Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Sudah Terjerat Cintamu


__ADS_3

Aya langsung memundurkan langkahnya begitu Arash mendekat. Ingin memeluknya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Aya menatap tajam ke arah Arash.


"Aku merindukanmu, Ay"


Aya memejamkan matanya mendengar jawaban Arash.


"Aku sudah menikah. Aku yakin kau tahu itu" Ucap Aya sambil melipat tangan di dadanya. Keduanya duduk di ruang kerja Farris.


"Aku tahu" Jawab Arash santai sambil menyesap tehnya.


"Lalu apa maksudmu dengan datang ke sini dan mengatakan kau rindu padaku. Kau membuat masalah dengan mengatakan itu, Arash"


Pria itu hanya tersenyum mendengar ungkapan kekesalan hati Aya. Dia pikir, berapa lama tidak mendengar suara Aya. Hingga kekesalan Aya saja bisa jadi hal yang menyenangkan untuk Arash.


"Kenapa kau malah tersenyum?"


"Aku suka mendengar suaramu. Dulu kamu tidak banyak berbicara. Sekarang kamu banyak bicara. Tapi aku suka" Jawab Arash santai.


"Astaga, Arash. Bisa tidak jangan menambah masalahku. Masalahku sudah terlalu banyak...


"Aku bisa membantu menyelesaikannya. Sahammu akan naik dengan cepat. Itu mudah bagiku"


"Kau pikir masalahku hanya soal saham saja...


"Kau ingin berpisah dengan suamimu? Itu bisa diatur"


"Aku tidak mau berpisah dengannya. Kau dapat gosip dari mana?"


"Kau tidak bahagia dengan pernikahanmu Ay, aku tahu itu"


Deg,


Jantung Aya seolah berhenti berdetak. Bagaimana Arash bisa menyimpulkan hal itu.


"Jangan mengucapkan hal yang tidak kau tahu kebenarannya" Aya memperingatkan.


"Aku mengenalmu, Ay"


"Tapi itu dulu. Sebelum aku bisa melalui itu semua. Arash aku bukan Faya Ayunda yang dulu. Aku sudah banyak berubah. Kamu tahu kan, aku di masa lalu bukanlah diriku yang sebenarnya"


"Tapi aku tetaplah pria yang sama. Mencintaimu sejak dulu sampai sekarang"


"Tapi aku tidak!" Jawab Aya tegas.


Hening sejenak. Nafas Aya naik turun untuk mengurangi amarahnya.


"Apa kamu tidak malu mengejar istri orang. Arash, ada banyak wanita yang mengantri untuk menjadi wanitamu"


"Tapi aku tidak mau mereka. Aku hanya menginginkanmu"


"Haishhh, kenapa kau begitu keras kepala"


"Bukankah kita sama kalau begitu"


"Tentu saja tidak. Asal kau tahu aku bahagia dengan pernikahanku" Tegas Aya. Dia harus berbohong pada Arash. Meski pada kenyataannya, Aya belum terlalu yakin dengan rasa yang ia rasakan dalam pernikahannya dengan Annelka.


"Stop, hentikan pertengkaran kalian. Atau kalian akan menghancurkan kantorku" Farris berucap tajam.


Kedua orang itu langsung melayangkan tatapan tak kalah tajam pada Farris.


"Kalian ini bukan anak kecil lagi. Jadi bicarakan ini lagi jika kepala kalian sudah sama-sama dingin. Aya, kau ada operasi setengah jam lagi" Usir Farris.


Aya langsung mendengus kesal mendengar ucapan Farris. Berlalu keluar dari sana.


"Kau tidak gila kan, Arash?"

__ADS_1


"Aku pikir sedikit" Cengir Arash.


"Arash, kita bukan lagi ABG yang sedang jatuh cinta. Kau jelas tahu sifat Aya seperti apa. Sekali dia memutuskan, dia tidak akan pernah mundur"


"Itu juga kelemahannya. Kenapa dia terus bertahan jika keputusannya salah. Itu bodoh namanya"


"Arash kau harus tahu. Aya memang terpaksa di awal pernikahannya. Tapi sekarang tidak. Dia sedang berusaha membangun perasaannya pada Annelka"


"Tapi itu akan membuatnya menderita. Memaksakan perasaan Aya pada Annelka"


"Itu tidak seperti yang kau bayangkan. Semua berjalan seiring waktu. Keduanya mulai mencintai satu sama lain"


Arash terdiam.


"Arash, aku tahu kau dan Annelka berada dalam masa tersulit dalam hidup Aya. Tapi yang aku lihat, baru kali ini Aya punya perasaan lebih pada seorang pria. Dan dia adalah suaminya sendiri. Aku mohon pengertianmu"


Arash kembali terdiam.


"Aku akan tinggal untuk sementara waktu. Akan ku lihat bagaimana hubungan mereka. Jika dia bahagia, aku akan mundur. Tapi jika tidak, akan kubawa dia pergi. FA Incorp. perlu kepemimpinannya. James saja tidak cukup untuk menghandle-nya"


"Lalu Tan Group-mu?"


"Shen dan Ang akan mengurusnya untuk sementara. Lagipula ada kakakku juga. Anggap saja aku sedang mengambil liburanku"


"Kenapa bukan kakakmu yang naik?"


