
Vano dan Clarisa, memutuskan untuk menjalin kembali jalinan cinta yang telah putus. Mereka memulai dari awal lagi. Mereka tidak segera menikah dan ingin memahami satu sama lain sebelum menikah.
Mereka memutuskan untuk menikah setelah bersama selama hampir 2 tahun. Saat itu, Vano sudah selesai kuliah dan bekerja di perusahaan Nenek yang kini telah dibagi menjadi 2 untuk Vano dan Vani.
Tetapi karena orangtua Clarisa tinggal di Indonesia, maka pernikahan mereka akan dilaksanakan di Indonesia. Jadi mau tidak mau, Vani dan Deva juga harus ikut pulang ke Indonesia.
Meskipun Vani sebenarnya tidak ingin kembali ke Indonesia, tetapi demi saudara kembarnya, dia harus kembali.
"Vani, jika kamu tidak ingin kembali, aku tidak akan memaksamu. Aku tidak ingin melihatmu sedih dan mengingat masa lalu. Bukan tidak mungkin, jika kamu kembali, kamu tidak akan sedih," ucap Vano sambil membantu Vano membereskan pakaian Deva.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan terpengaruh dengan apapun lagi termasuk pada mantan suamiku. Aku ingin melihat kalian menikah hanya itu saja," jawab Vani sambil tersenyum.
"Baiklah, aku juga tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian," ucap Vani kemudian.
"Terima kasih, saudara kembar ku."
Siangnya, rombongan keluarga Vani, Deva dan Vano berangkat bersama Clarisa. Mereka pulang untuk memulai rencana pernikahan Vano dan Clarisa. Seminggu setelahnya, mereka akan segera menikah.
Sampailah mereka di rumah Papi Dimas. Vano sibuk mengurus persiapan pernikahan bersama Clarisa. Sedangkan Vani hanya duduk berdiam di rumah bersama Deva.
"Kak Vani, kita ajak Deva keluar. Deva kan belum pernah melihat indahnya kota B ini," kata Vina pada Kakaknya.
"Baiklah, tapi jangan jauh-jauh perginya," jawab Vani sambil tersenyum.
"Kita ketempat yang terdekat saja. Ada sebuah Mall baru, kita akan coba lihat-lihat disana."
"Oke, aku mandiin Deva dulu."
Vani mengajak Deva untuk segera mandi dan berganti pakaian. Mereka harus segera berangkat, mumpung hari masih sore.
Vina rupanya sudah belajar naik mobil dan sudah mendapatkan SIM atau Surat Izin Mengemudi.
Hanya beberapa menit perjalanan, mereka sudah sampai di sebuah Mall yang cukup ramai pengunjung. Mereka turun dari mobil, dan segera melangkah menuju ke dalam Mall.
Saat mereka baru masuk, Vani sangat terkejut melihat seseorang yang pernah mengisi hatinya.
"Deni," gumam Vani pelan.
"Hai, kak Deni. Kenapa kamu bisa berada di sini?" sapa Vina saat mereka berpapasan.
"Ini, Mall baru kami yang baru dibuka. Silakan pilih yang kamu suka. Kak Deni beri gratis untukmu," jawab Deni sambil tersenyum.
Sementara, Vani tak tertegun melihat Deni. Tangannya erat memegang tangan Deva yang tiba-tiba berteriak.
"Mami ... atit!" teriak Deva.
"Maaf, Mami pegangnya terlalu erat. Mami takut Deva hilang," elak Vani takut ketahuan jika Vani kaget ketika melihat Deni.
Deni sangat terkejut melihat Vani bersama seorang anak kecil. Bahkan dia memanggil Vani dengan sebutan Mami.
"Vani, apa kabar?" sapa Deni.
"Baik," jawab Vani berusaha tidak gugup.
"Siapa anak laki-laki ini, anakmu? Dia memanggilmu Mami," tanya Deni penasaran.
"Ya, dia anakku," jawab Vani sambil memeluk Deva.
__ADS_1
"Apakah dia anakku?" tanya Deni sambil berusaha menyentuh Deva.
"Tidak. Dia anakku, tapi bukan anakmu. Vina ayo kita pergi ke tempat lain saja," ajak Vani kemudian.
"Tunggu, aku tidak akan mengganggu kalian. Jadi kalian tidak perlu pindah. Vani, sesuai janjiku, pilihlah yang kalian suka. Ini, tanda tidak perlu bayar. Kalian tunjukan saja ini, pasti kasir akan mengerti," kata Deni menjelaskan.
