
"Alhamdulillah, semua baik-baik saja" Astrid berucap syukur. Begitu selesai melakukan pemeriksaan pada Aya. Pun dengan Eva dan Tria. Yang mengikuti Aya untuk memeriksa kandungannya.
"Hebat sekali. Padahal berapa hari mereka menyekapmu?" Tanya Eva.
"Seminggu. Tapi sebenarnya mereka nggak kejam-kejam amat kok. Waktu aku minta bakso mereka beliin kok" Jawab Aya.
"Mereka itu sebenarnya perampok atau apa sih"
"Perampok zaman now" Seloroh Aya.
"La kok?"
"Mereka masih mikirin nabung buat masa depan. Dana pensiun katanya. Lucu nggak?"
"Ada ya rampok model beginian"
"Ya adalah, kamu nggak lihat kalau dia kakaknya Annelka. Ya antimainstream dong. Biar kata jadi rampok" Seloroh Tria.
"Serius kalau dia kakak Annelka?" Astrid bertanya. Sambil menggendong Mika yang mau tidur. Fabian ada urusan, jadi tidak bisa menjaga si kembar. Akhirnya dua bayi yang baru berusia dua bulan itu ikut Astrid ngantor. Farris sudah menyediakan satu tempat khusus untuk si kembar. Jika sewaktu-waktu harus ikut ngantor mamanya.
Dan kehadiran si kembar membuat kantor Astrid selalu ramai. Perawat yang tidak sibuk akan berebut untuk mengasuh si kembar. Mereka akan menyerahkan si kembar pada Astrid jika waktunya tidur atau minum ASI. Seperti sekarang, si Ahmad tidak tahu kemana.
"Kalau melihat kemiripannya sih. Ada kemungkinan. Tapi kita tidak tahu. Sebelum hasil DNA itu keluar. Lebih baik kita diam saja dulu"
Ketiga orang itu mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kamu nggak takut Ahmad diculik gitu. Yang bawa dia tadi siapa?"
"Ya takutlah. Tapi mas Farris sudah berjaga-jaga. Ini..." Astrid menunjukkan gelang bayi yang ada di tangan Mika.
"GPS" Ucap ketiga orang itu bersamaan.
Dan Astris mengangguk.
"Oh iya Ay, cerita bagaimana kamu bisa kecelakaan?"
"Aku tidak terlalu ingat sih. Aku tidur waktu itu. Waktu aku bangun, mobilnya oleng, nabrak pembatas jalan lalu nyemplung ke air. Aku hanyut di sungai. Mau berenang tapi arusnya kuat banget. Sampai aku dan Annelka terpisah ketika kami melewati air terjun. Terus waktu bangun, aku sudah sama dua rampok zaman now itu"
"Untung saja, bayimu sangat kuat. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi"
"Apa itu mungkin karena pengaruh kau memberiku obat penguat kandungan waktu itu?"
"Bisa jadi. Apapun itu. Aku sangat senang kalian baik-baik saja"
Astrid memeluk Aya. Setelah menidurkan Mika. Bagi Astrid, cerita hidup Aya adalah pembelajaran untuknya. Dia belum apa-apa jika melihat bagaimana Aya melalui kehidupannya selama ini.
"Kata pihak kepolisian. Waktu mobilnya diangkat. Ternyata pecah ban. Entah disengaja atau tidak. Kalian kan tahu kalau ada yang sengaja menebarkan paku payung untuk membuat mobil rusak. Lalu dirampok"
"Apa jangan-jangan ini kerjaannya si rampok zaman now"
"Mereka bilang tidak. Mereka mengatakan, menemukanmu hanyut di sungai"
"Sama seperti Annelka. Dia juga ditemukan Santi, hanyut di sungai"
Ketiganya lantas terdiam.
__ADS_1
"Ahh sudahlah, apapun itu. Yang penting kalian sudah pulang. Selamat dan sehat" Astrid berucap.
Mereka mengangguk setuju.
"Mbak, aku mau tanya. Kok aku nggak morning sickness kayak Eva atau mereka yang hamil muda" Tanya Aya.
"Kan bagus. Kamu mau muntah-muntah kayak Eva tiap pagi. Sampai lemas begitu"
"Ya enggaklah. Hanya saja normal apa tidak?" Tanya Aya khawatir.
"Ya normal-normal saja. Tiap ibu hamil itu berbeda satu dengan satunya. Eva mungkin gejala umum ibu hamil...
"Dan aku mengalami yang tidak umum?"
"Menyebutnya tidak begitu. Tapi lain dari yang lain"
"Sama aja kali. Beda" Sungut Aya.
Tria ngakak dibuatnya.
"Kenapa?"
"Kau tahu...Eva aja ngeluh. Mbok ya jangan terus-terusan muntahnya. Lemas rasanya. Pahit rasanya. Yang ini malah bingung nggak ngalamin morning sickness"
Aya semakin manyun dibuatnya.
"Aku pikir...kau lebih ke emosional hormonnya. Ingat tidak waktu kau sering menangis tiba-tiba. Murung tidak tahu sebabnya. Sampai Annelka berpikir akan menceraikanmu. Dia tahunya kamu tidak bahagia"
"Lalu apa hubungannya dengan si boy"
"Apa termasuk aku yang makan salad bisa habis tiga porsi itu ya" Tanya Astrid.
