
Yanti kembali bekerja seperti biasanya bersama kedua temannya. Yanti menyadari jika kedua sahabatnya itu, pasti ingin bertanya banyak hal padanya. Sikap mereka agak sedikit berubah setelah mengetahui siapa Yanti sebenarnya.
Hubungan persahabatan mereka, tiba-tiba menjadi canggung. Yanti juga merasa sedih, karena mereka seolah sengaja menjaga sikap darinya. Tidak hanya itu, mereka lebih sedikit berbicara dan tidak suka bercanda lagi seperti dulu. Yanti kangen dengan semua itu.
Waktu makan siang telah tiba, seperti biasa, Yanti juga membawa bekal makan siang yang kini sudah ditaruhnya di atas meja. Dia duduk menunggu kedua sahabatnya, tetapi ternyata mereka tidak datang. Hati Yanti merasa sedih dan kecewa dengan apa yang saat ini dia alami. Dia telah ditinggalkan sahabatnya.
Yanti menyandarkan kepalanya diatas meja. Buliran air bening menetes perlahan di pipinya yang chubby. Terdengar Isak tangisnya pelan akan tetapi tidak ada satu orangpun yang berani mendekatinya. Yanti benar-benar merasa dikucilkan.
"Yanti, boleh kami duduk?" Suara Sasa terdengar bagaikan air di musim kemarau.
Yanti mengangkat kepalanya dan mengusap airmatanya dengan kedua tangannya. Senyum manisnya mengembang sambil menatap kedua sahabatnya yang telah berdiri di depannya.
"Duduklah, kenapa harus minta izin segala?" jawab Yanti dengan balik bertanya.
"Saya minta maaf, jika selama ini saya tidak tahu bahwa Ibu adalah istri dari pemilik Mall ini," ucap Sasa canggung.
"Saya juga, minta maaf karena sering menggoda dan meledek Ibu. Saya benar-benar tidak tahu," ucap Mina sambil menunduk.
"Kalian ini kenapa? Aku hanya ingin berteman dengan kalian. Sebelum menikah dengan Mas Deni, aku sudah lebih dulu berteman dengan kalian berdua. Jadi, aku sangat sedih karena kalian tidak ingin berteman denganku lagi," ucap Yanti sedih.
Sasa dan Mina saling berpandangan, mereka lalu duduk di tempat duduk yang biasa mereka duduki.
"Apakah, suami yang tidak bisa kamu ungkapkan pada kami adalah Bos Kecil?" tanya Sasa kemudian.
"Benar, kami menikah setelah kami pergi dinas keluar kota. Kalau aku mengungkapkan saat itu, aku takut kalian akan menjauhiku," jawab Yanti sambil menghela napas panjang.
"Saat kami meledek kamu, apakah kamu bilang pada suamimu?" tanya Mina takut.
"Tentu saja, tidak. Kalian adalah sahabatku, tidak mungkin aku mengadu karena kalian goda," jawab Yanti tersenyum. "Anggaplah aku adalah Yanti teman kalian saja, bukan sebagai istri Bos kalian."
"Baiklah, kalau begitu, kita mulai makan siang sekarang," ajak Mina bersemangat.
Yanti tersenyum bahagia, melihat kedua sahabatnya sekarang sudah kembali seperti semula. Keinginannya untuk tetap bersahabat dengan mereka meskipun dia sudah menikah dengan bos kecil, akhirnya terwujud. Yanti dan kedua sahabatnya, tetap berteman.
Sementara, Deni bisa bernapas lega melihat Yanti sudah bisa tersenyum kembali. Hal itu tidak terlepas dari usahanya dalam membuat Sasa dan Mina mau bersikap seperti biasanya pada Yanti. Walaupun dia harus menggunakan posisinya sebagai seorang pimpinan.
Sebelum waktu istirahat tiba, Deni memanggil Sasa dan Mina ke ruangannya. Tentu saja untuk membuat mereka bisa bersikap baik pada Yanti seperti sebelumnya.
