
Aya berlari masuk tergesa-gesa ke ruang kerja Annelka. Dia baru saja makan di sebuah restoran. Dan di tempat itu, dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan dari orang yang paling dia benci dalam hidupnya.
"Ada bukti kalau Gabriel mengirimkan fash disk itu ke rumah Annelka. Tapi yang aku heran. Sampai saat ini dia belum bertindak. Jika dia sudah melihat isi flash disk yang di kirim oleh Gabriel. Kecuali...Annelka belum melihat isi dari flash disk itu. Dan kita tidak mungkin menerobos masuk ke rumah pria itu. Terlalu beresiko"
"Tidak masalah jika dia sudah melihat isi flash disk itu. Karena akan aku pastikan kalau hari ini dia akan menutup matanya untuk selamanya"
"Aku ingin melakukannya hari ini. Dia akan berada di lobi untuk menyambut dewan direksi yang lain. Saat itulah kau bisa mengeksekusinya"
Aya langsung menutup mulutnya. Begitu serentetan obrolan itu terdengar di telinga Aya.
"Flash disk? Paket? Gabriel? Paket yang hari itu"
Aya memekik dalam hati. Apa yang dimaksud orang itu adalah paket itu. Isinya flash disk. Tapi flash disk apa.
"Prang"
Aya segera berlari begitu dia tanpa sengaja menyenggol vas bunga di depan pintu VVIP itu. Hatinya begitu cemas. Pikirannya kalut. Jika dugaannya benar. Maka mereka mengincar suaminya. Melirik jam tangannya. Masih ada dua jam lagi sebelum rapat di mulai. Jadi dia memutuskan untuk pulang ke rumah dulu. Dan melihat isi flask dish itu.
"Tidak ada siapa-siapa" Ricky berucap sambil membuka pintu.
"Periksa CCTV"
Duta seketika mengeratkan rahangnya begitu melihat rekaman CCTV.
"Cari dan tangkap dia!" Perintah pria itu.
***
Aya langsung membulatkan matanya. Begitu melihat isi dua flash disk itu. Air matanya mengalir tiba-tiba. Deras tanpa bisa dibendung.
"Jadi dia pelakunya. Dia yang menghancurkan keluarga kami" Aya berucap mengusap layar laptop. Di mana sang kakak terbaring tidak berdaya. Dengan darah berceceran di mana-mana.
"Tidak!" Aya berteriak histeris. Trauma itu kembali muncul. Dia menutup laptop itu paksa. Menyandarkan tubuhnya di kursi kerja Annelka. Mulai menutup kedua telinganya.
Pantas saja. Polisi tidak bisa menemukan bukti apapun. Sebab pria itu sudah lebih dulu mengambil rekaman CCTV. Sesaat Aya menangis hebat. Hingga kemudian aroma Annelka yang tertinggal di kursi kerjanya. Menyadarkan Aya.
Tidak boleh. Dia tidak boleh melukai siapapun lagi. Terutama Annelka. Aku harus mencegahnya. Aya membuka kembali laptopnya. Menyalin isi CCTV itu. Lalu mengirimkannya ke e-mail James. Satu nama yang terlintas di kepalanya.
"James..aku mengirimkan sesuatu ke e-mailmu. Berikan pada Annelka jika terjadi sesuatu padaku"
Satu pesan kemudian Aya kirim ke ponsel James. Detik berikutnya, wanita itu berlari keluar ruang kerja Annelka. Memasukkan flash disk itu kedalam sling bagnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Arash yang kebetulan juga akan keluar.
"Kantor Annelka"
"Mau sekalian?" Tanya Arash.
Sejenak berpikir. Tanpa menjawab, wanita itu langsung masuk ke mobil Arash.
"Cepatlah!" Aya hampir berteriak.
"Sabar, Nyonya"
__ADS_1
"Aku hanya punya waktu tidak lebih dari satu jam" Batin Aya cemas.
Sementara di sisi lain, Gabriel terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Peluhnya bercucuran. Dengan wajah ketakutan.
"Kau bangun?" Suara Vania membuat Gabriel menoleh.
"Panggilkan Farris atau Annelka"
Pinta Gabriel cepat. Dan Vania dengan cepat menekan tombol darurat ke ruang Farris.
"Ada apa, Mbak?" Seorang perawat yang merespon masuk.
"Dokter Farris..
"Beliau sedang ada operasi. Mungkin setengah jam lagi baru selesai"
"Ahh..bagaimana ini?" Gabriel berucap.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Vania cemas.
"Aku mengingat semua, Nia"
Vania langsung membulatkan matanya.
"Paman Duta yang melakukan semua. Dia yang sudah melenyapkan keluarga Aya dan Annelka. Aku melihatnya di rekaman CCTV yang aku curi dari brankas Paman Duta"
Vania menutup mulutnya tidak percaya.
"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Vania bingung sekaligus shock.
