
Mobil Deni dan Yanti telah berhenti di rumah dokter Dimas. Mereka turun sambil menatap kearah pintu yang nantinya akan membawa perubahan didalam hidup Yanti. Identitas dan jati dirinya juga akan ikut berubah. Nama dan kartu keluarga bahkan kartu tanda pengenal juga pasti akan berubah.
Sebelum Deni dan Yanti mengetuk pintu, ternyata Vina lebih dulu membuka pintu rumah. Terlihat wajah Vina tersenyum riang melihat Deni. Tetapi kemudian dia berdiri terdiam melihat Yanti muncul dari belakang Deni. Raut wajahnya penuh tanda tanya.
"Kak Deni, kok Kak Yanti bisa datang bareng Kak Deni? Terus dimana Kak Vani-ku?" tanya Vina penasaran.
"Kenapa kamu sampai tidak sekolah, untuk melihat Kakakmu Vani?" Deni balik bertanya.
"Iya, aku bolos demi ketemu Kaka Vani. Kak Deni, ayolah jawab pertanyaan Vina," jawab Vina manja.
"Boleh masuk dulu? Kakak akan berbicara langsung dihadapan pada orangtuamu," jawab Deni sambil tersenyum.
"Silahkan masuk, Kak Deni, Kak Yanti. Papi dan mami sudah menunggu di dalam."
Vina mempersilahkan Yanti dan Deni masuk ke dalam rumah. Vina mengikuti mereka dari belakang dengan beribu pertanyaan. Sebenarnya Vina sangat ingin tahu tetapi coba ditahannya karena memang dia dianggap masih anak-anak. Jadi mereka hanya akan berbicara kepada orang tuanya.
Dokter Dimas dan Bu Winda terkejut melihat Yanti bersama Deni. Ada pertanyaan yang ingin dia sampaikan tetapi Deni segera menjawab apa yang tadi ditanyakan oleh Vina ketika di depan pintu tadi.
"Perkenalkan ini adalah istriku, Yanti," ucap Deni sambil melihat ke arah Yanti.
"Apa Deni, dia istrimu? Kalau begitu Vani adalah dia, benar begitu?" tanya Bu Winda sambil mengerutkan dahinya.
"Jangan bercanda dengan kami, Jika kamu dari awal tahu kalau dia adalah Vani, kenapa kamu tidak mengatakan kepada kami?tanya dokter Dimas.
"Karena, saya pikir saat dia berada di rumah ini, Vani sudah bahagia. Dan saya senang melihatnya bersama kalian, Tetapi ternyata, ada seseorang yang mengaku sebagai Vani dan membuat dia harus meninggalkan rumah ini. Karena itulah saya baru meminta dokter Dimas untuk melakukan tes DNA. Karena waktu itu pun, saya belum yakin benar, jika dia adalah Vani," jawab Deni panjang lebar.
"Kalau benar demikian, Dia adalah Vani. Vani ... anakku, putriku," ucap Bu Winda sambil berdiri dan memeluk Vani.
Yanti menangis dalam pelukan ibunya setelah 14 tahun berpisah, kini mereka bisa dipertemukan kembali. Vina juga tidak mau ketinggalan, Dia ikut memeluk Yanti. Terlebih lagi Dia sangat bahagia karena ternyata Yanti adalah kakaknya Vani yang telah lama hilang.
__ADS_1
Mami Winda mengajak Yanti atau mulai sekarang akan dipanggil Vani untuk berbincang di ruang keluarga. Vina tampak selalu menempel pada Vani yang baru saja ditemukan.
"Kakak, Kakak akan tinggal disini, bukan?" tanya Vina manja.
"Tapi Kakak sudah menikah. Kakak harus tinggal dengan suami Kakak," jawab Vani sambil membelai rambut Vina.
"Mami, Kakak Vani masih sangat muda, kenapa Kakak bisa secepat itu memiliki suami?" ucap Vina terlihat kecewa.
"Vina, jangan ikut campur urusan orang dewasa. Vani, bersediakah kamu menginap di sini beberapa hari?" tanya Bu Winda.
"Mami, aku harus minta izin dulu pada mas Deni. Kalau dia mengizinkan, aku pasti akan menginap disini," jawab Vani sambil memegang tangan maminya.
