
Di makam Nenek, Mami Winda mengatakan apa yang dirasakan setelah bertemu kembali dengan Vani
"Nenek, Winda yakin, jika Nenek pasti juga sangat bahagia seperti Winda. Melihat sekarang ini, kami sudah berkumpul kembali dengan Vani. Winda Sekarang membawa ketiga anak-anak Winda menemui Nenek," kata Mami Winda sambil melihat kearah mereka bertiga.
"Mami ...." gumam Vano merasa ikut terharu dengan perkataan Mami-nya. Selama mereka berkunjung ke makam Nenek, mereka hanya berempat, dokter Dimas, Mami Winda, Vano dan Vina. Dan sekarang Vani sudah ada diantara mereka.
"Kemarilah, biarkan Nenek melihat kalian bertiga. Nenek sangat menyayangi kalian, terutama Vani. Karena saat kehilangan Vani, Nenek yang paling sedih. Sejak kecil, Vani dan Vano dirawat oleh Nenek. Vani, bicaralah sesuatu untuk Nenek," kata Mami Winda sambil mempersilahkan Vani untuk bicara.
Vani duduk lebih dekat.
"Nenek, ini Vani. Maaf, baru saat ini Vani bisa berkunjung ke makam Nenek. Terima kasih, untuk kasih sayang yang pernah Nenek berikan pada Vani. Vani berjanji akan tetap bersama keluarga Vani, dan tidak akan membuat mereka sedih lagi," ucap Vani sambil meneteskan air mata.
Setelah itu Vani kembali berdiri, sedangkan Vano yang sekarang duduk.
"Nenek, Vano bahagia bisa datang berkunjung ke makam Nenek bersama Mami, Vani dan Vina. Semoga kedepannya kami akan selalu bisa datang dengan kondisi keluarga yang lengkap lagi," kata Vano bahagia. " Atau mungkin malah kami akan membawa cucu buyut untuk Nenek."
"Kak Vano bisa saja," gumam Vina.
Sekarang giliran Vina untuk berbicara pada Nenek. Vina maju lalu duduk di samping Mami-nya.
"Nenek, Vina datang bersama kakak Vani. Semoga ditahun-tahun berikutnya, kami akan tetap bisa bersama-sama lagi saat berkunjung ke makam Nenek," ucap Vani.
Setelah satu persatu mengutarakan isi hatinya, mereka bergegas pergi. Mereka berjalan menuju ke mobil. Saat itu, mereka bertemu dengan seorang penjaga makam.
"Kalian datang bersama-sama? Sepertinya keluarga Nenek sudah lengkap. Saya ikut senang," tanya penjaga makam.
"Benar Pak. Anak kami baru saja kami temukan setelah hampir 14 tahun berpisah," jawab Mami Winda.
"Pantas saja kalian terlihat sangat bahagia. Kalau begitu, saya permisi. Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan," pamit penjaga makam.
"Silahkan, Pak. Kami juga akan segera pulang," jawab Mami Winda.
Penjaga makam pergi sambil meninggalkan senyum pada Bu Winda dan putra putrinya. Sementara Bu Winda dan putra putrinya kembali ke mobil. Karena hari mulai menjelang malam, mereka memutuskan untuk mampir makan malam di sebuah restoran Indonesia.
Vani dan Vina tampak senang karena mereka berada di restoran Indonesia. Awalnya, mereka takut jika Vano memilih masakan Singapura yang bahkan Vani belum pernah melihatnya.
Pesanan mereka telah datang sesuai keinginan mereka. Satu meja penuh, padahal sepertinya Vani hanya memilih satu porsi makanan saja. Lalu siapa yang memesan semua ini?
Vani menatap Vano, seolah ingin bertanya. Tetapi Vano hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Begitupun Mami Winda dan Vina, mereka juga memberi isyarat tidak tahu siapa yang memesan makanan yang ada dimeja makan.
Mereka sama sekali belum menyentuh apapun yang ada diatas meja. Sampai kemudian, datanglah manajer restoran tersebut. Seorang pemuda tampan yang berusia sekitar 25 tahun.
