Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Siapa Aku Sebenarnya?


__ADS_3

Tubuh Annelka langsung lemas. Dia benar-benar kecewa. Harapannya terlalu tinggi untuk kembalinya Aaron bersama dirinya.


"Sabar ya, Ann" Suara Aya terasa menenangkan jiwanya.


"Aku tidak tahu harus berkata apa" Ucap Annelka lesu.


"Mungkin harus begini jalannya. Maaf jika kata-kataku terlalu kejam"


Annelka menarik nafasnya.


"Tidak juga. Hanya saja aku terlanjur berharap banyak. Jadi ya begini ini rasanya jika harapanku tidak sesuai kenyataan"


Kali ini giliran Aya yang menarik nafasnya.


"Setidaknya aku masih punya kamu dan dia. Jadi jangan tinggalkan aku. Berjanjilah" Pinta Annelka sambil mengusap perut Aya. Bersandar di bahu sang istri.


Jelas sekali bagaimana rapuh dan kecewanya Annelka. Dia pikir akan ada keajaiban dalam hidupnya. Tapi nyatanya tidak. Keduanya masih ada di ruang kerja Farris.


Farris sendiri merasa heran. Dia pikir ada kesalahan dalam tes DNA itu. Tapi Annelka dan Aya meminta untuk tidak memperpanjang masalah ini. Annelka tidak ingin kecewa lagi. Jadi dia akan kembali berusaha merelakan kepergian Aaron. Annelka terlanjur berharap kalau sang kakak masih hidup.


"Lalu mereka bagaimana?" Tanya Aya.


"Entahlah. Aku masih belum bisa berpikir" Jawab Annelka.


***


Malam itu seperti biasa. Ben akan membantu pekerjaan Annelka. Sejenak pria itu menatap Ben yang sesekali mengajari Zaki soal pekerjaannya. Satu nasihat dari Ed sedikit membuatnya ragu.


"Kau bisa menentukan sikapmu. Soal urusan kantor polisi. Kita bisa mengakhirinya. Karena itu memang hanya pura-pura. Tapi untuk selanjutnya itu terserah kau. Namun menurutku lebih baik kau memberikan kebebasan pada mereka. Mereka mau tetap di sini atau pulang ke tempat mereka. Meski sebenarnya akan lebih baik jika mereka ada di sini. Mereka bisa bekerja bukan berbuat kejahatan"


Kata-kata Ed membuat Annelka berpikir. Apa dia tidak keterlaluan jika ingin menahan Ben di sini. Hitung-hitung Ben bisa menjadi pengobat rindu Annelka pada Aaron. Tapi sejurus kemudian Annelka sadar. Jika dia melakukan itu, dia akan jadi manusia paling egois. Memaksakan kehendak. Tanpa peduli pada perasaan dan keinginan Ben.


"Kau kenapa?" Tanya Ben. Yang tanpa Annelka sadari sejak tadi memperhatikan dirinya.


"Melamun ya?" Ledek Zaki.


Hubungan ketiganya mulai membaik. Terlebih setelah Ben dan Zaki minta maaf atas apa yang mereka lakukan pada Aya. Beralasan mereka tidak benar-benar ingin menculik Aya. Mereka hanya kebetulan menemukan Aya yang hanyut di sungai. Lalu membawanya ke rumah. Ketika tahu Aya orang kaya baru mereka berpikir untuk menculiknya.


Mendengar pertanyaan Ben, Annelka menarik nafasnya dalam. Dia tidak boleh menahan Ben dan Zaki lagi. Semuanya jelas, Ben bukan Aaron, sang kakak. Jadi Annelka memutuskan untuk memberi kebebasan pada Ben dan Zaki untuk menentukan langkah mereka.


"Ada yang ingin aku bicarakan?" Annelka sudah duduk di depan Ben dan Zaki. Dua orang itu saling pandang.


"Ada masalah dengan pekerjaan kami?" Tanya Ben.


"Ini bukan soal pekerjaan. Ini soal kalian"


Ben dan Zaki saling tatap, bingung.


"Begini, pihak kepolisian tadi memberitahuku. Entah mereka memberitahu kalian atau tidak. Tapi mereka mengatakan kalau urusan kalian sudah selesai...

__ADS_1


"Kami dipenjara?" Potong Zaki cepat.


"Tidak. Mereka tidak memperpanjang masalah kalian. Karena sampai sekarang tidak ada yang menuntut kalian. Tapi mereka tetap mengambil uang kalian. Itu hasil kejahatan...


Zaki langsung lesu dibuatnya.


"Setidaknya kita tidak tidur di penjara" Cengir Ben.


"Lalu setelah ini. Semua keputusan ada di tangan kalian. Kalian ingin tinggal di sini ya silahkan. Ingin pulang ya silahkan. Meski secara pribadi, aku lebih suka kalian di sini. Ada yang membantuku bekerja" Bisik Annelka di kalimat terakhirnya


"Itu sih modusmu" Celetuk Ben.


