Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 31. Curhatan Vina


__ADS_3

Sampailah Yanti di cafe tempat Vina mengajak Yanti bertemu Vina. Yanti mengamati suasana cafe. Terlihat cukup mengasyikkan berada di cafe. Pasti bikin betah. Untung sebelum naik taksi, Yanti sudah mengirimkan pesan pada suaminya kau dia menemui Vina di cafe. Yanti memang belum pernah pergi ke cafe, jadi dia juga agak merasa grogi.


"Kakak," suara panggilan Vina.


Yanti segera menoleh kearah sumber suara. Vina melambaikan tangannya sambil tersenyum. Baru beberapa hari, Yanti pergi, Vina sudah tampak rindu padanya. Yanti berjalan menuju ke tempat duduk Vina lalu duduk didepannya.


"Vina, sepertinya baru kemarin Kakak pergi. Kenapa kamu sudah ingin bertemu Kakak?" ucap Yanti bercanda.


"Vina bosan di rumah," jawab Vina terlihat kesal.


"Bosan? Biasanya kamu betah di rumah, kenapa?" tanya Yanti lagi.


"Karena dirumah ada Kaka Vani. Entah kenapa, aku tidak tidak ada perasaan sama dia. Beda kalau sama kakak. Kenapa bukan Kakak saja yang menjadi Kakaknya Vina?" jawab Vina sambil cemberut.


"Vina, kan Kakak sudah jadi Kakaknya Vina," jawab Yanti.


"Tapi, Vina maunya Kakak kandungku," ucap Vina sedih.


"Vina, hubungan yang baik, tidak harus dari hubungan darah. Buktinya, kita bisa dekat meski tidak sedarah. Jadi, sampai kapanpun kita akan tetap menjadi saudara," ucap Yanti bijak.


"Kak, diminum dulu. Udah aku pesankan minuman."


"Makasih, ya."


Yanti mulai meminum jus jeruk yang di pesankan Vina. Rasanya tidak jauh beda sama juz jeruk yang biasa Yanti beli di dekat sekolah Yanti. Yah, beda kualitas jeruknya sama tempat nongkrongnya saja.


"Kakak sekarang tinggal dimana? Apakah Kakak kembali ke rumah orangtua Kakak?" tanya Vina.


"Tidak. Sekarang aku tinggal bersama suami Kakak," jawab Yanti sambil tersenyum malu.


"Apa, Kakak sudah menikah di usia semuda ini? Kapan, sebelum Kakak kecelakaan?" tanya Vina kaget.

__ADS_1


Yanti lupa jika Vina belum tahu jika dia sudah menikah.


"Iya, Vin. Saat kecelakaan itu terjadi, kami sedang ada masalah. Kakak pergi dari rumah, lalu terjadilah kecelakaan itu. Tetapi, Kakak senang karena sekarang kami sudah berbaikan lagi," jawab Yanti sambil tersenyum malu.


"Syukurlah, kalau begitu. Vina ikut senang. Kapan-kapan, aku mau mampir ke rumah Kakak. Bolehkah?"


"Tentu saja boleh. Tolong bilang sama ibumu, kalau aku tidak akan bekerja di butik lagi. Aku mau bekerja di tempat suami Kakak, biar setiap hari bisa bersama."


"Wah, so sweet banget, Kak. Nanti aku sampaikan ke mami."


Mereka berdua menikmati hari ini dengan gembira. Setah menjelang sore, Vina mengantar Yanti pulang ke rumahnya. Jangan sampai nanti, Deni sudah pulang, tapi Yanti belum. Jadi kebalik nanti, siapa yang menunggu dan siapa yang ditunggu.


Yanti sampai dirumah ketiak hari sudah sore. Untunglah, suaminya belum pulang. Yanti segera mandi dan berganti pakaian untuk menyambut kedatangan suaminya pulang kerja. Dan tidak lama kemudian, mobil Deni sudah memasuki pelataran rumah.


Yanti bergegas menuju ruang depan dan menunggu suaminya mengetuk pintu. Setelah suaminya mengetuk pintu, Yanti bergegas membukakan pintu untuknya. Deni sangat bahagia ketika melihat wanita yang sangat dicintainya menunggu dan membukakan pintu untuknya. Ternyata inilah kebahagiaan ketika memiliki seorang Istri.