"Selamat malam, kalian merupakan tamu spesial kami karena kalian menjadi tamu kami yang ke seribu. Untuk itu, kami memberikan makanan spesial dari restoran kami sebagai hadiah. Silahkan di nikmati dan mohon berikan ulasan yang membangun," ucap manajer yang ternyata bernama David.
"Terima kasih, kami pasti akan memberikan ulasan pada Anda," jawab Vano sambil mengajak yang lain makan.
"Wah, kita beruntung sekali. Kak Vani benar-benar membawa keberuntungan buat kita," ucap Vina kemudian.
__ADS_1
"Sudah, saatnya menikmati masakan yang dikatakan spesial buat kita," ucap Vano mulai makan.
Sementara, mereka sedang asyik menikmati makanan yang cukup banyak, Sang manajer malah sedang memperhatikan Vani yang cukup menarik perhatiannya. Matanya terus tertuju pada Vani yang makan tanpa ada selera. David merasa pernah bertemu dengan Vani, tetapi dia lupa entah dimana.
"Pak David, boleh memberikan ulasan sekarang?" tanya Vano setelah mengelap ujung bibirnya dengan tissue.
"Oh, silahkan Pak Vano," jawab David sambil tersenyum.
"Menurut aku semuanya enak dan sangat menunjukan cita rasa kuliner Indonesia. Cobalah buat acara seperti ini lagi, jangan hanya kalau ada event penting saja," kata Vano sambil melihat David.
"Pak Vano tenang saja, kami masih ada rencana untuk buat acara lain. Tunggu sebentar, kita foto bersama dulu. Sera, tolong foto kami," ucap David sambil memberikan. ponselnya pada salah satu karyawannya yang bernama Sera.
"Baik, Pak David," jawab Sera cepat.
David foto bersama Bu Winda dan ketiga anaknya. David memberikan aba-aba agar semua tersenyum saat di ambil gambarnya. Vano, Vani, Vina dan Bu Winda, mengikuti arahan dari David.
Selesai makan, mereka bergegas untuk pulang karena waktu sudah semakin malam. Sedangkan besok mereka ada rencana untuk pergi berlibur. Sesampainya di rumah, mereka segera membersihkan diri dengan mandi dan berganti pakaian.
Sebuah ketukan pintu, membuat Vani kaget. Dia hampir tidak ingin membuka pintu, tetapi saat ingat di ruang ini hanya ada dia dan keluarganya. Jadi Pasti yang mengetuk pintu adalah salah satu dari mereka.
"Siapa?" tanya Vani sambil berdiri di depan pintu kamarnya.
"Vina, Kak."
Vani membuka pintu kamarnya,dan mendapati Vina sedang tersenyum melihatnya. Tanpa permisi, Vina langsung masuk kekamar Vani dan segera merebahkan dirinya diatas tempat tidur.
"Kenapa nggak bilang kalau mau tidur sama aku?" tanya Vani sambil menghela napas.
"Loh, kan tadi siang udah minta izin kan sama Kak Vani. Dan Kak Vani juga sudah mengizinkan. Aduh, jangan bilang Kakak lupa," jawab Vina sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Ingatan kamu, tajam juga," gumam Vano.
Vani tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu duduk bersandar di sandaran ranjang, sambil membaca buku.
"Kaka Vani, tidak tidur?" tanya Vina saat melihat Kakaknya malah membaca buku.
"Kakak memang harus membaca buku dulu, supaya rasa kantuk itu datang. Nanti kalau sudah datang kantuknya, baru Kakak tidur," jawab Vani sambil tersenyum.
"Oh, Vina mengerti. Kalau begitu Vina tidur dulu, Kak. Selamat malam," ucap Vina lalu memejamkan matanya.
"Tidurlah, selamat malam."
Vani meneruskan membaca buku hingga hampir setengah jam lamanya. Barulah rasa kantuk itu datang. Vani segera merebahkan diri dan berbaring di samping Vina. Matanya yang sudah mengantuk, langsung tertidur lelap.
"Mas Deni, apa yang kamu lakukan!" teriak Vani.
"Jangan, jangan lakukan itu!" teriak Vani lagi membuat Vina terbangun.
