
Neva langsung menatap tajam pada Aya. Begitu melihat Aya yang keluar dari mobil Annelka. Dan pria itu langsung memeluk istrinya.
Pemakaman Duta baru saja selesai dilaksanakan. Meski mereka sakit hati. Tapi baik Annelka, Farris, Ed dan Tria serta Arash, ikut melepas kepergian Duta. Sedang Aya hanya bisa menunggu di mobil. Bahkan Gabriel pun ada di sana.
Aya yang masih lemah. Tidak mau mendekat ke arah pemakanan. Karena mereka berangkat dari rumah sakit langsung ke pemakaman. Kania jelas shock dengan kematian Duta. Pun dengan Neva. Tapi tidak dengan Vando.
Vando yang dekat dengan Gabriel. Langsung mendengar cerita dari pria itu. Hingga dia bisa menerima kalau papanya memang salah. Gabriel juga menunjukkan rekaman CCTV, dimana memang papanyalah yang menembak Fabian duluan.
Sebenarnya Duta bermaksud menembak Annelka yang melindungi Aya. Tapi Fabian menghadangnya. Dengan posisi Glock yang terarah kepada Duta.
"Kau kenapa?" Tanya Vando yang melihat Neva menatap Aya dan Annelka penuh dendam.
"Mereka yang membuat keluarga kita hancur" Desis Neva.
"Kau salah, Neva. Papalah yang lebih dulu menghancurkan keluarga mereka. Keluarga Aya dan Annelka. Bukti-bukti menunjukkan itu semua"
"Aku tidak percaya. Kau lihat, Kak. Akan kubalas mereka berdua" Tekad Neva.
"Apa yang bisa lakukan. Semua aset Atmaja ada di tangan Annelka. Sudah bagus dia masih mau menghidupi kalian. Kalau tidak kalian akan berakhir di jalanan" Vando berucap pedas.
Heran, bagaimana bisa Neva masih menyalahkan Aya dan Annelka. Padahal semua sudah jelas. Ditambah lagi pengakuan Ricky yang membenarkan semua tindakan Duta. Papanya memang bersalah dalam kasus ini.
"Aku akan balas dendam pada mereka"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Neva. Pikirkanlah hidupmu untuk ke depannya. Manfaatkan kebaikan Annelka sebaik-baiknya. Jika tidak, dia tidak segan untuk menarik semua bantuan yang dia berikan pada kita" Vando berucap sambil berlalu pergi dari hadapan Neva. Yang semakin mengeratkan kepalan tangannya.
****
Dua minggu berlalu, keadaan Aya sudah stabil. Arash sudah kembali ke Guangzhou. Urusan dengan kantor polisi sudah selesai. Karena tersangka utama sudah meninggal. Maka pihak kepolisian menutup kasus ini. Tidak memperpanjang lagi.
Baik Annelka maupun Aya terpaksa legowo dengan keputusan itu. Mau bagaimana lagi. Menuntut orang mati, ya tidak mungkin.
Pasutri itu saat ini tengah melihat bayi Farris dan Astrid. Meski sudah dinyatakan sehat dan stabil. Astrid bersikeras ingin menambah satu minggu lagi perawatan mereka di inkubator. Sebelum membawa pulang bayi-bayinya.
"Ahmad yang cowok dan Mika untuk yang cewek" Farris memberi tahu nama bayi kembarnya pada Aya.
"Hai Ahmad, ini Tante" Aya berucap lembut sambil memainkan jari mungil Ahmad.
"Dia belum bisa melihat" Astrid menambahkan.
"Nggak sabar pengen gendong mereka"
"Sabar ya Ay.. sebulan lagi. Biar dia agak kerasan dikit"
"Iya, aku tahu. Hai Mika cantik, senang berkenalan dengan Mika"
Annelka dan Farris hanya tersenyum, melihat tingkah istri mereka.
"Besok jadi berangkat?"
__ADS_1
"Jadi, dia sudah bolak balik ngambek. Nggak betah aku kalau dia sudah nyuekin aku"
"Bucin akuut" Seloroh Farris.
Setelah menundanya cukup lama. Akhirnya Annelka memutuskan untuk mengantarkan Aya, mengunjungi salah satu perkebunan teh milik keluarganya.
Hingga tiba saatnya mereka berangkat ke tempat itu. Memilih menggunakan supir pengganti, karena mereka tidak ingin bibi Mai sendirian selama kepergian mereka. Jika mereka membawa Robert.
Setelah memastikan kehamilan Aya aman untuk melakukan perjalanan darat selama hampir 3 jam. Astrid juga sudah memberikan suntikan penguat kandungan tambahan pada Aya.
"Hati-hati dan nikmati liburannya" Bibi May berucap sambil mencium nonanya. Entah kenapa rasa tidak nyaman melingkupi hatinya sejak tadi.
Aya hanya tersenyum mendengar ucapan Mai. ART yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
"Baik-baik ya sama Mama ya" Tambah Mai sambil mengusap pelan perut Aya.