"Kalian tahu, kenapa saya memanggil kalian kemari?" tanya Deni dingin.
__ADS_1
"Kami tidak tahu, Pak Deni," jawab Sasa dan Mina hampir bersamaan.
"Kalian teman istriku, Yanti. Benar?" tanya Deni lagi.
"Benar," jawab keduanya.
"Apakah istriku punya salah pada kalian? Atau dia pernah menyakiti kalian berdua?" tanya Deni sambil menatap tajam kedua sahabat Yanti.
Sasa dan Mina tampak ketakutan. Mereka saling berpandangan. Mereka tidak ingin di pecat, karena sekarang sangat sulit untuk mencari pekerjaan.
"Bu Yanti, tidak pernah menyakiti kami. Beliau juga tidak punya salah pada kami. Bu Yanti, wanita yang baik," jawab Sasa memberanikan diri.
"Benar, Pak Deni," jawab Mina membenarkan ucapan Sasa.
"Kalau begitu, apa alasan kalian tidak mau berteman lagi dengannya?" tanya Deni agak keras.
"Kami ... kami hanya merasa takut berbuat salah padanya. Dan Pak Deni akan bisa memecat kami," jawab Sasa gugup.
"Karena sekarang kalian bukan sahabat Yanti lagi, maka tidak ada alasan kalian untuk tetap bekerja di sini. Kalian bukan sahabat yang baik untuk istriku. Kalian meninggalkannya tanpa peduli kesulitannya. Kalian tahu, betapa dia sangat mencintai kalian lebih dari yang lain. Aku saja merasa iri pada kalian, tetapi ternyata kalian sama sekali tidak perduli padanya," ucap Deni panjang lebar.
"Pak Deni, kami minta maaf. Kami hanya merasa tidak pantas berteman dengan istri atasan kami," jawab Sasa sambil meremas tangannya sendiri karena takut.
"Yanti saja, tidak pernah perduli dengan omongan orang tentang pertemanan kalian bertiga. Dia hanya bahagia memiliki kalian. Dan aku akan memastikan jika Istriku akan terus merasa bahagia. Jika persahabatan kalian membuat istriku bersedih, aku pastikan kalian akan tidak akan pernah bisa melihat Yanti lagi," ancam Deni.
"Maafkan kami, Pak Deni. Kami juga tidak ingin melihat Bu Yanti sedih. Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Mina dengan tubuh gemetar.
"Kembalilah berteman seperti dulu. Seperti sebelum kalian tahu, jika Yanti adalah istriku," ucap Deni agak merendahkan nada suaranya.
"Baik, Pak Deni," jawab mereka bersamaan.
Itulah yang mungkin dinamakan memanfaatkan jabatan untuk mendapatkan sesuatu. Karena Deni akan melakukan apapun, asal Yanti bisa tersenyum.
"Pak Deni, ada dokter Dimas mencari Bapak," ucap Riko membuyarkan lamunannya.
"Baik, Ayah Dimas ada dimana?" tanya Deni kemudian.
"Ada di ruangan Bapak," jawab Riko.
Deni bergegas menuju keruangan kerjanya. Disana, dokter Dimas dan Bu Winda terlihat sedang duduk di depan meja kerjanya.
__ADS_1
"Ayah, Tante."
Suara Deni membuat dokter Dimas dan Bu Winda melihat kearahnya. Mereka tampak memendam sebuah kerinduan yang dalam akan sesuatu dan Deni tahu apa tujuan mereka datang menemuinya. Deni mencium tangan dokter Dimas dan Bu Winda sebagai rasa hormatnya.
"Deni, kamu pasti sudah tahu, apa tujuan kedatangan kami menemuimu. Kami tidak akan membuang-buang waktu untuk berbasa-basi," ucap dokter Dimas to the point.