"Baiklah, nanti Mami akan meminta langsung pada Deni. Oh ya, Mami ingin mendengar cerita kamu , tentang kehidupanmu selama ini. Sama ini kamu tinggal dengan siapa dan di mana?" tanya Bu Winda.
Yanti mulai bercerita dari awal waktu dia diculik dan dia hilang ingatan. Cerita berakhir ketika dia menikah dengan Deni. Bu Winda dan Vina mendengarkan dengan serius dan sesekali menarik napas panjang.
"Vani, kamu tahu, siapa Deni? Maksud Mami, siapa orangtuanya?" tanya Bu Winda
"Kamu tidak marah atau benci padanya?" tanya Mami Winda lagi
"Vani mencintainya, karena itu, Vani memaafkannya, Mami." Vani menatap Mami Winda yang terus menanyakan tentang suaminya.
"Mungkin Mami berbeda denganmu," gumam Mami Winda.
"Maksud Mami?" tanya Vani kaget.
"Tidak apa-apa, Vani. Mami akan bicara pada suamimu, kamu santai saja sama Vina di sini," ucap Mami lalu melangkah keluar ruang keluarga menuju ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, Deni datang menemuinya
__ADS_1
"Yanti, kamu tinggallah di sini beberapa hari. Dan aku akan menjemputmu 2 hari kemudian," ucap Deni sambil memegang tangan Vani.
"Tapi bener, ya, Mas Deni nanti menjemputku?" tanya Vani manja.
"Bener. Kamu juga tidak perlu masuk kerja lagi. Fokuslah di sini bersama keluargamu. Nikmati kebersamaan kalian."
Deni memutuskan meninggalkan istrinya di rumah keluarga kandungnya. Sebenarnya ada perasaan tidak rela, tetapi ini adalah rumah orangtua kandungnya, yang baru saja ditemuinya setelah sekian lama. Deni menepis rasa itu Deni kebahagiaan istrinya.
Esok harinya, Mami Winda meminta Deni menemuinya disebuah cafe. Ada hal yang ingin dia sampaikan kepada Deni. Mengenai keluarganya.
"Mami Winda, hal apa yang ingin Mami katakan padaku?" tanya Deni setelah mereka sama-sama menikmati segelas kopi didepannya.
"Deni, Aku tidak akan berbasa-basi. Aku ingin kamu meninggalkan Vani." Mami Winda berbicara santai tetapi bagi Deni sangat menamparnya.
"Maksud Mami apa?" tanya Deni lagi.
"Ceraikan Vani secepatnya." Mami Winda menatap tajam wajah Deni yang terlihat sangat terkejut dengan permintaannya.
"Mami, kami saling mencintai. Tidak mungkin aku menceraikan Vani. Kami sudah berjanji akan hidup bahagia bersama," jawab Deni sambil memohon.
"Deni, jangan lupa siapa ibu kamu. Selama hidupku, aku tidak akan pernah bisa melupakan apa yang telah dia lakukan padaku dan keluargaku. Aku tetep berterimakasih padamu karena kamu sudah mempertemukan kami dengan Vani. Tetapi itu tidak bisa merubah hatiku," ucap Mami Winda dengan hati penuh emosi.
"Mami, kesalahan ibuku memang tidak termaafkan, tetapi beliau juga sudah menerima hukumannya hingga beliau meninggal. Tidakkah itu sudah cukup, Mami?" tanya Deni sedih
"Tidak, itu tidak cukup. Karena apa yang dia lakukan, membuatku kehilangan putriku. Terus terang Deni, Aku tidak suka denganmu. Jadi sampai kapanpun Aku tidak akan merestui pernikahan kalian."
"Tapi Deni tetap tidak akan menceraikan Vani," ucap Deni tegas
"Baik, kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Silakan, tapi kamu harus ingat satu hal. Aku akan terus berdoa sampai kalian berpisah," ucap Mami Winda lalu melangkah pergi dengan hati kesal.
__ADS_1
Sementara, Deni terdiam sambil menunduk sedih. Pernikahannya tidak direstui oleh keluarga istrinya. Vani pasti akan sangat sedih. Deni juga bingung, apa harus menceritakan semua ini pada Vani atau tidak. Hubungan yang baru saja terjadi antara ibu dan anak dibarengi bayang-bayang perpisahan dia dan istrinya.
Bersambung