Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Mimpi Mengerikan


__ADS_3

Braakkk,


Suara meja yang digebrak, membuat Ricky sejenak memejamkan mata. Dia jelas tahu kemarahan sang tuan. Karena akhir-akhir ini semua tidak berjalan sesuai keinginan sang tuan.


"Lagi-lagi kau gagal, Rick"


Duta tanpa ragu langsung memarahi sang asisten.


"Maafkan saya, Tuan" Hanya itu yang bisa Ricky ucapkan. Mengingat kalau dia menjawab lebih banyak. Bisa dipastikan tuannya akan semakin marah padanya.


"Kalau begini aku yang akan turun tangan langsung"


Ricky langsung mengangkat wajahnya. Jika sang tuan sudah memutuskan seperti itu. Bisa dipastikan, akan ada nyawa yang melayang.


"Kali ini akan kucabut akar yang selama ini menghalangi langkahku. Aku salah tidak melenyapkanmu sekalian waktu itu"


Guman Duta. Ricky hanya diam saja. Sebab kemarahan tuannya adalah karena kesalahannya. Dia gagal untuk mencelakai Gabriel dan Aya.


***


Ketiga orang itu masih shock dengan identitas Aya yang sebenarnya.


"Istrimu bukan wanita sembarangan, Ann" Ed berguman.


"Aku sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan siapa dirinya. Kita tahu selain traumanya. Dia punya kemampuan yang lebih. Kau tidak lihat soal prestasi akademiknya"


"Yeah, jadi dokter hanyalah sampingannya. Maka itu dia begitu cuek. Sesuka hatinya. Asal dia tidak ada pasien. Dia melakukan apa yang dia suka" Tria menambahkan.


"Aku harus memastikannya pada Farris" Guman Annelka.


Tak berapa lama. Disinilah ia, duduk di depan Farris.


"Ada apa?" Tanya Farris.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu"


"Soal?"


"Soal Aya. Dan juga ini. Aku ingin memastikan dugaanku"


Ucap Annelka sambil menyerahkan black card dengan simbol FA kecil di sisi sebelah bawahnya.


"Dia benar-benar teliti"


"Yah, berarti kau sudah mengetahuinya"


"Aku hanya ingin memastikan"


Farris menarik nafasnya dalam.


"Kau benar. Aya mempunyai bisnis lain. Dan FA Incorp adalah miliknya. Bisnis IT"


Sekarang giliran Annelka yang menarik nafasnya.


"Kau terkejut?"


"Tidak juga. Siapa dia sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Hanya saja bolehkah aku katakan jika aku sedikit...minder...Lihat dia dan lihat aku"


Annelka berucap sambil tertawa.


"Ngaco kamu...setidaknya untuk saat ini kau pantas berbangga hati. Satu-satunya pria, yang membuat dia sedikit bisa dikendalikan"


"Apa dia begitu liar dulunya"


"Bukan liar. Tapi lebih tepatnya pada emosinya. Seperti kau kenal Aya pada awalnya. Dia begitu meledak-ledak. Tidak bisa mengendalikan diri"


"Sekarang pun masih sama. Apalagi kalau sedang marah"


"Kalian marahan?"


"Dia tahu soal aku ingin berpisah dengannya"


Farris memijat pelipisnya.


"Lalu?"


"Dia marah. Apalagi. Dia pikir aku hanya mempermainkannya. Habis manis, sepah dibuang begitu dia mengataiku"


"Memang seperti itu kan. Apa kau tahu yang dia katakan padaku jika dia berpisah darimu?"

__ADS_1


"Apa?"


"Dia bilang akan jadi janda seumur hidupnya"


"Ha?" Annelka melongo.


"Ann, apa kau tidak paham juga"


"Soal?"


"Aya tidak mau berpisah denganmu. Lebih tepatnya, dia mulai bisa menerima dirimu"


Annelka terkejut. Namun tak lama. Senyum manisnya terkembang sempurna di bibir pria itu. Sungguh ini sesuatu yang dia tunggu sejak lama.


"Apa aku tidak salah dengar?"


"Tidak. Hanya saja kau perlu bersabar untuk mendengarnya dari bibir Aya sendiri. Kau tahu kan perempuan. Gengsian" Bisik Farris.


"Kau tahu Ris. Aku bahkan rela menunggu lama asal dia mau tetap di sampingku"


"Kalau kau berpisah dengannya, banyak yang antri untuk mendapatkannya"


"Dan Arash di urutan pertama"


Farris tergelak mendengar hal itu.


"Anak itu masih saja keras kepala. Padahal aku sudah merekomendasikan wanita yang sebelas dua belas dengan Aya"


"Ada yang mirip dengan Aya?"


"Ada. Helena Liu. Putri Rafael Liu. Keduanya dijodohkan. Tapi sama-sama menolak. Padahal bertemu juga belum pernah"


"Helena Liu dari klan Liu?"


Farris mengangguk.