"Terima kasih Kak Deni," ucap Vina.
"Sama-sama, Kak Deni pergi dulu."
Setelah berpamitan pada Vina dan Vani, Deni langsung pergi yang segera disambut oleh gadis yang pernah dilihat Vani di dalam Majalah dulu. Mungkin, sekarang mereka sudah menikah.
"Vina, kita pergi saja. Kaka tidak nyaman ada di Mall miliknya. Lebih baik cari yang lain saja," kata Vani canggung.
"Kak Vani, apalah Kak Vani masih mencintai Kak Deni?" tanya Vina sambil menatap kakaknya.
"Tidak," jawab Vani.
"Kalau begitu, kenapa mesti merasa tidak nyaman. Nikmati saja, apa yang dia kasih. Sebentar lagi, Kak Deni akan menikah. Jadi, Kak Vani harus menghilangkan perasaan tidak nyaman itu," kata Vina sambil meraih tangan Deva dari tangan Vani.
Vani dan Deva berjalan pelan menuju ke sebuah tempat penjualan permainan anak-anak. Vani hanya bisa mengikuti kemauan Vina. Pikirannya masih tertuju pada Deni.
Vani agak kesal pada dirinya. Hampir 4 tahun berpisah, Vani kira, dia sudah bisa move on dari sang mantan. Tetapi kenyataannya dia belum bisa melepaskan cinta.
"Mami," panggil Deva sambil menunjukkan sebuah mainan yang dia suka.
"Iya, setelah beli ini, kita pulang ya?" tanya Vani pada Deva.
Deva hanya mengangguk pelan yang disambut senyum oleh Vani.
"Pilih apa, mainan?"
"Ya enggak Kak. Aku mau pilih baju, bentar ya Kak," Vina berkata lalu pergi.
Tidak lama kemudian, Vina sudah datang dengan membawa baju pilihannya. Vina ingin menggunakan kartu spesial dari Deni, tetapi Vani melarangnya. Akhirnya Vani membayar pilihan Deva dan Vina.
Sejak kejadian itu, Vani lebih berhati-hati untuk pergi keluar karena takut akan bertemu Deni lagi. Vani tidak ingin Deni tahu jika Deva adalah anaknya.
Ditengah ketakutannya, Vani berniat menemui ayahnya, pak Hadi. Dia membawa Deva juga untuk mengenalkannya pada ayahnya. Vani berharap jika ayahnya, baik-baik saja.
"Ayah, Vani minta maaf. Karena selama ini Vani tidak memberikan kabar pada ayah," ucap Vani gugup.
"Vani, ayah tahu kesulitan mu. Ayah sudah bahagia, saat tahu kamu baik-baik saja." kata pak Hadi. "Oh, siapa anak kecil ini?"
"Ayah, ini cucu ayah. Anaknya Vani," jawab Vani sambil tersenyum. Airmatanya tiba-tiba menetes perlahan.
"Cucu ayah, siapa namamu, nak?" tanya pak Hadi bahagia.
"Depa ...." jawab Deva singkat.
"Namamu bagus sekali, Depa," ucap pak Hadi sambil memeluk Deva.
"Deva, ayah. Bukan Depa," kata Vani membenarkan ucapan Deva yang masih belum bisa berkata Deva.
"Oh, Deva. Deva, ini Kakek," kata pak Hadi.
"Deva, panggil dia Kakek!" perintah Vani pelan.
__ADS_1
"Kakek, Kakek ...." ucap Deva berulang-ulang.
"Anakmu ini menggemaskan sekali, Vani. Dimana, suamimu. Kenapa tidak kamu ajak menemui Ayah?" tanya pak Hadi penasaran.
"Vani tidak menikah lagi, Ayah. Vani di sana, sibuk kuliah dan bekerja," jawab Vani sambil menghela napas panjang.
"Lalu, dia anakmu dengan ... jangan bilang kalau anak ini, anak kamu dengan Deni?" tanya Pak Hadi sambil menatap tajam Vani.
"Benar, Ayah. Deva adalah anakku dengan Deni. Tapi, Ayah, Vani mohon, jangan bilang pada Deni. Aku tidak mau mengusik kehidupannya yang sudah bahagia," jawab Vani.
