Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 50. Pernikahan Vano


__ADS_3

Deni menarik napas dalam-dalam dan dihembuskannya pelan, untuk menata hatinya yang mulai galau. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tetapi Deni takut jika nanti Deva mengadu pada Mami-nya, nanti Vani bisa kesal padanya karena dianggap ingin menyelidikinya.


"Riko, kamu pending semua pertemuan sore ini untuk besok saja," perintah Deni pada Riko.


"Siap, Bos," ucap Riko lalu keluar untuk melaksanakan tugas.


"Deva, ini ada makanan ringan. Tuh, banyak bukan?" kata Deni mencoba membuat Deva senang.


"Hole, wah ... banyak banget, Om!" teriak Deva.


"Om bantu buka, mau yang mana dulu?" tanya Deni penuh perhatian.


"Ini ... ehm ... ini juga." Deva bingung mau makan yang mana terlebih dulu.


Deni membukakan beberapa snack yang di tunjuk Deva. Hatinya senang melihat Deva begitu antusias dengan pemberiannya. Ternyata, dia bisa begitu akrab dengan Deva.


Apakah karena adanya ikatan batin antara aku dan dia, batin Deni.


Deva tersenyum senang menerima makanan ringan dari tangan Deni. Deni duduk sambil terus memperhatikan wajah Deva yang memang sangat mirip dengannya.


"Deva, makannya jangan terburu-buru. Pelan-pelan saja. Enak, tidak?" tanya Deni sambil mengelus rambut Deva.


"Hmm, enak Om." Deva menjawab sambil mengelak usapan Deni.


Untuk sesaat Deni terdiam. Deva menolak tangannya.


"Deva benci pada, Om Deni, atau Deva marah pada Om?" tanya Deni heran.


"Tidak," jawab Deva singkat.


"Tapi, kenapa kamu menolak tangan, Om?" tanya Deni lagi.


"Deva ini laki-laki, kepala adalah keholmatan. Nanti kalau Deva besal, Deva mau jagain Mami," jawab Deva seperti pria dewasa.


"Deva kan sudah ada ayah. Ayah Deva yang jagain Mami," kata Deni mencoba mencari sedikit info.


"Ayah mau nikah, jadi Mami ...."


"Deva, ayo kita pulang," ajak Vani menghentikan ucapan Deva yang sempat membuat Deni syok.


"Vani, biar dia habiskan makanan di tangannya dulu," ucap Deni berusaha menghentikan Vani.


"Tidak perlu, dia harus pulang sekarang," ucap Vani sambil sedikit memaksa Deva untuk pulang.


Deni hanya bisa diam dan membiarkan Vani membawa paksa Deva. Wajah Deva tampak sedih dan terlihat matanya berkaca-kaca. Deva ingin membawa makanan ringan yang diberikan Deni padanya, tetapi ibunya melarang dengan paksa hingga berserakan dilantai.


Deni menarik napas dalam-dalam, hampir dia ingin memeluk Vani, agar mereka berdua tidak pergi. Kakinya terasa lemas, dan dia terduduk di kursi. Penyesalannya sudah tidak berguna lagi.


Tetapi, jika benar apa yang dikatakan Deva, ayahnya akan menikah, bukankah itu berarti Vani akan diduakan? Apakah karena itu dia marah dan menyalahkan aku, batin Deni.


"Tidak bisa. Aku harus membuat ayahnya Deva tidak menikah lagi. Agar Deva dan Vani tidak sedih lagi," gumam Deni. "Pasti nanti, saat pernikahan Vano, dia pasti datang."


Sementara Vani berhenti di samping mobilnya. Vani tahu apa yang dilakukannya ini salah. Tetapi jika dia tidak memaksa Deva pergi, akan lebih banyak hal lagi yang akan dikatakan Deva pada Deni. Semua sudah baik-baik saja, tidak akan ada yang berubah sekarang.

__ADS_1


"Deva, maafkan ibu. Ibu tidak bermaksud menyakitimu," ucap Vani sambil meneteskan airmata dan berjongkok di depan Deva.


"Mami, jangan menangis. Deva jadi ingin ikut menangis," ucap deva sambil mengusap airmata Maminya.


"Mami ...." Vani tidak sanggup meneruskan kata-katanya.


