Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

"Kenapa menarikku?" Aya berteriak. Ketika tiba-tiba Ben menarik tangannya. Memakai kaos kebesaran juga celana jeans. Wanita itu hanya bisa pasrah ketika Ben membawanya keluar rumah dari pintu belakang.


"Diamlah. Dan menurut saja" Zaki berucap panik.


"Bagaimana mereka bisa menemukan kita?" Zaki kembali berbicara.


Ben hanya terdiam. Sedikit-sedikit dia melirik ke arah Aya. Yang jelas mulai tersengal dalam pelariannya.


"Mereka? Mereka siapa? Apa mereka sudah datang"


Tiba-tiba Aya berhenti. Membuat Ben ikut berhenti.


"Kenapa?"


"Mereka mau menjemputku kan?" Tanya Aya memundurkan langkahnya.


"Jangan mimpi untuk pulang sekarang" Ben berucap lirih. Aya sudah berbalik ketika Ben meraih tubuhnya. Menariknya kembali untuk ikut berlari bersama mereka.


"Lepaskan aku! Tolong.....Annelka aku disini!"


Ben langsung membekap mulut Aya dengan tangannya.


"Diam kau atau kutinggalkan kau di sini" Ancam Ben.


Aya langsung menatap horor ke sekelilingnya. Dia jelas tidak mau ditinggalkan di hutan ini.


"Sekarang bisa kau diam?" Tanya Ben. Dan Aya mengangguk dalam dekapan juga bekapan Ben. Pelan pria itu melepaskan bekapannya pada mulut Aya.


"Kau berisik. Maka akan kutinggalkan kau di sini. Biar dimakan harimau!" Zaki ikut mengancam. Membuat wajah Aya pucat seketika.


"Jalan" Ben mendorong punggung Aya agar berjalan mengikuti Zaki. Sementara di belakang mereka. Samar-samar terdengar suara sirine mobil polisi.


Ed dan Tria merangsek masuk. Mengikuti beberapa anggota polisi yang lebih dulu masuk.


"Bagaimana?"


"Tidak ada. Mereka sepertinya tahu kita datang"


"Sial!" Ed dan Tria mengumpat bersamaan. Sudah sedekat ini. Dan mereka bisa lolos.


"Mereka baru saja pergi. Sepertinya begitu tahu kita akan datang. Dan jejak mereka mengarah ke belakang rumah"


"Kemana itu?"


"Hutan lindung. Tapi sangat jarang yang masuk ke sana"


Ed dan Tria lemas seketika. Bagaimana lagi mereka harus mencari mereka. Putus asa jelas terlihat di wajah keduanya.


"Dia sudah pergi" Ed menghubungi James.


"Mereka mengarah ke selatan. Tapi hutan itu tidak mempunyai sinyal. Masalahnya itu"


"Lalu Annelka bagaimana?"


"Aku malah belum bisa melacaknya sama sekali" Jawab James dari seberang.


Ed berdecak kesal. Menutup panggilan internasionalnya.


Mereka pulang dengan wajah lesu. Lagi-lagi gagal menemukan Annelka dan Aya.

__ADS_1


***


"Aduhhh"


Aya mengeluh ketika kakinya menginjak ranting pohon yang tajam. Karena Ben main tarik dirinya. Dia tidak sempat memakai sandalnya. Namun Ben dan Zaki seolah tidak mempedulikan ringisan Aya.


"Berapa lama lagi?" Ben bertanya.


"Di depan itu" Zaki menjawab singkat.


Aya tidak paham dengan percakapan kedua orang itu. Sepertinya dua orang itu sudah biasa di kejar-kejar polisi. Aya sibuk mengamati hutan itu. Gelap tapi dua orang itu sepertinya sudah hafal dengan jalannya.


"Hati-hati, ada turunan di depan" Zaki berucap tapi sepertinya tidak di dengar oleh Aya. Hingga ketika Zaki sudah melewati turunan lembah itu. Aya malah terpeleset.


"Annelka!" Teriaknya panik.


"Aarggghhh!" Annelka langsung terbangun dari tidurnya. Nafasnya tidak beraturan. Keringatnya bercucuran.


"Ada apa, mas ganteng?" Ibu Santi masuk ke kamar Annelka.


"Saya sudah ingat, Bu. Siapa saya. Pokoknya saya sudah ingat"


"Yang benar?" Ibu Santi bertanya meyakinkan. Dan Annelka mengangguk yakin.


Aya langsung memeluk tubuh Ben yang juga memeluknya. Pria itu menempatkan Aya dalam dekapannya. Berusaha agar tubuh Aya tidak terluka ketika keduanya berguling di tanah. Menuruni dasar lembah yang becek.


"Aarrgghhh" Ben meringis ketika tubuh keduanya berhenti berguling. Saat sudah mencapai dasar lembah.


"Ben....kau tidak apa-apa?" Zaki bertanya cemas. Ben seketika menggeleng pelan. Lantas mulai melepaskan pelukannya pada Aya.


"Fay...Faya kau tidak apa-apa?"


"Faya Ayunda, namanya" Ben menjawab singkat. Perlahan mulai mendudukkan Aya yang terlihat shock dan pucat.


"Hei, jawab. Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?"


Aya reflek mengusap perutnya. Berharap kandungannya tidak apa-apa. Dalam gelap Aya menggelengkan kepalanya lemah.