"Jangan berpikir yang berat-berat dulu, Briel" Ujar Vania.
"Hubungi mereka, Nia"
Gabriel berucap di sela-sela ringisannya. Vania meraih ponselnya. Mencoba menghubungi ponsel ketiga orang itu. Setelah membantu Gabriel berbaring. Namun berulangkali mencoba. Tidak ada seorangpun yang mengangkat panggilan Vania.
"Tidak ada yang mengangkat, Briel"
"Coba terus"
Pinta Gabriel dan Vania mengangguk.
Di sisi lain, Aya langsung berlari masuk ke kantor Annelka. Terlihat tergesa-gesa juga cemas. Membuat Arash mengerutkan dahinya. Bertanya di mana sang suami berada. Si resepsionis menjawab kalau Annelkan masih di ruangannya.
Wanita itu langsung berlari ke lift. Dia sedikit tidak sabar. Melihat angka lift masih di angka 20. Aya langsung melesat masuk ke tangga darurat. Mengumpat tiada henti karena panggilannya ponselnya tidak ada yang mengangkat.
Waktu di tangga darurat itulah. Sekelompok pria dengan gesit mengepung dirinya.
"Kalian siapa?" Tanya Aya takut. Mengeratkan pegangannya pada sling bagnya.
Tidak ada yang menjawab. Hingga satu bekapan di mulutnya. Membuyarkan kesadarannya. Seketika tubuh Aya ambruk dalam dekapan Ricky yang berdiri di belakangnya.
"Periksa tasnya" Perintah Ricky samar terdengar di telinga Aya.
__ADS_1
***
Aya terlihat mengerjapkan matanya pelan. Dia pikir berapa lama dia pingsan.
Ketika dia membuka matanya. Dilihatnya Duta yang berdiri angkuh di depannya.
"Selamat datang kembali, nona muda Wibisana" Ucap pria itu.
Aya tersenyum.
"Kau mengenaliku ternyata" Ucap Aya mencoba tersenyum. Sambil memindai keadaan sekelilingnya. Dia pikir ada dimana dia sekarang. Sepertinya masih di kantor Annelka. Tapi dimana.
"Tentu saja. Seharusnya aku mengenalimu sejak pertama kali aku melihatmu. Tapi tidak masalah. Karena mulai saat ini. Semua yang aku inginkan akan jadi milikku. Baik kau maupun Annelka tidak akan bisa menghalangiku"
"Apa maksudmu?"
Duta langsung menunjukkan dua flash disk yang tadi dia sembunyikan di sling bagnya.
"Kau pikir bisa menghancurkanku dengan benda ini? Kau salah besar, Nona. Karena kau dan Annelka akan bernasib sama dengan mereka"
Aya menyeringai.
"Dan kau pikir aku takut mati. Aku sudah lama menanti saat itu tiba. Lebih baik kau melakukannya dengan cepat" Aya ingin mengulur waktu. Jika perkiraannya benar. Ini sudah waktunya rapat dimulai.
"Tentu saja kau akan mendapat giliranmu. Tapi setelah ...suamimu lebih dulu yang aku lenyapkan"
Aya langsung membulatkan matanya. Jadi bukan mereka yang akan melakukannya. Tapi orang lain. Tidak...dia harus bisa keluar dari tempat ini. Tapi bagaimana caranya. Tangan dan kakinya diikat. Dan dia juga merasa lemas.
"Kau terkejut? Kau lihat di sana?" Ucap Duta menunjuk seseorang yang berdiri di gedung seberang.
Aya sedikit memicingkan matanya. Itu adalah pembunuh bayaran. Orang itu sudah siap dengan sebuah senapan laras panjang. Siap membidik ke arah sasaran.
"Aku tinggal memberinya perintah dan "dooor" suamimu akan lenyap dalam satu kedipan mata"
"Kau..kenapa kau lakukan ini pada kami. Keluargaku juga Annelka" Aya hampir menangis. Tapi ditahannya.
"Kau bertanya. Biar kuberitahu agar kau tidak penasaran di masa datang..itu jika kau masih hidup" Cibir Duta.
"Papamu membuatku marah karena sama sekali tidak menganggapku ada. Menyerahkan semua pada Nicky, kakakmu dan berniat membuangku...
"Itu karena Paman pantas menerimanya...arrghhh
Aya langsung meringis karena Duta mencengkeram dagunya dengan kuat. Kuku pria itu sedikit menembus kulit pipi Aya. Menimbulkan rasa perih.
"Kau berani melawanku. Seharusnya kau yang jadi putriku tapi karena ibumu menolakku..
"Bagus sekali Ma....arrgghhhh
Aya semakin meringis. Kala Duta semakin menguatkan cengkeramannya.
"Kau sama menjengkelkannya dengan ayahmu. Karena itu aku tidak akan segan untuk mengirimmu menyusul mereka"
Ucap Duta dengan seringai menakutkan di wajahnya.
__ADS_1
***