Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 38. Pertengkaran


__ADS_3

Setelah beberapa hari menginap dirumah orangtuanya, Deni menjemput Vani pulang. Sebelum pulang, dokter Dimas menjelaskan bahwa dokter Dimas akan segera mengurus pergantian identitas Yanti menjadi Vani. Dan mulai sekarang, Yanti akan berubah identitas baru dan memiliki semua hak seperti Vano dan Vina.


Sementara Bu Winda hanya tersenyum tipis saat mereka berpamitan padanya. Bu Winda tidak suka melihat Deni dan Yanti pergi. Tetapi, Bu Winda tidak akan tinggal diam membiarkan Vani putrinya hidup bersama dengan putra dari wanita yang sangat dibencinya.


Deni dan Yanti meninggalkan rumah orangtuanya dan kembali ke rumah mereka. Yanti tampak bahagia. Dia merasa sudah sempurna dalam hidup. Memiliki suami yang baik dan sudah bertemu dengan orangtua kandungnya.


Kehidupan mereka berjalan baik-baik saja sebelum akhirnya, Vani menerima foto-foto dari orang yang tidak dikenalnya. Foto dimana suaminya sedang bersama seorang wanita di sebuah hotel dalam keadaan tanpa baju. Mereka terlihat sedang berbaring sambil berpelukan.


Untuk sesaat, Vani terdiam dan dadanya terasa sesak. Airmatanya mulai menetes perlahan. Dan dia sama sekali tidak menyangka kehidupan pernikahannya akan mengalami ujian yang begitu berat.


Sampai hari itu, dengan hati sedih dan kecewa, Vani memberanikan diri bertanya langsung pada suaminya tentang kebenaran foto tersebut.


"Mas, aku ingin memperlihatkan sesuatu pada pad Mas Deni. Lihatlah sendiri," ucap Vani sambil memperlihatkan foto didalam ponselnya.


Deni terdiam ketika melihat foto diri Aya bersama seorang wanita. Deni panik dan berusaha meminta maaf pada Vani.


"Vani, maafkan aku. Saat itu aku khilaf. Aku ...." Deni tidak bisa meneruskan kata-katanya karena Vani sudah lebih dulu berbicara.


"Tidak. Tadinya aku berharap bahwa Mas Deni akan membantahnya. Dan berkata bahwa itu bukan kamu. Bahwa semua itu tidak benar. Tetapi ternyata, kamu telah mengakuinya. Mas Deni, aku tidak bisa hidup dengan orang yang sudah mengkhianati aku." Yanti menyeka airmatanya dan mencoba bersikap tegas.


"Apa maksudmu, Vani," ucap Deni panik.


"Kita berpisah saja." Selesai berkata begitu, Vani lalu melangkah pergi kekamarnya. Deni berusaha menghentikannya.


"Vani, tolong. Pikirkan sekali lagi. Kita bisa mulai dari awal lagi. Aku berjanji, aku tidak akan mengulangi hal itu lagi. Itu hanya sebuah kesalahan satu malam. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu," ucap Deni panik dan cemas.


"Sudah, Mas, aku tidak mau dengar lagi! Jangan halangi aku atau aku akan berteriak!" ucap Vani kesal.


Dengan hati sedih Vani segera membereskan barang-barangnya. Sementara Deni hanya bisa melihat orang yang dicintainya membencinya. Deni sadar, apa yang sudah dia lakukan, memang sebuah kesalahan. Dan mungkin ini adalah hukuman baginya.

__ADS_1


Vani menghubungi taksi online untuk membawanya pergi. Dia sudah tidak bisa melihat wajah suaminya lagi. Bayangan suaminya bercumbu dengan wanita lain, membuatnya sakit hati. Airmatanya terus menetes dan tidak bisa berhenti.


"Vani, ingat masa-masa indah kita. Kamu tenangkan dirimu dulu. Aku akan menjemputmu saat hatimu sudah tenang," ucap Deni berusaha membuat harapan dihatinya.


"Tidak perlu menjemputku. Aku tidak akan pernah mau kembali," ucap Vani lalu melangkah keluar rumah.


Disana sudah menunggu sebuah taksi yang tadi dipesan oleh Vani. Vani menatap rumah yang pernah memberinya kebahagiaan. Tetapi kini, semua itu telah sirna. Saat Vani masuk kedalam taksi, maka berakhirlah jalinan cinta yang selama ini terjalin antar Deni dan Vani.


Didalam taksi, tangis Vani pecah hingga sang sopir tidak berani bertanya alamat tujuan sang penumpang. Vani berhenti menangis ketika mobil tiba-tiba berhenti.


"Kenapa berhenti, Pak?" tanya Vina kaget.


"Nona, kita sudah 2 kali mengitari jalan ini, tapi nona belum memberitahu alamat tujuan Nona," kata sang sopir taksi.


