Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 28. Indahnya ketika cinta datang


__ADS_3

Deni dan Yanti seperti seorang remaja yang baru jatuh cinta. Malu-malu tapi mau membuat mereka semakin menyadari bahwa cinta itu sesuatu yang indah. Detak jantung yang semakin kencang, hati yang berdebar-debar dan rasa ingin selalu bersama semakin menambah nyatanya keberadaan cinta itu.


Yanti dan Deni mulai terbawa suasana dan perasaan yang kian menggebu. Sudah 5 bulan lamanya, gairah ini tidak tersalurkan. Deni bingung, saat dirinya terjebak dalam gairah yang mulai menguasainya. Padahal sejak tadi dia sudah mencoba menahannya.


Teringat janji yang tidak akan pernah memaksakan kehendaknya pada Yanti. Akan tetapi ternyata keinginan itu semakin kuat apalagi dengan kebersamaan mereka yang teramat dekat.


"Deni, kamu kenapa?" tanya Yanti saat melihat Deni seperti menahan sesuatu yang berat.


"Tidak. Hanya, mungkin kita sebaiknya tidur terpisah saja. Aku akan tidur diluar," jawab Deni sambil melepaskan pelukannya.


Deni perlahan meletakkan kepala Yanti diatas bantal. Lalu dia duduk sambil menghela napas pelan.


"Kenapa?" tanya Yanti kaget.


"Cukup kamu tahu, bagi seorang laki-laki tidur satu ranjang dengan wanita yang dicintainya adalah cobaan terberat. Aku tidak bisa pastikan kalau aku tidak akan menyentuhmu lebih jauh. Tapi aku juga tidak ingin, menyakitimu lagi, seperti dulu," jawab Deni sambil menatap Yanti yang ikut duduk.


"Deni, aku bilang, aku ingin belajar menjadi istri yang baik bagimu. Bukan hanya dalam mengurus rumah tangga tetapi juga mengurus suami. Memberikan apa yang menjadi hak seorang suami," kata Yanti sambil menyentuh tangan Deni.


Deni masih menatap Yanti tak berkedip. Apalagi saat mendengar kata hak seorang suami. Berbagai macam hal berkecamuk didalam hatinya. Antara percaya dan tidak. Mungkinkah ini sinyal cinta yang di berikan Yanti padanya.


Disaat keraguan itu merasuki hati Deni, Yanti tiba-tiba menyentuh pipinya yang ada bekas tamparannya sendiri. Yanti memejamkan mata saat mendekatkan wajahnya ke wajah Deni. Sebuah ciuman di pipi Deni membuat Deni tak bisa lagi bertahan.


Secepat kilat, Deni merebahkan tubuh Yanti keatas ranjang. Sambil menahan berat tubuhnya dengan kedua tangannya, Deni menatap wajah istrinya yang tampak polos. Deni seolah ingin meminta jawaban atas perlakuannya saat ini, sebelum melangkah lebih jauh. Sebuah anggukan kecil Yanti, membuat gairah liarnya keluar tak terkendali.


Deni mulai mencium bibir mungil Yanti dan tidak memberi kesempatan Yanti untuk menyesali memberinya hak sebagai suami. Menyadari jika Yanti masihlah gadis yang polos dalam urusan ranjang, Deni menurunkan keliarannya agar tidak membuat Yanti takut. Gaya lembut menyentuh setiap bagian tubuh istrinya, berusaha mencari tempat yang bisa membuat istrinya mencapai puncak sebelum dirinya.


Sebelum beraksi lebih jauh, Deni mematikan lampu. Barulah Deni memulai hasratnya yang terpendam selama 5 bulan ini. Suara desah-an keduanya terdengar sayup-sayup bahkan hampir tidak terdengar dari luar karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.


"Aku mencintaimu, Yanti."


Suara bisikan Deni, semakin membuat Yanti terbakar gairah. Diapun akhirnya bisa mengimbangi permainan ranjang sang suami. Deni bergerilya ke setiap bagian tersembunyi istrinya, yang semakin membuatnya kecanduan.


