Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Malangnya Nasibku


__ADS_3

"Kau tahu yang kau lakukan itu keterlaluan?"


"Aku pikir tidak. Aku adikmu, dan aku membantumu membesarkan WB Group"


"Bukankah aku sudah memberimu empat puluh persen saham WB Group. Apa itu tidak cukup bagimu?"


"Aku ingin kendali penuh. Aku tidak ingin dipandang sebelah mata oleh mereka"


"Kendali penuh akan berada di tangan Nicky, kau tahu itu"


"Kalau begitu mudah saja. Singkirkan Nicky, dan aku yang naik"


"Kau sudah gila! Dia keponakanmu. Dia putra kandungku"


"Lalu apa masalahnya?"


"Jangan kau sentuh dia seujung kuku pun"


"Kalau aku tidak mau"


"Kau akan lihat bagaimana aku akan menghancurkanmu"


"Sebelum itu terjadi. Kau yang akan hancur"


"Dooooorr"


"Ahhhhh"


"Ay, kamu kenapa?" Annelka langsung memeluk Aya begitu mendengar suara helaan nafas kasar istrinya.


Wanita itu menutup telinganya. Ketakutan jelas kembali tersirat di wajahnya.


"Papa....


***


"Om, Om Fabian....


Annelka melangkah masuk ke rumah Fabian. Sangat tergesa-gesa. Begitu dia masuk, pria itu langsung memanggil nama ayah Farris.


"Ada apa?" Tanya Fabian, terlihat keluar dari ruang kerjanya.


"Kenapa Om tidak bilang kalau yang membunuh keluarga Aya adalah Paman Duta...


Annelka berucap dalam sekali tarikan nafas.


"Dari mana kau tahu?"


"Jawab dulu!"


Fabian menarik nafasnya, lalu mengangguk pelan.


"Tapi itu baru dugaan. Kami tidak punya bukti yang kuat untuk menjerat Duta Atmaja bahkan setelah 15 tahun kejadian itu"


Annelka mengepalkan tangannya.


"Tapi dari mana kau tahu itu?"


"Satu memori Aya terbuka. Dia melihat papanya ditembak oleh Duta Atmaja di hari itu"


Fabian langsung membulatkan matanya. Annelka mengangguk.


"Semalam dia bermimpi. Tapi aku pikir itu bukan mimpi"


"Itu ingatan alam bawah sadarnya. Jadi hal itu yang membuat dia mengalami trauma hebat. Kematian Papa dan Kakaknya"


"Dia benar-benar harus dihukum"


Annelka berucap marah.


"Tunggu dulu Ann. Ingatan Aya saja tidak akan cukup untuk menyeret Duta ke penjara"


Ucapan Fabian membuat Annelka tersenyum


"Tenang Om. Aku sedang berusaha menjebak Duta...aku harap semua berjalan seperti yang aku rencanakan"


"Maksudmu...memberi umpan pada Duta untuk menggali kuburannya sendiri"


"Aku berharap seperti itu. Juga ada sedikit harapan. Anak buah Ed berhasil melacak mekanik bengkel yang pernah menangani mobil Papaku. Sebelum kecelakaan itu terjadi. Jika benar dia yang sudah melakukannya pada keluargaku dan keluarga Aya. Jangan harap dia akan lolos. Kalau penjara tidak bisa menghukumnya. Akan kuhukum dia dengan tanganku sendiri"


"Aku sedang berpikir untuk menjebak putranya"

__ADS_1


"Tidak Om. Jangan melibatkan keluarganya. Mereka tidak tahu apa-apa soal kejahatan ayah mereka"


"Kau masih berbaik hati pada mereka"


"Tidak juga. Hanya saja, aku berusaha untuk tidak menjadikan orang tidak bersalah sasaran kemarahanku"


Fabian cukup terkesan dengan cara pikir Annelka.


"Aku pikir putrimu benar-benar mendapatkan suami yang sempurna. Meski tukang marah dan kaku"


Batin Fabian sambil tersenyum. Keduanya sudah duduk di ruang tengah. Setelah ketegangan sedikit mereda.