"Maaf, saya lupa. Ini alamatnya," ucap Vani sambil menyerahkan sebuah kertas berisi alamat rumah Mami Winda


Taksi yang di tumpangi Vani, kembali melaju dijalan raya. Tidak berapa lama, merek sudah sampai di rumah dokter Dimas. Setelah membayar uang taksi, Vani bergegas masuk pekarangan rumah. Vani menghela napas berat sambil berjalan menuju pintu rumah dokter Dimas. Perlahan dia mengetuk pintu dan tidak lama kemudian, bibik membukakan pintu untuknya.


"Ibu WInda pergi bekerja demikian juga dengan pak dokter. Neng Vina juga sedang sekolah," jawab Bibik.


"Baiklah, Bik. Vani ada di kamar. Saat makan siang nanti, Bibik tidak usah panggil Vani. Vani tidak ingin makan," kata Vani lalu pergi kekamarnya.


"Baik, Neng."


Bibik merasa curiga dengan kedatangan Vani. Pasalnya, matanya tampak bengkak seperti habis menangis. Tetapi, Bibik tidak ingin dianggap pembantu yang Suak ikut campur urusan majikan. Bibik pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Vina.


Sementara Vani, merebahkan diri diatas tempat tidurnya. Barang-barangnya juga belum dia tata, dan kopernya masih tergeletak begitu saja di pojok kamarnya. Sakit hatinya membuatnya sangat tertekan. Dia memang mencintai suaminya, tetapi untuk memaafkan sebuah penghianatan, ternyata Vani belum bisa sebaik itu.


Hari mulai berganti malam. Pintu kamar Vani diketuk dari luar, tetapi Vani tidak mendengar karena dia tertidur setelah menangis seharian. Ternyata yang datang adalah mami Winda. Mami Winda, terpaksa masuk tanpa izin dari Vani.

__ADS_1


Mami Winda tampak sedih melihat kondisi Vani. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Vani. Sayangnya, dengan kondisi Vani seperti itu, lebih baik Dia menunggu sampai Vani mau bercerita dan berbagi kesedihan dengannya.


Dibelainya kepala Vani dengan lembut sampai Vani terbangun. Melihat Mami-nya ada di depannya, Vani lalu duduk dan memeluknya erat. Tangisnya kembali pecah.


Melihat kesedihan Vani, Mami Winda mencoba mencari tahu sambil membuat Vani tenang.


"Vani, ada apa, cerita sama Mami. Siapa tahu kesedihanmu bisa berkurang," kata Mami Winda lembut.


"Mami, Vani ingin bercerai," ucap Vani yang membuat Bu Winda kaget.


"Apa, bercerai? Kenapa, Van, coba pikirkan lagi dulu, supaya kamu tidak akan menyesali keputusanmu," kata Mami Winda mengingatkan.


"Vani sudah memikirkan baik-baik, bahkan dengan sadar. Vani tidak akan berubah," jawab Vani tegas.


"Memangnya kalian ada masalah apa?" tanya Mami Winda lagi.


"Mas Deni selingkuh, Mami," jawab Vani dengan nada bergetar.


"Apa, dia selingkuh? Berani sekali dia menyakitimu, Vani. Mami tidak rela, dia menyakiti hatimu, Vani. Mami kecewa padanya. Mami akan memarahinya. Vani, tetapi apakah keputusanmu ini tidak terlalu terburu-buru?" ucap Mami Winda kesal dan marah.


"Tidak, Mami. Vani sangat yakin dengan keputusan Vani. Vani tidak bisa hidup dengan pria tukang selingkuh," jawab Vani sambil mengusap airmatanya.


"Jika kamu sudah yakin dengan keputusanmu, jangan menangis lagi. Jangan perlihatkan sisi lemahmu. Kamu harus tampak kuat dan kamu harus memperlihatkan bahwa dia tidak bisa memperlakukanmu seenaknya. Aku dukung keputusanmu untuk berpisah dengan Deni. Kapan kamu siap mendaftarkan gugatan ceraimu, Mami akan mendampingi sampai akhir," kata Mami Winda memberi semangat untuk Vani.


"Terima kasih, Mami," ucap Vani sambil memeluk Maminya.


Vani merasa nyaman dan terlindungi dengan kehadiran Mami Winda. Selama ini dia tidak bisa berkeluh kesah karena dia dituntut untuk lebih dewasa dan bisa menghadapi apapun seorang diri. Setelah bertemu keluarganya, Vani seperti hendak memuaskan perasaan manjanya pada Maminya.


Mami Winda tersenyum senang dengan keputusan Vani untuk bercerai dari Deni. Mungkin, jika Vani tahu bahwa dia tidak suka dengan pernikahannya dengan Deni, Vani akan kecewa padanya. Tetapi, Mami Winda menyadari, setiap kali dia melihat Deni, dia pasti akan teringat pada Maya, ibunya Deni. Dan itu sangat menyakitkan bagi Mami Winda.

__ADS_1


Bayangan masa lalu yang tidak pernah bisa Mami Winda lupakan, adalah saat peristiwa penculikan Vani. Peristiwa itu telah menyisakan penderitaan yang panjang baginya. Mungkin dari luar, dia terlihat tegar dan kuat menghadapi perpisahan dengan putrinya. Nyatanya bahwa dia masih menyimpan sakit hati dan dendam pada Maya dan anaknya.


Bersambung


__ADS_2