Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 30. Ada yang cemburu


__ADS_3

"Yanti," panggil seseorang yang membuat Yanti menghentikan makannya.


Tentu saja, Yanti kenal suara siapa itu. Suara Dirga. Pemuda yang pernah menaruh hati padanya. Semoga saja, dia sudah memiliki gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta. Sehingga dia tidak akan lagi mendekatinya.


"Boleh dong ikut gabung?" ucap Dirga kemudian.


"Dirga," gumam Yanti.


"Boleh. Tapi seperti biasa, bagi makanan kamu ke kita," jawab Sasa.


"Tentu. Tapi sayangnya ini hanya untuk satu orang saja. Tapi tidak apa-apa, aku bisa puasa hari ini demi bisa gabung kalian," jawab Dirga sambil menyodorkan kotak makanannya.


"Alah, kalau tidak ada Yanti di sini, kamu juga jarang makan bareng kita," kata Sasa meledek Dirga.


"Kenapa kalian bicara seperti itu dihadapan Yanti. Kalian buat aku malu saja," ucap Dirga agak kesal. "Yanti, apa kabar. Lama tidak bertemu."


"Kabarku, baik," jawab Yanti.


"Apa suamimu melarang kamu untuk bekerja?" tanya Dirga penasaran.


"Tidak juga. Tapi, dia sangat cemburuan. Apalagi jika melihat aku berbicara dengan pria lain. Maaf ya, Dirga. Aku tidak bermaksud ...."


"Tidak apa-apa. Tapi, masak bicara saja dia bisa marah?" tanya Dirga lagi.


"Dirga, sudah dibalik saja. Misal istrimu dicintai pria lain dan pria itu terus berusaha mendekatinya. Gimana perasaan kamu?" ucap Mina pada Dirga.


"Mina, perkataan kamu itu terlalu jelas. Aku memang mencintai Yanti tapi aku tidak pernah berusaha mendekati Yanti setelah tahu dia sudah menikah," ucap Dirga sambil menghela nafas.


"Akhirnya, kamu ngaku juga kan, kalau kamu mencintai Yanti. itu sudah bisa membuat suami Yanti marah," kata Sasa.


"Tapi aku yakin Yanti tidak akan marah padaku, karena tidak akan ada orang yang bisa menolak datangnya cinta. kita tidak akan pernah tahu, kepada siapa kita akan jatuh cinta. Benar kan Yanti?" tanya Dirga sambil menatap Yanti.


"Memang benar apa yang dikatakan Dirga. Aku juga tidak bisa melarang dia, untuk tidak mencintai aku. Tapi, suamiku mana tahu, kalau kami hanya bicara sebagai teman. Apalagi jika dia tahu teman laki-laki itu tidak dia kenal," jawab Yanti.


"Kalau begitu, maafkan aku Yanti. lain kali, aku tidak akan mengulangi hal ini lagi. tapi bukankah ini di tempat kerja, mana mungkin suamimu tahu?" tanya Dirga lagi.


"Dirga, kamu itu terlalu mendetail bertanya pada Yanti. suaminya kan bisa punya mata-mata di sini," jawab Sasa merasa kesal juga Dirga terlalu banyak bertanya.


"Ya sudah, mending aku pergi saja, dari pada aku buat masalah untuk Yanti. Selamat makan Yanti," pamit Dirga.


"Eh, ini kotak makan siang kamu. Jangan sampai kamu kelaparan dan nggak sanggup kerja," panggil Sasa.


Dirga berbalik arah dan mengambil kotak makan siangnya. Lalu dia pergi meniggalkan ketiga wanita teman kerjanya dengan hati sedih. Sementara itu, Yanti dan teman-temannya meneruskan makan siangnya. setelah itu, Yanti pamit pada teman-temannya untuk pergi. Dia berencana menemui suaminya di ruang kerjanya. Mumpung jam makan siang belum berakhir.


Yanti, membereskan kotak makan siangnya yang sudah kosong. Lalu dia melangkah pergi meninggalkan kedua temannya. mereka hanya bisa menghela nafas dan melihat bepergian sahabatnya, dengan hati yang penuh pertanyaan.


