
Vani dan Vina bangun agak kesiangan. Menyadari mereka sudah terlambat untuk sarapan, Vina bergegas pergi kekamarnya untuk seger mandi dan turun untuk sarapan. Sedangkan Vani bergegas masuk kekamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Vani langsung turun untuk sarapan. Disana, Mami Winda dan saudara kembarnya sudah selesai sarapan.
"Selamat pagi. Maaf terlambat," ucap Vani sambil berdiri tegak.
"Tidak apa-apa, Vani. Duduklah, dekat Mami. Hmm, dimana Vina?" tanya Mami penasaran.
"Aku datang."
Vina setengah berlari menuju meja makan. Lalu tanpa diminta, dia langsung duduk saja.
"Kalian sarapan dulu, nanti Kak Vano akan mengajak kalian keliling kota Changi," ucap Mami Winda sambil melihat ke arah Vani yang matanya terlihat agak bengkak. Tetapi Mami Winda tidak ingin bertanya terlalu jauh.
"Asyik, ayo Kak Vani, kita makan lalu pergi jalan-jalan," ucap Vina terlihat sangat gembira.
"Iya, Vin. Tapi jangan terlalu terburu-buru, nanti kamu bisa tersedak lho," kata Vani sambil tersenyum kecil.
"Mami, ikut?" tanya Vina
"Mami tidak ikut. Mami capek, mau istirahat saja. Kalian saja yang pergi, Kak Vano pasti sudah tahu tempat mana saja yang harus kalian datangi. Tapi jangan jauh-jauh, karena Mami tidak mau kalian pulangnya kemaleman," kata Mami Winda menasehati.
"Beres Mami, nanti kami usahakan untuk pulang sebelum jam 7 malam ini kami sudah akan kembali," kata Vano pada Mami-nya.
"Mami percaya padamu, Kak Vano. Jaga kedua adikmu dengan baik. Besok Mami dan Vina akan balik ke Indonesia. Jadi Vina tidak boleh terlalu lelah," ucap Mami Winda lagi.
Selesai sarapan, Triple V itu bersiap-siap untuk berangkat. Tujuan pertama mereka adalah Claud9 Piazza. Sampai disana, mereka menikmati suasana penuh kegembiraan hingga mereka lupa kesedihan yang sempat mengusik hidup mereka.
Setelah itu, mereka menuju ke tempat lain disekitar tempat itu. Setelahnya, barulah mereka menuju wisata yang tempatnya tidak terlalu jauh dari Claud9 Piazza.
Setelah perut terasa lapar, mereka pergi makan di Violet Oon. Tempat makan favorit di kota Changi. Mereka memesan makanan yang belum pernah mereka makan sebelumnya. Selesai makan, tubuh lelah dan kenyang, membuat mereka beristirahat sebentar. Setelah itu mereka pergi ke tempat lain hingga menjelang sore.
Karena hari sudah mulai malam, Vano mengajak kedua saudaranya untuk untuk segera kembali pulang. Tepat pukul 6, mereka sudah kembali ke rumah Vano. Hal itu membuat hati Mami Winda tenang. Mereka pulang lebih awal satu jam dari yang dijanjikan Vano.
Malam ini mereka tidur lebih awal karena besok Mami Winda dan Vina harus kembali pulang ke Indonesia. Seperti malam kemarin, Vina kembali tidur di kamar Vani. Tetapi kali ini, mereka memutuskan segera tidur tanpa banyak berbicara.
Keesokan harinya, Mami Winda dan Vina segera bersiap untuk kembali ke Indonesia. Mereka sarapan bersama lalu Mami Winda menitipkan pesan pada Vano.
__ADS_1
"Vano, Mami titip saudaramu Vani. Jaga dan jangan biarkan dia menangis," ucap Mami Winda sambil memegang tangan Vani.
"Siap, Mami. Vano bakalan jagain Vani lebih dari Didi Vano sendiri. Semoga Vani betah tinggal disini," jawab Vano semangat.
"Vani, baik-baiklah tinggal bersama saudaramu. Dia kakak jiga orang yang akan menjagamu," kata Mami Winda pada Vani.
"Vani akan berusaha supaya betah tinggal disini dan tidak merepotkan Vano. Mami tenang saja," jawab Vani sambil memeluk Mami-nya.
Setelah itu mereka berempat segera naik mobil menuju ke bandara. Sesampainya di bandara, Mami Winda berusaha mengingatkan Vano kembali.
"Vani, jaga Vani untuk Mami," ucap Mami Winda sambil memeluk Vano.
"Baik, Mami."
"Vani, jaga diri baik-baik," kata Mami Winda sambil memeluk Vani.
"Iya, Mami."
Vani juga bergantian memeluk Vina dan Vano. Vani menyaksikan kepergian Mami dan Vina meninggalkannya di sini bersama Vano. Setelah mengantar Mami dan Vina, Vano mengajak Vani untuk segera pulang karena Vano harus pergi bekerja.
Hari ini, Vano akan membiarkan Vani beristirahat barang sehari karena mulai besok, Vano kan mendaftarkan Vani kuliah sekaligus magang di perusahaannya. Dan sudah tidak akan ada waktu lagi untuk beristirahat dan bersantai.
Vani berjanji tidak akan memberi kesempatan bayangan mantan suaminya akan mengganggunya selama dia belajar di sini. Vani memaksa hatinya untuk melepaskan semua yang berhubungan dengan Deni. Dengan begitu dia akan lebih bisa fokus meraih mimpi.
