Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 22. Sebenarnya tahu atau tidak?


__ADS_3

Sejak pertemuan itu, Deni mulai sering datang ke rumah mami Winda. Dengan alasan bertemu Vina, Deni datang dengan membawa makanan kesukaan Vina. Setiap kali dia datang, dia pasti sengaja untuk bertemu Vani. Setelah bertemu atau setidaknya melihat Vani, Deni lalu pergi.


Melihat perhatian Deni yang besar terhadap Vani, membuat mami Winda dan dokter Dimas ingin menjodohkan mereka. Hal ini di tolak Vani, karena Vani beralasan masih ingin belajar dan belum ingin menikah. Tetapi mereka berharap, Deni dan Vani untuk berteman baik terlebih dahulu.


Malam itu, Deni mengajak Vani pergi makan malam atas persetujuan mami Winda dan dokter Dimas. Vani tidak bisa menolak dan menerima saja permintaan mereka. Deni mengajak Vani makan malam, disebuah rumah makan lesehan sederhana di pinggir jalan. Deni berharap bisa berbicara santai dengan Vani sambil menikmati malam.


Deni memesan sate madura seratus tusuk, agar tidak segera habis saat mereka bicara. Sambil menunggu pesanan, Deni memulai pembicaraan.


"Vani, mungkin malam ini adalah pertemuan kita yang terakhir," ucap Deni dengan nada sedih.


Vani hanya menoleh ke arah Deni. Sorot matanya seolah bertanya, tetapi tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya.


"Aku tidak akan datang lagi ke rumahmu. Jadi kamu tidak perlu merasa risih melihatku. Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Aku tahu, aku telah berbuat kesalahan yang sangat besar, dan entah kamu bisa memaafkan aku atau tidak. Tetapi aku senang bisa melihatmu tersenyum kembali," ucap Deni sambil menatap Vani.


"Apa maksudmu?" tanya Vani pura-pura tidak tahu.


"Maaf, setiap kali aku melihatmu, aku seperti melihat istriku. Maaf, aku terlalu terbawa perasaan. Kamu bukan Yanti, istriku. Makanya mulai besok, aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Deni sambil menghela nafas.


Pesanan sate Madura telah diantarkan kehadapan mereka. Vani merasa curiga, jika Deni sebenarnya sudah tahu siapa dia sebenarnya. Tetapi melihat sikap Deni yang tidak akan mengganggu kehidupan dia lagi, Vani merasa lega. Vani berusaha makan dengan santai, karena jika malam ini adalah malam terakhir Deni menemuinya, maka Vani akan bisa bernafas lega. Selesai makan, Deni langsung mengantar Vani pulang.


Setelah malam itu, Deni tidak pernah datang lagi kerumah mami Winda. Vani pun menjalani hari-hari dengan tanpa ketakutan. Kuliah sambil bekerja menjadi rutinitas Vani selanjutnya.


Bekerja sambil kuliah memang menguras banyak tenaga. Sehingga terkadang, Vani akan pulang lebih dahulu. Pulang lebih awal dan beristirahat adalah solusi baginya untuk bisa menjalani hari-hari selanjutnya.


Hati ini, Vani pulang lebih awal dengan diantar pak Karyo. Sesampainya di rumah, teryata rumah tampak ramai karena kehadiran teman-teman Vina yang sedang belajar kelompok. Vani berhenti sebentar, karena Vina memanggilnya.


"Kak Vani."


"Ada apa, Vin?" tanya Vani.


"Ini Kak, kami ada kesulitan. Kakak bisa bantu nggak?" tanya Vina lagi.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kakak mandi dulu sebentar," jawab Vani sambil tersenyum.


Beberapa pasang mata memperhatikan Vani. Mereka berbisik-bisik ketika melihat wajah Vani sangat mirip dengan Vina. Bedanya, Vani tampak dewasa dan matang. Vani melangkah menuju ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


Sementara, teman-teman Vani masih memperhatikan Vani hingga tidak terlihat.


"Kakaknya Vina, cantik, ramah lagi," ucap Rio sambil berdecak kagum.


"Tidak hanya itu, cara bicaranya seperti mami kamu deh, Vin. Kamu aja nggak ada mirip-miripnya sama mami kamu," ucap Dedi meledek Vina.


Vina memperlihatkan tampang cemberut pada ketiga temannya. Mereka saling berpandangan ketika melihat Vina termakan ledekan Dedi. Dedi dan Vina adalah sahabat sejak masih sekolah dasar. Dedi memang sering menggodanya. Bahkan kadang mereka saling berantem lalu baikan kembali.