"Salah satunya. Pokoknya ibu hamil itu jangan disamain satu sama lainnya. Kadang pembawaan mereka berbeda. Tanda-tanda umumnya seperti itu. Tapi di luar itu ada banyak tanda kehamilan yang tidak kita duga sama sekali"
***
Zaki melongo, ketika sampai di rumah Annelka. Sedang Ben menatap penuh curiga pada Annelka.
"Ini rumah apa istana, Ben" Guman Zaki penuh kekaguman. Tapi Ben, pria itu bersikap biasa saja. Seolah kemewahan adalah hal biasa untuknya.
"Apa maksudmu membawa kami kemari?" Tanya Ben.
"Kalian masih harus menjalani pemeriksaan dari pihak kepolisian. Tapi karena Aya menarik laporannya. Jadi kalian tidak ditahan. Tapi kejahatan kalian yang lama akan tetap diproses. Karena itu sampai penyelidikan selesai kalian akan tinggal disini" Jawab Annelka.
"Kau bisa membiarkan kami tinggal di jalanan. Kami biasa mengalaminya" Kesal Ben. Dia tahu Annelka terpaksa menampung dirinya.
"Kau belum pernah merasakan hidup di jalanan ibu kota. Itu sepuluh kali lipat lebih kejam dari kehidupan penjara. Mau mencobanya? Silahkan" Annelka berucap sambil melangkah masuk ke rumahnya.
"Ben...aku tidak mau hidup seperti itu. Ayolah hanya sampai penyelidikan selesai...
"Dan kalau kita terbukti bersalah. Kita tetap akan masuk penjara" Desis Ben.
"Ya, setidaknya di penjara dapat makan gratis" Zaki berucap.
"Kau memang menyebalkan"
__ADS_1
"Ayolah, Ben. Sekali-kali tidur di kasur empuk. Pakai AC..ya..ya..
"Ngapain bengong di situ? Ayo masuk" Aya berteriak dari depan pintu.
"Ayo, Nyonya cerewet sudah mengeluarkan tanduknya" Ajak Zaki. Pada akhirnya, Ben dengan terpaksa mengikuti langkah Zaki. Menyusul Aya yang lebih dulu masuk ke rumahnya.
"Fay, ini rumahmu?" Tanya Zaki sibuk melihat kiri dan kanannya. Sementara Ben, seperti biasa. Diam tanpa kata. Entah kenapa, kaki Ben begitu ringan saat melangkah masuk. Seolah dia mengenal setiap sudut rumah Annelka.
Annelka memang membangun rumah barunya. Dengan design rumah lamanya. Meski tetap ada beberapa bagian yang diubahnya.
"Rumah Annelka. Aku numpang di sini. Dulu aku tinggal di apartmenen Dharmawangsa"
"Berarti kau cukup kaya. Dharmawangsa, apartemen kelas atas" Celetuk Ben tanpa sadar.
"Darimana kau tahu. Kau kan belum pernah ke sini?" Tanya Aya sambil tersenyum tipis.
"Alam bawah sadarnya tetap ingat masa lalunya" Batin Aya.
Dharmawangsa memang dulunya dikelola oleh Aaron sebelum Annelka mengambil alih. Setelah sang kakak dinyatakan "meninggal".
"Aku hanya pernah membacanya lewat berita. Harganya bisa naik dua kali lipat tahun depan. Jika kau mau berinvestasi"
"Darimana kau tahu?"
"Hanya prediksiku saja"
"Kau bisa jualan properti kalau begitu" Seloroh Zaki.
"Membosankan. Pakai target. Harus ini....harus itu" Keluh Ben. Tanpa terasa mereka sudah berada di meja makan.
"Kau suka makanannya?" Tanya Aya. Menatap Ben yang tampak berkaca-kaca. Ayam kung pao, risotto dan red velvet. Bagaimana mungkin, Aya tahu kesukaannya.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Ben tidak percaya.
"Aku hanya teringat Annelka pernah mengatakan. Ada seseorang yang sangat menyukai tiga makanan ini. Jadi untuk merayakan kepulangan kami. Aku meminta bibi Mai untuk memasaknya"
"Bibi Mai...
Ben seperti mengingat sesuatu ketika mendengar nama Bibi Mai. Sementara di belakang sana, bibi Mai sudah menangis dalam pelukan Robert.
"Dia pulang, Rob. Dia kembali"
"Semoga saja itu benar tuan Aaron. Setidaknya tuan Annelka tidak terlalu bersedih. Meski tuan dan nyonya tidak mungkin kembali" Doa Robert. Yang langsung diangguki Mai, sang istri.
Tanpa mereka tahu, hal yang sama juga dialami Annelka. Pria itu hampir meledakkan tangisnya. Melihat Ben yang berjalan masuk ke rumahnya. Menatap dari lantai dua rumahnya.
"Aku sungguh berharap itu kau, Aaron"
Annelka berucap sambil menyusut air mata yang turun di pipinya. Berbalik, lalu menatap sebuah pigura besar yang tertutup tirai.
"Setidaknya aku tidak terlalu merasa sendiri kan Ma, Pa. Meski aku punya Aya dan calon cucu kalian. Tapi bukankah akan lebih lengkap jika kakakku juga ada bersamaku. Jadi bolehkah aku serakah kali ini. Aku harap dia adalah Aaron"
Batin Annelka lalu berjalan menuju tangga. Turun ke lantai bawah.
****
__ADS_1