Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Unik Dan Membingungkan


__ADS_3

Annelka masuk ke kamarnya. Dia langsung pulang begitu Farris mengabari kalau Aya tidak jadi masuk kerja. Karena tidak enak badan.


"Aya...kamu kenapa? Kata Farris kamu tidak badan. Apa ada yang sakit" Tanya Annelka melihat Aya yang meringkuk di sofa bioskop mininya.


"Tidak apa-apa" Jawab Aya menonton film Adamas yang tengah diputar di layar besar milik Annelka.


Dari suara paraunya. Annelka menebak kalau Aya habis menangis.


"Aya, bisa tidak katakan padaku apa yang kamu inginkan. Kamu habis menangis kan?"


Aya seketika menatap wajah Annelka.


"Harusnya aku yang tanya. Yang kau inginkan itu apa? Kau ingin memberikanku pada Arash begitu? Karena itu kau membawanya pulang ke rumah kita"


"Aya maksudmu apa?" Tanya Annelka tidak paham.


"Tanya dirimu sendiri" Ucap Aya marah. Berlalu dari hadapan Annelka.


Aya naik ke kamar mereka. Langsung masuk ke kamar mandi. Menguncinya dari dalam. Lalu menangis sekeras yang dia bisa.


"Kenapa kau jahat sekali padaku, Ann" Bisik Aya. Di sela isak tangisnya. Tidak peduli pada ketukan Annelka di pintu kamar mandi.


"Buka pintunya atau aku dobrak" Annelka mulai kehilangan kesabarannya. Mengingat sifat Aya yang nekad. Annelka takut jika Aya melukai dirinya sendiri.


Pria itu teringat bagaimana dia menemukan tubuh Aya di kamar mandi dengan nadi hampir terpotong. Ketika mereka memaksa masuk ke apartemen milik Aya dulu.


Tak lama pintu kamar mandi itu terbuka. Dobrak dalam artian Annelka ya membukanya menggunakan password. Dilihatnya sang istri duduk sambil memeluk lututnya. Posisi favorit Aya jika sedang frustrasi berat.


"Ay...


"Katakan apa kau ingin menceraikanku?" Tanya Aya tanpa basa basi.


Deg,


Jantung Annelka seolah berhenti berdetak mendengar pertanyaan Aya.


"Jika kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini, aku akan melepasmu" Jawab Annelka sambil menundukkan wajahnya. Sungguh dia tidak sanggup menatap wajah Aya.


"Dulu kau bilang, tidak ada kata perceraian dalam kamusmu"


"Aku berubah pikiran"


"Brengsek!"


Aya mendorong jatuh tubuh Annelka. Pria itu terjatuh ke belakang. Dengan Aya yang berlari keluar dari kamar mandi. Disusul Annelka.


"Kau tidak boleh keluar dari kamar ini. Ada Arash di bawah" Cegah Annelka.


"Masa bodoh!" Aya menjawab keras.


"Aya...LOCKED"


Satu kata dari Annelka dan seketika terdengar bunyi "klik" dari arah pintu.


"Kau mengurungku"


"Lakukan apapun yang kau mau. Tapi jangan keluar dari kamar ini"


Annelka tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Aya. Jadi pria itu memutuskan untuk mengurung sang istri di kamar mereka.


"Kau benar-benar menyebalkan!" Aya merangsek maju. Memukuli dada Annelka. Tanpa satu kalipun pria itu membalasnya.


"Kau pikir aku apa? Setelah kau puas, kau membuangku. Begitu maumu?" Teriak Aya.


"Kau tahu benar aku sangat mencintaimu. Tapi jika rasa cintaku tidak cukup membahagiakanmu. Aku bisa apa. Aku tidak mau membuatmu bersedih Ay, aku ingin melihatmu tersenyum. Meski dengan bayaran yang sangat mahal. Perpisahan"

__ADS_1


Aya kembali memukul dada Annelka, mendengar ucapan suaminya yang menurut Aya begitu egois. Namun kali ini, Annelka menahan pukulan Aya. Merengkuh tubuh langsing Aya, yang menurut Annelka semakin berisi akhir-akhir ini.


"Lepas...lepas kataku!" Aya berontak dari pelukan Annelka. Namun Annelka sama sekali tidak merespon. Pria itu justru semakin mempererat pelukannya.


"Lepaskan aku, brengsek!"


"Iya, aku memang brengsek Ay, sejak awal aku adalah orang jahat. Aku jahat pada dirimu"


Annelka semakin mengeratkan pelukannya pada Aya. Tidak ingin melepaskannya.


"Sudah aku katakan bukan? Kau boleh membenciku seumur hidupmu. Karena aku bersalah padamu"


Tangis Aya semakin menjadi mendengar ucapan Annelka. Sejurus kemudian, Aya melepaskan diri dari pelukan Annelka. Berjalan keluar menuju balkon.


"Ay...Ay...Aya..


"Tinggalkan aku sendiri!"


Annelka hanya bisa menarik nafasnya dalam. Melihat kemarahan sang istri.


Pagi menjelang, Aya terbangun di kasurnya.


"Aya, jam enam" Suara alarm alaminya. Menoleh ke sisi kirinya. Annelka sudah mandi, memakai bathropenya. Pria itu baru saja ngegym. Seperti biasa. Aya bangun dengan malas. Tanpa kata.


