Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Aaron Xavier Carter


__ADS_3

"Bagaimana kau bisa terdampar disini?" Ed bertanya.


"Kata mereka, mereka menemukanku hanyut di sungai"


"Berarti ada kemungkinan Aya juga begitu" Tria menambahkan.


"Lalu di mana dia?" Guman Ed.


"Lalu kenapa kau baru menghubungi kami?"


"Aku hilang ingatan sebentar. Baru ingat semua semalam. Tidak ada sinyal lagi" Keluh Annelka.


"Itulah masalahnya. Kami tidak bisa melacak keberadaan kalian. Sinyalnya ampun deh. Bahkan James saja angkat tangan jika sinyalnya tidak ada"


"James? Kalian menghubungi James?"


Ed dan Tria mengangguk.


"Mau bagaimana lagi. Dia yang ahli dalam hal seperti itu"


"Kalau Arash sampai tahu. Bisa heboh tu anak Guangzhou"


"James tidak akan memberitahu Arash"


"Tapi Arash juga tidak bodoh"


Ketiganya mendesah kesal. Jika Arash tahu hal ini. Bisa kacau semuanya.


"Kalian mengatakan...hampir menemukan Aya semalam. Bagaimana ceritanya?"


"Aya mengirim e-mail minta tolong pada James"


"Benarkah?" Tanya Annelka. Tria dan Ed mengangguk kompak.


"Aku pikir penculiknya cukup cerdas. Benar-benar selangkah lagi dan kami bisa menemukan Aya.Tapi...


Ed berucap kesal ketika menceritakan itu.


"Aku harap dia baik-baik saja juga kandungannya...ahhh ini membuatku stress" Keluh Annelka.


"Istrinya sedang mengandung" Santi kembali membatin.


"Yah kita berdoa saja. Semoga semua baik-baik saja"


Hening kembali tercipta.


"Bagaimana kecelakaan itu sampai terjadi?" Pada akhirnya Tria bertanya hal yang paling ingin dia ketahui.


"Aku tidak tahu pasti. Apa supir penggantiku ngantuk atau bagaimana. Tiba-tiba mobil oleng. Menabrak pembatas jalan. Lalu nyemplung ke sungai. Aku dan Aya berusaha berenang. Tapi arus sungainya sangat deras. Kami terpisah setelah jatuh dari air terjun di sungai itu"


Annelka mengakhiri ceritanya sambil menarik nafasnya. Dia jelas cemas. Mengingat kondisi Aya.


"Kau sudah ketemu. Sekarang tinggal mencari istrimu. Semoga saja istrimu dan bayinya baik-baik saja"


Semua orang mengangguk mengiyakan. Annelka menatap foto Aya yang ada di depannya.


"Bertahanlah sampai aku datang, Ay"


***


"Faya Ayunda Carter, 26 tahun. Istri dari Annelka Javier Carter. Pewaris WB Group. Pemilik FA Incorp, Guangzhou"


Ben berguman membaca seluruh data tersembunyi tentang Aya. Sungguh tidak menyangka jika wanita yang ada dikamarnya itu adalah seorang milyader. Namun yang lebih menyita perhatiannya adalah foto Annelka.

__ADS_1


Ada kehangatan yang mengalir di hatinya, saat melihat foto Annelka.


"Annelka Javier Carter" Guman Ben.


"Kenapa kau?" Tanya Zaki yang baru sampai dari berbelanja.


"Aku seperti mengenal suami Faya"


Zaki terkekeh.


"Yang benar saja. Kau saja tidak pernah keluar dari sini. Bagaimana bisa kau mengenal orang yang bernama Annelka itu.


Ben termenung. Dia sepuluh tahun hidup di tempat ini. Itu yang dia ingat. Lalu sebelumnya dia hidup di mana. Kenapa dia tidak bisa ingat.


Bahkan Zaki bilang, aku pikir kau turis yang kesasar waktu pria itu pertama kali bertemu dengannya. Zakilah yang menampung Ben sejak sepuluh tahun yang lalu. Dia bertemu Ben yang tengah berjalan luntang lantung seperti orang gila.


Awalnya Zaki tinggal di kampungnya sendiri. Tapi belakangan ini dia pindah. Setelah bisa memiliki uang lebih dari hasil merampok. Mendirikan rumah yang mereka tempati sekarang ini. Kisah perampok yang sukses ya pemirsa 🤣🤣


****


"Fix, Aya diculik" Ed memberikan laporannya pada Annelka. Mereka masih berada di rumah Santi. Karena tidak ada hotel yang bisa mereka tempati.


"Bagaimana bisa?"


"Anggota polisi sudah menyisir area itu. Penduduk sekitar mengatakan kalau rumah itu dihuni oleh dua orang laki-laki. Dan mereka tidak pernah melihat ada perempuan di sana. Dan satu lagi, penduduk sekitar tidak tahu pasti apa pekerjaan dua laki-laki itu. Yang jelas mereka bisa hidup, beli motor"


Annelka semakin frustrasi dibuatnya. Membayangkan Aya diculik membuat dadanya sesak.


"Tapi herannya kenapa mereka belum menghubungi kita jika mereka berniat menculik dan minta tebusan" Ed memberi pertimbangan.


"Ya, kenapa mereka belum menghubungi kita dan minta tebusan. Kecuali mereka menginginkan hal lain"


Annelka menatap tajam pada Tria.


"Menjual Aya mungkin. Istrimu kan cantik, seksi....