"Ayah, Deni rasa, saat ini kurang tepat jika kalian ingin bertemu dengan istriku. Saat ini dia sedang ada beban yang harus dia selesaikan. Mungkin nanti malam, aku akan membawanya sendiri kerumah kalian. Aku harap kalian bersabar untuk beberapa waktu," ucap Deni berusaha membuat dokter Dimas dan bu Winda mengerti kondisi perasaan Yanti.
"Deni, seperti yang kamu mau. Kami sudah menyelesaikan masalah gadis yang mengaku Vani. Dia sekarang sudah pergi. Jadi kami ingin secepatnya, kamu segera mempertemukan kami dengan Vani," kata dokter Dimas.
"Deni mengerti Ayah. Tapi, maaf. Tidak hari ini," jawab Deni pelan.
"Deni, terus terang saja, aku tidak suka dengan sikapmu. Aku harap kamu tidak akan seperti ibumu, mengharapkan apa yang tidak seharusnya menjadi milikmu. Vani adalah anak kami. Kami sudah menunggunya hingga bertahun-tahun lamanya. Kamu seolah ingin menghalangi pertemuaan kami," ucap Bu Winda kesal.
"Istriku, jangan menuduh Deni. Dia tidak sama seperti ibunya. Kenapa kita tidak bersabar beberapa saat lagi. Toh selama ini kita sudah sabar menunggu, apa susahnya bersabar sedikit waktu lagi," ucap dokter Dimas menangkan istrinya.
"Aku sangat ingin bertemu dengannya, Mas. Vani ... Vani." Airmata Bu Winda menetes deras. Dokter Dimas memeluk Bu Winda dan berusaha menenangkannya.
"Iya, nanti kita juga pasti akan bertemu Vani. Kamu tenang dulu. Kita ini berada di kantor Deni. Kalau ada yang mendengar, bisa jadi bahan gunjingan karyawan di sini," ucap dokter Dimas.
"Aku tidak peduli. Deni pasti ingin memiliki Vani sendiri. Padahal kita ini orangtuanya. Aku ibunya, yang mengandung dan melahirkan," ucap Bu Winda sambil meluapkan emosi.
Deni tampak terdiam. Tuduhan Bu Winda padanya sangat tidak masuk akal. Mungkin karena terlalu terbawa emosi, jadi Bu Winda terbawa perasaan.
"Den, maafkan Tantemu. Kami akan pergi dulu. Semoga kamu tidak akan lupa dengan janji kamu, untuk membawa Vani ke rumah kami," ucap dokter Dimas.
"Mas, aku tidak akan pergi sebelum bertemu Vani. Deni, kamu menyembunyikan istrimu di mana? Tadi kami ke rumah kamu, tetapi ternyata istrimu tidak ada di rumah. Kata Bibik, dia ikut bekerja denganmu. Lalu, dimana dia?" tanya Bu Winda penuh emosi.
"Tante, percayalah. Saat ini, Deni belum bisa. Maafkan Deni," ucap Deni sedih.
"Mas, lihatlah kelakuan Deni," ucap bu Winda kesal.
"Sudah, kita sebaiknya pulang dulu. Deni pasti memiliki alasan sendiri, mengapa dia belum bisa mempertemukan Vani dengan kita. Ayo," ucap dokter Dimas sambil memapah Bu Winda keluar.
Deni menekan rasa sedihnya, menyaksikan kepergian dokter Dimas dan Bu Winda yang sekarang adalah mertuanya. Mereka tampak tidak senang dengan keputusan Deni menunda pertemuan antara istrinya dan mereka. Padahal, Deni masih belum meminta izin pada Yanti, apakah dia sudah siap bertemu mereka atau belum.
Deni memegangi kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing memikirkan semua ini. Dia juga ingin menjadi seorang menantu yang disayangi mertuanya. Tetapi pasti sangat sulit sekali mendapatkannya. Terlebih dengan keberadaannya sebagai anak dari wanita yang telah membuat mereka menderita. Walaupun begitu, harapan hidup bahagia bersama Yanti akan tetap terus menjadi harapan terbesar Deni saat ini.
"Mas ...."
__ADS_1