Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Waktumu Untuk Pergi


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya Annelka panik begitu melihat Farris keluar dari ruang operasi. Di depannya Arash tidak kalah cemasnya.


"Luka tembak di punggung bagian atas. Kami berhasil mengeluarkan proyektil pelurunya. Keadaannya cukup mengkhawatirkan sekarang. Dia kehilangan banyak darah"


Wajah Annelka mengeras seketika. Ada rasa marah dalam dirinya.


"Untung saja bayimu baik-baik saja"


Annelka seketika melongo. Antara lega juga tidak paham. Begitupun dengan Arash.


"Istrimu hamil"


Annelka langsung mengembangkan senyumnya. Namun detik berikutnya wajah pria itu berubah semakin marah.


"Kau lihat apa yang aku lakukan padanya. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Aya. Akan kukejar dia walau sampai ke ujung dunia"


Bersamaan dengan itu Tria masuk dan Ed masuk.


"Polisi akan segera mengusutnya"


"Ya, James?"


Farris mengangkat ponselnya yang berdering.


"Ada sedikit kecelakaan....Annelka? Ya dia bersamaku"


"Apa?" Annelka bertanya.


"James" Farris mengulurkan ponselnya. Sejenak Annelka mendengarkan ucapan James di ponsel Farris. Hingga sejurus kemudian, Annelka meninju tembok di sebelahnya.


Menutup panggilannya.


"Berikan aku laptopmu" Pinta Annelka. Farris dengan cepat mengulurkannya. Membukanya...dan sejurus kemudian mata pria itu membulat.


"Gabriel bilang dia ingat semuanya. Dia mengirimkan bukti kejahatan Duta ke rumahmu"


"Karena inilah Duta mengejarnya" Annelka berucap dengan mata berkaca-kaca. Sesal yang begitu besar dia rasakan.


"Apa maksudmu?" Ed bertanya heran melihat sikap Annelka. Pria itu hanya membalik laptopnya. Memperlihatkan isinya pada Farris, Ed dan Tria. Ketiga orang itu langsung terkejut. Sementara Annelka langsung memejamkan matanya.


"Aya tahu soal semuanya lalu mengirimkan rekaman itu ke e-mailku. Dia tahu orang itu akan mengincarnya begitu tahu, jika bukti kejahatannya ada di tangan Aya"


Annelka ingin menangis sejadi-jadinya. Membaca pesan dari James.


"Jadi benar semua ini ulah Paman Duta" Guman Tria.


"Dia benar-benar manusia tidak punya hati" Maki Ed.


"Berikan bukti itu kepada polisi. Bagaimanapun kita hanya bisa memenjarakannya. Ikutkan hati, aku ingin menembak kepalanya sama seperti ia melakukannya pada Nicky" Perintah Annelka.


Ed dan Tria langsung bergerak. Meninggalkan Farris dan Annelka dalam diam.


"Aku benar-benar tidak menyangka Nick, jika kau pergi dengan cara yang begitu menyakitkan"


Beberapa waktu sebelumnya,


"Tuan sudah waktunya" Ricky memperingatkan. Dia sebenarnya cukup kasihan dengan keadaan Aya. Wanita itu jelas kesakitan. Tapi Duta seolah tidak mempedulikannya. Kuku Duta benar-benar melukai kulit Aya.


Mendengar ucapan sang asisten. Duta melepaskan cengkeramnya pada Aya dengan kasar. Membuat wanita itu langsung bernafas lega. Meski lehernya sedikit sakit.


"Kau akan melihat dari sini, bagaimana suamimu akan habis di tangan pembunuh bayaranku" Seringai Duta. Menatap ke arah jendela di mana pemandangannya ternyata langsung mengarah ke lobi kantor Carter Corp.

__ADS_1


"Selamat menikmati pertunjukanku, nona muda Wibisana" Ucap Duta berlalu dari sana. Diikuti Ricky mengekor di belakangnya. Aya menatap nanar ke arah lobi. Juga ke seberang gedung.


"Jaga dia, jangan sampai lepas" Ricky berpesan pada tiga pria itu.


Dari sini dia jelas bisa melihat bagaimana pria itu bersiap dengan penembak di tangannya. Takut dan panik menyerang Aya seketika. Dia menatap sekelilingnya. Tiga pria menjaganya.


Kaki dan tangannya diikat. Sejenak dia merasa putus asa. Akankah dia akan mengalami hal yang sama. Melihat orang yang dia cintai pergi di hadapannya. Tangis putus asa mulai terdengar dari bibir Aya.


Hingga kemudian dia mengangkat wajahnya. Tidak! Dia tidak mau kehilangan lagi. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi. Dia harus bisa mencegah Duta melukai Annelka. Bagaimanapun caranya. Dia harus bisa keluar dari sini.


Mencoba menggerakkan tangannya perlahan. Agar tidak mengundang kecurigaan tiga bodyguard bertampang seram yang menjaganya. Putus asa kembali menerpa, ketika tali itu sama sekali tidak melonggar. Pergelangan tangannya terasa perih karena bergesekan dengan tali kasar itu.


"Bisakan seseorang menolongku. Aku mohon. Dia dalam bahaya. Biarkan aku menyelamatkannya" Sebait doa terucap dalam hati Aya di tengah rasa putus asa yang menerpanya.


Dia terus berusaha melepaskan ikatan di tangannya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya seorang diantara mereka.


