Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 39. Gugatan Cerai


__ADS_3

Vani sudah final dengan keputusannya untuk menggugat cerai suaminya. Hal itu dikatakannya pada Mami-nya sejak awal kedatangannya ke rumah Mami Winda. Meskipun dokter Dimas berusaha membuat Vani agar memikirkannya sekali lagi, Vani tetap pada keputusannya untuk berpisah.


Baginya sudah tidak ada yang bisa dipertahankan lagi sebuah pernikahan, jika salah satu dari mereka sudah tidak setia atau selingkuh. Vani, ditemani Mami Winda dan seorang pengacara pergi mendaftarkan gugatan cerai dikota B. Kota saat mereka menikah dulu.


Vani telah memberikan hak kepada pengacaranya untuk mengurus semua yang berhubungan dengan masalah perceraian. Padahal Deni berharap, hubungan pernikahan mereka masih bisa diselamatkan. Tetapi ternyata, Vani sudah tidak bersedia berdamai dengannya.


Vani tidak memberi kesempatan pada Deni untuk bertemu dengannya berdua. Karena Vani tidak ingin ada pembicaraan yang akan dapat menggoyahkan tekadnya. Vani juga sudah berbicara tentang harta gono-gini kepada pengacaranya. Vani tidak membutuhkannya agar perceraiannya cepat bisa diputuskan.


Sidang pertama adalah sidang dengan agenda mendamaikan kedua belah pihak antara penggugat dan tergugat. Atau lebih tepatnya sidang yang mempertemukan antara Vani dan Deni agar mereka bisa rujuk kembali. Sidang perdamaian yang mengharuskan mereka datang dan diharapkan bisa menyelesaikan masalah tanpa perceraian.


"Vani, apa kabar?" tanya Deni saat mereka bertemu dalam sidang pertama di pengadilan Agama.


"Baik. Dan bahkan lebih baik dari sebelumnya," jawab Vani berusaha tenang.


"Vani, tidak bisakah kamu memaafkan aku? Aku tahu aku salah, tapi waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau dia ada didalam kamar hotel tempatku menginap," kata Deni berusaha menjelaskan.


"Cukup, aku bukan anak kecil yang akan percaya begitu saja dengan ocehanmu. Selama ini, kamu pasti menertawakan aku, karena aku menjadi wanita bodoh yang selalu menurut apa katamu. Yang selalu menganggap suamiku seorang yang berhati malaikat. Tetapi ternyata aku salah," ucap Vani dengan nada kecewa yang dalam.


"Vani, ...."


"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Ini hanya salah satu prosedur dari gugatan cerai yang aku ajukan. Setelah ini, aku sudah memberikan surat kuasa pada pengacaraku.


Dia yang akan melanjutkan proses ini hingga perceraian kita disetujui dan diketuk oleh hakim," kata Vani kemudian.


Hasil pertemuan pada sidang pertama, tidak membuahkan hasil. Sidang kedua Vani memutuskan untuk tidak menghadirinya meminta pengacara yang datang. Hingga akhirnya putusan pengadilan telah diputuskan bahwa mereka akhirnya resmi bercerai.

__ADS_1


Meskipun perceraian ini adalah tujuannya, tetapi Vani sama sekali tidak merasa bahagia. Setiap hari dia mengurung diri didalam kamar. Terkadang menangis sendirian untuk meluapkan emosinya.


Dokter Dimas dan Bu Winda merasa kasihan atas apa yang terjadi pada Vani. Mereka berunding untuk mendapatkan solusi terbaik.


"Mas, Vani bisa stres jika dia terus seperti ini. Menurut Mas Dimas, apa yang harus kita lakukan untuk meringankan kesedihan Vani," ucap Bu Winda sedih.


"Menurut Mas, sebaiknya dia harus bertemu dengan suasana dan orang yang baru. Bujuk dia agar bersedia luar negeri. Kemarin aku sudah bicarakan dengan Vano, dia akan menjaga Vani selama di sana. Vani bisa kuliah sambil membantu Vano di perusahaan nenek," kata dokter Dimas optimis.


"Mas, kamu bener juga. Kenapa aku tidak sampai berpikir kesana? Tapi, apakah Vano bisa benar-benar menjaga Vani, mereka belum saling kenal," tanya mami Winda cemas.