"Daripada kalian kembali ke sana. Mau jadi rampok lagi. Atau mau menanan sayur. Nggak banget deh" Annelka memberi pertimbangan.


Ben dan Zaki saling diam.


"Pikirkan itu baik-baik. Aku tidak memaksa. Meski aku dan Aya sangat ingin kalian tinggal. Tapi semua pilihan ada di tangan kalian" Annelka mengakhiri ucapannya.


***


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Zaki.


Keduanya sekarang berada di sebuah mall. Menikmati status baru mereka sebagai orang bebas. Sebuah mobil Annelka sediakan untuk Ben dan Zaki. Dia bilang kalian boleh memakainya. Upah bekerja kalian. Juga sebuah kartu gold sebagai tambahan.


"Upah kalian bekerja, aku masukkan ke dalam situ"


Annelka berucap tadi pagi saat makan pagi.


"Tapi mereka kan mengambil uangnya kembali" Ben menjawab sambil meminum espresso-nya.


Ini aneh, meski baru pertama kali keluar. Tapi Ben sama sekali tidak kesasar. Seolah dia hafal semua jalanan ibu kota. Begitu juga ketika dia masuk ke mall ini. Dia langsung menuju outlet yang menjual espresso. Seperti, dia sudah sering membelinya.


"Lalu kita mau bagaimana? Mau balik atau tetap di sini. Setelah dipikir-pikir. Kerja dengan Annelka tidak buruk juga. Tidak terlalu membosankan. Kerja tiga, empat jam dapat sejuta. Lumayan kan. Dulu kita harus menunggu satu minggu lebih untuk dapat duit sejuta. Itu kalau tiap hari dapat mangsa. Tapi ini, kita tinggal mainan laptop. Duduk manis. Sofa empuk. Pakai AC, nggak perlu otot. Dapat duit" Cerocos Zaki tanpa henti.


"Kau benar, aku pikir, aku juga mulai menyukai pekerjaan ini. Kerja kantoran tidak buruk juga. Capeknya lebih dari menjadi rampok. Jadi aku bisa tidur nyenyak tiap malam"


"Dan kau tidak pernah mengigau lagi selama tinggal di rumah Annelka"


"Aku terlalu capek. Jadi langsung tepar begitu selesai bekerja"


Hening sejenak.


"Aku pikir aku suka di sini. Mereka juga menyenangkan" Zaki berucap pelan.


Selama di sini, Ben dan Zaki ikut bergaul dengan teman-teman Annelka yang lain. Farris, Ed dan Tria beserta istri-istri mereka. Mereka semua begitu terbuka menerima kehadiran Ben dan Zaki.


Bahkan si kembar juga menyukai Ben dan Zaki. Padahal mereka baru dua minggu disana.


"Aku juga berpikiran sama. Aku suka bermain dengan si kembar"

__ADS_1


"Makanya nikah sana. Cari cewek elu yang elu putusin dulu. Siapa namanya...


"Santi..


"Nah Santi. Kau cari dia. Ajakin nikah. Setidaknya kau bukan penjahat lagi. Kau bisa bekerja di sini"


Ingatan Ben, melayang pada hari keberangkatan mereka ke ibu kota. Hari ketika dia melihat Santi. Gadis itu masih sama cantiknya seperti terakhir kali mereka berpisah.


"Santi yang menyelamatkan Annelka"


"Apa?!!! Yang benar?"


Ben mengangguk.


"Faya bercerita padaku. Ibunya Santi juga yang menolong Aya waktu dia kesakitan. Mereka tidak menemukan dokter kandungan waktu itu"


"Berarti mereka kenal Santi dong?"


Ben mengangguk. Mereka kembali menikmati kopi mereka sambil memakan tiramisu sebagai pendamping kopi espresso mereka. Sepertinya Ben seorang pecinta makanan manis.


Keduanya asyik mengobrol hingga satu suara memanggil Ben.


"Aaron Xavier Carter!" Teriak suara itu.


Ben langsung menoleh. Merasa familiar dengan panggilan itu.


"Aaron apa itu kau?"


"Kau memanggilnya Aaron?" Tanya Zaki.


"Kenalkan aku Ronald. Kita teman satu kampus, Aaron"


"Aaron? Tapi namaku Ben"


Ronald tergugu.


"Tidak mungkin, kau adalah Aaron. Semua yang mengenal Aaron pasti akan menganggap kau Aaron. Oohh, pasti Annelka sangat senang jika bertemu denganmu"


"Annelka?" Tanya Ben.


"Ya, Annelka Javier Carter. Dia adikmu"


Duarrrrr,


Ben langsung terkejut mengetahui fakta ini. Annelka adalah adik Aaron. Dan Ronald memanggilnya Aaron. Pria itu langsung bingung. Begitu pun dengan Zaki. Zaki hanya bisa menatap Ben tidak percaya.


"Kau Aaron, kakak Annelka?" Guman Zaki tanpa sadar.


Namun Ben hanya terdiam. Dia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Hingga satu pertanyaan terlintas di kepalanya.

__ADS_1


"Siapa aku sebenarnya?"


***


__ADS_2