"Dia enggan memimpin. Kalau sekedar membantu tidak masalah. Jadi mau bagaimana lagi. Jika aku tidak naik. Pihak Pamanku yang bersikeras mengambil alih"


"Dimana-mana sama. Oh ya, aku dengar kau menolak perjodohan dengan putri sulung klan Liu"


"Aku menolak semua perjodohan yang datang padaku"


"Kau tidak penasaran dengan generasi ke tiga keluarga Liu"


"Kalau kau tertarik kenapa tidak kau ambil saja"


"Aku sudah punya Astrid. Helena Liu, itu kan namanya. Dia cantik, pintar tapi juga liar"


"Aku sedikit mengenalnya. Papaku sering bertemu dengan Rafael Liu jika berkunjung ke Shanghai. Dia sebelas, dua belas seperti Aya, jika kau mencari duplikatnya" Bisik Farris.


"Lalu kau ingin aku menduplikat perasaanku juga"


"Tidak juga. Hanya saja kau bisa belajar dari Aya. Kalian belum mengenal satu sama lain. Mungkin kau akan mengubah pandanganmu jika sudah mengenal Helena Liu. Dia juga banyak yang ngincar lo"


"Kenapa kau jadi mak comblang begini sih?"


"Tidak juga. Hanya sedikit merekomendasikan sesuatu yang bagus. Mungkin kau bisa sedikit mengubah pandanganmu soal sebuah hubungan"


"Entahlah. Aku tidak peduli soal itu sekarang. Yang aku inginkan sekarang adalah meyakinkan diriku jika Aya bahagia dengan Annelka. Jika tidak, akan kuseret dia pulang ke Guangzhou dan akan kunikahi" Ucap Arash berlalu dari hadapan Farris.


"Kau jangan bertindak bodoh Arash"


"Tidak, Farris. Aku tahu yang aku lakukan" Ucap Arash sebelum menghilang di balik pintu.


"Kenapa semua orang jadi gila jika sudah jatuh cinta" Guman Farris setelah kepergian Arash. Termasuk dirinya. Pria itu terkekeh sendiri. Mengingat betapa bucinnya dia dengan Astrid sekarang.


***


"Apa maksudmu istri Annelka pernah menjalani terapi perawatan trauma di China?"


"Dari hasil penyelidikan. Nyonya Carter pernah menjalani terapi hipnotis di sana. Hampir tujuh tahun disana"


"Lalu apa menurutmu dia adalah orang yang kita cari"


"Aku pikir itu sangat masuk akal. Jika Faya Ayunda adalah Faya Wibisana yang kematiannya diumumkan tiga bulan setelah kematian seluruh keluarganya. Bersamaan dengan keberangkatannya ke China"


"Jika dia adalah Faya Wibisana maka akan lebih mudah bagiku untuk mendapatkan aset WB Group"

__ADS_1


"Tapi ada yang aneh. Arash Tan dari Guangzhou ada disini"


"Untuk?"


"Tidak tahu pasti. Tapi dia menemui Nyonya Carter"


"Apa hubungan mereka?" Guman Duta.


****


"Faya Ayunda Carter!"


Kali ini Annelka yang berteriak. Membuat Bibi Mai memejamkan matanya. Sepertinya mereka harus mulai terbiasa dengan gaya bertengkar tuan dan nyonya mereka.


"Apalagi sekarang?" Tanya Bibi Mai kepada sang suami.


"Non Aya bertemu seorang pria"


"Siapa?"


"Aku tidak terlalu paham siapa namanya. Yang jelas dia China"


"Wah ternyata selain tuan Gabriel. Non Aya punya mantan lain"


"Aku tidak tahu" Jawab Robert ambigu. Enggan terlibat dalam pertengkaran majikan mereka.


"Apa sih teriak-teriak?" Tanya Aya kesal. Wanita itu sedang berada di bioskop pribadi Annelka. Menonton serial Bigmouth yang sedang tayang.


"Siapa dia?" Tanya Annelka menggebu-nggebu.


"Siapa?"


"Yang menemuimu di rumah sakit"


"Oh, Arash Tan. Kenapa?" Jawab Aya santai.


"Kau tanya kenapa? Apa hubunganmu dengannya?"


"Hanya teman. Kami berteman di Guangzhou"


"Kenapa dia mencarimu kemari?"


"Hanya ingin bertemu. Lama tidak berjumpa"


"Kau tidak bohong padaku kan?" Tanya Annelka penuh selidik. Namun detik berikutnya pria itu mendelik ketika Aya mencium bibirnya.


"Kau berisik! Aku jadi tidak fokus nonton" Aya berucap santai. Sambil terus menonton layar besar di depannya.


"Kau memancingku lagi" Hilang sudah rasa kesal Annelka soal Arash.


"Tidak! Mandi dulu sana" Aya mendorong jauh dada Annelka yang semakin menghimpitnya.


"Tidak mau! Kau tahu kan aku ini sangat sensitif. Jadi kau harus bertanggungjawab. Sebab dia sudah bangun"


"Annelka kau mengganggu acara nontonku...hhmmphh


Sejurus kemudian Annelka sudah mencium bibir Aya. Mencumbu tubuhnya. Melucuti pakaian mereka. Dan tak lama desah*** keduanya beradu dengan suara dari serial yang tengah Aya tonton.


"Bagaimana bisa aku melepaskanmu, jika semakin hari, rasa cintaku semakin besar padamu, Ay" Batin Annelka di tengah peluh yang membanjiri tubuh polos keduanya.


Pria itu mencium punggung polos sang istri. Sambil memacu tubuh Aya dari belakang.


"Aku mencintaimu, Faya Ayunda Carter"


Bisik Annelka di telinga Aya. Bersamaan dengan keduanya yang melenguh. Saat keduanya mencapai puncak.


"Aku pikir aku benar-benar sudah terjerat pada cintamu, Ann"

__ADS_1


Batin Aya memeluk tubuh polos Annelka. Keduanya berbaring di sofa bed di bioskop mini itu. Sama sekali tidak ingin pindah ke kamar mereka di lantai tiga.


***


__ADS_2