"Melarikan diri, apalagi"


Dan sebuah cengkeraman di lengan Aya. Kembali membuat wanita itu meringis.


"Jangan harap kau bisa pergi dari sini, Nona. Setelah dia maka giliranmu"


Dughh,


Aya menekuk lekuknya. Dan tepat mengenai perut orang itu.


"Kurang ajar!"


"Arrgghhh" Aya semakin meringis ketika pria itu menjambak rambut panjang Aya.


"Jangan melawan Nona. Atau kau akan menerima hal yang lebih parah dari ini. Tidak peduli kau nyonya Carter sekalipun"


"Lepaskan tanganmu, brengsek!"


Aya mencoba melihat ke arah pintu. Dimana Arash berdiri di sana dengan wajah marahnya. Sejurus kemudian, perkelahian pun tidak terelakkan.


Pria yang menjambak rambut Aya, melepaskan Aya, lalu ikut menyerang Arash. Yang jelas bukan tandingan ketiganya.


Nafas Arash tersengal ketika dia menginjak dada pria terakhir yang menyerangnya. Membuat orang itu tidak bisa bergerak lagi.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Arash. Melepas tali yang mengikat kaki dan tangan Aya.


"Aku tidak apa-apa...


Tubuh Aya terhuyung ke depan ketika dia mencoba berdiri. Pusing melanda dirinya.


"Brengsek! Siapa dia berani melakukan ini padamu?" Arash bertanya marah ketika melihat wajah Aya memerah akibat kuku Duta.


"Nanti saja" Aya langsung melihat ke seberang gedung. Pria itu masih disana.


"Dimana ini?"


"Lantai sepuluh"


"Annelka?"


"Dia sedang otewe ke lobi"


"Tidak! Arash kita harus ke lobi sekarang"

__ADS_1


"Tapi kau bagaimana? Kau pucat sekali. Kita harus ke rumah sakit sekarang"


"Tidak! Antar aku ke lobi. Cepat!"


Arash tidak bisa membantah. Setengah memeluk Aya yang terlihat begitu pucat. Membawanya keluar dari sana. Menuju lift terdekat. Masuk ke benda persegi itu.


"Sial! Ini hanya sampai lantai dua"


"Tidak masalah"


Aya sedikit menekan perutnya. Rasa mual yang beberapa hari lalu terasa, kini muncul lagi. Ingin sekali dia muntah tapi itu jelas tidak bisa dilakukan.


Untungnyan parfum Arash sepintas mirip dengan parfum Annelka. Membuat rasa mual itu tidak terlalu mengganggunya.


"Ada apa denganku?" Bisik Aya dalam hati. Merapatkan diri pada dekapan Arash.


"Kau tidak apa-apa?"


"Pusing"


Ting, pintu lift terbuka. Mereka berbelok ke sisi kiri dimana tangga darurat berada.


"Kau masih kuat jalan?" Tanya Arash. Mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Aya.


"Ayolah" Pinta Aya setengah memaksa. Tanpa bisa membantah, pria itu membawa Aya menuruni tangga. Wanita itu sudah melepas heels-nya. Memilih bertelanjang kaki.


"Kau melihat Aya?" Tanya Annelka ketika mereka sedang berada di lift. Dua orang yang ditanya hanya diam. Memandangi ponsel mereka masing-masing. Heran, karena ada banyak panggilan dari Farris dan Vania.


"Kenapa Vania menghubungi kita?" Tanya Tria.


"Mungkin Gabriel mengingat sesuatu"


"Mungkin saja. Sayang waktu kita sudah mepet sekarang"


"Kita bisa menjenguknya setelah rapat selesai" Annelka memotong pembicaraan duo asistennya.


"Tria di mana Aya?"


"Aku tidak bisa menghubunginya"


Tanpa mereka tahu. Ponsel Aya ada di saku celana Ricky.


"GPS-nya?"


"Kau kan suaminya. Kenapa aku yang disuruh melacaknya" Gerutu Tria.


"Ponselku di atas. Low bat" Jawab Annelka santai.Tria mendengus kesal.


"Dia ada dia tangga darurat sebelah"


"Ohh, berarti kita akan bertemu di lobi"


Annelka berucap tenang, namun entah kenapa hatinya begitu cemas. Pintu lift terbuka, bersamaan dengan rombongan dewan direksi yang mulai memasuki lobi.


Annelka langsung mengembangkan senyumnya. Meski di antara mereka ada Duta, sang Paman. Namun dia tidak ingin merusak suasana. Jadi berpura-pura saja tidak tahu.


Sama-sama tersenyum. Tapi senyum Duta memiliki makna tersembunyi. Sekilas dia melirik ke atap gedung, tepat di sisi jendela kaca. Di mana satu kilauan berasal dari sana. Sebuah senapan yang siap di tembakkan.


"Nikmati nafas terakhirmu, Annelka. Dan lihatlah bagaimana kau akan menangis untuk ke sekian kalinya" Menatap ke arah lantai sepuluh dimana Aya di sekap di sana.


Satu tangan Duta terangkat. Sebuah kode, dan pria di atap gedung itu mulai membidik sasarannya. Annelka yang sudah selesai bersalaman dengan anggota dewan direksi. Tubuhnya tepat menghadap ke atap gedung sebelah.

__ADS_1


"Waktumu untuk pergi"


****


__ADS_2