Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 51. Malam bersamamu


__ADS_3

Mendengar benda jatuh, Deni dan Vani melepaskan ciuman dan pelukannya masing-masing. Vani tampak malu-malu sedangkan Deni menatap tajam ke arah Riko. Riko yang tampak ketakutan segera membereskannya dibantu Bibik yang datang setelah mengetahui ada barang jatuh.


"Tuan Riko pulang saja, biar bibik yang bersihkan," ucap Bibik karena kasihan melihat Riko.


"Terimakasih, Bik. Bos, Nyonya, aku pulang dulu. Selamat sore." Riko segera pulang karena tidak ingin mengganggu kebahagiaan Deni dan Vani. Riko tahu, mereka berdua masih saling mencintai.


Sementara itu, Deni mendekati Vani yang masih tertunduk malu.


"Vani, temani Deva di kamar," kata Deni yang kemudian berjalan diikuti Vani. Mereka bergegas menuju kamar Deni.


Didalam kamar, Deni bergegas mandi karena tubuhnya yang bau muntahan makin bau. Deni mandi sambil melamun, berkhayal dan membayangkan kehidupan bahagianya saat masih bersama Vani. Bukan, tapi bersama Yanti. Takdir cintanya berubah setelah Yanti menjadi Vani.


Dia menjadi sedih dan meneteskan sebutir air bening disudut matanya yang langsung hilang di guyur air. Mungkin semua harus dimulai lagi dari awal lagi. Harapan baru muncul dalam hati Deni. Meskipun saat ini, Vani sudah menikah, tetapi Vani pasti masih mencintainya.


Selesai mandi, Deni keluar dengan handuk piyama. Deni mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil. Vani melihat sesaat mantan suaminya yang akan berganti pakaian. Vani berdiri untuk keluar, karena takut diusir Deni. Tetapi justru sebaliknya.


"Vani, mau kemana?" tanya Deni sambil mengusap rambutnya.


"Mau keluar. Kamu akan ganti pakaian, bukan?" tanya Vani pelan.


"Kenapa harus keluar? Bukankah semua sudah pernah kamu lihat, jadi untuk apa malu," ucap Deni sambil mendekati Vani yang masih berdiri di samping ranjang.


Deni memegangi kedua bahu Vani.


"Aku ganti pakaian dulu. Setelah itu, kita turun untuk sarapan," kata Deni sambil menatap Vani lembut.


"Iya," jawab Vani singkat.


Deni berbalik badan dan berganti pakaian dengan cepat. Sedangkan Vani tidak berani melihat Deni berganti pakaian, dia tertunduk melihat Deva sampai Deni selesai berganti pakaian.


Setelah itu, mereka turun untuk makan malam bersama. Bersama alias berdua. Mereka makan tanpa berucap sepatah katapun. Suasana tampak hening dan kaku.


Selesai makan, Deni dan Vani bergegas kembali menuju kekamar Deni. Akan tetapi, saat mereka melewati kamar kosong di sebelah kamar Deni, Deni hilang kendali. Pikirannya tidak bisa lagi berpikir sehat. Akal sehatnya tidak bisa lagi digunakannya.


Deni menarik tubuh Vani masuk kedalam kamar kosong tersebut dan tidak memberi kesempatan pada Vani untuk menolak. Dengan sebelah tangannya, Deni menutup pintu dan menguncinya.


Ciuman hangat Deni, pada bibir merah yang lembut milik Vani, menambah gairahnya muncul. Vani mencoba menolak perlakuan Deni, tapi malah semakin membuat Deni bersemangat menaklukkan Vani.


Untuk beberapa saat, Vani menolak, tetapi pada akhirnya, Vani pasrah juga pada Deni. Deni tetap mencium bibir Vani sambil melucuti satu persatu pakaian Vani. Setelah hanya tersisa pakaian dalam. Setelah itu, Deni membuka sendiri pakaiannya.


Deni menarik tubuh Vani dan di rebahkan diatas ranjang. Tanpa menunggu, Deni mulai beraksi dengan kekuatan penuh yang terkumpul selama 4 tahun. Vani sampai merasa kewalahan menghadapi ganasnya Deni diatas ranjang. Permainan yang berlangsung hampir 10 menit itu membuat Deni bercucuran keringat. Pelepasan pertama membuat Deni terkulai lemas.


