Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Pasangan Rusuh


__ADS_3

"Apa?" Ben bertanya galak pada Zaki. Sedang Zaki langsung membulatkan matanya. Terkejut melihat Ben yang biasanya tidak tertarik pada wanita. Kini berada dalam posisi yang membuat siapa saja akan salah paham. Pada apa yang sedang terjadi.


"Kalian sedang apa?"


Dughhh


"Arrrgghhhh"


Ben melepaskan cekalannya pada Aya karena wanita itu menendang area pribadinya.


"Tahan dia, Ki" Ucap Ben melihat Aya yang hampir berlari keluar kamar.


"Aaaawwww"


Aya berteriak karena Zaki menarik rambutnya.


"Jangan lari makanya" Zaki berucap galak. Aya langsung manyun, menahan rambut panjangnya yang ditarik Zaki.


"Wanita sialan!" Maki Ben.


"Kalian yang sialan!" Balas Aya cepat.


Ben dengan cepat menarik Aya. Melemparkannya ke atas kasur. Untung kasurnya lumayan empuk. Jadi Aya tidak merasa kesakitan saat jatuh diatasnya.


"Apa sih teriak-teriak?" Tanya Ben begitu menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Dia benar-benar orang kaya. Lihat ini" Zaki menunjukkan berapa banyak uang yang dikirim ke rekening mereka. Mereka memang perampok tapi mereka juga tahu menabung.


"Jadi itu asli?"


"Asli, antingnya brand Cartier. Jamnya Philipe Patex"


"Bukan Rolex?"


"Kau tahunya Rolex. Philipe Patex juga jam mahal"


"Terserahlah yang penting kita bisa menyambung hidup. Terlebih tambah satu lagi yang numpang makan"


"Kau belum bisa mengambil cincinnya?"


"Itu tidak akan bisa dilepas. Kecuali kau memotong jarinya"


"Kuncian DNA?" Dan Ben mengangguk.


"Siapa dia? Cincinnya berlian aquamarine. Semua yang ada padanya barang mahal semua"


"Yang jelas dia orang kaya" Zaki menyahut cepat.


"Itu pasti"


"Hei, aku lapar. Mau makan bakso!" Teriak Aya.


Habislah kau orang. Ngidam Aya tidak kenal tempat. Wanita itu terus berteriak. Membuat dua pria itu jengkel dibuatnya.


"Kan sudah kubilang. Membawanya merepotkan" Ben menggerutu.


"Tapi kan kita juga sudah untung. Dan kita tidak bisa melepaskan dia sekarang. Rugi kita nanti"


"Kalau begitu kau yang beli bakso permintaannya"


"Ada ya korban penculikan minta bakso"


"Yang kau pakai beli kan duitnya dia. Sudah sana belikan. Nanti dia tambah cerewet lagi"


Ben menyuruh pergi. Rumah yang mereka tempati cukup terpencil. Karena itu tidak banyak yang tahu. Belakang rumah langsung terhubung dengan hutan. Suasana sangat sepi di sana.


***


Annelka langsung terkejut melihat Santi yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.


"Lain kali ketuk pintu dulu!" Annelka berucap galak.

__ADS_1


"Maaf...mau mengantarkan baju ganti" Santi berucap takut-takut. Sejak kemarin. Annelka memang tidak memakai baju. Membuat tubuh atletisnya terpampang sempurna di mata Santi.


Annelka langsung merebut kaos yang dibawa Santi. Mengabaikan rasa terkejut di wajah gadis itu.


"Bagaimana kau menemukan aku?"


"Aku dan ibu menemukanmu di sungai, waktu kami sedang mencuci"


"Tidak menghubungi polisi?" Cecar Annelka.


"Belum. Ibu sedang tidak enak badan akhir-akhir ini. Jadi aku tidak berani meninggalkannya sendiri. Kantor polisi juga jauh dari sini. Maaf"


Annelka sama sekali tidak menggubris ucapan Santi. Sifat asli Annelka sebelum bertemu Aya kembali muncul.


"Apa tidak ada apa pun saat kau menemukanku? Ponsel atau kartu identitas?"


"Tidak. Kami tidak menemukan apapun saat menemukanmu"


Sesaat Annelka menatap tajam pada Santi. Memindai, apakah wanita itu tengah berbohong atau tidak. Annelka mendengus kesal. Tidak ingat apapun. Dan dia berada di tempat yang dia tidak tahu. Dengan luka memar di beberapa bagian tubuhnya.


Annelka tahu harus keluar dari tempat ini. Dan kantor polisi adalah tujuannya.


"Mas ganteng makan dulu ya" Ucap seorang wanita paruh baya.


Wanita itu, ibu Santi. Selalu memanggilnya mas ganteng. Karena Annelka tidak ingat siapa namanya.


Kembali mengerutkan dahinya. Sayur asem, ikan asin dan sambal. Sudah dua hari ini, mereka makan dengan menu yang sama. Bukan tidak bisa memakannya. Hanya saja, Annelka merasa ini bukan kebiasaannya.


..."Fix, aku harus keluar dari sini"...


"Bu, besok saya mau pergi ke kantor polisi terdekat. Saya ingin mencari tahu siapa saya" Annelka berucap. Nada suaranya berubah lembut saat bersama ibunya Santi.


"Tunggu sampai hujan reda. Biasanya sering longsor kalau hujan terus. Nanti berbahaya"


Annelka terdiam. Sejak dia datang. Siang hari selalu turun hujan. Membuatnya tidak bisa pergi ke mana-mana.