Begitu juga dengan Yanti, dia terlihat sangat bahagia melihat pria yang sangat dicintainya berada di depannya. Bahkan pria itu sekarang sedang memeluk dan menciumnya. Bahagianya bisa bersama dengan orang yang dicintai.


Dua minggu telah berlalu. Deni menerima pemberitahuan dari dokter Dimas untuk membacakan hasil tes DNA. Tes DNA yang telah dokter Dimas lakukan dengan sampel yang Deni berikan. sebelum pergi menemui dokter Dimas Deni memberi tahu kepada Yanti bahwa dia adalah urusan dengan dokter Dimas rumah sakit.


"Yanti, hari ini aku ada janji dengan dokter Dimas. Jadi kamu makan siang bersama teman-teman kamu saja," ucap Deni saat Yanti hendak turun dari mobilnya.


"Apakah Mas Deni akan pergi sekarang?"


"Ya. Dan ini sangat penting sekali. Nanti akan aku beritahukan padamu."


"Baiklah aku masuk dulu, hati-hati dijalan. Salam untuk dokter Dimas."


"Ok."


Yanti bergegas turun dari mobil suaminya yang kemudian segera melaju pergi. ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul di hatinya. Tetapi Yanti harus bersabar menunggu, sampai suaminya kembali.

__ADS_1


Semoga, tidak ada hal yang buruk yang terjadi. Karena saat ini, Yanti sudah cukup merasa bahagia hidup bersama Deni.


Yanti berjalan menuju ruang ganti. Di sana dia bertemu dengan Sasa dan Mina. Setelah berganti pakaian kerja, mereka bersama-sama menuju tempat kerja. Dengan senangnya Yanti menikmati pekerjaannya, meski terkadang ada pelanggan yang agak membuat Yanti merasa kesal. Terlebih, gadis-gadis muda yang sok kaya. Mereka seenaknya saja memerintah ini itu, yang ini, yang itu. Benar-benar bikin pusing dan butuh kesabaran yang tinggi.


Waktu yang paling ditunggu adalah waktu makan siang, sekaligus waktunya untuk beristirahat. Yanti dan kedua temannya seperti biasa, makan di meja yang sama. Sesudah selesai makan siang, tiba-tiba Yanti merasa pusing. Meski begitu, dia masih mencoba berjalan untuk menyimpan kotak makan siangnya.


Saat dia mencoba kembali untuk bersama teman-temanmu tiba-tiba yanti merasa tubuhnya sangat lemah dan dia terduduk lalu terjatuh kelantai. Semua yang ada di ruang istirahat merasa panik dan cemas. Untunglah saat itu, Dirga melihatnya dan bermaksud menggendongnya.


Sayangnya, seseorang segera mendorong tubuh Dirga dan segera mengangkat tubuh Yanti. Dia adalah Deni. Deni membawa Yanti ke ruang kerjanya. Deni tampak sangat panik dan segera meminta Riko untuk menghubungi dokter. Deni tidak peduli lagi saat semua mata menatapnya curiga. Mereka saling bertanya-tanya dan memiliki rasa penasaran yang tinggi dengan sikap Bos mereka pada Yanti.


Sampai dokter datang, Yanti belum juga sadar. Dokter segera memeriksa kondisi yanti. Ketika wajah dokter tenang, Deni malah semakin panik.


"Dokter bagaimana kondisi istri saya?" tanya Deni panik.


"Pak Deni tenang saja, istri anda baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan kurang cairan. Jadi sebaiknya perbanyak istirahat dan perbanyak minum air putih," kata dokter datar.


"Tapi mengapa sampai sekarang dia belum sadar juga, Dokter?" tanya Deni lagi.


"Tidak apa-apa. Nanti juga sadar, sebentar lagi. Saya permisi dulu," kata dokter yang segera pamit pergi


"Baik dokter terima kasih," ucapkan Deni sembari menatap istrinya


Setelah beberapa lama, Yanti pun mulai membuka mata. Dia tambah kaget ketika melihat suaminya ada di sampingnya. Dan lebih terkejut lagi, sekarang dia berada di ruangan manajer.


"Yanti, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya Deni masih panik sekaligus agak lega.


"Bagaimana aku bisa berada di ruangan ini?" tanya Yanti pelan.


"siapa lagi yang berani untuk menggendong kamu?" Deni balik bertanya.


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2