
Waktu menunjukkan hampir tengah malam, ketika perlahan pintu ruang perawatan Gabriel terbuka. Seorang pria memakai masker dan topi masuk ke dalamnya. Berusaha membuat suara sesedikit mungkin.
Tangan orang itu memakai sarung tangan. Mendekat ke arah ranjang Gabriel. Sejenak melirik ke kanan dan ke kiri. Lalu tanpa ragu, melepas ventilator yang menjadi penopang hidup Gabriel, selama beberapa waktu terakhir ini.
Monitor ventilator langsung berbunyi memberi peringatan kalau pasokan udara pasien terputus. Dengan cepat pria itu melesat keluar dari sana. Nurse station langsung heboh. Mereka langsung berhamburan masuk ke ruang perawatan Gabriel. Begitu alarm peringatan berbunyi.
Selang ventilator langsung dipasang kembali. Pemeriksaan secara menyeluruh dilakukan. Semua bernafas lega, keadaan Gabriel masih bisa di selamatkan.
Farris masuk dengan tergesa-gesa ke ruang perawatan Gabriel. Begitu seorang bodyguard menghubunginya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Farris panik.
"Pasien hampir mengalami kejang. Tapi kami bisa mengatasinya. Kondisinya sekarang stabil"
Farris menarik nafasnya lega. Menatap ke arah Gabriel.
"Perketat penjagaan" Perintah Farris kepada para bodyguardnya. Mereka menganggukkan kepalanya.
"Halo Ann, kita mendapatkan satu bukti lagi" Farris menghubungi Annelka.
Di seberang sana, Annelka menutup ponselnya, sambil menarik nafasnya.
"Ada apa?" Tanya Aya.
"Tidak ada. Kita bicarakan besok. Ayo tidur lagi" Ajak Annelka.
***
"Tapi wajah orang itu tidak terlihat" Umpat Ed.
Mereka tengah mengamati CCTV yang berada di kamar Gabriel.
"Mereka berhasil menangkapnya. Namun orang itu bisa melarikan diri lagi. Sial!" Tria ikut mengumpat.
Keempatnya menarik nafas bersamaan. Merasa sia-sia dengan semua.
"Hanya dengan kesembuhan Gabriel kita bisa mengetahui semuanya. Apa yang dia sembunyikan dan juga ketahui"
Yang lain mengangguk, menyetujui ucapan Farris.
Di sisi lain,
"Yang benar saja, James. Aku tidak harus ke sana kan?" Aya hampir berteriak saking kesalnya.
"Dia mencarimu. Jika kau tidak ke sini, dia yang akan ke sana"
"Apa kau tidak memberitahunya kalau aku sudah menikah"
"Karena itulah dia bersikeras ingin bertemu denganmu"
"Tapi James, hubunganku dengan Arash hanyalah...bagaimana aku mengatakannya...tidak serius. Kau tahu kan keadaanku waktu itu"
"Aku paham Ay, tapi Arash tidak. Dia menyukaimu sejak saat itu"
"Aiishhh anak itu, kenapa jadi begini sih. Sudah sahamku bermasalah. Suamiku juga baru pulih dari krisis di perusahaannya. Dan sekarang Arash muncul. Menambah masalahku makin banyak saja" Gerutu Aya.
__ADS_1
"Soal sahammu, mungkin aku bisa mengatasinya. Kau tidak perlu ke sini. Tapi untuk Arash, aku tidak bisa menghandle-nya. Yang itu kau atasi sendiri. Kau tahu kan Arash keras kepala"
"Kau pikir suamiku tidak" Potong Aya cepat.
"Oh iya, aku hampir lupa. Suamimu itu, si Annelka Carter juga terkenal keras dan kaku. Pebisnis yang pernah bekerjasama dengannya sering mengeluh padaku. Sulit menghadapi Annelka. Tapi sebanding denganmu. Kau saja sangat sulit dihadapi" Kekeh pria yang Aya panggil James itu.
Aya terdengar mendengus geram. Mendengar ucapan James.
"Berarti hanya suamimu yang bisa mengatasi sifatmu yang seperti gunung berapi itu. Meledak-ledak, tidak bisa di prediksi apa kemauannya" Ledek James.
"Jangan meledekku!"
"Itu kenyataannya, nona muda Wibisana"
Aya tersenyum. Hanya James yang suka memanggilnya dengan panggilan itu. Persis seperti kakaknya dulu memanggilnya.
"Bagaimana traumamu? Farris bilang segel yang ayahku buat terbuka. Apa sekarang kau baik-baik saja?" Suara James terdengar khawatir.
"Aku sedikit demi sedikit bisa mengatasinya. Plus aku mendapat tambahan. Aku mengingat hari di mana papa, mama dan kakakku dibunuh"
"Kau mengingatnya? Kau ingat siapa pelakunya?" Cecar James.
"Aku ingat tapi...itu belum bisa dijadikan bukti untuk menyeret orang itu ke penjara" Aya berujar sambil mengatupkan rahangnya menahan amarah.
"Bersabarlah. Mereka menanam, pasti suatu saat akan memanen hasilnya"
"Annelka sedang mengumpulkan bukti untuk membawanya ke penjara" Jelas Aya.