"Jika Mami tidak suka, Deva belsama Om Deni, Deva tidak akan bicara dengan Om Deni lagi," ucap Deva sedih


"Bukan begitu sayang. Kamu boleh bicara dengan Om Deni, tapi jangan beritahu apapun tentang ayah atau Mami padanya, oke?" pinta Vani pada Deva.


"Baik, Mami, Deva janji."


Vani lalu mengajak Deva masuk kedalam mobil. Mereka segera pulang untuk beristirahat karena hari sudah semakin sore. Sesampainya di rumah, hari sudah mulai malam. Vani dan Deva segera mandi dan berganti pakaian untuk segera ikut berkumpul bersama anggota keluarga yang lain.


"Vani, Mami lihat tadi, kalian tadi baru pulang? Dari mana, rumah ayahmu?" tanya Mami Winda saat Vani dan Deva datang.


"Iya, Mami. Kami dari rumah Ayah, lalu aku menemui teman lama Vani," jawab Vani sambil duduk bersama Deva.


"Ya sudah. Karena semua sudah berkumpul, Papi akan memberitahukan sesuatu yang penting, saat Papi datang kerumah orangtua Clarisa. Secara resmi, kami meminang Clarisa untuk Deni. Sedangkan hari pernikahan yang sudah ditetapkan sebelumnya akan tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Yaitu seminggu lagi. Jadi Papi mohon kerjasamanya untuk persiapan terakhir. Siapkan diri kita, maksud Papi," kata dokter Dimas panjang lebar


"Saya sudah siap lahir batin, Pakaian baru, sepatu baru juga make up baru," kata Vina membuat semua yang ada di ruang keluarga tertawa mendengarnya.


"Vina ... jangan bikin kita tertawa. Kalau itu, kita semua sudah siap, Deva juga," ucap Vani sambil mencium Deva.


"Karena semua sudah siap, ayo kita makan malam saja. Pasti semua juga sudah lapar," kata dokter Dimas sambil berdiri.


Mereka sekeluarga berkumpul dimeja makan untuk makan bersama. Keluarga dokter Dimas dan Mami Winda kini lengkap sudah. Bahkan bertambah satu anggota baru, yaitu Deva. Kebahagiaan yang sudah lama ingin mereka rasakan setelah hilangnya Vani saat kecil dulu.


Seminggu kemudian, pesta pernikahan Vano dan clarisa sedang di gelar. Semua tamu undangan telah datang untuk menyaksikan pernikahan mereka.


Selesai acara pernikahan, diadakan pesta untuk kedua pengantin baru. Acara makan-makan dan pemberian ucapan selamat untuk kedua mempelai.


Vani sedang sibuk menyambut para tamu undangan dan menyapa satu persatu. Saat itu, Vani menyerahkan Deva pada Vina. Sayangnya, Vina ingin bersama teman-temannya yang juga datang atas undangannya. Wajahnya tampak cemberut karena kesal.


"Vina, kamu kenapa? kesal?" sapa Deni.


"Iya nih, Kak Vani. Aku juga kan pingin berpesta bersama temen Vina. Tapi, coba lihat, aku disuruh jaga Deva. Kesel kan?" jawab Vina kesal.


"Begini saja, aku bantu kamu jaga Deva. Bagiamana?" tanya Deni mencari kesempatan.


"Boleh-boleh. Makasih ya Kak Deni. Deva, Tante ada hal penting. Kamu sama Om Deni ya. Nurut sama Om Deni, oke?" kata Vina pad Deva.


"Oke Tante," jawab Deva singkat.


"Deva, ketemu lagi. Deva mau keluar sebentar sama Om Deni? Kita jalan-jalan keliling kota, oke?" tanya Deni penuh harap.


"Oke," jawab Deva.


Deni menggendong Deva keluar dari pesta pernikahan Vano. Sebelum pergi, Deni mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Vani. Dia mengatakan bahwa Deva pergi jalan-jalan dengannya dan akan mengajaknya mampir ke rumahnya sebentar.


Deni dan Deva pergi ke sebuah taman bermain yang ada di tengah kota. Semua permainan yang belum pernah Deva tahu apalagi bisa bermain disana. Deni mengajak Deva memilih permainan yang Deva sukai. Ternyata Deva menyukai semuanya. Jadi terpaksa, Deni memenuhi semua keinginan Deva. Padahal ada beberapa permainan anak-anak yang bisa membuat Deni mabuk.