"Ayo, nanti keburu malam sampai sana. Weekend lagi" Annelka berucap.
Mai dan Robert melambaikan tangannya begitu mobil CRV berwarna putih itu melaju keluar dari kediaman Annelka.
"Kenapa aku jadi cemas begini ya, Rob"
"Kamu terlalu cemas pada nonamu karena kejadian kemarin"
"Apa iya ya?"
"Sudah, kita tunggu saja mereka menghubungi. Kalau lancar, tiga jam lebih mereka akan sampai"
Namun hingga hampir tengah malam. Pasutri itu belum menerima telepon dari sang majikan. Rasa cemas Mai semakin menjadi. Harusnya nonanya itu sudah sampai paling lambat tiga jam yang lalu. Semacet-macetnya.
"Ya, Tria ada apa?" Mai menjawab panggilan dari Tria. Melirik jam hampir jam dua pagi.
Setengah sadar sambil mendengarkan ucapan Tria di seberang. Hingga kemudian tiba-tiba Mai menjerit, membuat Robert terlonjak kaget.
"Ada apa?" Tanya Robert.
"Non Aya kecelakaan" Jawab Mai terbata di sela-sela tangisannya.
"Lalu keadaannya bagaimana?" Tanya Robert ikut panik.
"Tidak tahu. Tria dan Ed akan menyusul ke sana"
"Ya Tuhan, cobaan apalagi ini. Mereka baru saja lepas dari masalah mereka dan sekarang datang lagi masalah yang lain"
May membatin dalam hati. Pasutri itu hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa. Hingga pagi menjelang, keduanya tertidur di sofa ruang tengah.
"Ya tuan Ed" Kali ini Robert yang menjawab.
Robert kembali terdiam mendengar ucapan Ed dari seberang.
__ADS_1
"Ada apa? Mereka baik-baik saja kan?"
Mai bertanya khawatir. Melihat raut wajah sedih Robert.
"Supir penggantinya tewas. Tapi tuan dan nyonya...mereka menghilang. Tidak ditemukan"
Demi apapun Mai langsung shock seketika. Terjawab sudah kecemasan tidak beralasannya.
"Keadaan mereka bagaimana?" Tanya Mai cemas.
"Tidak tahu. Mobil mereka nyemplung ke sungai"
"Astaga" May menutup mulut saking shocknya.
***
"Bagaimana ini Ed?" Tria bertanya cemas. Yang ditanya hanya diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Ketakutan dan kecemasan menyerap semua kepintaran dua orang itu. Mereka jadi blank, tidak tahu harus berbuat apa.
"Cincin..cincin mereka. Tria kau bisa melacaknya" Ed berteriak antusias. Namun disambut kelesuan wajah Tria.
"Sinyal, Bro. Sinyal. Kalau sinyalnya lanciiirr kayak tranferan gue ke Eva. Sudah ketemu mereka dari semalam" Jawab Tria kesal.
Keduanya kembali manyun. Mereka berada di kantor polisi, wilayah setempat. Sama-sama berpenampilan kucel saking frutrasinya.
"Bagaimana ini?" Tanya Tria bingung. Meski pencarian besar-besaran sudah dilakukan. Dengan menyisir aliran sungai, namun mereka tidak menemukan apa-apa.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan James atau Arash"
"Jangan Arash. Di baru kembali. Pekerjaannya pasti banyak sekali. Arash akan jadi opsi terakhir. Jika semua jalan kita buntu. Coba hubungi James. Tapi suruh dia untuk merahasiakan ini lebih dulu. Kau tahu kan nama Aya sangat berpengaruh di sana. Bocor sedikit, bisa anjlok saham mereka"
Tria langsung menghubungi James. Namun berikutnya pria itu langsung mengumpat kesal sejurus kemudian.
"Sinyal please deh mohon kerjasamanya". Mohon Tria saking frustrasinya.
Yang lokal saja bermasalah apalagi yang internasikontal eh internasional.
Sementara itu, di dua tempat yang berbeda. Dua pasang mata itu terbuka perlahan bersamaan.
"Di mana aku?"
Satu pertanyaan yang terlontar dari dua bibir yang terlihat begitu pucat.
"Kau sudah bangun?" Satu pertanyaan terucap dari dua orang yang berbeda.
"Siapa kamu?" Tanya balik suara itu.
Dua orang itu lantas memindai tempat mereka terbangun. Benar-benar tidak tahu di mana mereka berada. Yang satu bangun di sebuah kasur sederhana. Yang satu terbangun di sebuah ranjang yang cukup bagus.
Ya, Annelka dan Aya terbangun di dua tempat yang berbeda. Dengan pikiran kosong, tidak ingat bagaimana mereka bisa sampai ke tempat.
__ADS_1
"Ujian kalian belum habis lagi. Bahkan mungkin baru saja dimulai"
***