Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 25. Bertemu Ayah


__ADS_3

Beberapa kali, Yanti berputar-putar untuk menenangkan diri. Setelah yakin, Yanti turun di jalan menuju rumah ayahnya. Yanti menarik nafas panjang, lalu dihembuskan perlahan-lahan. Kini, Yanti sudah siap untuk menghadapi masalah yang ada di depan matanya. Masalah yang pernah dia tinggalkan, hampir 5 bulan lamanya.


Yanti berjalan sambil membawa koper dan tasnya. Meskipun Yanti tinggal dirumah dokter Dimas selama hampir 5 bulan, ternyata pakaiannya cukup banyak juga. Yanti berhenti tepat di depan pintu rumah ayahnya. Dia mengetuk pintu beberapa kali.


"Siapa?" suara ayahnya terdengar agak parau dari dalam rumah.


"Ini Yanti ayah," cewek Yanti.


Pak Hadi membuka pintu sambil melihat Yanti yang membawa koper dan tas. Pak Hadi terlihat bingung karena Yanti datang sendirian. Yanti menangis sambil memeluk pak Hadi. Yanti merasa bersalah karena telah membiarkan Pak hadi tinggal sendirian selama hampir 5 bulan ini.


"Ayah, maafkan Yanti. Yanti tidak pernah menemui ayah. Bagaimana kabar Ayah selamanya Yanti tidak bersama Ayah?" tanya Yanti penuh penyesalan.


"Yanti, Kamu ini kenapa? Meskipun Ayah tidak hidup bersama kamu, Ayah sudah cukup senang karena suamimu Deni, sangat memperhatikan kehidupan Ayah," jawab pak Hadi.


"Maksudnya Ayah, Deni sering kemari?" tanya Yanti sambil melepaskan pelukannya.


"Loh, kata nak Deni, kamu itu sedang sibuk kuliah dan bekerja, jadi kamu tidak ada waktu untuk menjenguk ayah. Deni meminta maaf pada Ayah, karena tidak membiarkan kamu datang menemui ayah. Deni takut kamu itu kecapean. Jadi Nak Deni sendiri yang datang kemari dan menemui semua kebutuhan ayah. Yanti, kamu sangat beruntung memiliki suami seperti Deni," kata pak Hadi panjang lebar.


Yanti tersenyum mendengar perkataan ayahnya. Jadi selama dia pergi, Deni mengurus ayahnya dengan baik.


Apakah Deni melakukan itu karena dia menyesal, menyesal telah menyakiti hatiku? batin Yanti.


"Yanti, kenapa kamu datang ke sini sendirian tidak bersama Deni dan membawa tas serta koper. Apa kalian bertengkar?" tanya ayahnya lagi.


"Tidak, Ayah. Kami tidak bertengkar. Yanti baru pulang dari tugas dan langsung datang kesini," jawab Yanti gugup.


"Seharusnya kamu pulang ke rumah dulu, temui suamimu. Baru kamu datang kesini. Kamu harus tahu, Yanti. Orang pertama yang wajib kamu temui, adalah suamimu bukan Ayah," ucap pak Hadi berusaha memberi pengertian pada Yanti.


"Iya, Ayah. Tapi, apa Ayah tidak suka, Yanti datang?" tanya Yanti sedih.


"Sudahlah, semua sudah terlanjur. Masuklah, kamu pasti lelah," ucap pak Hadi.


Yanti berjalan masuk sambil membawa koper dan tasnya. Yanti lalu menuju kamar miliknya yang sudah lama tidak dia tempati. Hampir 5 bulan lamanya, Yanti tidak datang. Tetapi semua masih sama seperti dulu.


"Yanti, kamu istirahat saja dulu. Ayah buatkan nasi goreng untukmu," ucap Ayah di depan pintu kamar Yanti.


"Terimakasih, Ayah."

__ADS_1


Yanti merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Pak Hadi, memang pandai memasak karena tuntutan hidup. Semenjak istrinya meninggal, semua pekerjaan sebagai seorang ibu harus dia jalani. Tugas ganda menjadi ayah dan ibu bagi Yanti. Yanti jadi teringat, bahwa ayahnya sudah tidak bisa bekerja berat. Suatu saat, Yanti ingin membangunkan usaha untuk ayahnya. Setidaknya membuat ayahnya memiliki kegiatan ringan agar tidak berdiam di rumah sendirian.


"Yanti, makanan sudah siap. Keluarlah dan kita makan bersama," panggil ayahnya.


"Iya, Ayah," sahutnya agak keras.


Yanti berjalan keluar kamar menuju meja makan. Disana sudah tersedia nasi goreng baunya sudah tercium dari kamar Yanti. Pak Hadi sudah menunggu sambil menyiapkan air putih untuk mereka minum.


"Ayah, baunya enak sekali. Hmmm, jadi tidak sabar ingin mencicipinya," ucap Yanti sambil duduk.


"Coba saja. Dan kasih saran untuk Ayah. Gimana rasanya dan apa yang kurang. Karena ini menu baru Ayah," ucap pak Hadi sambil tersenyum


"Hmm, enak ayah. Ini menu baru Ayah,? Maksudnya?" tanya Yanti kaget.


"Suamimu, membantu Ayah membuka usaha baru. Katanya agar Ayah tidak selalu merindukan kamu. Ayah membuka warung makan. Nanti datanglah bersama suamimu kesana. Tempatnya bagus kalau menurut Ayah," jawab pak Hadi sambil tersenyum bangga.


