Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
FA Incorp


__ADS_3

Dua hari sejak kejadian itu dan Aya masih mendiamkan Annelka. Bersikap acuh dan tidak peduli. Sikap Aya membuat Annelka hanya bisa menarik nafasnya dalam. Ya...ya...ini semua adalah resiko yang harus dia hadapi.


"Masih marahan?" Tanya Arash begitu melihat Aya keluar rumah setelah makan pagi mereka.


"Bukan urusanmu ya" Kesal Annelka.


"Aku kan cuma nanya. Kenapa kamu sewot begitu. Oh iya aku lupa. Pasti kamu gak dapat jatah kan dari Aya" Ledek Arash.


"Sok tahu kamu"


Padahal kenyataannya semalam. Keduanya malah sempat melakukan sesi panas yang cukup lama. Sebagai pria normal dia jelas terpancing ketika Aya memakai lingerie yang selama ini jarang dipakainya.


"Dia ini sengaja mau mancing aku apa gimana sih?" Batin Annelka.


Pria itu langsung merangkak naik ke atas tubuh istrinya, ketika melihat Aya berbaring terlentang di atas kasur mereka. Dengan pakaian minim yang membalut tubuh seksinya.


Meski pada awalnya, Aya sempat menolak. Namun hanya dalam hitungan menit. Pria itu sudah bisa memancing gairah Aya untuk masuk dalam permainannya. Membuat lingerie yang Aya pakai berakhir teronggok di lantai karpet kamar mereka. Setelah Annelka merobeknya dalam sekali sentak.


Dan semalam keduanya begitu menikmati penyatuan mereka yang terasa penuh kerinduan. Meski di pagi harinya, wanita semakin bertambah marah pada Annelka.


"Kenapa kamu begitu marah. Bukankah kamu sangat menikmatinya semalam?" Goda Annelka, ketika wanita itu tengah memakaikan dasi untuknya. Nyaris membuat Aya hampir mencekik Annelka dengan lilitan dasi yang di buatnya.


Meski Aya marah. Tapi wanita itu masih mengurusi Annelka. Membuat Annelka mengulum senyumnya. Biarpun marah tapi Aya masih peduli padanya.


Annelka sendiri terlihat begitu santai. Setelah mengakui kalau memang ingin berpisah jika Aya tidak bahagia dengannya. Tidak ada beban ataupun kesedihan yang pria itu rasakan. Sebab dia menyadari, semua yang dilakukannya untuk membuat Aya bahagia.


Meski kadang, sering dia menitikkan air mata. Jika teringat harus hidup tanpa Aya jika mereka benar-benar berpisah. Dan jika sudah begini. Annelka hanya bisa mencium bibir Aya penuh cinta saat wanita itu tengah tertidur.


Wanita yang sudah menguasai seluruh hatinya. Mengisi seluruh ruang di dalamnya. Tanpa ada celah sedikitpun untuk orang lain memasukinya. Bahkan ketika beberapa wanita mencoba menggodanya. Annelka hanya tertawa mengejek.


"Kau ingin menggodaku? Jangan mimpi" Ucap Annelka pada seorang partner bisnis wanitanya yang berhasil menjebaknya sampai ke kamar hotel. Bahkan wanita itu sudah melucuti pakaiannya untuk menggoda Annelka.


"Aku bisa memberikan apa yang istrimu berikan padamu" Goda wanita itu.


"Benarkah? Kalau begitu apa kau bisa memberiku keperawananmu seperti yang istriku berikan padaku?"


Pertanyaan Annelka membuat wanita itu tergugu. Annelka jelas tahu siapa rekan bisnisnya itu. Wanita yang menjerat kliennya dengan tubuhnya.


"Sayang sekali istriku puluhan kali lebih seksi dari dirimu. Juga...aku tidak suka barang second" Bisik Annelka berjalan keluar dari kamar itu. Meninggalkan si wanita yang hanya bisa menahan amarahnya. Gagal menikmati tubuh hot Annelka yang terkenal begitu menggoda.


"Ay, kau dimana?" Ucap Annelka melalui ponselnya. Dia ternyata salah perhitungan. Wanita sialan itu memberi obat pada minumannya.


"Sial! Dua kali aku terkena jebakan yang sama" Annelka membatin kesal. Melepaskan dasinya. Membuka jasnya. Lalu membuka kancing kemejanya. Jemarinya mengetuk-ngetuk resah kemudi mobil Ed yang dipinjamnya.


"Ada apa ingin bertemu?" Aya bertanya begitu masuk ke mobil Ed yang dipinjam sang suami. Untung dia sudah kelar dengan pasiennya. Dan tidak ada schedule operasi untuknya.


"Bantu aku" Jawab Annelka pelan. Melajukan mobil Ed menuju penthouse mereka. Tempat terdekat dengan rumah sakit Farris.

__ADS_1


"Ada apa denganmu?" Tanya Aya melihat wajah kemerahan Annelka.


"Kau sakit?" Tanya Aya lagi melihat Annelka yang terdiam. Tanpa menjawab pertanyaannya.


"Sebentar, Ay" Jawab Annelka terbata. Membawa mobil Ed masuk ke private parking miliknya. Begitu mobil itu berhenti. Annelka langsung menyerang Aya setelah melepas seatbeltnya.


"Tunggu dulu kau kenapa?" Aya bertanya setelah melerai sejenak ciuman panas sang suami.


"Ada yang menjebakku. Jadi bantu aku" Sejurus kemudian, Annelka sudah kembali menyerang Aya. Yang langsung merespon begitu tahu keadaan Annelka.