"Vano bilang, mereka pernah video call-an. Jadi Vano sudah pernah melihat Vani. Aku yakin hubungan darah diantara mereka, bisa membuat mereka dekat. Apalagi mereka terlahir kembar."


"Tetapi, Mama sendiri yang akan mengantarkan Vani jika dia bersedia. Aku sedih, karena kita baru saja menemukannya, tetapi kini dia harus pergi lagi. Ini semua karena Deni, aku benar-benar membencinya," ucap Mami Winda penuh emosi.


"Tapi bener kan, ini semua karena Deni anak si Maya itu," ucap Mami Winda kesal karena suaminya selalu membela Deni.


"Sayang, jadi pengen panggil sayang. Jangan marah lagi, nanti cantiknya hilang," ucap dokter Dimas menggoda istrinya.


"Apaan sih Mas, berasa kita masih muda. Kita ini udah saatnya menimang cucu," jawab Mami Winda sambil memeluk dokter Dimas.


Mereka memang masih terkadang suka saking menggoda. Itu yang mereka lakukan ketika ada kegalauan dan salah satu dari mereka ada yang sedang terbawa emosi. Nyatanya cukup mampu membuat mereka merasa saling membutuhkan satu sama lain.


Ketika malam mulai menjelang, keluarga dokter Dimas melakukan makan malam di rumah. Meskipun kurang lengkap, karena tidak adanya Vano, tetapi mereka cukup bahagia terlebih setelah Vani ditemukan.


Meskipun ikut makan malam, tetapi tidak tampak berceritaan di wajah Vani. Semburat kesedihan berusaha dia sembunyikan, agar orang lain tidak tahu. Tetapi bagi dokter Dimas dan mami Winda, hal itu malah semakin membuat hati mereka sedih.

__ADS_1


Selesai makan malam, Mami Winda mengajak Vani bicara di kamar Vani. Mami Winda berusaha berbicara dengan santai dan lembut agar tidak membuat suasana hati Vani bertambah sedih setelah bercerai dari Deni.


"Vani, Mami ingin kamu move on dari masalah yang sedang kamu hadapi saat ini. Mami ikut sedih melihatmu sedih," ucap mami Winda sedih.


"Mami, maafkan Vani. Vani hanya bisa bikin Mami Winda sedih. Winda sulit untuk bisa melupakan semuanya, Mami. Vani harus bagaimana?" tanya Vani sedih.


"Vani, kamu harus memiliki kegiatan yang bisa membuatmu melupakan semuanya. Pergilah keluar negeri untuk sementara waktu. Sampai kamu bisa melupakan Deni, baru kamu bisa kembali. Jadi saat bertemu Deni, Mami harap kamu sudah harus bisa move on darinya," kata Mami Winda penuh harap.


"Keluar negeri?"


"Iya, Vani. Kamu tidak perlu khawatir. Disana ada Vano yang akan menjagamu. Kamu bisa kuliah sambil membantu Vano bekerja di perusahaan peninggalan Nenek. Apa kamu masih ingat, Nenek?" tanya Mami Winda.


"Entahlah, ingatan Vani agak buyar. Tapi Vani ingat, Vani pernah tinggal disana bersama Mami dan Vano, benar?" tanya Vani balik.


"Benar, Vani. Sekarang, jika setuju, Mami akan mengantarkan kamu kesana secepatnya," kata Mami Winda sambil melihat kearah Vani.


"Baik, Mami. Aku bersedia," jawab Vani sambil memeluk Mami-nya.


Persiapan kepergian Vani keluar negeri mulai dilakukan. Mami Winda dan Vina akan mengantar Vani keluar negeri untuk menemui Vano. Sekalian mengajak Vani jalan-jalan. Setelah pembuatan paspor untuk Vani yang memang membutuhkan waktu beberapa hari, barulah mereka melakukan pemesanan tiket untuk 3 orang.


Vani mencoba meyakinkan diri, bahwa dia akan bisa move on setelah pergi ke luar negeri. Menemui orang-orang baru dan berada di tempat yang jauh, akan bisa membuatnya menyadari, bahwa cinta itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Melupakan Deni sepenuhnya.


Akankah Vani bisa lepas dari semua kenangan buruknya?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2