"Ayo berdiri kalau begitu. Kita sudah sampai" Ben berucap sambil menarik tubuh Aya untuk berdiri. Dengan Zaki memimpin langkah mereka.


"Kalian akan mendapat balasan yang setimpal. Jika aku bisa lepas dari kalian. Aku jamin itu" Desis Aya kesal bukan main.


"Ya, kita lihat saja nanti"


"Kalian menculikku. Menganiayaku...


"Hei, kami tidak menganiayamu ya...ingat itu" Potong Zaki cepat.


"Kami memberimu makan. Sesuai dengan keinginanmu. Kau selalu tidur di tempat yang enak. Kau itu beruntung kami culik. Kalau penculik lain pasti kau sudah dikurung di gudang. Diikat tangan dan kakinya. Disumpal mulutnya. Apalagi mulutmu yang super cerewet itu" Zaki menggerutu sepanjang jalan. Sampai mereka masuk ke dalam rumah itu. Aya langsung manyun mendengar gerutuan Zaki.


"Ini rumah siapa lagi?" Aya bertanya. Mengeratkan pegangannya pada leher kokoh Ben. Membuat pria itu sejenak melirik ke arah Aya. Saat Zaki tengah membuka kunci.


"Wanita ini punya daya tarik tersendiri"


"Masuklah. Kau bisa membersihkan diri lebih dulu. Bisa kan?" Ben bertanya sambil mengantarkan Aya masuk ke sebuah kamar di lantai satu.


"Baju gantinya mana?" Tanya Aya. Bajunya basah semua. Bahkan mungkin sampai ke pakaian dalamnya. Ben sejenak berpikir. Dia tahu apa yang dipikirkan Aya.


"Pakai yang ada dulu. Besok pagi baru cari"

__ADS_1


"Tapi....


"Jangan protes!" Ben mulai menunjukkan aura dominasinya. Membuat Aya hanya bisa mengumpat dalam hati.


"Menyebalkan" Aya berjalan masuk ke kamar mandi. Setelah lebih dulu, membuka lemari. Mencoba mencari baju ganti. Dan hebatnya ada. Dia menemukan satu set pakaian dalam wanita. Lengkap dengan labelnya. Menandakan kalau itu masih baru.


Sesaat senyum mengembang di bibir Aya. Bisa mengganti baju di saat seperti ini adalah anugerah. Wk...wk..wk, anugerah kata Aya.


"Segarnya" Guman wanita itu. Selesai mandi, mengganti baju. Tinggal rasa lapar yang terasa.


"Aku lapar woi" Teriak Aya dari dalam kamarnya.


"Kau dengar. Ada korban penculikan seperti dia. Kita salah sasaran sepertinya, Ben" Zaki mengeluh. Dua pria itu tengah memasak di dapur. Sepertinya rumah yang ini lebih baik dari rumah sebelumnya.


****


"Annelka.....!" Ed berteriak. Begitu melihat Annelka berjalan keluar rumah Santi.


Senyum Annelka langsung mengembang. Melihat Ed dan Tria berlari ke arahnya sambil membuka kedua tangan mereka. Ketiga sahabat itu langsung berpelukan. Erat seolah sudah lama tidak bertemu.


Begitu Annelka mengingat semuanya. Keesokan harinya, dia meminjam ponsel tetangga untuk menghubungi Ed. Yang nasib baik belum kembali ke ibukota. Begitu Annelka menghubungi. Ed dan Tria langsung meluncur ke tempat pria itu berada.


"Oh my God, aku pikir tidak akan bertemu lagi denganmu lagi, Ann" Ed berucap sambil mengusap air mata di sudut matanya.


"Kau mendoakanku mati" Annelka berucap pedas.


"Habisnya kau lama sekali ketemunya" Tria menambahi.


"Asisten laknat!" Umpat Annelka.


"Bagus Ed. Berarti dia masih Annelka, bos kita" Sahut Tria.


"Kenapa kalian jadi menyebalkan begini sih" Gerutu Annelka. Berjalan masuk ke rumah bu Santi.


Di mana Santi dan ibunya melihat bagaimana tampannya Annelka setelah berganti baju. Juga sosok Ed dan Tria yang berjalan di belakang Annelka.


"Mereka...


"Sahabat saya, Bu" Jawab Annelka singkat. Sementara Ed dan Tria langsung menjabat tangan Santi dan ibunya.


Ketiganya duduk di ruang tamu rumah Santi.


"Bagaimana Aya?" Tanya Annelka. Ed dan Tria saling pandang.


"Semalam kami nyaris menemukannya. Tapi dia berhasil lolos"


"Apa maksudmu lolos?" Tanya Annelka mulai menyalakan laptop yang Ed bawa.


"Aku pikir istrimu diculik"


"Istri? Jadi dia sudah punya istri" Batin Santi dari dapur yang mendengar percakapan Annelka dan teman-temannya.


"Pria setampan dia, tidak mungkin masih single. Apalagi Ibu lihat dia memakai cincin kawin di jarinya" Ibu Santi berucap pelan.


Wajar jika Santi tertarik pada Annelka. Fisik Annelka jelas akan membuat setiap wanita jatuh pada pesonanya.


"Aku bahkan belum sempat mencintainya. Sudah harus aku pupus duluan"


Santi membatin perih. Mengingat kisah cintanya yang selalu berakhir tragis. Selalu saja cinta bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


****


__ADS_2