Bukannya masuk ke kamar mandi. Tapi wanita itu malah pindah ke sofa. Annelka hanya menggaruk kepalanya. Baru juga dicuekin semalam. Dirinya sudah kalang kabut.


Dan pagi itu suasana di meja makan seperti kutub utara pindah ke sana. Aya yang ceplas-ceplos langsung puasa bicara. Diam tanpa sepatah katapun.


"Dia kenapa? Jatahnya kurang?" Bisik Arash. Annelka langsung mengeplak lengan Arash. Membuat pria itu meringis.


"Atau lagi PMS?" Kali ini tatapan nyalang yang Arash terima.


"Kalian bertengkar?" Tanya Arash serius.


"Whattt???!!! Kau bercanda?"


Annelka terdiam.


"Kau serius?"


Lagi pria itu terdiam.


"Kalau begitu aku ada di barisan terdepan menunggu perpisahanmu. Ku tunggu jandamu, Ay....Astaga Ann...sakit"


Arash langsung mengangkat kakinya yang kena tendang oleh Annelka. Plus wajah kesal Annelka.


"Ya, jangan marah kalau tidak rela. Jangan mengatakan ingin berpisah, jika tidak sanggup menjalaninya" Ucap Arash sambil melahap sandwichnya.


Tumben ni anak lempeng otaknya. Begitulah kira-kira pikir Annelka. Mendengar ucapan sok bijak dari Arash. Yang meskipun receh tapi benar-benar tepat sasaran. Seperti anak panah yang dilesatkan dari busurnya.


Dan sepanjang hari itu Aya tidak masuk kerja. Mengabaikan nyinyiran dari beberapa staf dan rekan sejawat. Yang mengatakan kalau Aya terlalu diistimewakan. Tidak bertanggungjawab. Tanpa mereka tahu, Farris memang memberi cuti tiga hari pada Aya.


Aya baru keluar dari sebuah restoran ketika dia bertemu Vania.


"Aya...


"Vania...wah senangnya bisa bertemu kamu. Lama tidak bertemu"


Aya mengangguk antusias.


"Bagaimana Gabriel? Sudah lama tidak menjenguknya"


"Aku mau kesana. Mau bareng?"


"Boleh"

__ADS_1


Bolehlah, hitung-hitung buat cari hiburan. Dia benar-benar kesal dengan Annelka.


"Hai, Briel" Sapa Aya.


"Aya...itu kamu?" Tanya Gabriel sumringah.


"Wahh hebat. Dia ingat denganmu" Seloroh Vania.


"Aku cuma ingat wajah dan namamu. Lain tidak"


"Kau pasti banyak menyakiti Aya. Jadi kau selalu mengingatnya" Sindir Vania.


"Mungkin saja" Guman Gabriel. Menatap lama pada Aya. Sekelebat ingatan tiba-tiba terlintas di kepala Gabriel. Membuat pria itu meringis.


"Kenapa? Apa yang sakit?"


"Akan kupanggilkan Farris" Ucap Aya cepat. Lalu menghubungi Farris.


Tak lama Farris datang. Sejenak menatao heran pada Aya. Kemudian memeriksa Gabriel.


"Ada yang kau ingat"


"Sekelebatan tapi aku tidak yakin. Tapi itu sepertinya berhubungan dengan Aya" Ucap Gabriel menatap ke arah Aya.


"Oke, pelan-pelan saja. Setidaknya ini kemajuan yang bagus. Biasanya jika satu pintu sudah terbuka. Pintu yang lain akan ikut terbuka. Jangan dipaksa"


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Aya ketika Farris beralih menatap dirinya.


"Kenapa kau harus memanggilku? Bukankah bidang kita sama?" Tanya Farris.


"Astaga, aku lupa" Aya berucap sambil menepuk pelan jidatnya.


"Kau sedang stress atau bagaimana?" Tanya Farris ketika keduanya sudah berada di kantor Farris.


"Kau tahu kan dia berniat berpisah denganku?" Todong Aya.


"Itu semua tergantung perasaanmu. Kau bahagia, dia tidak akan melepaskanmu. Jika sebaliknya, ya itu yang akan suamimu lakukan"


"Lakukan saja. Dan aku akan jadi janda seumur hidupku"


"Jadi kau tidak mau berpisah dengannya? Kau mulai mencintainya? Cecar Farris.


Mendengar pertanyaan Farris. Aya langsung menundukkan kepalanya. Pelan bahu wanita itu bergetar.


"Sudah mengatakannya?"


Aya menggelengkan kepalanya.


"Itulah masalah kalian. Para perempuan. Sulit ditebak maunya. Sulit ditebak perasaannya. Bibir bilang iya, hati bilang nggak" Gerutu Farris.


Aya hanya terdiam mendengar omelan Farris.


"Kalian hanya salah paham. Katakan perasaanmu padanya. Dan masalah kalian selesai"


"Gengsi" Bisik Aya lirih.


"Ya sudah, makan tu gengsi"


"Farris....


"Terus aku harus bagaimana? Dikasih solusi malah ngambek. Nggak dikasih solusi ngamuk. Perempuan ini memang makhluk paling unik sekaligus membingungkan sejagat raya"


Kembali Farria mengeluarkan gerutuan ekstra panjangnya.


****

__ADS_1


__ADS_2