Vani melihat wajah Deni yang terlihat puas dengan kejadian ini. Setelah beberapa menit, Vani bergerak perlahan, takut Deni terbangun. Dia hendak bangun dan mencoba meraih pakaiannya yang berserakan dilantai. Baru saja Vani meriah satu bajunya, Deni terbangun dan segera menarik kembali tubuh Vani dan dipeluknya erat.


"Hangat sekali," gumam Deni.


"Deni, kita ini sudah bercerai. Kita bukan lagi suami istri. Apa yang baru saja kita lakukan, itu salah," ucap Vani sedih.


"Maafkan aku, Vani. Tapi, semua sudah terlanjur terjadi. Kita tidak bisa menghapus lagi apa yang sudah terjadi," kata Deni sambil menarik napas dalam.

__ADS_1


"Aku juga ikut bersalah," kata Vani sedih.


"Vani, aku tidak tahan lagi," ucap Deni sambil meraih tangan Vani dan diarahkan ke bagian inti Deni. "Dia bangun sendiri. Bisakah kamu membuatnya tidur?"


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Vani bingung.


"Pegang dan mainkan untukku, atau kita lakukan sekali lagi," kata Deni terus terang.


Vani bingung harus menjawab apa. Tangannya terasa geli memegang bagian inti Deni yang semakin mengeras. Tangan Vani terasa kaku dan tidak bisa bergerak.


Menunggu, Deni menahan diri dengan menunggu. Tetapi Vani tidak juga membuat keputusan.


Tanpa menunggu lagi, Deni melepaskan tangan Vani dari miliknya. Deni langsung beraksi memasukkan miliknya ke bagian inti Vani yang tidak bisa menolaknya. Hentakan demi hentakan yang kuat, membuat Vani ikut terbuai dalam dosa bersama Deni.


Pergumulan kedua kembali terjadi dan diakhiri dengan pelepasan secara bersamaan.


Malam sudah semakin semakin larut ketika merek mengakhiri pergumulan dan dosa. Vani bergegas mandi dan berganti pakaian, lalu kembali kekamar Deni untuk menjaga Deva yang masih tertidur. Rupanya, Deva nyaman tidur di rumah Deni. Vani ikut merebahkan diri di samping Deva dan mulai tertidur lelap.


Sementara Deni tersenyum puas telah berhasil menaklukkan Vani. Dia semakin yakin jika Vani tidak akan menolak jika nanti dia minta rujuk kembali.


Vani, kamu membuatku tergila-gila kembali untuk kedua kalinya. Aku berjanji, aku akan membuatmu menjadi milikku kembali, batin Deni.


Sementara itu, keluarga dokter Dimas mencari keberadaan Vani dan Deva karena hingga malam Vani dan Deva belum juga pulang. Vina ingin bicara, tetapi takut jika Mami Winda marah kalau tahu Vani bersama Deni.


"Apakah tidak ada satu orangpun yang tahu kemana Vani pergi?" tanya Mami Winda panik.


Bayangan masa lalu hilangnya Vani karena di culik Maya, membuat Mami Winda semakin bertambah panik.


"Vano, kamu itu pengantin baru. Sebaiknya kamu temui Clarisa, jangan sampai dia cemas karena kamu tidak menemuinya malam ini," ucap Papi Dimas.


"Papi, Mami. Sebenarnya, Vina tahu kemana Kak Vani pergi," ucap Vina gugup.


"Apa, kamu tahu dimana kakakmu? Lalu kenapa kamu diam saja, Vina?" tanya Mami Winda agak keras


"Vina takut," jawab Vina sambil memegang tangan Papinya.


"Ibu sudahlah, jangan marahi Vani. Vani, katakan, kemana Kakakmu pergi?" tanya Papi Dimas pelan.


"Kak Vani dan Deva berada di rumah Kak Deni," jawab Vina gugup dan takut.


"Apa ...." Semua mata menatap Vina kaget.


" Di rumah Deni? Bagaimana ceritanya," tanya Mami Winda.


Vina menceritakan bagaimana Vani bisa pergi ke rumah Deni. Semua orang mendengarkan sambil bernapas lega. Selesai bercerita Vina menatap Maminya. Vina masih takut jika Maminya marah karena dari awal, Maminya yang tidak setuju, Vani menikah dengan Deni.


"Vina, kenapa?" tanya Mami Winda.


"Mami tidak marah, mendengar Kak Vani berada di rumah Kak Deni?" tanya Vina penasaran.

__ADS_1


"Tidak, Vina. Kesalahan Mami dulu, memang sudah saatnya diperbaiki. Biarlah Vani menginap di rumah Deni jika perlu," jawab Mami sambil tersenyum.


