
"Jadi apa yang kau inginkan?" Tanya Fabian begitu duduk di hadapan Duta.
"Kau masih sama seperti dulu. Tidak suka basa-basi"
"Dan kau pun sama. Menyukai barang yang bukan milikmu"
Duta menyeringai.
"Dia awalnya milikku. Jika saja, si bodoh itu tidak mengganti perjodohan kami. Aku yang memiliki semuanya"
"Tentu saja dia akan lebih memilih Mario daripada kau. Orang sepertimu tidak pantas menjadi suami Farida, juga memimpin WB Group. Aku kasihan pada Kania. Bagaimana jika dia tahu, kalau dia hanyalah korban dari kebohonganmu"
"Jangan bawa Kania dalam urusan ini. Yang aku inginkan adalah berikan surat kuasa itu padaku"
"Untuk apa? Agar kau bisa menguasai semua?"
"Semua itu adalah milikku. Aku pewaris terakhir dari WB Group yang tersisa"
"Itu menurutmu. Tidak semua terjadi sesuai keinginanmu"
Duta menggeram marah mendengar ucapan Fabian.
"Berikan surat kuasa itu padaku atau...
"Kau akan melenyapkanku sama seperti kau melenyapkan Mario dan keluarganya"
"Bagus kalau kau tahu aku bisa melakukan itu"
"Kau mengakuinya? Kau yang sudah membunuh mereka"
"Apa kau ada bukti atas tuduhanmu itu? Kalau tidak, jangan bicara omong kosong. Berikan surat kuasa itu padaku!"
"Tidak akan pernah. Lebih baik aku serahkan WB Group dibawah pengawasan Carter Group"
"Kau mencari masalah dengan melakukan itu Fabian"
"Dan aku ingin tahu seberapa jauh kau bisa menyelesaikan masalah ini"
Duta mengetatkan rahangnya menahan amarah.
"Kau tahu apa yang akan terjadi padamu. Jika kau berani menantangku"
"Aku selalu menentangmu sejak awal. Apa kau tahu?"
"Kali ini aku akan menunjukkan kalau ancamanku tidak main-main"
Duta berlalu dari hadapan Fabian dengan amarah bergemuruh di dada.
"Harusnya aku melenyapkanmu dari dulu" Batin Duta.
"Maaf, aku terlalu emosi menghadapi Duta"
Pria itu sudah dikelilingi oleh Annelka dan Hendra.
"Tidak juga. Setidaknya ada ancaman dalam percakapan kalian"
"Harusnya Om lebih bisa memancing si kutu kupret itu" Umpat Annelka.
"Kau tidak tahu rasanya, Ann. Dia benar-benar manusia paling ***** yang pernah aku tahu. Ingin rasanya aku menembak kepalanya" Geram Fabian.
"Dia sudah mulai menunjukkan belangnya di hadapanmu, Om. Jadi berhati-hatilah"
"Selalu, Ann"
***
"Kenapa kamu?" Tanya Eva melihat wajah Aya yang ditekuk sepuluh.
"Dia mengundur kepulangan kami"
"Mereka sedang mengurus sesuatu"
"Lalu apa pernikahan kalian diundur?"
"Tidak sih"
"Itu tinggal dua minggu lagi"
__ADS_1
"Yahhh, begitulah"
"Gugup?"
"Memangnya kau dulu tidak?"
"Tidaklah. Aku kan benci setengah mati dengan Annelka waktu aku menikah dengannya"
"Aku lupa. Jadi sekarang bagaimana?"
"Apanya?"
"Hubungan kalian? Masih seperti anjing dan kucing atau tom and Jerry?"
"Itu sama saja Neng. Sama-sama tidak akur"
Eva terkekeh mendengar ucapan Aya.
"Lalu sekarang apa lebih baik? Atau lebih mesra malah" Goda Eva.
"Lebih baik sih....
"Lebih hot...
"Alah jangan ngomong kalau belum melakukan"
"Iya...ya..kayak sudah pro aja"
"Kalian semua masih amatiran kecuali Ed dan Astrid"
"Habis dong Bella yang imut dapat Ed yang eeerrrrr....
Kembali keduanya terkekeh.
"Eh, tapi bukannya Bella sudah kena sama Ed?"
"Iya, si brengsek itu memaksa Bella waktu mereka masih salah paham"
"Untung gak hamil"
"Sama seperti kamu. Untung gak hamil. Eh sampai sekarang kamu belum hamil juga"
"Belum kepikiran anak?"
"Entah. Aku sendiri masih belajar mencintainya"
"Pria setampan Annelka saja masih berjuang untuk mendapatkan cintanya" Ledek Eva.
"Berarti dia juga hanya pria biasa. Tidak sesempurna yang kalian pikir. Aduh Va, kalau kamu tahu aslinya Annelka. Habis sudah gelar dia sebagai pria luar biasa"
"Memang apa kebiasaannya? Naked di kamar. Itu masih wajar. La kamu apa kabar. Suamimu pasti pusing tujuh keliling dulu. Waktu kamu masih belum bisa menerima pernikahan kalian. Lihat bodi seksi tapi tidak bisa dinikmati"
Kembali Eva meledek Aya.
"Wooo, rasakan dua minggu lagi. Remuk tubuhmu"
"Memang sampai segitunya"
"Gimana enggak remuk. Kalau tiap malam dimintai jatah ....upppsss keceplosan"
Eva langsung terbahak mendengar perkataan Aya.