Deni segera beraksi karena adik kecilnya sudah siap untuk membuat Yanti kewalahan. Benar saja, Yanti meringis cukup keras saat adik kecil Deni melakukan tugasnya. Selama hampir 10 menit, Deni masih bertahan. Keringat mulai bercucuran dari tubuh Deni hingga menetes ke tubuh Yanti yang polos.


Kerja keras Deni dan adik kecilnya membuahkan hasil. Setelah pelepasan bersama-sama, keduanya terkulai lemah. Napas Deni masih terdengar tersengal-sengal di telinga Yanti. Yanti agak sedikit malu, karena dia ternyata juga bisa menikmati indahnya malam bersama suaminya. Yanti memeluk tubuh Deni, sebagai tanda bahwa malam ini dia sudah menjadi istri yang sesungguhnya untuk Deni. Deni membalas pelukan istrinya sebagai tanda terimakasih telah bersedia menjadikannya suami yang sesungguhnya untu Yanti.


Malam sudah semakin larut dan bertambah dingin hingga membuat sepasang suami istri itu semakin mempererat pelukan mereka.

__ADS_1


***


Esok harinya, Deni terbangun dan kaget saat menyadari jika istrinya tidak ada di sampingnya. Deni bergegas memakai pakaiannya dan keluar untuk mencari Yanti. Saat membuka pintu kamar, tercium aroma wangi masakan dari dapur. Deni tersenyum dan dia langsung menuju ke arah dapur.


Deni tersenyum saat melihat Yanti sedang membuat nasi goreng. Dipeluknya Yanti dari belakang sambil berbisik pelan.


"Aku mencintaimu, istriku."


Yanti tersenyum mendengar pernyataan cinta dari suaminya yang sudah diucapkannya berkali-kali sejak kemarin. Entah apa yang ingin dibuktikan Deni padanya. Tetapi apapun itu, Yanti tidak bisa berbohong jika dia sangat bahagia dengan pernyataan cinta dari suaminya.


"Kenapa aku mencium bau asem. Pasti belum mandi," ucap Yanti manja.


"Maaf, tadi aku ketakutan karena kamu tidak ada di sampingku. Aku takut kamu pergi lagi seperti dulu," jawab Deni sambil melepaskan pelukannya.


"Dulu dan sekarang kan sudah beda, Mas. Aku sekarang juga lagi belajar buat nasi goreng. Aku harap, hasilnya tidak akan seperti dulu, asin," ucap Yanti sambil tersenyum.


"Kita lihat dan coba nanti. Aku mandi dulu," ucap Deni lalu pergi menuju kamar mandi.


Yanti menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Sang ayah sudah siap ingin mencoba masakan Yanti. Karena selama ini, Yanti tidak pernah belajar memasak dan pak Hadi juga tidak pernah memaksa Yanti untuk memasak. Kini, setelah menikah, ternyata Yanti mulai belajar memasak sendiri tanpa di suruh. Hal itu lahir dari hatinya sendiri sebagai seorang istri.


"Ayah, ini pertama kalinya, Yanti masak di rumah. Ayah cobalah," pinta Yanti.


"Benar sekali. Ayah memang ahlinya dalam membuat nasi goreng," ucap Deni yang tiba-tiba muncul dan langsung duduk di samping Yanti.


"Iya. Ayah memang yang terhebat," ucap Yanti sambil mengacungkan jempol pada ayahnya.


"Sudah. Ayo Nak Deni kita coba masakan istrimu. Kalau tidak enak, biar dia kursus kilat di warung makan Ayah. Dijamin suamimu bakalan ketagihan dengan masakan kamu," ucap pak Hadi sambil menggoda Yanti.


"Ayah, biarpun Yanti tidak bisa masak sekalipun, Deni akan tetap cinta pada anak Ayah. Karena, Deni bukan mencari tukang masak, tapi istri. Kalau soal makan, apa saja Deni mau, Deni tidak pernah pilih-pilih. Asalkan Yanti mau tetap di sampingku, Deni sudah senang," kata Deni mengungkapkan isi hatinya.