"Mas Deni, membantu Ayah membuka usaha?" tanya Yanti lagi.


"Loh, apa suamimu tidak mengatakannya padamu?" tanya pak Hadi kemudian.


"Ya sudah. Tidak apa-apa, lupa. Datang kalau sempat saja," ucap pak Hadi sambil makan.


"Ayah, berarti nanti buka warungnya jam berapa?" tanya Yanti sambil makan.


"Biasanya Ayah buka agak sore. Dan tutup jam 9 malam. Suamimu bilang, tidak boleh terlalu malam kalau tutup warung. Takut Ayah kecapekan. Memang benar-benar menantu yang baik," ucap pak Hadi.


Yanti makan sambil berpikir keras. Kebaikan Deni pada ayahnya setelah dia pergi, benar-benar membuatnya ingin bertemu dan bertanya langsung pada Deni. Tetapi, untuk saat ini, dia merasa belum sanggup menghadapi rasa marah dan kecewa dicampur rasa terimakasih.Terimakasih karena sudah membantu ayahnya melewati hari-hari tanpa dirinya.


"Ayah, apakah menurut Ayah, mas Deni pria yang baik?" tanya Yanti ingin lebih jelas.


"Deni, bukan hanya pria yang baik. Dia menantu yang sangat bisa di banggakan. Kamu tahu, Deni datang ke sini hampir setiap hari. Meski hanya sekedar menanyakan keadaan Ayah. Yanti, kamu harus mempertahankan suami seperti Deni. Jangan sia-siakan apa yang sudah kamu miliki," ucap ayahnya sambil lalu minum air putih sebagai penutup.


"Iya, Ayah."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Yanti. Sebenarnya, jika dipikir-pikir lagi, Deni sangatlah baik. Tetapi, Deni memang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Maslah tidak akan selesai jika tidak dihadapi secara langsung. Mungkin sebaiknya mereka harus bertemu untuk menyelesaikan masalah ini.


Tapi, bagaimana jika Deni ternyata sudah menceraikannya tanpa sepengetahuan ayahnya? Apakah masih ada kesempatan bersama kembali? batin Yanti.

__ADS_1


Yanti hampir tersedak air minum, saat memikirkan keinginannya untuk kembali pada Deni.


"Yanti, pelan-pelan saja minumnya. Ini juga masih pagi. Apa ada yang lagi kangen sama kamu?" goda ayahnya.


"Mana ada, Ayah," jawab Yanti malu.


"Loh ya harusnya ada."


"Siapa?"


"Siapa lagi, tentu saja suamimu. Masak, bibik uang kangen. Ada-ada saja," jawab pak Hadi sambil tersenyum.


Yanti tersenyum malu. Apalagi kalau teringat, keinginan hatinya yang tanpa dia sadari, ingin kembali pada suaminya.


Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta pada Deni, setelah mendengar cerita ayah tentang kebaikannya. Tapi, apa aku tidak punya malu jika aku datang kerumahnya. Bagaimana jika dia mengusirku? Deni kaya dan punya segalanya. Banyak wanita yang sebenarnya lebih baik dan lebih pantas menjadi istrinya.


Aku janji, jika Deni belum menceraikan aku dan dia mau datang meminta maaf padaku maka aku akan memaafkan dia dan kembali padanya, batin Yanti.


"Ayah, biarkan Yanti menginap beberapa hari disini. Yanti kangen, ingin berbincang-bincang dengan Ayah lebih lama," pinta Yanti.


"Yanti, jawab dulu pertanyaan Ayah. Apa kalian sedang bertengkar?" tanya pak Hadi serius.


"Sebenarnya, kami memang sedang ada masalah. Tapi, Yanti janji, Yanti akan bisa menyelesaikan secepatnya," jawab Yanti gugup.


"Apa dia menyakitimu?"


"Tidak, ayah. Sebenarnya, dia hanya meminta haknya sebagai suami. Yanti yang tidak bisa menjadi istri yang baik untuk dia," jawab Yanti sedih.


"Sabar, Yanti. Ayah tahu kamu masih belum siap menikah. Seharusnya dia memahami itu. Jika nanti aku bertemu Deni, Ayah akan mengingatkan dia supaya dia lebih sabar dan tidak memaksakan kehendaknya lagi padamu, sampai kamu siap," kata ayah sambil menepuk bahu Yanti.


"Tidak perlu ayah. Yanti yang seharusnya belajar menjadi istri yang baik untuk dia. Yanti hanya butuh menenangkan diri beberapa hari di sini," kata Yanti sambil tersenyum.


"Ya sudah. Kamu memang tampak lebih dewasa. Tidak lagi Yanti yang suka semaunya . Mungkin karena kamu telah menikah, makanya kamu bisa merubah sikap seiring waktu. Waktu memang akan mendewasakan seseorang yang mau berubah agar lebih baik," kata pak Hadi bahagia dengan perubahan sikap Yanti yang sekarang lebih bersikap dewasa.


Yanti menyadari, setelah menikah, dia tidak lagi suka seenaknya yang tidak perduli omongan orang. Setelah menikah, baru belajar memasak meski tidak bisa sesuai harapan. Menjaga perasaan suami agar tidak cemburu buta. Walaupun pada akhirnya, tetap saja dia membuat Deni cemburu dan marah padanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2