
"Ada apa, As?" Tanya Farris yang melihat sang istri dengan wajah kesalnya.
"Ryan menghubungiku" Jawab Astrid singkat.
"Ada apa?" Pria itu naik ke atas tempat tidur mereka.
"Dia bilang perlu bantuan soal Desi"
"Bantuan apa?"
"Desi mendadak tidak mau menemuinya. Juga pergi dari rumah. Dia memintaku membujuk Desi untuk pulang"
"Lalu apa jawabanmu?"
"Tentu saja aku tidak mau. Aku tidak ada hubungan lagi dengan mereka" Jawab Astrid sambil memeluk tubuh Farris.
"Itu terserah kamu. Aku percaya padamu. Tapi aku tidak suka pada pria lain yang dekat denganmu. Ingat aku ini pencemburu" Farris berucap sambil mencium puncak kepala Astrid.
Astrid tersenyum mendengar pengakuan sekaligus peringatan dari suaminya. Sungguh dia suka jika Farris posesif padanya. Meski kadang keterlaluan. Tapi dengan begitu, Astrid merasa dicintai dan disayangi oleh suaminya.
"Lalu dengan trio kwek-kwekmu itu bagaimana?"
"Yang itu pengecualian. Sebab kalau mereka senggol kamu. Hukumannya akan berat sekali"
Astrid terkekeh mendengar jawaban Farris.
"Sebenarnya Desi ada menghubungiku, beberapa hari yang lalu"
"Mau ngapain?"
"Dia curhat...dia bilang, sekarang dia tahu kenapa aku bercerai dari Ryan"
"Kenapa?"
"Dia bilang mertuanya ampun deh"
"Yah malah ngegosip"
"Tapi memang itu kenyataannya. Desi bilang, mamanya Ryan mengatakan kalau dirinya hanya numpang hidup sama Ryan. Gak mau kerja"
"Lah kan Desi baru lahiran katamu. Mau kerja bagaimana. Eh terus Ryan kok mau nerima anaknya Desi. Dia bilang waktu itu, anaknya Desi bukan anaknya"
"Yang itu aku gak tahu. Dan nggak mau tahu. Yang aku tahu, sekarang aku cinta sama kamu. Bersyukur juga punya mertua kayak Papa. Semoga saja aku segera diberi kepercayaan. Aku pengen banget hamil" Curhat Astrid.
"Amiinn, berdoa dan berusaha"
Astrid mengangguk pelan.
"Jadi berdoanya sudah. Tinggal usahanya" Ucap Farris penuh kode.
"Alah bilang mau"
__ADS_1
"Memang kamu tidak mau?" Goda Farris.
"Nggak mau tu..."
Farris langsung cemberut dibuatnya.
"Nggak mau nolak" Bisik Astrid langsung mencium bibir Farris agresif. Farris seketika menyambut ciuman Astrid tidak kalah buasnya.
***
"Ini apa lagi Bell?" Ed bertanya melihat kamarnya yang berantakan. Tadi dia baru merapikan dapur yang berantakan. Betul kata Eva, kalau dia harus ekstra segalanya, ketika sudah menikah dengan Bella. Lebih lagi ekstra sabar.
"Bella belum sempat beresin. Tugas Bella banyak sekali, Om" Jawab Bella santai sambil memangku laptopnya.
Ed langsung memejamkan matanya. Bahkan setelah menikah, Bella masih memanggilnya Om meski di belakang ditambah suami. Jadi Bella memanggil Ed dengan sebutan Om suami. Tapi itu juga kalau Bella ingat, kalau tidak ya dia memanggil Ed dengan sebutan Om saja seperti tadi.
"Okay aku akan membereskannya. Tapi ada upahnya" Ucap sambil menyeringai.
"Dia yang punya uang. Bagaimana bisa meminta upah denganku" Gerutu Bella. Tanpa melihat Ed yang sudah melepas kemejanya. Menampilkan tubuh berototnya.
Mulai bergerak membereskan kamar mereka. Dia benar-benar harus menurunkan egonya. Mengingat dia yang ngebet untuk menikahi Bella. Sebenarnya Bella sudah mengalami kemajuan dalam urusan mengurus rumah dan suami.
Pertemanannya dengan Astrid dan Eva benar-benar berdampak positif. Kedua wanita itu mengajarkan banyak hal pada Bella soal tugas dan kewajiban sebagai seorang istri. Termasuk mengajari memasak. Sekarang Bella sudah memasak beberapa hidangan simple. Namun terkadang kesibukan kuliahnya. Membuat Bella belum maksimal dalam mengurus rumah dan suaminya.
"Selesai" Teriak dua orang itu bersamaan. Keduanya saling tatap. Bella langsung menelan salivanya. Melihat tubuh atletis Ed yang terlihat semakin seksi saat berkeringat.
"Ayo mandi bersama" Ajak Ed yang disambut senyum Bella. Mandi bersama hanyalah kode dari Ed. Dia tahu, mana mungkin Ed hanya sekedar mengajaknya mandi. Berapa kali mereka memadu kasih saat berada di kamar mandi. Atau saat berenang.
"Kau sudah tidak sabar, sayang?"
"Aku menyukainya" Bisik Bella. Membuat Ed langsung mengembangkan senyumnya.
"Kalau begitu, aku tidak akan berhenti sebelum kau pingsan. Bahkan kalau kau memohon. Jangan harap aku akan berhenti"
"Aishhh, jangan begitu dong. Nanti aku tidak bisa jalan. Nanti teman-teman meledekku. Plus iri padaku" Ed tertawa mendengar keluhan Bella.