__ADS_1
Vina kaget saat mendapati sang Kakak dalam kondisi mata tertutup tetapi berteriak-teriak cukup keras. Dia pasti sedang bermimpi buruk.
"Kakak, bangun. Kak Vani bangun, Kak!" teriak Vina berusaha membangunkan Kakaknya.
Vani terbangun, tetapi kemudian Vani menangis sambil memeluk Vina. Vina membiarkan dirinya menjadi tempat untuk Kakaknya menumpahkan rasa sedihnya.
"Kakak kenapa, Kak Vani mimpi buruk?" tanya Vina kemudian.
Vani melepaskan pelukannya lalu duduk bersandar pada sandaran ranjang. Dia tambak menahan kesedihannya.
"Vina, Kakak bermimpi melihat Mas Deni hendak masuk ke jurang. Meski aku sudah melarangnya, dia tidak mendengarkan aku. Dia jatuh ke jurang, Vani," tangis Vani pecah sambil bercerita.
"Kak Vani, jangan terlalu sedih, itu hanya mimpi. Mana mungkin Mas Deni akan melakukan itu? Dia pasti baik-baik saja," kata Vina berusaha menenangkan Kakaknya.
"Aku ... Vina, jangan bilang pada Mami. Aku tidak ingin membuat Mami sedih," ucap Vani gugup.
"Kak Vani tenang saja, Vina tidak akan bilang Mami," ucap Vina sambil memegang tangan Kakaknya.
Vani menunduk sedih. Meskipun kini dia sudah jauh meninggalkan Deni, tetapi ternyata, jarak tidak bisa menghapuskan rasa rindu yang seharusnya tidak boleh dia rasakan. Airmata ini menjadi bukti, bahwa antara cinta dan benci itu perbedaannya sangat tipis. Hingga dia tidak bisa mengatakan apakah saat ini dia masih cinta ataukah dia membencinya.
"Kak Vani, kita tidur lagi. Vina akan menemani Kak Vani sampai Kak Vani tertidur," ucap Vina membantu Kakaknya berbaring.
Malam semakin larut. Vani dan Vina, mencoba memejamkan mata, walaupun mereka baru bisa tertidur ketika pagi mulai menjelang.
Keesokan harinya, Vani dan Vina terlambat bangun karena baru saja tertidur. Sehingga membuat Mami Winda bergegas membangunkan mereka. Mami Winda mengetuk pintu kamar Vani hingga beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
Dengan terpaksa, Mami Winda membaik pintu dan beliau sangat terkejut melihat kedua putrinya masih terlelap didalam tidurnya. Dalam posisi saling berhadapan, mereka tidur seolah menunjukan hubungan yang sangat akrab diantara keduanya.
Mami Winda, membenarkan selimut mereka yang tidak beraturan karena tidur mereka yang seenaknya. Mami Winda lalu melangkah pergi meninggalkan kedua putrinya tidur.
Di meja makan, Vano sudah menunggu untuk sarapan bersama. Dia terkejut saat melihat Mami-nya datang seorang diri tanpa adik dan saudara kembarnya.
"Mami, kok sendirian, Vani, Vina dimana?" tanya Vano bingung.
"Mereka masih tidur. Mungkin mereka ngobrolnya sampai malam, jadi sampai saat ini mereka belum bangun. Kita sarapan dulu saja, biar nanti mereka menyusul," jawab Mami Winda.
"Oke Mami. Kita sarapan berdua saja."
"Oh ya, Vano. Hari ini kamu jadi ajak mereka jalan-jalan, bukan?" tanya Mami Winda sambil mengambil nasi.
"Jadi, Mi. Demi adik-adik berdua, Vano bolos kerja lagi," jawab Vano sambil tersenyum
"Jadi merepotkan kamu. Bagaimana dengan perusahaan Nenek?" tanya Mami sambil memberikan nasi pada Vano.
"Semua baik-baik saja. Mami tidak perlu khawatir. Ditambah lagi, nanti Vani ikut kerja bareng Vano. Pokoknya Mami tenang saja," jawab Vano.
"Mami senang mendengarnya. Baiklah, mari kita berdoa dulu sebelum makan," ucap Mami Winda lalu memulai berdoa.
__ADS_1
Bersambung