"Aarggghhhh"


Ed langsung berteriak ketika Annelka mencekik leher pria itu.


"Katakan lagi!"


"Ann, cukup...kau bisa membunuhnya" Tria berteriak. Menahan tangan Annelka yang semakin mengeratkan cekikannya di leher Ed.


"Annelka!" Satu teriakan dari Tria membuat Annelka melepaskan cekikannya pada Ed. Ed langsung terduduk lemas. Dengan wajah memerah. Nafasnya tersengal.


"Calm down, Bro. Bertengkar tidak akan membawa Aya kembali sekarang"


"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan" Desis Annelka kesal.


"Sorry, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Tapi itu pendekatan paling rasional yang bisa aku pikirkan"


"Aku kubunuh mereka, jika berani menyentuh Aya sedikit saja"


Tak berapa lama, seorang anggota kepolisian yang sudah beberapa hari ini bekerjasama dengan mereka, masuk ke rumah bu Santi.


"Siang semua, ini ada foto wajah pria yang diduga membawa istri Anda" Pria dengan seragam polisi itu menyerahkan dua lembar kertas. Yang langsung Ed terima. Mengamatinya sebentar.


"Zaki, 30 tahun. Ben 31 tahun"


"Ann, pria yang bernama Ben ini,...


Tria menjeda ucapannya. Sesekali bergantian menatap Annelka dan foto Ben.

__ADS_1


"Kalian mirip" Potong Ed cepat.


Annelka mengamati foto Ben.


"Aaroon" Bisiknya pelan.


"Siapa?"


"Dia mirip Aaron, kakakku" Annelka berucap ragu.


"Yang benar saja?" Tria hampir berteriak. Sejurus kemudian, Annelka meraih laptop Ed. Berharap ada sinyal yang mampir ke benda persegi itu.


"Lihatlah...." Annelka membalik laptop Ed. Dan mata dua pria itu langsung membulat. Melihat foto keluarga Annelka versi lengkap.


"Dia benar-benar mirip dengan Aaron" Bisik Ed.


"Foto itu diambil dua minggu sebelum kecelakaan mereka. Aaron yang meminta sebagai kado ulang tahunnya yang ke dua puluh satu" Annelka berucap sendu.


"Lalu bagaimana mereka berdua bisa begitu mirip" Ed berguman sambil mengusap dagunya.


"Ann, apa kau ingat pemakaman mereka?" Tanya Tria. Dan Annelka mengangguk.


"Aku melihat mereka...papa dan mama....Annelka menarik nafasnya dalam....sesak itu kembali memenuhi dadanya...tapi untuk peti Aaron. Mereka melarangnya. Karena kondisinya.....


Annelka tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Pria itu menengadahkan kepalanya. Mencegah bulir bening itu agar tidak jatuh. Mengingat mereka, seperti mengorek kembali luka lama yang sudah sekian lama Annelka coba sembuhkan.


"It's okay, Bro. Jika kau tidak pernah melihat jasad Aaron. Ada kemungkinan, jika yang kau makamkan...bukanlah kakakmu" Ed memberikan pendapat paling logis yang bisa dia pikirkan.


"Berarti ada kemungkinan jika Aaroon selamat. Dan bisa jadi Ben adalah kakakmu, Ann"


"Kau yang tahu jelas bagaimana rupa kakakmu. Kau bisa menilainya sendiri. Sedang kami hanya bisa memandang kalau kalian mirip bisa menjadi saudara" Ed berucap.


"Tapi bagaimana bisa Aaron sampai ke sini? Bukankah lokasi kecelakaan mereka bukan di sini" Tria menyahut.


"Lalu kenapa juga dia tidak menghubungi kalian, jika dia masih hidup" Ed menambahkan.


Mereka kembali terdiam.


"Apa kalian memikirkan apa yang aku pikirkan? Jika Ben adalah Aaron, dia selamat dalam kecelakaan itu. Dia tidak menghubungimu....itu pasti karena...


"Dia hilang ingatan" Jawab Annelka dan Tria bersamaan.


"Seperti kau yang tidak ingat setelah hanyut di sungai. Atau Gabriel yang tidak ingat setelah bangun dari komanya. Aaron mungkin mengalaminya. Semua bisa saja terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin" Kata Ed.


Annelka terdiam. Sepuluh tahun dia menganggap semua keluarganya telah pergi. Tapi hari ini, ada sedikit harapan kalau dia bisa bertemu kembali dengan kakaknya.


"Ini sulit dipercaya" Guman Annelka.


"Tapi kemungkinan itu selalu ada. Lakukan saja tes DNA setelah kalian bertemu" Saran Tria.


"Selamat Bro, istrimu ketemu, bonus kau menemukan kakakmu" Seloroh Ed.


"Tapi semua belum pasti. Aku tidak mau berharap terlalu banyak. Takut aku akan kecewa nanti" Ucap Annelka.


"Itu...kau benar. Oke, sekarang kita harus menemukan dimana mereka menahan Aya. Karena kemungkinan mereka punya tempat persembunyian lain. Selain rumah itu"


Annelka kembali terdiam. Wajah Ben dan Aaron sangatlah mirip.


"Aku akan jadi orang paling bahagia jika itu adalah kamu Kak, Aaron Xavier Carter"


Batin Annelka menatap foto Aaron di layar laptop Ed. Ada kerinduan yang sangat besar saat melihat senyum sang kakak. Dan kini bolehkah dia berharap jika Ben adalah benar kakaknya, Aaron?


****

__ADS_1


__ADS_2