sudah hamil anak Deni.
Mengetahui dirinya hamil, Vani mengalami dilema antara senang dan sedih. Senang karena, ini adalah buah cinta mereka berdua. Sedih karena jika lahir nanti, dia tidak akan bersama ayahnya. Airmatanya menetes perlahan menunjukkan jika dia sangat tertekan.
Pesan dokter pada Vano, tidak boleh membiarkan Vani terlalu bekerja keras. Jangan banyak pikiran dan perbanyak istirahat. Untuk merealisasikan pesan sang dokter, Vano meminta Vani untuk fokus pada bayinya terlebih dulu. Berhenti magang di perusahaan Nenek serta berhenti kuliah.
Tetapi Vani masih tetap ingin kuliah, karena kuliah hanya beberapa jam sehari tidak akan membuatnya kelelahan. Deni menenangkan hati Vani, Vano mengizinkan Vani kuliah.
"Vani, ini aku sudah kupaskan apel untuk kamu. Makan pelan-pelan, saja," kata Vano sambil menyodorkan sepiring apel yang sudah dipotong-potong kecil.
"Makasih, Vano. Lain kali aku tidak akan sungkan lagi," ucap Vani sambil tersenyum.
"Memang seharusnya begitu. Bagaimanapun juga, aku adalah pamannya, jadi jika ngidam sesuatu, minta saja padaku. Sekalian aku mau belajar menjadi suami yang baik dan ayah siaga," ucap Vano bangga.
"Iya, tapi kapan kamu akan menemukan pasangan, kalau kamu sibuk mengurusku?" tanya Vani merasa bersalah.
"Aku percaya, jodoh ditangan Tuhan. Sekalipun aku sibuk mengurusmu, tetapi aku yakin jodohku sekarang sedang melihat kebaikanku menjadi seorang paman yang baik," ucap Vano penuh keyakinan.
"Kalau begitu, aku lega. Semoga nanti, jodohmu gadis yang baik dan mengerti dirimu karena memiliki saudara yang masih harus diurus. Sebenarnya, aku ingin hidup mandiri. Tetapi saat ini aku belum bisa," kata Vani masih sedih.
"Nanti jika kamu sudah menemukan pria yang baik, aku akan melepaskan kamu dengan ikhlas. Masih ingat manajer restoran yang dulu pernah memberi kita bonus makanan?" tanya Vano sambil melihat Vani.
"Kenapa?" tanya Vani datar.
"Katanya, dia kenal kamu," jawab Vano tenang.
"Apa, dia kenal aku. Tetapi, aku tidak mengenalnya. Salah orang kali," ucap Vina sambil terus makan.
"Katanya, dia teman kamu saat SMP. Pasti mantan kamu," ledek Vani.
__ADS_1
"Teman SMP aku?!" tanya Vani.
"Dia memintaku untuk bertemu denganmu. Aku menolak karena aku tidak mau, dia mempengaruhi kesehatanmu," kata Vano.
"Tunggu, David Wijaya? Aku ingat, dia temen SMP aku tapi saat kelas 3, dia pindah karena mengikuti orangtuanya pindah kerja keluar negeri. Nggak nyangka dia masih ingat padaku," ucap Vani sambil menghela napas.
"Lalu bagaimana, kamu mau menemuinya?" tanya Vano.
"Boleh. Sekalian aku ingin memiliki banyak teman di sini. Mungkin bisa dimulai dari dia," ucap Vani sambil tersenyum.
"Ya sudah. Kapan kamu ada waktu? Aku akan ajak dia ketemu di cafe," tanya Vano sinis.
"Kamu kenapa, sinis gitu. Nggak senang aku bakal punya teman?" tanya Vani.
"Siapa bilang aku tidak senang. Hanya saja, aku juga akan tetap menjaga kamu seperti pesan Mami. Karena kalau ada apa-apa sama kamu, aku juga yang akan bertanggungjawab pada Mami," jawab Vano sambil menghembuskan napas berat.
"Terima kasih, Vano. Kembaran aku yang baik. Kamu tidak memberitahukan tentang kehamilan aku ini kepada Mami dan yang lainya. Tunggu sampai aku melahirkan. Aku ingin sendiri, menjaga anak ini," ucap Vani lega.
"Tetapi kekhawatiran kamu tentang ayah bayimu, terlalu berlebihan. Kenapa jika dia tahu kamu hamil, toh kalian sudah bercerai. Dia tidak berhak atas bayimu," ucap Vano menambahkan.
