Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Masalah Lain Datang


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak kecelakaan Gabriel. Di luar dugaan, keadaan Gabriel yang diperkirakan akan stabil ternyata tidak sesuai dengan prediksi Farris. Dua hari dan dua kali pria itu mengalami henti jantung tiba-tiba.


Tim Farris jelas dibuat kelabakan dengan hal itu. Meski mereka biasa mengalaminya. Namun kejadian pada Gabriel yang di luar prediksi membuat Farris sedikit panik.


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Semua bisa terjadi pada pasien dengan cidera di kepala dan otak, Ann. Semua sulit untuk diprediksi" Jelas Farris.


Baru saja mereka akan mendudukkan diri. Ponsel Farris berdering.


"Ya...


Belum sempat menjawab lebih banyak. Pria itu sudah berlari keluar dari ruang kerjanya. Menuju UGD rumah sakit miliknya. Hal yang sama juga terjadi pada Annelka.


"Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada ayahku"


Batin Farris panik. Ketika dua orang itu sampai di UGD. Dilihatnya Fabian yang tengah ditangani oleh seorang dokter Ortopedi (ahli tulang) dengan Astrid yang sudah berada di sana.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Farris panik.


"Ini hanya dislokasi tulang di bagian bahu saja. Aku baru saja menariknya. Tapi harus pakai gips seminggu ya. Mencegah tulangnya tidak bergeser lagi" Jelas dokter ortopedi itu singkat.


"Dia mulai bertindak" Annelka berguman. Dan Farris mengangguk.


"Apa kau takut? Jika kalian takut, kalian bisa mundur. Aku sudah kepalang tanggung masuk. Jadi aku tidak bisa mundur lagi"


"Tidak. Hanya saja ini cukup mengejutkanku. Kau tahu kan aku hanya punya dia dan Astrid sekarang"


"Aku malah hanya punya Aya sekarang"


Keduanya terdiam. Larut dalam pemikiran masing-masing. Berpikir kejadian apa lagi yang akan mereka alami setelah ini.


"Melihat ini aku bisa menyimpulkan kalau dia bukanlah orang yang murah hati"


"Kau bercanda? Murah hati? Dia sadis tahu. Untung saja Om masih bisa selamat. Jika tidak aku tidak akan bisa menghadapimu"


Satu tepukan pelan mendarat di bahu Annelka.


"Kau tahu apa yang dia bicarakan padaku beberapa waktu lalu"


"Apa?"


"Dia bilang akan melakukan apapun untuk mengungkap kematian keluarga Aya. Bahkan jika hal buruk terjadi padanya. Dia memintaku untuk tidak menyalahkan siapa-siapa. Sebab itu adalah pilihannya"


Annelka terdiam.


"Keluarga kami berhubungan baik sejak dulu. Ibu Aya ikut merawatku sejak kecil. Dia benar-benar menganggapku sebagai anaknya. Kau tahu aku bahkan diizinkan memanggilnya mama. Sama seperti Nicky dan Aya. Mereka benar-benar memberiku kehangatan sebuah keluarga. Jadi mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi papaku" kenang Farris.


"Bagaimana keadaan Papa?" Tanya Farris ketika masuk ke ruang perawatan sang papa.


"Ngilu..." Cengir Fabian.


"Ya iyalah. Habis kebentur terus ditarik. Ya begitu rasanya"


"Obatnya Pa, diminum dulu" Astrid menyela. Menyerahkan obat juga segelas air. Setelah sedikit memaksa pria itu makan.

__ADS_1


Farris tersenyum. Sang papa benar-benar menerima Astrid meski dengan kondisinya yang sekarang.


"Papa bisa melihat dia wanita yang baik. Jadi apa salahnya kita memberikan dia kesempatan. Terlebih kau sudah jatuh cinta padanya. Papa bisa apa? Janda semakin di depan"


Farris tersenyum mengingat jawaban Fabian ketika mengatakan ingin menikahi Astrid. Dan seperti dugaan Fabian. Astrid benar-benar menjalankan perannya sebagai istri dan menantu yang baik.


Mereka pindah ke rumah Fabian. Astrid yang meminta. Alasannya agar sang papa tidak terlalu kesepian. Meski mereka hanya akan bertemu di saat sarapan ataupun makan malam.


Wanita itu benar-benar memprioritaskan keluarganya. Sebagai istri pemilik rumah sakit. Astrid akan pulang jam 6 untuk menyiapkan makan malam. Kecuali ada pasien darurat.


"Maaf mengganggu, dok"


"Ya.." Farris menjawab ketika seorang perawat menyela masuk ke ruangan mereka.


"Dokter Astrid, ada operasi setengah jam lagi. Dan ada pasien darurat yang baru masuk"


"Pergilah" Fabian berucap.


Setelah Astrid berlalu. Farris duduk di samping sang papa.


"Pusing?"


"Khawatir, Pa?"


"Oo salah bahasa rupanya" Kekeh Fabian. Menatap Astrid yang menghilang di balik pintu.