"Benar-benar sebuah pernikahan bisnis"


"Kalau dipikir iya. Padahal kedua orang tua mereka tidak berpikir seperti itu. Rafael sudah terlalu pusing dengan tingkah Helen begitupun dengan orang tua Arash. Mereka ingin Arash segera berkomitmen soal pernikahan. Dan menghentikan para wanita mengejar Arash"


"Wah ternyata kehidupan Arash juga tidak kalah rumit ya"


"Ya begitulah hidup. Kaupun mengalaminya"


"Selamat malam, nyonya Carter" Sapa Arash yang turun dari mobilnya bersamaan dengan Aya.


"Kenapa kau belum pulang?"


"Apa kau juga mengusirku?" Tanya Arash sendu.


"Kau harus menghadapi masalahmu. Bukan menghindarinya" Ketus Aya.


"Dengan menerima perjodohan dengan Helena?"


"Kau belum bertemu dengannya. Bagaimana kau sudah menilai buruk padanya"


"Mereka bilang dia liar. Banyak tingkah. Cerewet...


"Apa aku tidak?" Potong Aya cepat.


Arash langsung terdiam.


"Helena, sebelas dua belas dengan Aya, jika kau ingin mencari duplikatnya"


Satu kalimat dari Farris terngiang di pikiran Arash.


"Pulang dan hadapi dia. Player kok kalah dengan seorang Helena Liu" Cemooh Aya.


Arash kembali terdiam.


"Lalu kau?"


"Jika Annelka dan aku berpisah. Aku akan naik ke Gunung Tianshan. Mengasingkan diri disana"


"Busyet dah. Sampai segitunya" Arash berucap tidak percaya.


Sementara Aya sudah masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Arash yang masih terbengong di teras rumah mewah Annelka.


***

__ADS_1


"Ay...minggu depan ada pertemuan dengan dewan direksi. Aku harap kamu bisa datang" Annelka berucap ketika wanita itu sedang bersantai di kolam renang. Kali ini di rooftop. Menghindari Arash yang ada di lantai satu.


"Hemmm"


Hanya itu yang keluar dari bibir Aya sebagai jawaban.


"Masih marah?" Tanya Annelka gemas. Melihat sikap gengsi Aya.


"Pikir aja sendiri"


"Aku akan mengubah pikiranku. Jika kau mengajakku ke Guangzhou" Bisik Annelka di telinga sang istri. Sengaja pria itu tiduran di satu tempat dengan Aya.


"Mau ngapain ke Guangzhou? Sempit Ann" Keluh Aya.


"Lihat perusahaan istrilah" Jawab Annelka santai.


"Kau...kau tahu?"


"Jika si bujang lapuk itu tidak keceplosan. Aku mana mungkin tahu" Gerutu Annelka.


"Arashh!" Desis Aya.


"Memangnya kenapa kau sembunyikan dariku? Takut aku mengambilnya" Tanya Annelka pura-pura merajuk.


"Ambil kalau kau mau. Aku tinggal numpang hidup" Jawab Aya santai.


"Kau tidak keberatan?"


"Tidak? Paling James yang ogah punya bos kayak kamu. Galak. Tukang paksa. Gak peka. Gak pengertian"


"Eiittt...kamu nyindir aku sebagai bos atau sebagai suami"


"Menurutmu?"


Annelka tersenyum.


"Aku tidak akan mengambilnya. Tapi terima kasih untuk ini. Aku akan membayarnya dua kali lipat"


Annelka mengulurkan black card milik Aya.


"Tidak usah diganti" Jawab Aya santai.


"Tentu saja harus diganti. Kata Farris. Harta suami milik istri. Tapi harta istri bukan milik suami. Aku akan menganut sistem itu"


"Terserahlah" Jawab Aya dingin.


"Ay...sudah dong marahnya"


"Siapa juga yang mulai?"


"Oke...oke aku minta maaf. Aku yang salah. Aku yang mulai. Tapi prinsipku tetap sama. Selama kau tidak bahagia denganku...


"Kita akan berpisah. Aku paham. Jangan diulangi. Aku sudah hafal"


Aya berucap judes.


"Jadi bahagia tidak?"


"Tidak"


"Kalau begitu besok kita berpisah"


"Annelka!"


"Kamu yang membuatku bingung"


"Terserah!"


Aya beranjak dari acara rebahannya. Meninggalkan Annelka yang tertawa melihat sikap Aya yang benar-benar sulit di prediksi.


"Aku akan menunggu sampai kata itu terucap dari bibirmu Ay. I love you" Ucap Annelka sambil memperhatikan Aya yang berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kesal.


***


"Jangan pergi...aku mohon. Jangan tinggalkan aku. Aya..bangun. Buka matamu. Aya...!


Annelka bangun dengan nafas terengah-engah. Dia ternyata tertidur di kursi tempat dia tadi rebahan dengan Aya.


Mimpi buruk apa itu tadi. Kenapa hatinya jadi begitu cemas. Annella mengusak rambutnya frustrasi. Membayangkan mimpi mengerikan yang baru saja dia alami.

__ADS_1


Mimpi dimana dia melihat Aya terluka dengan tubuhnya berlumuran darah. Tidak, dia tidak mau mengingat mimpi itu. Dia tidak mau membayangkan kehilangan Aya. Dia tidak bisa kehilangan Aya. Itu yang jelas.


***


__ADS_2