Yanti berjalan perlahan menuju ruang kerja suaminya. Dia sangat berhati-hati sekali, menoleh ke kiri dan ke kanan karena takut akan ada yang melihat. Setelah yakin bahwa tidak ada orang yang melihat dirinya, Yanti mengetuk pintu sambil tetap melihat ke kiri dan ke kanan

__ADS_1


"masuk," suara Deni dari dalam ruang kerjanya.


Yanti segera membuka pintu dan cepat-cepat masuk sebelum ada orang lain yang tahu. Yanti tersenyum pada Deni yang belum menyentuh kotak makannya sama sekali. Hal itu membuat Yanti heran.


"loh, Mas. Kok belum dimakan. Aku aja udah habis tadi, sama teman-teman," tanya Yanti.


"Aku tak berselera makan. Apalagi tadi, lihat si Dirga itu, masih suka sekali mendekati kamu," jawab Deni kesal.


"Jangan cemburu, Mas. Dia sudah tahu kalau aku sudah menikah. Jadi, dia tadi cuma mau tanya, kenapa selama ini aku nggak kerja lagi. Dia pikir, suamiku yang melarang aku untuk kerja," kata Yanti berusaha menjelaskan.


"Lalu kamu jawab apa?" tanya Deni lagi.


"Aku jawab apa adanya. Suamiku cemburuan dan tidak suka ada yang mendekati istrinya," jawab Yanti.


"Jujur sekali kamu, nggak bilang aja sekalian, suamiku posesif dan psikopat. Dia akan membunuh siapa saja yang mendekati istrinya," ucap Deni sambil menatap tajam kearah Yanti.


"Untuk apa bicara seperti itu?"tanya Yanti. "Tentu saja supaya dia takut dan tidak akan mendekati kamu lagi," jawab Deni sambil tersenyum sinis.


"Udah ah marahnya. Nanti aku temani makan. Mau aku suapin?" goda Yanti.


"Beneran? Sok atuh suapin Abang," balas Deni menggoda Yanti.


Yanti membuka kotak makan siang milik suaminya. Yanti kemudian memberikan suapan pertama untuk suaminya. Satu suap, dua suap. Lama kelamaan, deni malah ketagihan. Ingin terus disuapi oleh Yanti. Dengan senyum manisnya, Yanti kembali menyuapi suaminya hingga makanan di kotak makanan itu habis.


Lega sudah melihat sekotak makanan ditangannya akhirnya habis juga. Yanti segera membereskan kotak makan siang Deni dan ingin segera pergi sebelum jam makan siang selesai. Tetapi, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu membuat Yanti panik. Dia menatap Deni dengan tatapan memohon perlindungan.


Deni tersenyum, melihat istrinya sangat ketakutan. Sebenarnya apa yang Yanti takutkan. Jika ketahuan bukankah itu lebih baik. Deni bukan pria yang tidak jelek, dia juga mapan, memiliki pekerjaan tetap. Apalagi yang kurang.


"Aku sembunyi dimana?" tanya Yanti cemas.


Deni menunjukan satu tempat yang paling aman, dibawah meja kerjanya. Dengan berat hati, Yanti menunduk dan bersembunyi dibawah meja.


"Kotak makan siang," teriak Yanti pelan.


"Masuk," suara Deni khas.


Yanti menarik celana Deni karena telat mengambil kotak makan siang diatas meja. Padahal Deni memang sengaja membuat Yanti panik.


"Selamat siang, pak. Ini ada beberapa dokumen yang harus Pak Deni tandatangani karena sebentar lagi harus segera dikirim," kata karyawan wanita yang bernama Sita.


Deni segera menandatangani dokumen tersebut sambil salah satu tangannya menggenggam tangan Yanti yang terasa sangat dingin. Yanti benar-benar ketakutan. Sita merasa agak curiga saat melihat kotak makan siang Bos-nya. Sepertinya, Sita pernah melihat kotak makan itu, tapi dia lupa dimana dia pernah melihatnya.


"Sita, tolong panggilkan Riko untuk menemuiku segera," perintah Deni.