Beberapa hari kemudian, Vani dan David bertemu di sebuah cafe. Sementara Vano menunggu di mobil. David kaget saat menyadari bahwa, Vani dalam keadaan hamil. Tetapi Vani tidak peduli dengan reaksi David.
"Maaf, apakah kamu hamil?" tanya David gugup.
"Benar, aku hamil sudah 4 bulan. Kenapa?" tanya Vani datar.
"Tidak apa-apa. Aku ucapkan selamat. Kalian pasti sangat bahagia dengan kehadiran anak dalam kehidupan kalian," ucap David sambil tersenyum.
"Maksudmu apa?" tanya Vani mulai curiga dengan ucapan David.
"Sebenarnya, aku sudah lama mengenal suamimu. Sejak SMA, kami satu sekolah. Ketika aku mendengar dia sudah menikah diam-diam dan tidak memberitahukan kepadaku aku agak kecewa. Tetapi saat aku tahu, istrinya adalah kamu, aku ikut bahagia untukmu. Vano pria yang baik dan bertanggung jawab," kata David yang membaut Vani tertawa pelan.
Vani baru menyadari jika Vano mengaku sebagai suami Vano dan ayah dari bayi yang ada didalam kandungannya. Vano benar-benar ingin menjaganya seperti yang Mami minta dengan sepenuh hati.
"Kenapa kamu tertawa, apa ada ucapanku yang lucu?" tanya David bingung melihat Vani tertawa.
__ADS_1
"Tidak ada yang lucu. Hanya saja, aku heran padamu, kenapa kamu begitu memuji Vano. Tapi namanya juga teman, pasti kamu akan membela dia," jawab Vani.
"Kita juga teman. Bahkan kita teman masa kecil. Aku harus panggil kamu apa? Yanti atau Vani?" tanya David sambil menatap tajam Vani.
"Vani saja. Sekarang, nama ku adalah Vani. Itu nama asliku, pemberian Mamiku. Sekarang aku sudah bertemu kembali dengan mereka."
"Maksudmu, orang tua kandungmu? Selamat lagi aku ucapkan. Ternyata banyak sekali kebahagiaan yang kamu dapatkan setelah kita berpisah," kata David sambil tersenyum.
"Aku baru dikota ini. Belum banyak teman, bahkan mungkin bisa dibilang aku tidak memiliki teman, hanya Vano saja. Aku mau bertemu denganmu hanya ingin tahu, hal apa yang pernah ingin kamu katakan sebelum pergi ikut orangtuamu pindah?" tanya Vani sambil melihat David yang tiba-tiba menunduk.
"Sudah tidak penting lagi sekarang. Harusnya sejak awal sudah aku katakan padamu," ucap David sambil menghela napas panjang.
"Kenapa, penting dan tidaknya yang akan kamu katakan, itu harusnya aku yang menilai, bukan? Bukannya kamu. Dan kamu berjanji akan mengatakannya jika suatu saat kita dipertemukan kembali. Apa kamu lupa?" tanya Vani memaksa David untuk tetap mengatakan apa yang tidak ingin David katakan.
"Aku tidak pernah lupa. Tetapi aku akan mengatakannya saat suamimu ada di sini. Aku tidak ingin ada fitnah diantara kita," jawab David.
"Ada yang mencariku?" Terdengar suara Vano yang mengagetkan Vani dan David.
"Vano, kenapa kamu tiba-tiba muncul. Seperti memiliki telepati saja, tahu kalau saat ini kamu sedang membicarakan mu," ucap Vani sambil tersenyum.
Vano duduk di samping Vani sambil menatap David yang terlihat bingung.
"David, kamu kenapa tampak bingung seperti itu? Apa istriku membuatmu marah?" tanya Vano pura-pura bingung juga.
"Tidak, aku hanya ada janji pada istrimu yang harus aku katakan saat ada dirimu," jawab David agak gugup.
"Kalau begitu, katakan saja, sekarang aku sudah ada di sini."
"Sebelumnya, aku minta maaf pada kalian. Terutama padamu Vano. Apa yang akan aku katakan ini, bukan bermaksud untuk membuat hubungan pernikahan kalian bermasalah. Aku hanya mengungkapkan janjiku pada Vani saja," David berusaha menjelaskan kesulitannya pada Vano dan Vani.
"Katakan saja, kami siap mendengarnya," ucap Vano diikuti anggukan Vani.
"Aku, aku menyukaimu, Yanti," ucap David dengan nada bergetar.
Bersambung
__ADS_1