"Sabar dulu ya. Nanti jika hujannya reda. Kalian bisa pergi ke kantor polisi. Di desa sebelah. Hitung-hitung biar badannya mas ganteng pulih. Soalnya ke desa sebelah perlu satu jam jalan kaki"


Malam itu Annelka tidak bisa memejamkan matanya. Dia terus berusaha mengingat siapa dirinya. Lama dia berpikir dan hasilnya nihil. Dia kesal dengan dirinya sendiri. Hingga tiba-tiba dia melihat ke arah jarinya tanpa sengaja. Di mana cincin pernikahannya berada di sana.


"Ini kan cincin pernikahan. Berarti aku memiliki istri" Guman Annelka. Ingin melepas cincinnya. Tapi tidak bisa. Pada akhirnya dia mengguman kesal. Merasa dirinya tidak berguna.


***


"Nyari baksonya ke kota apa?" Ben bertanya kesal. Sebab hampir pukul sepuluh. Zaki baru kembali.


"Nggak ada bakso tahu disini. Beneran harus ke kota. Mana hujan gak berhenti lagi" Gerutu Zaki.


"Sudah kamu yang kasih sana"


Zaki memberikan kantong kresek berisi bakso kepada Ben. Pria itu melangkah malas ke arah kamar Aya. Memutar kuncinya lalu melangkah masuk.


"Hei ini bakso yang kau minta"


Ben berucap kesal. Namun ucapannya terhenti ketika melihat dengkuran halus Aya.


"Malah molor!" Gerutu Ben. Menarik nafasnya mencoba menurunkan amarahnya.


"Benar-benar merepotkan"


Pria itu keluar kamar lagi. Mendengus kesal pada Zaki.


***


"Siapa namamu?" Tanya Aya sehari kemudian. Ben mengizinkan Aya keluar kamar. Tapi hanya satu jam. Dan tidak boleh mencoba kabur.


"Bukan urusanmu!"


"Namamu Ben ya? Aku dengar temanmu memanggilmu begitu" Aya berucap cepat. Melihat tatapan tajam Ben yang lagi-lagi mengingatkannya pada Annelka, sang suami.


Ben tampak sibuk dengan laptopnya. Itulah yang membuat Aya tertarik sejak tadi. Andai dia bisa mengirim satu e-mail saja. Bisa dipastikan Annelka dan yang lainnya bisa menemukannya.

__ADS_1


"Kau pintar memakai laptop. Kenapa tidak mencari kerja yang lebih baik"


"Aku suka menjadi penjahat. Kerja sebentar. Hasilnya banyak"


"Ketangkep polisi baru yahook luu" Maki Aya.


"Ehh, tu mulut bisa gak pakai filter"


"Nggak!" Jawab Aya acuh.


Tiba-tiba saja ponsel Ben berbunyi. Pria itu melangkah keluar dari sana. Aya langsung meraih laptop Ben. Kembali nama James yang terlintas di kepalanya. Stafnya yang satu itu selalu bisa diandalkan.


"SOS, Aya"


Dua kata dan Aya langsung mengirimkannya ke e-mail James.


"Apa yang kau lakukan, ha?" Suara Ben terdengar di belakang Aya. Bersamaan dengan pria itu yang menundukkan tubuhnya. Hingga Aya bisa melihat sebuah kalung yang Ben pakai.


"Seperti pernah melihatnya. Tapi di mana?" Batin Aya.


"Malah bengong. Apa yang kau lakukan. Minggir"


Ben mendorong kasar tubuh Aya. Lalu meraih laptopnya.


"Kau meminta bantuan?"


"Eiiit jangan...jangan.."


Aya berusaha mencegah Ben mencegah pengiriman e-mailnya. Namun terlambat. E-mail itu sudah terkirim. Membuat Aya menyeringai.


"Tunggulah. Mereka sebentar lagi akan datang" Aya berucap lirih.


"Tidak akan. Jika aku mengubahnya"


"Jangan..jangan"


Ben hanya menyeringai menatap Aya. Satu tangan Ben, mengunci dua tangan Aya. Hingga wanita itu tidak bisa bergerak.


"Kau hacker?"


"Bukan urusanmu!" Ben berucap sambil mendorong jauh tubuh Aya.


"Kau tidak mau memberitahu siapa dirimu. Maka akan kucari tahu sendiri"


Pria itu sejenak mengulik laptopnya. Dan kesempatan ini digunakan Aya untuk berjalan perlahan ke pintu.


"Kau mau kemana?" Zaki berucap dari luar. Membuat Aya langsung mengumpat dalam hati.


"Jangan pernah berpikir untuk lari! Sebelum kami dapat tebusan yang banyak dari suamimu itu"


Ben tampak mengerutkan dahinya. Dari hasil pencariannya. Dia tahu nama Aya adalah Faya Ayunda. Tapi profesi yang tertulis di sana adalah dokter bedah syaraf. Dan statusnya masih single. Namun wanita itu mengatakan jelas sudah menikah.


"Masak iya, dokter bisa beli barang-barang mahal. Siapa kamu yang sebenarnya. Ini sangat mencurigakan"


Di satu sisi, James langsung menghubungi Ed dan Tria begitu dia mendapat e-mail darurat dari Aya.


"Kau hacker, aku juga sama"


James berucap. Menyeringai meremehkan kemampuan Ben. Dan malam itu Ed dan Tria langsung meluncur ke desa di mana James menunjukkan koordinat Aya berada.


"Setidaknya kita menemukan salah satu dari mereka"


Ucap Ed pada Tria. Memasang sabuk pengamannya. Mereka menuju tempat Aya berada yang mungkin akan mereka capai setelah tiga jam lebih perjalanan.


"Kalian benar-benar membuat keributan dari awal kalian bertemu sampai sekarang"


Gerutu Ed yang langsung disambut kekehan Tria.


"Pasangan rusuhlah mereka"


Tria menyahut.

__ADS_1


****


__ADS_2