"Baik, Pak."


Setelah Sita keluar, Yanti menarik napas lega. Perlahan dia keluar dibantu Deni dengan menarik tangan Yanti. Tetapi lagi-lagi ketukan pintu membuat Yanti kembali bersembunyi.

__ADS_1


"Masuk."


"Pak Deni memanggil saya?" tanya Riko.


"Duduklah. Yanti, keluarlah. Apa kamu tidak capek bersembunyi di bawah meja?" ucap Deni sambil berusaha mengeluarkan Yanti dari bawah mejanya.


Yanti mengalami kram pada kakinya karena terlalu lama bersembunyi di bawah meja. Deni mengangkat tubuh istrinya dan didudukkannya di atas kursi. Deni jongkok di lantai dan melepaskan sepatu istrinya. Kemudian dia mengurut satu persatu kaki istrinya agar aliran darahnya kembali lancar.


Riko tersenyum sambil menggelengkan kepala, atasan dan istrinya sedang mengumbar kemesraan didepannya. Mereka seolah sengaja melakukan itu supaya Riko iri.


"Bos ...."


"Sabar, tunggu sebentar. Kaki istriku ini lebih penting dari apapun," jawab Deni panik.


"Ini sakit. Pelan-pelan saja, Mas. Auw ...," teriak Yanti sambil menutup mulutnya.


"Makanya, tidak perlu sembunyi. Punya suami setampan ini, seorang manager pula. Nasib," gumam Deni.


Deni terus memijat kaki Yanti sambil sesekali melihat kearah wajah Yanti yang masih meringis kesakitan. setelah beberapa saat, Yanti segera pamit pada suaminya untuk segera pulang.


"Aku pulang dulu, Pak Deni. Pak Riko," ucap Yanti.


"Hati-hati, aku pesankan taksi. Kamu tunggu saja di depan," kata Deni.


"Hati-hati, Bu," jawab Riko.


"Iya," jawab Yanti singkat.


Yanti membuka pintu perlahan. Mengintip sebentar sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Matanya benar-benar di tuntut untuk tajam melihat situasi dan keadaan sekitar. Setelah merasa aman, Yanti segera keluar dan setengah berlari sambil membawa kotak makan siangnya.


Setelah sampai di luar Mall, Yanti merasa lega . Dia berdiri sambil menunggu taksi yang sudah dipesan suaminya. Tidak lama kemudian, muncullah mobil Riko. Riko membuka pintu jendela mobilnya seraya memanggil Yanti.


"Bu Yanti, masuklah. Ini taksi yang dipesan pak Deni," ucap Riko agak keras.


Yanti datang mendekati Riko dengan penuh tanda tanya.


"Taksi apa. Ini mobilmu, kan?"


"Pak Deni tidak jadi memanggil taksi beneran. Saya yang akan menjadi mengantar Ibu Yanti sampai rumah. Biar pak Deni tenang," jawab Riko.


Yanti tersenyum mendengar perkataan Riko. Ternyata suaminya sangat perhatian padanya. Yanti segera masuk ke mobil Riko tanpa bertanya lagi. Sementara, Deni mengawasi istrinya dari kejauhan.


Sampai di rumah, Yanti mengucapkan terimakasih pada Riko sebelum Riko pergi. Sebelum masuk kedalam rumah, sebuah pesan masuk membuat Yanti berhenti sejenak untuk melihat isi pesannya.


Ternyata Vina yang ingin bertemu dengannya. Yanti bergegas masuk untuk menaruh kotak makan siangnya di dapur. Lalu dia memesan taksi supaya lebih cepat sampai ke tempat yang di minta Vina. Yanti penasaran, untuk apa Vina ingin menemuinya. Apakah ada sesuatu yang sangat penting yang terjadi di rumah Bu Winda?


Taksi yang dipesannya sudah datang dan Yanti segera naik kedalam taksi. Sepanjang perjalanan, Yanti hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi.

__ADS_1


Semoga tidak ada hal yang buruk yang terjadi, batin Yanti.


Bersambung


__ADS_2