"Ketahuan sekarang. Kalau tiap malam ngadon"
Wajah Aya langsung memerah. Saking malunya.
"Kau mengerjaiku, Va. Kudoakan Tria ganas dan liar. Biar kau kewalahan"
"Eh jangan dong. Enak juga yang lembut...
"Salah, enak yang sedikit kasar. Agak gimana gitu"
"Sudah pro ternyata...
Aya menggaruk kepalanya. Ketahuan kalau dia juga menikmati sesi panasnya dengan Annelka.
"Tapi kita jelas masih kalah sama Astrid"
__ADS_1
"Yaelah secara dia jendes. Pasti pengalamannya sudah banyak"
"Farris beruntung, gak perlu ngajarin"
Keduanya terkekeh. Kenapa juga keduanya jadi membahas urusan ranjang.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Annelka yang menjemput Aya. Hari ini pria itu membawa mobil sendiri. Karena Uncle Robert sedang tidak enak badan. Sedang Tria sudah dari tadi menjemput Eva. Mereka akan melihat persiapan terakhir dari pernikahan mereka. Bersama dua pasang calon pengantin lainnya.
"Tidak juga. Tria dan Farris juga baru saja pergi"
Keduanya masuk ke mobil. Yang langsung melaju keluar dari rumah sakit milik Farris.
"Mau kemana? Jalan-jalan?"
"Pulang saja. Aku lelah"
"Ay...bagaimana jika kita ke penthouse. Sudah lama kita tidak ke sana"
Aya memicingkan matanya.
"Kenapa harus ke penthouse"
"Mau cari sensasi yang berbeda...
"Ke sana cuma mau ...
"Mau ngapain lagi. Moodbooster itu, Nyonya. Bisa mengobati lelah. Ngusir stress"
"Yahh kalau ke sana cuma mau indehoy. Ngapain jauh-jauh. Di mana saja juga bisa"
Giliran Annelka yang memicingkan mata.
"Kau mengkodeku ya"
"Kode apa?"
"Mau sekarang"
"Ha?" Aya tidak paham dengan ucapan suaminya.
Waktu itu mobil mereka sedang memasuki basement. Annelka memiliki private parking di gedung itu. Satu ruangan khusus untuk mobilnya. Begitu mobil Annelka masuk. Dinding kaca dua arah langsung menutup. Di depan mobil itu langsung terhubung ke lift.
"Maksudmu tadi apa?" Tanya Aya yang malah mendapat tatapan tajam namun teduh dari suaminya. Pria itu sudah melepas seat beltnya.
"Kita bisa melakukannya di sini. Pasti rasanya, sensasinya berbeda"
"Melakukan apa...baru saja Aya bertanya. Dan sebuah ciuman yang menjawabnya
"Bercinta di mobil, Nyonya. Kita belum pernah melakukannya kan?"
"Ann, jangan gila kamu. Ini...
"Private parking. Hanya aku yang bisa mengaksesnya, Ay...
Sejurus kemudian, pria itu sudah mencium kembali bibir istrinya. Langsung ********** lembut. Seketika libido keduanya meroket naik.
Menarik tubuh sang istri ke atas pangkuannya. Dan des**** itu langsung terdengar. Begitu mereka kembali menyatu.
"Annelka kau benar-benar gila!"
Maki Aya. Namun Annelka malah tersenyum. Sebab dia melihat bagaimana sang istri begitu menikmati percintaan mereka kali ini.
***
Gabriel langsung terkejut. Melihat isi flash disk yang dia curi dari brankas sang Paman. Ya, pria yang menyelinap masuk ke ruang kerja Duta adalah Gabriel. Dia sedikit marah. Ketika ada beberapa tuduhan korupsi yang diarahkan kepadanya. Padahal dia tidak merasa melakukan hal itu.
Untung saja Annelka tidak langsung percaya dengan tuduhan itu. Dan memerintahkah untuk menyelidiki lebih dulu.
Dan belajar dari kesalahannya terdahulu. Waktu dia menyebarkan video panas Annelka dan Aya. Yang berujung pada pernikahan keduanya. Dia langsung membuka isi flask disk itu begitu punya kesempatan.
Alangkah terkejutnya Gabriel melihat isi flash disk itu. Yang satu berisi sebuah rekaman CCTV dimana Gabriel melihat dengan jelas bagaimana sang Paman menembak seorang pria dengan tangannya sendiri. Dan memerintahkan anak buahnya untuk melenyapkan yang lain.
"Ini gila! Benar-benar gila! Paman seorang pembunuh" Guman Gabriel dengan wajah pucat dan bibir bergetar. Saking takutnya. Pria itu langsung menekan tombol "Copy" pada laptopnya.
"Siapa mereka? Siapa yang sudah menjadi korban kekejaman Paman. Sekarang apa yang harus lakukan" Batin Gabriel bingung.
Sebab Gabriel tidak mengenali satupun orang di rekaman CCTV itu. Di tangannya sekarang ada sebuah bukti yang bisa membawa sang Paman masuk ke dalam bui untuk waktu yang lama. Bahkan bisa seumur hidup.
__ADS_1
Di tengah kegalauannya itu. Tiba-tiba satu nama terlintas di benaknya. Dia tidak punya keberanian untuk menyerahkan bukti itu ke polisi. Tapi Annelka bisa. Dan itulah keputusan yang Gabriel ambil.
***