Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 32. Identitas Yanti


__ADS_3

"Apa, berarti kamu yang gendong aku sampai kemari?" tanya Yanti kaget.


"Yanti, sudahlah. Maafkan, aku hanya terlalu panik dan cemas. Semua sudah terjadi dan tidak mungkin aku ubah lagi," jawab Deni cemas.


"Tidak apa-apa. Tetapi, sekarang mereka pasti ingin mendengar penjelasan dariku," ucap Yanti.


"Penjelasannya nanti saja, kalau kamu sudah sehat. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu terluka," kata Deni sambil memegang tangan Yanti.


"Aku sudah baikan sekarang. Bolehkah aku kembali bersama ...."


Deni tidak bisa membiarkan Yanti yang berusaha untuk kembali bekerja. Sebelum Yanti meneruskan ucapannya, Deni sudah terlebih dulu mencium bibir istrinya. Yanti sangat kaget mendapat serangan tidak terduga dari Deni di dalam ruang kerjanya. Riko yang saat itu hendak masuk, kembali menutup pintu untuk membiarkan Bosnya bertindak.


Di luar ruangan, Sasa dan Mina sudah menunggu untuk mencari tahu kondisi Yanti sekarang. Saat melihat Riko, mereka berdua langsung mendekati dan memberi Riko banyak pertanyaan.


"Pak Riko, bagaimana kondisi Yanti?" tanya Sasa panik.


"Iya, pak Riko. Kenapa sampai sekarang dia belum keluar?" tanya Mina cemas.


"Kalian tidak usah panik dan cemas. Teman kalian baik-baik saja. Dia sudah berada di tempat yang tepat. Kalian kembali saja bekerja," jawab Riko.


"Tapi, kenapa Yanti tidak dibawa ke ruang istirahat karyawan, tapi malah ke ruang manajer?" tanya Sasa lagi.


"Untuk pertanyaan yang lain, teman kalian nanti yang akan menjawab," jawab Riko lalu melangkah pergi.


Sasa dan Mina saling berpandangan. Mereka masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Yanti. Dan mengapa pak Deni tampak sangat khawatir dengan kondisi Yanti?


Jawaban yang mereka tunggu belum akan didapatkan sampai Yanti sendiri yang akan mengatakannya pada mereka. Mereka hanya bisa bersabar. Mereka segera pergi untuk kembali bekerja.


Sementara, Yanti merasa agak kesal. Dia mencoba mencari jawaban apa yang tepat untuk dikatakan pada kedua sahabatnya. Kalau dibilang tidak kenal, pasti mereka tidak akan percaya. Kalau dibilang kenal, lalu hubungan Deni dengannya apa?


Deni hanya bisa menghela napas melihat istrinya sibuk mencari jawaban. Jawaban yang begitu mudah, bisa jadi sulit pada istrinya.


"Mas, gimana ini, kepalaku pusing," ucap Yanti manja.


Deni berjalan mendekati Yanti yang sudah duduk di sofa. Deni duduk sambil memegang tangan istrinya yang masih dingin.


"Kenapa tidak berterus terang saja. Mereka tidak akan menjauhiku. Percaya padaku. Walau mungkin mereka akan segan padamu, tetapi jiwa persahabatan kalian tidak akan pernah hilang," nasehat Deni.


Yanti berpikir sambil meremas tangan suaminya. Dia menjadi geregetan dengan suaminya karena telah menunjukan rasa khawatirnya yang besar terhadapnya. Ciuman kecil mendarat di pipi Deni sebagai ucapan terima kasih.


Deni tersenyum dan dia tidak mau kalah. Dipegangnya dagu istrinya dan dengan lembut dia mencium bibir istrinya, yang lipstiknya hampir hilang karena pasti habis makan. Bau rendang kesukaan Deni, malah membuat Deni ingin memakan bibir istrinya.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, salah seorang karyawan yang hendak meminta tanda tangan, mengetuk pintu. Cukup lama tetapi tetap tidak ada jawaban. Padahal dokumen itu harus segera dikirim ke pusat. Karyawan itu akhirnya memberanikan diri untuk langsung masuk saja. Dia membuka pintu pelan-pelan dan pandangan matanya tertuju pada Bos Kecilnya yang sedang berciuman dengan seseorang. Pantas saja, tidak mendengar waktu dia mengetuk pintu.


Karyawan itu menutup mulutnya lalu perlahan mundur untuk keluar. Sebelum keluar, matanya tertuju pada gadis yang sedang berciuman dengan Bos Kecilnya. Karyawan itu tersentak kaget saat mengetahui bahwa gadis itu adalah Yanti. Kontan saja, dia langsung berlari dan segera menyebarkan berita yang menjadi trending dikalangan para karyawan. Dan sampailah juga ke telinga Sasa dan Mina.


Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Deni mengajak Yanti pulang bersama karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Deni dan Yanti berjalan berdampingan, bahkan Deni menggenggam tangan Yanti. Seolah ingin menunjukan pada seluruh karyawannya, bahwa hubungan mereka sangat dekat.


Berpasang-pasang mata menatap syok, dengan apa yang mereka lihat. Tetapi Deni tidak peduli dan Yanti mengikuti saja apa yang suaminya mau. Yaitu, membiarkan semua orang tahu hubungan mereka.