"Kenapa, rasanya kakakku yang teman kalian, bukan aku," ucap Vina seolah ingin menangis.


"Cup cup cup. Adik manis jangan menangis. Mau Abang kasih permen kapas, buat adik tersayang," ucap Dedi lagi seraya mendekatkan wajahnya.


Vani agak panik mendengar perkataan Dedi. Dia memukul-mukul tubuh Dedi dengan manja. Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat kedua sahabat masa kecil itu saling menggoda. Pandangan mereka seolah di suguhi sebuah drama percintaan remaja.


"Vina." Suara Vani membuat semua orang terdiam.


"Kak Vani, Kakak cocok pakai pakaian kayak gini. Berasa masih seumuran kita," ucap Rio tersenyum kagum.


"Iya, Kak Vani. Wah, kita bisa jadi sahabat dong, Kakak," ucap Dedi sambil menegakkan badannya.


"Eh, kalian jangan tidak menghormati kakakku. Bagaimanapun juga, dia lebih tua dari kalian," ucap Vina agak kesal.


"Jangan salah paham Vin, kami hanya ingin lebih dekat saja sama kakak kamu. Bolehkan?" tanya Neha membela Dedi dan Rio.


"Sudahlah, Vin. Jangan masukin ke hati. Mereka pasti hanya bercanda saja. Nah, kalian tadi mau tanya apa?" Vani berusaha menenangkan Vina dan duduk di sampingnya.


"Kak Vani aja nggak marah," ucap Dedi.

__ADS_1


"Vina, mana yang harus Kakak bantu?" tanya Vani sambil menyenggol bahu Vina.


"Kak Vani, ini tolong jelasin ya?" ucap Vina setelah hatinya mulai luluh.


Vani menjelaskan dengan sabar. Keempat remaja itu mendengarkan dengan seksama. Mereka kagum pada Vani dengan cara menjelaskan yang sederhana tetapi mampu membuat mereka mengerti.


"Bagaimana, ada yang kurang jelas? Boleh ditanyakan sekarang. Karena sebentar lagi, Kakak mau istirahat," ucap Vani sambil tersenyum.


"Sepertinya kami sudah paham, Kak. Terimakasih Kak Vani," ucap Vina.


"Ya, Kak. Makasih ya," ucap hena.


"Makasih Kak, Vani. Jadi pingin belajar disini lagi," ucap Dedi.


"Makasih yah, Kak. Lain kali kalau datang, aku akan bawakan makanan kesukaan Kak Vani," ucap Rio.


"Sama-sama. Kalau sudah tidak ada yang ditanyakan, Kakak masuk dulu ya. Selamat sore, semua?" ucap Vani seraya berdiri.


"Selamat sore, Kak. Selamat beristirahat," kata mereka berempat hampir bersamaan.


Vani tersenyum, lalu pergi meninggalkan keempat remaja yang sedang berdiskusi kembali. Vani masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Dia duduk bersandar pada sandaran ranjang sambil selonjoran.


Rasa lapar tiba-tiba mengusiknya. Matanya tertuju pada bungkusan yang ada diatas meja. Vani penasaran apa isi dari bungkusan pemberian Deni tersebut. Meskipun dia sudah bilang tidak akan mengganggu Vani lagi, tetapi, Deni masih beberapa kali menitipkan makanan untuk Vani. Biasanya, Vani akan membaginya dengan teman kerjanya di butik maminya. Kali ini, Vani sengaja membawa pulang pemberian Deni.


Perlahan dia berdiri dan duduk di depan cermin. Dibukanya bungkusan itu yang ternyata berisi sebungkus nasi goreng kesukaan Vani. Sebuah kertas kecil yang berisi tulisan tangan Deni diselipkan di atas bungkusan tersebut. Dibacanya perlahan isi surat itu.


Vani, jangan lupa makan. Ini hasil masakanku sendiri. Cobalah, semoga hasilnya lebih baik hasil masakanmu. Deni.


Deg.


Hati Vani bergetar. Jelas, Deni ingin menunjukkan jika dia mengenalinya sebagai Yanti.

__ADS_1


Bukankah aku sudah meminta dia untuk segera menceraikan aku? Tapi kenapa, dia seolah masih menganggap aku sebagai istrinya? batin Vani.


Bersambung


__ADS_2