Keesokan harinya, Vano mengajak Vani untuk bersiap kuliah. Karena ternyata kemarin, Vano sudah mendaftarkan Vani kuliah di tempat yang sama dengannya meski dengan tingkat yang berbeda. Dengan satu tempat kuliah, Vano berharap akan dengan mudah menjaga Vani seperti keinginan Mami Winda sebelum kembali ke Indonesia.
Hari demi hari telah Vani lalui dengan melakukan berbagai macam kegiatan yang dilakukan mulai dari bangun pagi hingga tidur kembali. Mulai dari magang di perusahaan Nenek, kuliah, dan kursus bahasa Inggris.
Hari itu, Vani dan Vano berangkat bekerja bersama-sama seperti biasanya. Banyak gosip yang beredar diantara para karyawan tentang hubungan Vani dan Vano. Tetapi sepertinya Vano tidak menggubris gosip tersebut bahkan terkesan membiarkan saja. Entah apa yang ada dipikiran Vano saat ini.
Vani duduk dimeja kerjanya dan memulai pekerjaannya. Vani bekerja dengan giat sampai hampir lupa jika hari sudah siang. Hari sudah menjelang siang dan sudah waktunya makan siang. Vani bergegas menuju ruang Vano untuk mengajaknya makan siang.
Vani mengetuk pintu dan tidak menunggu jawaban dari Vano. Dia langsung masuk seperti biasanya. Saat itu dia sangat terkejut melihat seorang wanita tenang merayu Vano. Sepertinya dia bukan wanita dari kota ini. Dia lebih mirip dengan wanita dari Indonesia.
Vano memberi isyarat padanya untuk membantunya melepaskan diri dari wanita itu.
Tanpa menunggu lama, Vani segera mendekati Vano dan melepaskan tangan wanita itu dari tubuh Vano.
__ADS_1
"Sayang, katanya mau makan siang bareng? Ayo kita berangkat sekarang," ucap Vani sambil ganti memeluk lengan Vano manja.
"Kamu siapa? Berani sekali kamu memeluk Vano!" teriak wanita itu yang ternyata adalah mantan kekasih Vano yang bernama Clarisa.
"Sayang, katakan padanya siapa aku," ucap Vina kemudian.
"Clarisa, perkenalkan dia adalah kekasihku. Jadi maaf, jangan ganggu aku lagi. Oke?" jawab Vano benar-benar berusaha membuat agar Clarisa yakin.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin secepat itu kamu melupakan aku," kata Clarisa tidak percaya.
Melihat Clarisa tidak percaya dengan ucapan Vano, Vani memeluk Vano dan membaut Clarisa marah. Clarisa lalu pergi meninggalkan mereka yang kemudian tersenyum lega.
"Akhirnya pergi juga," gumam Vano.
"Vano, kamu masih menyukainya? Seharusnya kalau kamu tidak menyukainya, kamu gampang saja mengusirnya," tanya Vani sambil duduk di depan Vano.
"Begitu sulitnya melupakan sang mantan. Saat ini aku masih dalam posisi ragu-ragu, masih belum bisa move on. Sama seperti kamu," ucap Vano sambil tersenyum pada Vani.
"Aku, apa maksudmu? Aku sekarang baik-baik saja. Kenapa aku diikutkan dalam posisi belum move on?" tanya Vani tidak terima dikatakan belum move on.
"Siapa yang tiap malam menangis, sendirian?" Vano balik bertanya.
"Itu dulu, Vano. Sekarang aku tidak sempat lagi menangis. Lagian, lebih baik waktunya kau gunakan untuk belajar," jawab Vani tidak ingin mengalah.
"Oke-oke, aku yang salah berarti. Ayo makan siang, nanti perut kamu sakit lagi karena telat makan. Aku tidak mau disalahkan Mami jika kamu sampai jatuh sakit," ucap Vano sambil berdiri.
Saat Vina ikut berdiri, tiba-tiba tubuhnya terasa lemah dan kepalanya terasa pusing. Hampir dia terjatuh, untunglah dengan sigap Vano segera menangkap tubuh saudara kembarnya itu. Vano lalu membawa Vani duduk diatas sofa diruang kerjanya.
"Vani, kamu kenapa?" tanya Vano panik.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba kepalaku pusing dan tubuhku agak lemah. Maaf, Vano. Aku tidak bisa menemani kamu makan siang," kata Vani sedih.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Atau kita pesan saja, kita makan disini. Oke, aku akan minta asistenku untuk membelikan sesuatu untuk makan siang kita," kata Vano yang kemudian pergi memanggil asistennya untuk dibelikan makanan.
Tidak berapa lama, makanan datang. Tetapi saat mencium bau makanan itu, tiba-tiba perut Vani terasa mual dan ingin muntah. Vani berlari menuju toilet ditemani Vano. Vano ikut bingung dengan kondisi Vani. Demikian juga Vani. Memang akhir-akhir ini kondisi tubuhnya tidak sebaik dulu. Dia sering merasa pusing dan perutnya kadang suka mual.
Tapi satu hal yang lebih membuat Vani takut. Sudah hampir 2 bulan ini, dia tidak mengalami datang bulan. Hati Vani berdegup kencang menyadari hal itu. Tapi semua belum tentu juga dia hamil.
__ADS_1
Apakah mungkin aku memiliki penyakit? batin Vani.