Melihat Deni muntah-muntah, Deva bingung dan kasihan melihat Deni. Tetapi Deva hanyalah anak-anak, apa yang bisa dia lakukan?

__ADS_1


Deni menghubungi Riko dan meminta dia menjemput mereka di taman bermain. Deni dan Deva menunggu kedatangan Riko sambil membeli es krim kesukaan Deva.


Tidak berapa lama, datanglah Riko yang sudah siap menjemputnya. Riko memberikan beberapa permen pelega tenggorokan, supaya Bosnya tidak mual lagi. Mereka bertiga pulang ke rumah Deni, karena tubuh Deni bau muntahan dan harus mandi serta berganti pakaian. Selama perjalanan, Deva tertidur karena lelah bermain.


Sampai dirumah Deni, Riko membantu membawa Deva masuk.


"Bawa ke kamarku. Biar dia tidur dengan nyaman," perintah Deni. Mereka masuk dan ketika bibi membuka pintu, bibik tampak cemas.


"Ada apa, Bik? Bibik tampak cemas?" tanya Deni.


"Didalam ada Nyonya Yanti," jawab Bibik gugup.


"Oh, tidak apa-apa, Bik. Bibik masak saja untuk makan malam," kata Deni menenangkan Bibik.


"Baik Tuan," jawab Bibik singkat.


Deni dan Riko saling berpandangan.


"Masuk saja," kata Deni kemudian.


Di ruang tamu, Vani tampak mondar-mandir menunggu sesuatu. Dia tertegun melihat orang yang ditunggunya sudah datang.


"Mana Deva, aku akan membawanya pulang?" tanya Vani kesal.


"Di sedang tidur. Biarkan dia tidur di kamarku sebentar," jawab Deni.


"Tidak, aku akan membawanya pulang. Bawa kemari Riko!" kata Vani agak kencang nada bicaranya.


"Tidak, Jangan Riko. Vani, biarkan dia tidur dengan nyaman disini. Kasihan, tadi dia kelelahan karena aku ajak dia bermain di taman bermain," kata Deni menjelaskan.


"Tidak. Aku tetap akan membawanya pulang," ucap Vani makin kesal.


Melihat, Vani tetap ngotot dan terus memaksa untuk membawa Deva pulang, Deni memikirkan cara untuk menghentikannya. Tanpa pikir panjang lagi, Deni mendekati Vani dan Memeluknya erat


"Riko, cepat bawa masuk ke kamarku!" teriak Deni. Mendengar perintah Bos-nya, Riko langsung membawa Deva yang masih tertidur kekamar Deni.


"Lepaskan, biar aku bawa Deva pulang. Atau aku akan berteriak di sini," ucap Vani sambil berusaha melepaskan pelukan Deni.


"Coba saja berteriak, tidak akan ada yang mendengar," kata Deni seolah menantang Vani.


Mendengar tantangan Deni, Vani berniat berteriak sekencang-kencangnya agar terdengar sampai ke luar rumah.


"Tolong ... to ...." suara Vani terhenti seketika dan matanya membulat karena kaget.


Deni mencium bibir Vani untuk menghentikan teriakannya. Memang benar, ciuman Deni tidak hanya bisa menghentikan teriakan Vani tetapi juga mampu membuat jantung Vani kembali berdetak kencang tak beraturan.


Tangan Vani yang tadinya kuat ingin mendorong tubuh Deni, berubah memegang erat tubuh Deni dan tanpa sadar, Vani membalas ciuman Deni. Sekarang giliran mata Deni yang membulat karena kaget mendapat balasan ciuman dari Vani.


Senang, bahagia sedih dan gembira membuat hati Deni bergetar. Detak jantungnya tidak lagi bisa seirama. Deni tidak peduli lagi dengan status mantan yang ada diantara mereka. Mantan istri dan mantan suami. yang ada hanya cinta yang lama terpendam bersama rindu yang memuncak selama hampir 4 tahun mereka berpisah.


Ciuman mereka semakin panas. Saat Riko keluar dari kamar Deni dan mendapati sepasang orang yang saling melepaskan rindu, membayar Riko memutuskan untuk pergi tanpa pamit. Sayangnya, Riko menyenggol sebuah benda yang akhirnya jatuh Deni dan Vani melepaskan ciuman masing-masing.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2