"Annelka tahu"
"Gila! Ada orang ya seperti itu"
"Adalah. Oh iya, Annelka sedang mengajukan pencairan aset papa"
"Wah, kau akan lebih kaya dari suamimu"
"Tidak juga. Yang dia punya sekarang belum semuanya. Aset keluarga Carter belum sepenuhnya diserahkan pada Annelka"
"Andai saja dia tahu siapa kamu. Pemilik FA Inc. Perusahaan IT yang berbasis di Guangzhou. Bekerjasama dengan A&A Hitech Corp"
"Jangan pernah membocorkan identitasku pada Annelka. Sampai aku sendiri yang memberitahunya"
"Aku tidak berani, Nona. So back to Arash. Bagaimana kau akan mengatasinya?"
"Entahlah, James. Sementara kau urus dulu sahamku. Aku tidak tahu kapan bisa ke sana. Lagipula kan memang kau yang selalu tampil di publik"
"Boleh saja. Asal bayarannya sebanding"
"Tidak masalah"
"Kau sedang bicara dengan siapa?" Terdengar Annelka bertanya di belakang Aya.
"Temanku" Jawab Aya. Mematikan panggilannya pada James. Annelka sedikit mengerutkan dahinya melihat sikap aneh Aya.
"Siapa?"
__ADS_1
"Namanya James. Dia temanku waktu aku diterapi di China. Putra dari terapisku" Jelas Aya.
Annelka memicingkan matanya. Menatap penuh selidik kepada istrinya. Gabriel dan sekarang James. Annelka pikir hidup Aya selalu dikelilingi oleh pria.
Sementara itu, seorang pria berwajah oriental, tak kalah tampan dengan Annelka. Tengah keluar dari pintu VIP kedatangan internasional. Menyeret kopernya sambil membenahi kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Faya Ayunda, I'm coming"
Pria itu masuk ke sebuah mobil yang sudah menunggunya. Tak lama mobil itu melaju menuju salah satu hotel mewah yang ada di kota itu.
"Apa dia sudah pulang?" Tanya pria itu.
"Sudah, Tuan. Sejak menikah dia sedikit membatasi jam kerjanya di rumah sakit"
"Annelka Javier Carter" Guman pria itu.
Arash Tan, 29 tahun. Sebaya Annelka. Salah satu pebisnis dari klan Tan di daratan Cina. Keluarganya menguasai hampir 30 persen dari pasar China. Bersanding dengan klan Wang dan Liu. Sejak 10 tahun lalu, Arash sudah menaruh hati pada Aya. Yang kala itu tengah berada di Guangzhou untuk penyembuhan traumanya.
Bahkan ketika Aya memutuskan kembali ke negaranya sendiri. Perasaan Arash tidak berubah. Meski dia mendengar sang wanita impian sudah menikah. Tidak juga menyurutkan rasa yang dia punya untuk Aya.
Gila, mungkin itu kata yang tepat untuk Arash. Dia bersikeras mengejar Aya. Ingin memiliki cinta Aya, meski tahu harus merebutnya dari Annelka.
Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang hotel presidensuit room yang dia pesan. Menatap wajah Aya yang tengah memakai gaun pengantin saat pernikahannya dengan Annelka.
"Aku yakin kau tidak bahagia dengan pernikahanmu" Guman Arash. Menatap wajah sedih Aya dalam foto pernikahan itu.
"Aku sudah menolak semua wanita yang dijodohkan denganku. Karena aku hanya menginginkan kamu seorang"
Arash adalah penerus dari klan Tan. Mengingat usianya yang hampir kepala tiga. Keluarganya mendesak Arash untuk segera menikah. Bahkan perjodohan pun mulai di lakukan padanya. Namun semua Arash tolak.
Keluarga Arash jelas kelabakan dengan sikap Arash. Apalagi ketika mereka tahu alasan Arash menolak semua perjodohan yang datang padanya. Arash hanya menginginkan Faya Ayunda untuk menjadi istrinya.
Dan disinilah Arash. Berdiri di depan rumah sakit tempat Aya bekerja, keesokan harinya. Menatap pada sebuah mobil yang baru saja masuk ke parkiran rumah sakit itu. Hari itu Aya membawa mobilnya sendiri.
Turun bersamaan dengan Farris dan Astrid. Ketiganya saling tersenyum. Dengan Aya yang langsung merangkul Astrid. Senyum manis Aya membuat Arash ikut mengembangkan senyumnya.
"Aku sangat senang bisa melihat senyummu. Senyum yang tidak pernah kulihat selama kau berada di Guangzhou" Batin Arash.
Ketiga orang itu baru akan masuk ke lobi. Ketika tiba-tiba Arash memanggil Aya.
"Faya Ayuda, senang bisa bertemu denganmu lagi"
Aya langsung berbalik. Jelas wanita itu terkejut, melihat Arash di depan matanya.
"Trouble maker datang" Batin Farris. Menatap penuh kode pada Astrid yang menatapnya seolah minta penjelasan. Soal pria yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Siapa?" Bisik Astrid.
"Saingan Annelka" Jawab Farris singkat.
Astrid ber-ooo ria. Dia langsung paham kemana arah pembicaraan Farris.
"Ujian kalian datang"
***
__ADS_1