"Kalau begitu, Vano pulang ke rumah Clarisa ya Mi, Pi," ucap Vano lega.


"Ya, pergilah, jangan biarkan istrimu menunggumu terlalu lama, bisa bahaya, Vano," ucap sang Papi.


"Ya, Vano, pergilah. Lakukan tugasmu dan harus diselesaikan dengan baik," kata Mami Winda yang selalu berharap segera mendapatkan cucu.


"Siap, Mami," jawab Vano singkat.


Seluruh keluarga akhirnya bisa tenang setelah tahu jika Vani dan Deva bersama. Deni. Mereka berharap, Vani dan Deni bisa rujuk kembali. Mungkin, ini jalan terbaik untuk mereka bisa menyadari perasaan mereka masing-masing.


Sementara Vano bergegas pulang ke rumah Clarisa untuk menjalankan tugas pertamanya sebagai suami. Saat sampai di rumah Clarisa, mulai mendekati tengah malam. Tetapi ternyata, di ruang tamu, kedua orangtua Clarisa masih belum tidur.


Vano memencet bel masuk. Dengan cepat Bibik membukakan pintu untuk Vano.


"Semua keluarga sedang menunggu Tuan," kata Bibik.


"Baik, Bik. Saya akan segera menemui mereka," jawab Vano.


Vano bergegas menemui keluarga Clarisa. Rupanya mereka menunggu penjelasan tentang keberadaan Vani.


"Maaf, Vano baru bisa pulang Sekarang," kata Vano gugup dan cemas mereka marah padanya.


"Bagiamana Vani dan Deva, apakah sudah ketemu?" tanya Ayahnya Clarisa.


"Sudah Ayah. Mereka berada di rumah mantan suami Vani," jawab Vano sambil menghela napas.


"Syukurlah, kami tidur dulu. Kami lelah seharian. Kalian juga harus segera istirahat," ucap Ayahnya Clarisa.


"Baik, Ayah," jawab Vano.


"Mas, apakah mereka akan rujuk kembali?" tanya Clarisa.


"Ada kemungkinan seperti itu. Tapi, kita lihat saja nanti. Sekarang, saatnya kita bertugas," ajak Vano sambil menggandeng tangan Clarisa.


Mereka segera masuk kedalam kamar dan Vano menguncinya seolah takut Clarisa berlari keluar. Tanpa menunggu lagi, Vano menarik Clarisa dalam pelukannya. Lalu, Vano menarik dagu Clarisa dan ******* habis bibir merah yang lembut milik Clarisa sampai Clarisa hampir tidak bisa bernapas.


Vano menghentikan ******* bibirnya ketika tahu Clarisa sulit bernapas. Vano tidak habis akal untuk bisa membuat Clarisa puas dengannya. Vano mulai menciumi leher Clarisa dengan lembut dan memberikan tanda cinta disana.


Setelah Clarisa mulai menikmati permainannya, Vano mulai membuka pakaian Clarisa hingga tak tersisa. Dengan malu-malu, Clarisa menutup mata ketika Vano menggendongnya dan menidurkannya diatas ranjang. Clarisa malu, Vano pasti sudah melihat semua yang dia jaga selama ini.


Vano tersenyum, melihat Clarisa malu-malu padahal bentuk tubuhnya yang sangat indah mampu membuat Vano tidak berkedip melihatnya. Dengan lembut Vano membelai setiap sudut tubuh istrinya. Tidak hanya dengan belaian, Vano berusaha meningkatkan gairah Clarisa dengan memainkan dua benda yang bisa menjadi pegangannya.


Sementara, Vano juga menciumi seluruh tubuh istrinya tanpa terkecuali hingga Clarisa lupa akan rasa malunya yang sejak tadi terlihat di depannya.


Setelah puas, Vano mulai beraksi dengan adik kecilnya yang mulai mengeras dan siap beraksi. Pelan tapi pasti, adik kecil Vano berusaha masuk dan ingin bermain di bagian inti Clarisa yang masih sulit untuk ditembus. Bahkan Clarisa tampak merasa kesakitan saat Vano memaksa memasukan adik kecilnya. Setelah hampir 10 menit berusaha, akhirnya tembus juga.


Suara-suara penuh kenikmatan mulai terdengar dari mulut sepasang suami istri hingga mereka melakukan pelepasan bersama. Kenikmatan yang mereka rasakan, menjadi candu bagi keduanya, hingga mereka mengulangi lagi setiap satu jam hingga mereka lelah dan tertidur.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2