"Apa maksudmu Deni tidak boleh tahu, dia ayahnya. Dia juga berhak tahu, Vani. Kenapa harus kamu sembunyikan darinya?" tanya pak Hadi.
"Ayah, aku tahu Deni akan segera menikah. Vani tidak ingin merusak hubungan barunya. Sudahlah, Ayah. Vani ke sini, tidak ingin membahas Deni. Vani hanya ingin Deva mengenal Kakeknya," jawab Vani berusaha membuat ayahnya tidak bertanya lagi tentang Deni.
"Maafkan Ayah. Ayah mau bermain bersama Deva," kata pak Hadi lalu mengajak Deva bermain mainan Vani waktu kecil.
Pak Hadi menunjukkan pada Deva, mainan pa saja yang di sukai Vani saat kecil. Sebuah boneka dan beberapa robot, masih tersimpan rapi dan bersih di lemari.
Vani bahagia melihat pak Hadi dan Deva terlihat sangat akrab hanya dalam waktu beberapa menit saja. Vani melangkah keluar rumah untuk melihat dan merasakan suasana tempat yang pernah menjadi tempatnya tinggal cukup lama. Semuanya masih tetap sama. Tetapi, mungkin Vani yang sudah berubah dewasa.
Vani tersenyum saat seorang wanita paruh baya datang mendekatinya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Neng siapa, dan mau mencari siapa?" tanyanya yang membuat Vani kaget.
Wanita itu seolah menganggap dirinya tuan rumah di rumah ayahnya.
"Aku mencari ayah. Ibu ini siapa?" tanya Vani bingung.
"Ayah, apakah Neng anaknya Mas Hadi, yang pergi ke luar negeri?" tanya wanita itu kaget.
"Benar, darimana ibu tahu aku diluar negeri?" tanya Vani kaget juga.
"Perkenalkan, Mirna, istri baru ayahmu," jawab wanita itu sambil tersenyum.
Vani tidak percaya jika wanita yang ada didepannya adalah istri ayahnya. Dulu, ayahnya selalu menolak untuk menikah lagi. Sekarang, tiba-tiba setelah Vani pergi, ayahnya baru mau menikah lagi?
"Vani. Ibu sudah lama kenal ayahku?" tanya Vani sambil menyambut uluran tangan Bu Mirna.
"Sudah, hampir 2 tahun. Dan kami baru menikah 6 bulan yang lalu. Masuklah, Neng Vani. Ayahmu ada di rumah," kata Bu Mirna ramah.
"Aku sudah masuk dari tadi. Ayah sedang bersama anakku. Makanya aku keluar, ingin menghirup udara di sini," jawab Vani membalas senyum Bu Mirna.
Vani sangat bahagia melihat Bu Mirna sangat baik dan wanita yang lembut. Vani sekarang bisa bernapas lega melihat ayahnya sudah menemukan kebahagiaan dengan menikahi wanita yang baik seperti Bu Mirna.
"Nek Vani, ibu harus masuk untuk memasak. Sekalian nanti kalian makan siang di rumah ini. Ayahmu sangat merindukanmu, Neng Vani," ucap Bu Mirna.
"Iya, Bu Mirna. Nanti, aku dan Deva akan makan siang di sini. Terima kasih, Bu Mirna sudah menjaga ayahku dengan baik dan mencintainya," kata Vani sambil tersenyum manis.
"Bukan ibu yang menjaga ayahmu, tapi ayahmu yang menjaga ibu. Ayahmu pria yang sangat baik. Ibu pasti akan mencintainya dengan tulus," jawab Bu Mirna.
"Vani akan membantu Bu Mirna membawa belanjaan dan aku juga akan membantu Bu Mirna masak," kata Vani sambil membantu Bu Mirna membawa barang belanjaan.
"Tidak perlu, Neng. Ibu bisa bawa sendiri," jawab Bu Mirna menolak Vani yang ingin membawa barang belanjaannya.
Vani dan Bu Mirna masuk ke dalam rumah untuk segera memasak. Meskipun Vani hanya bisa membantu dengan hal-hal sederhana. Seperti mengupas wortel, mencucinya lalu memotong-motong cabe dan bawang merah. Mereka melakukannya dengan hati gembira.
Itulah salah satu kebahagiaan yang Vani rasakan setelah kembali ke Indonesia. Vani berharap, akan ada kebahagiaan lagi yang akan mengikutinya kedepannya setelah kembali.
__ADS_1