"Kau kenal suaminya dulu?"


"Siapa? Ryan?"


"Yahh, dia yang gak terima" Ledek.


"Dia seperti ibumu. Pintar masak. Pintar menata rumah. Tidak banyak bicara...


"Sama papa iya. Sama aku cerewetnya minta ampun"


"Tapi kamu suka kan?"


"Suka...apalagi kalau cerewetnya di kasur....


"Dasar gemblung" Gerutu Fabian. Sedang Farris terkekeh mendengar gerutuan sang papa.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa kalian mengalami kecelakaan. Padahal kan Papa sudah sama pak Parno"


"Papa rasa dia sengaja mengintimidasi Papa. Karena Papa menolak memberikan surat kuasa padanya. Malah memberikannya pada Annelka"


"Ada mobil yang sengaja menabrak mobil Papa dari belakang. Untung pak Parno bisa menghindari jurang. Hanya membentur besi pembatas. Oh ya pak Parno bagaimana?"


"Dia cuma lecet di kaki kejepit kursi depan. Sudah boleh pulang"


"Mobilnya oleng ke kiri. Makanya bahu sebelah kiri yang kena. Terbentur pintu. Untung pengawal Annelka langsung menolong Papa. Membawa Papa ke sini"


"Untuk selanjutnya kita harus lebih berhati-hati dan waspada" Tambah Farris. Dan Fabian mengangguk.


"Annelka mana? Tadi Papa sempat lihat dia"

__ADS_1


"Dia tadi melihat Briel. Semalam sempat henti jantung lagi. Tapi sekarang sudah stabil lagi. Dia kembali ke kantor. Ada masalah serius perusahannya. Harga sahamnya tiba-tiba anjlok"


"Pasti puyeng dia sekarang"


"Iya, masalahnya sebagian dana sudah masuk ke resort di NZ dan itu masih dalam proses opening"


***


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tria yang bertanya.


"Harusnya aku yang tanya. Kenapa juga malah kamu yang bertanya" Sungut Annelka.


Tria nyengir. Sedang Ed langsung tertawa. Tria pintar. Tapi kadang kepintarannya itu hilang entah ke mana. Apalagi semenjak menikah dengan Eva. Tidak tahu kenapa.


"Dia jadi "lalo" sejak menikah" Seloroh Ed.


"Kebanyakan mainlah tu" Tambah Annelka.


"Isshh memang kalian tidak?"


"Iya, tapi kami tidak jadi bodoh sepertimu meski setiap malam bertempur" Ledek Ed.


"Aku tidak bodoh ya. Hanya...tidak bisa fokus"


"Terbayang tubuh Eva?" Tebak Ed.


"Diam kau!" Raung Tria. Pria itu kesal sekali sebab apa yang dikatakan Ed benar. Dia benar-benar selalu terbayang tubuh Eva. Maklum pengantin baru. Jadi harap dimengerti.


Diantara mereka bertiga. Memang Tria dan Eva yang benar-benar masih polos dalam urusan ranjang. Berbeda dengan Ed dan Bella yang pernah melakukannya sebelumnya. Apalagi Ed, jangan ditanya, pria itu adalah rajanya ranjang di masa lalu. Sedang Farris dan Astrid, sang istri jelas sudah pro soal urusan kasur.


"Sudah kalian malah ribut soal urusan kasur. Nanti malam lagi dibahasnya. Tapi di rumah"


Dua orang itu hanya saling pandang. Lalu kembali menatap laptop mereka masing-masing.


"Ooo jadi ini ulahnya. Cari masalah denganku rupanya" Annelka berucap.


"Dia? Apa yang dia lakukan. Membeli sahammu lalu menjualnya lagi"


"Lebih kurang seperti itu. Masalahnya hampir semua danaku masuk sudah masuk ke resort di NZ. Dan belum ada incoming-nya"


"Dan kita perlu dana besar untuk menutupi selisih harga saham kita. Jika ingin menaikkan kembali harga sahamnya"


"Apa ada surplus dana? Atau apa kita perlu meminjam dari bank. Kalau menjual aset pasti memakan waktu"


Annelka langsung memijat pelipisnya pelan. Satu persatu masalah mulai bermunculan. Dan penyebabnya satu orang. Belum selesai masalah Gabriel. Kecelakaan Fabian. Sekarang perusahaannya dihantam krisis.


Dan lagi dia belum bisa membuka e-mail dari Gabriel.


"Haishh kenapa kalian nongol bersamaan sih. Kompak sekali ingin mengerjaiku"


Gerutu Annelka pada satu kata bernama "masalah". Mana efeknya lebih parah dari kemunculan hantu versi manapun yang membuat jantungan siapa saja yang menontonnya.


Annelka mengacak rambutnya frustrasi. Bukannya tidak bisa mencari solusi tapi hanya pusing dengan kemunculan masalah itu secara bersamaan.


***

__ADS_1


__ADS_2