"Iri kenapa?" Tanya Ed sambil mengisi bath up.
"Mereka bilang aduuh Bell, your husband so damm hot" Ucap Bella sambil melepas kaosnya. Gadis itu duduk di atas closetnya. Ed berbalik dan melihat Bella yang hanya memakai underwearnya saja.
"Kau seksi sekali" Ucap Ed mulai mencium bibir Bella. Keduanya mulai larut dalam permainan panas mereka. Tak butuh waktu lama untuk keduanya menyatu. Hasrat dan gairah yang sudah menguasai pasangan suami istri itu. Membuat mereka tidak ingin melakukan foreplay lama-lama.
Ed benar-benar menunjukkan kalau dia adalah seorang player yang hebat. Dia sangat pandai membawa Bella hanyut dalam percintaan mereka. Yang entah sudah tak terhitung lagi berapa kali mereka melakukannya.
Dan semakin lama Ed semakin dibuat candu dengan tubuh Bella, yang semakin hari semakin seksi saja di mata Ed. Membuat cinta Ed pada Bella juga semakin besar.
"Ini sudah semakin besar, sayang" Ucap Ed sambil memainkan aset kembar Bella. Yang memang semakin mengembang akhir-akhir ini. Mereka sudah berendam di bath up mereka. Kembali menyatukan diri. Memulai sesi panas mereka.
***
"Selamat malam, Ma" Tria membalas ucapan selamat malam dari mama mertuanya. Tria yang yatim piatu sejak kecil dan berasal dari panti asuhan. Sangat senang ketika mama Eva mau tinggal bersamanya.
__ADS_1
Meski mama Eva berusaha menolak, dengan mengatakan akan tinggal dengan kakak Eva. Mama Eva takut akan mengganggu kehidupan rumah tangga Eva dan Tria. Tapi Tria melarangnya.
Dia ingin merasakan hidup dengan seorang mama. Sosok yang tidak pernah dia kenal dalam hidupnya. Mendengar alasan Tria. Mama Eva akhirnya setuju. Dengan syarat ingin tinggal di rumah kakak Eva selama dua minggu setelah Tria dan Eva menikah.
Alasannya agar Tria dan Eva bisa sejenak menikmati bulan madu lokal mereka. Karena keduanya tidak mengambil bulan madu. Disebabkan pekerjaan Tria yang tidak bisa ditinggal.
Selama tinggal dengan mama Eva,Tria benar-benar memperlakukan wanita itu seperti mamanya sendiri. Selalu menanyakan apa yang mamanya inginkan. Selalu memperhatikan kesehatan mama Eva yang punya riwayat maag akut itu. Selalu mengingatkan untuk makan tepat waktu.
Sikap Tria, benar-benar membuat mama Eva bersyukur. Sang putri bisa menikah dengan pria sebaik Tria.
"Mama, benar-benar bahagia melihatmu menikah dengan Tria" Ucap sang Mama pada Eva di suatu pagi. Saat pria itu masih terlelap. Mereka sedang menyiapkan sarapan kala itu. Mendengar ucapan mamanya, Eva tersenyum.
Meski tidak bisa mengerjakan apa-apa selain bekerja dan ehemmm...bercinta. Tapi Eva benar-benar tidak bisa lari dari pesona Tria. Kelemahan Tria ya itu, tidak bisa melakukan apapun selain bekerja dan sekarang ditambah bercinta.
"Sudah selesai?" Tanya Tria. Menghampiri Eva yang sedang mencuci piring.
"Eiitt jangan membantu. Nanti piringmu pecah semua. Kau harus beli baru lagi" Cegah Eva. Mereka pindah ke penthouse Tria begitu menikah. Satu lantai di bawah penthouse Aya. Beralasan di sana lebih luas. Juga seperti memiliki suasana rumah sendiri.
"Beli ya tinggal beli. Aku akan bekerja lebih keras agar kalian tidak kekurangan" Ucap Tria sambil meletakkan kepalanya di bahu istrinya.
"Jangan bekerja terlalu keras.Uangmu sudah banyak. Lagipula kau sudah punya semua. Aku tinggal nebeng makai" Kekeh Eva. Wanita itu tahu jelas berapa uang di rekening Tria. Karena Tria langsung menyerahkan semua kartunya kepada Eva begitu mereka menikah.
"Kenapa dikasih aku semua" Protes Eva melihat lima kartu di depannya.
"Kan kamu yang ngurusin semuanya mulai sekarang. Nggak mungkin dong aku yang belanja. Sebab aku gak pernah belanja. Apalagi urusan dapur. Aku gak ngerti"
Eva langsung menepuk dahinya pelan.
"Kalau kau bangkrut jangan salahkan aku. Aku boros tahu"
"Kita lihat seberapa borosnya kamu, nyonya Andromeda" Tantang Tria.
"Tidur dulu kalau sudah mengantuk"
"Kelonin" Manja Tria.
"Kan gak bisa ngapa-ngapain. Lagi dipalang"
"Kan bisa bl** ***, yang penting tidur harus meluk kamu" Jawab Tria.
"Ya, sudah tunggu sebentar"
"Nanti dipijit aja ya. Kepalaku pusing" Pinta Tria berjalan masuk ke kamar mewahnya.
"Nggak mau diservice?"
"Tidur dulu aja" Jawab Tria. Entah kenapa dia akhir-akhir ini merasa mudah sekali lelah.
Hingga akhirnya sepasang suami istri hanya tidur saling berpelukan. Gegara Eva yang tengah datang bulan.
Poor Tria 🤣🤣.
__ADS_1
***