Yanti hanya tersenyum mendengar perkataan kedua orang laki-laki yang sama berartinya bagi Yanti.


"Kalian memang cocok, ya. Aku merasa, kalian seperti ayah dan anak. Aku diam sajalah. Karena ini saatnya sarapan, dan nanti harus beri komentar. Jangan bohong, nanti aku bisa marah," ucap Yanti sedikit manja.


Yanti selesai mengambilkan makanan untuk ayah dan suaminya. Deni menikmati masakan Yanti, sambil sesekali melihat ke arah istrinya yang menatap tajam dirinya. Selesai makan, saatnya berkomentar.


"Yanti, nasi goreng buatan kamu sebenarnya cukup enak. Hanya, sedikit asin. Bener nggak, Deni?" kata pak Hadi.

__ADS_1


"Nggak, Ayah. Enak kok. Asin sedikit saja, malah aku suka. Itu tandanya dia masih minta kawin eh lupa, minta tanda cinta," ucap Deni menggoda Yanti.


Yanti langsung mencubit lengan Deni setelah mendengar candaannya. Wajahnya tampak merah karena malu. Malu, karena sudah belajar berkali-kali masih saja tidak bisa memasak selayaknya seorang istri.


Yanti segera membersihkan meja makan, yang disusul Deni. Deni membantu menata piring dan sementara Yanti yang mencucinya. Mereka melakukan kegiatan rumahtangga dengan hati yang bahagia. Sambil bercanda dan saling menggoda.


Tentu saja, jika waktu bisa diatur, mereka pasti ingin saat seperti ini tidak akan pernah berhenti. Apapun itu jika dilakukan dengan orang yang disayangi, pasti akan terasa indah.


Selesai mencuci piring, Yanti kembali ke kamarnya. Deni juga tidak mau ketinggalan. Dia mengikuti Yanti masuk kekamar lalu duduk diatas ranjang.


"Loh, Mas Deni tidak masuk kerja?" tanya Yanti sambil membuka kopernya.


"Kayaknya, Nggak. Aku tinggal di sini saja, mau menemani kamu," jawab Deni sambil merebahkan diri.


"Bilang saja, mau bermalas-malasan. Hari ini, aku mau kuliah pagi, Mas Deni mau menemani ayah?" tanya Yanti sambil tersenyum.


"Aku, temani kamu kuliah saja. Yanti, maukah kamu kembali kerumah kita?" tanya Deni penuh harap.


"Kalau aku kembali, apakah aku juga bisa bekerja lagi di tempat Mas Deni?" Yanti balik bertanya.


"Tentu saja. Kita bisa sering ketemu. Jadilah asistenku, biar aku carikan pekerjaan lain untuk Riko," jawab Deni secepat kilat.


"Tidak mau. Aku mau kembali menjadi pegawai biasa. Aku mau bertemu teman-temanku terutama Sasa dan Mina," jawab Yanti.


"Termasuk, Dirga?" tanya Deni sambil duduk karena kesal.


"Kita baru saja berbaikan," ucap Yanti mengingatkan Deni.


"Maaf, aku harus percaya padamu. Aku salah," jawab Deni sambil tertunduk.


Yanti berdiri lalu mendekati suaminya. Dia duduk di samping Deni sambil menatap Deni mesra. Sebuah ciuman bibir, membuat Deni tak habis pikir. Secepat itu, istrinya berubah jadi pemberani. Tetapi, biar saja. karena itu akan menguntungkannya sebagai suami. Yang terkadang butuh juga, belaian dari istrinya.


Mendapatkan ciuman dari Yanti, yang hanya sesaat, membuatnya ketagihan. Isyarat mata Deni, membuat Yanti mau tidak mau harus berani mengulanginya. Dengan sedikit rasa malu, Yanti kembali mencium bibir suaminya yang dengan segera membalasnya.


Hampir saja, mereka kebablasan jika saja tidak ada suara ketukan pintu dari luar. Ternyata pak Deni, asisten Deni datang membawakan pakaian ganti untuk Deni.


Riko ...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2