"Ann, kau tidak akan cukup kalau hanya sekali" Aya berucap setelah Annelka mencapai puncaknya.


"Siapa bilang hanya sekali. Aku bisa melakukannya berkali-kali. Kan aku bercinta dengan istriku" Ucap Annelka bersiap menyerang lagi.


"Tunggu dulu. Tapi ini mobil Ed. Kita tidak bisa melakukannya di sini semalaman" Cegah Aya.


"Kita naik" Annelka berucap cepat. Keluar dari mobil. Lalu naik ke penthouse mereka. Pria itu hanya menaikkan celananya. Memakai kemeja tanpa mengancingkannya.


Begitu sampai di atas. Tanpa ba bi bu. Annelka langsung menyatukan diri. Menghentak tubuh Aya dengan bersandar di pintu penthouse-nya. Aya seketika menjerit.


"Kau seksi sekali, Ay" Bisik Annelka. Menatap penuh cinta ke arah sang istri. Yang tak berhenti melenguh akibat permainan gilanya.


"James lakukan sesuatu untukku" Ucap Aya melalui ponselnya. Menatap punggung kokoh Annelka yang tertidur. Setelah hampir semalaman bertempur dengannya gara-gara pengaruh obat dari partner bisnis wanitanya.


^^^"Apa?"^^^


^^^"Apa yang mereka lakukan padamu?"^^^


"Pemiliknya mau menggoda Annelka"


^^^"Lalu kau marah?"^^^


"Diamlah. Lakukan saja untukku"


^^^"Berapa levelnya..70, 50"^^^


"Seratus persen. Jangan sampai dia bisa bangkit lagi"


^^^"Wahh, kau mengerikan Nyonya Carter"^^^


"Cepat lakukan!"


Aya menutup panggilan ponselnya. Dia menggerutu. Badannya sakit semua. Ini semua gara-gara wanita sialan itu. Meskipun dia sebenarnya juga menikmati. Tapi kan tidak semalaman juga kali. Tulangnya serasa patah di semua bagian.


***


"Kapan kau akan pulang?" Tanya Annelka pada Arash. Pria itu sudah melakukan X-ray lagi. Dan hasilnya bagus. Tinggal menunggu proses penyembuhannya. Juga berhati-hati dalam menggerakkan tangan dan bahunya.

__ADS_1


"Kau mengusirku ya?"


"Iya. Kenapa? Ini kan rumahku. Suka-suka aku dong"


"Sepertinya aku betah di sini. Aku suka melihat kalian bertengkar. Seruuuu" Seloroh Arash yang langsung mendapat pelototan dari Annelka.


"Kau ini menyebalkan. Pulang sana. Shen dan Ang sudah mengeluh padamu kan?"


"Aku sudah menyuruh mereka mencari sekretaris baru" Jawab Arash santai.


"Bukan itu masalahnya. Kau tidak bisa meninggalkan perusahaanmu terlalu lama. Itu beresiko"


"Aya bisa kenapa aku tidak bisa. James bisa mengurus semua selama Aya di sini...uuuppssss...


Arash langsung menutup mulutnya. Merasa keceplosan.


"Maksudmu apa?"


"Tidak ada. Eehh aku pergi dulu. Mau jalan-jalan. Healing...oh ya aku tidak akan pulang, sebelum nyonya rumah sendiri yang mengusirku"


"Aku pemilik rumahnya" Teriak Annelka.


"Kau sama denganku. Hanya numpang di sini" Ledek Arash. Melajukan mobilnya meninggalkan Annelka yang mengerutkan dahinya.


Annelka langsung meraih laptopnya. Begitu pria itu sampai di kantornya.


"Ada apa?" Tanya Tria. Heran melihat wajah Annelka yang terlihat begitu ingin tahu.


"James Lau, FA Incorp...astaga...


Annelka hampir berteriak. Membuka laci meja kerjanya. Dimana ada brankas mini di dalamnya. Meraih blackcard yang diberikan Farris waktu itu. Sejenak memeriksanya.


"Ada apa?" Kali ini Ed yang bertanya. Melihat Annelka yang tampak shock menatap black card di tangannya.


"Aya pemilik FA Incorp, yang berbasis di Guangzhou"


"What??!!!" Ed dan Tria berterik hampir bersamaan.


Annelka langsung memejamkan matanya. Pantas dia melihat Aya yang tidak pernah bisa bangun pagi. Sebab dia selalu terbangun di tengah malam untuk bekerja dengan James. Annelka pernah sekali dua, terbangun di tengah malam. Melihat Aya mengulik laptopnya. Atau sekedar berbicara di ponselnya. Dan wanita itu selalu menjadikan balkon kamarnya sebagai kantor keduanya.


"Itukah yang kau sembunyikan dariku selama ini, Ay"


Batin Annelka. Dia tidak tahu harus bagaimana. Bagaimanapun FA Incorp bukanlah perusahaan kecil. Setara dengan Carter Group di negara ini. Belum lagi FA Incorp sudah menjalin kerjasama dengan A&A Hitech Corp. Perusahaan IT yang berbasis di Singapura namun produksinya berpusat di Guandong. Dengan kantor pusat di Shanghai. Di bawah kendali Rafael Liu, dalam proses pengalihan pada putrinya Helena Liu.


Begitu yang Annelka baca dari sebuah portal berita online terkemuka di negeri Tirai Bambu itu. Annelka seketika memijat pelipisnya yang cenat-cenut seketika.


***

__ADS_1


__ADS_2