Deni membantu Yanti membuka pintu mobil dan Yanti segera masuk. Deni juga membantu Yanti memakaikan sabuk pengaman meski Yanti juga bisa sendiri. Hari ini, Deni tampak bucin tingkat dewa di mata Yanti. Tatapan matanya juga agak berubah. Lebih ikhlas dan tidak ada beban.


Sesampainya di rumah, Deni kembali membukakan pintu mobil untuk Yanti dan tanpa meminta izin dia langsung menggendong Yanti masuk kedalam rumah.


"Mas, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri," ucap Yanti sambil menepuk bahu suaminya.


"Sudah, jangan banyak bergerak. Sebentar lagi juga sampai," jawab Deni sambil tersenyum.


Setelah sampai di dalam kamar, Deni menurunkan Yanti diatas ranjang.


"Yanti, tunggu sebentar, aku ambil tas aku dulu di dalam mobil. Nanti kita mandi bersama," ucap Deni tersenyum nakal.


Yanti hanya tertawa menanggapi ucapan suaminya. Ada rasa geli mendengar ucapan suaminya. Deni yang sekarang, memang berbeda dengan Deni yang Yanti kenal waktu pertama kali bertemu. Tidak berapa lama, Deni sudah kembali dengan membawa dua buah tas, tasnya sendiri dan juga tas Yanti. Ditaruhnya tas itu ke tempatnya masing-masing.


"Ayo, kita mandi bersama." Deni bersiap menggendong Yanti lagi.


"Ya iya. Masak becanda. Nurut saja, ya?" tanya Deni.


"Terserah, Mas Deni saja," jawab Yanti pasrah.


Mereka menikmati mandi bersama, dan ini pertama kalinya mereka mandi bersama. Kebahagian terpancar dari wajah keduanya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, mereka bersantai di ruang keluarga. Disinilah waktunya Yanti menanyakan tentang pertemuannya dengan dokter Dimas.


"Mas, kamu berhutang penjelasan padaku. Masih ingat?" tanya Yanti.


"Oh, ingat-ingat. Pertemuanku dengan dokter Dimas, kan?"


"Bener, Mas."


"Yanti, dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan," ucap Deni serius.


"Apa, Mas, kenapa kamu tampak serius?" tanya Yanti penasaran.

__ADS_1


"Begini, aku pernah berjanji pada pak Hadi dan juga pada diriku sendiri bahwa Akau Kana menemukan orangtua kandungmu. Dan sekarang, aku sudah menemukannya," ucapan Deni membuat Yanti tertegun.


Yanti terdiam dan untuk beberapa saat, dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya saat ini. Dia senang, tetapi dia juga sedih. Senang karena akhirnya dia menemukan orangtuanya. Dan sedih, karena dia menghianati janji pada orangtua angkatnya untuk tidak akan mencari orangtua kandungnya lagi.


"Yanti, kamu tidak bahagia?" tanya Deni melihat reaksi Yanti.


"Aku bahagia sekali, tetapi, kebahagiaanku ini mungkin akan menyakiti orang lain," jawab Yanti sedih.


"Siapa, pak Hadi? Dia malah yang ingin, mempertemukan kamu dengan orangtua kandungmu. Jadi, kamu tidak perlu sedih," ucap Deni sambil memeluk istrinya.


"Benarkah, apakah Ayah tidak akan sedih?" tanya Yanti sambil menangis di pelukan Deni.


"Ayah Hadi tidak akan marah. Kamu juga harus bahagia bertemu keluarga kandungmu. Mereka juga pasti sangat merindukan kamu," ucap Deni.


"Lalu, siapakah mereka?"


Deni melepaskan pelukannya. Dia memegang bahu Yanti dan tersenyum manis.


"Kamu masih ingat, gantungan tas yang selalu kamu simpan?" tanya Deni pelan.


"Ingat," Yanti mengangguk pelan.


"Akulah yang memberikannya padamu. Aku adalah anak dari wanita yang pernah menculik kamu," ucap Deni sedih.


"Benarkah?" tanya Yanti.


"Yanti, maafkan ibuku. Ibuku yang menyebabkan kamu berpisah dengan keluarga kandungmu. Apakah kamu membenciku?"


"Tidak, Mas Deni. Untuk apa aku membencimu. Meskipun, ibumu yang menculik aku, tetapi kamu yang sudah berusaha melepaskan aku. Meskipun aku akhirnya tetap tidak bisa bertemu mereka, itu mungkin sudah takdirku," jawab Yanti sambil kembali memeluk Deni.


"Orangtua kandungmu, adalah dokter Dimas dan Ibu Winda.


"Dokter Dimas dan Ibu Winda?


"Hasil tes DNA hari ini sudah keluar. Dan hasilnya positif. Tetapi, mereka hanya tahu bahwa Vina adalah istriku. Mereka belum tahu jika istriku adalah kamu, Yanti. Aku meminta mereka untuk menyelesaikan masalah mereka dengan gadis yang ada di rumah mereka. Darimana gadis itu bisa memiliki kalung yang seharusnya milikmu," Deni memberikan penjelasan.


"Aku menjualnya, saat butuh uang untuk berobat ibu."


"Ayah Hadi sudah menceritakannya padaku. Kita tunggu sampai masalah mereka selesai. Setelah itu, aku akan membawamu ke rumah ayah dan ibumu."


"Iya, Mas. Aku menurut saja padamu."

__ADS_1


Yanti dan Deni sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan mereka selanjutnya.


Bersambung


__ADS_2