"Sebenarnya Papa Aya sudah menduga, kalau Duta punya niat yang tidak baik pada keluarganya"


"Apa yang terjadi sekarang juga bagian dari rencana Papa Aya?"


"Untuk pernikahanmu dan Aya, jelas Mario tidak ada sangkut pautnya. Tapi soal pembekuan aset, pengelolaan WB Group. Pengawasan pengadilan. Semua adalah tindakan yang Mario ambil begitu dia menyadari Duta bermasalah"


"Jadi Mario, nama Papa Aya?"


"Mario Wibisana dan mamanya, Farida Wibisana. Mereka keluarga yang harmonis. Bahagia juga baik hati. Mario benar- benar membangun keluarganya dari nol dan membimbing Nicky juga Aya menjadi anak yang baik"


Kenang Fabian. Annelka hanya bisa terdiam mendengar cerita Fabian.


"Paman Duta benar-benar keterlaluan"


"Lalu bagaimana denganmu? Kenapa dia juga melakukan hal yang sama pada keluargamu"


"Aku tidak tahu motifnya tapi aku menduga dia juga berniat melakukan hal yang sama"


"Dia serakah sekali"


Keduanya terdiam sejenak. Hingga Annelka tiba-tiba berbicara.


"Aku pikir akan memancingnya keluar"


"Caranya?" Tanya Fabian kepo.


"Tapi mungkin ini akan sedikit membahayakan Om dan mungkin Farris"


"Sebahaya apa?" Tantang Fabian.


Pria itu terkekeh.


"Ann...jika nyawaku bisa digunakan untuk menyeret si bedebah itu ke penjara. Aku rela. Yang penting lindungi Farris dan Astrid. Kau tahu kan, hanya mereka yang aku punya sekarang"


Fabian berucap mantap sekaligus sendu. Annelka seketika tersenyum.


"Tapi aku pikir...kau tidak akan membiarkan kami terluka"


Annelka terkekeh. Fabian tahu rencananya.


"Pengawal bayangan akan siaga mulai sekarang"


"Jadi apa yang perlu aku lakukan?" Tanya Fabian.


***


"Maksudmu apa?" Duta bertanya setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Ada laporan kalau Tuan Carter mulai melakukan proses pencairan aset WB Group"


"Carter? Annelka?"


"Benar"


"Tapi mana bisa? Bagaimana bisa dia mencairkan aset WB Group. Bukankah tidak ada ahli waris yang muncul. Mereka semua meninggal malam itu"


"Tapi kita tidak menemukan mayat Nona Faya"


"Dia pasti sudah ikut mati bersama mereka. Masuk ke dalam jurang" Duta begitu yakin jika anak buahnya membawa Faya pergi bersama mereka.


"Halo...apa kau tahu Annelka mencairkan aset WB Group?"


"...."


"Bagaimana dia bisa melakukan itu?"


"...."


"Fabian Anderson!" Marah Duta.

__ADS_1


"Ricky, jadualkan pertemuan dengan Fabian Anderson" Perintah Duta pada asistennya.


"Sekarang kau mulai menunjukkan taringmu. Hanya karena ada Annelka di belakangmu"


Duta berdecih meremehkan.


***


"Dia pasti akan mulai menekanmu, Tuan Anderson"


"Aku akan bersiap kalau begitu" Kekeh Fabian.


"Om dan kalian semua, kali ini aku tidak ingin kehilangan lagi. Siapapun itu, aku berharap agar kalian selalu berhati-hati"


Annelka menatap semua orang yang ada di hadapannya. Hendra Nasution dan putranya. Tria, Ed, Harris dan Fabian.


"Terutama kau, Marvin. Karena kau yang akan berhubungan langsung dengan orang itu"


"Aku siap dengan resikonya, Tuan Carter" Jawab Marvin, putra Hendra Nasution.


Memang dalam rencana Annelka. Marvinlah yang paling berbahaya perannya. Harus pura-pura baik di depan Duta untuk mencari bukti kejahatan orang itu. Marvin bersedia menjadi umpan untuk membongkar semua kejahatan Duta.


****


"Annelka!" Teriakan Aya membahana di rumah besar itu.


"Ada apa ya, Non?" Bibi Mai bertanya. Melihat sang Nyonya pulang sambil marah-marah.


"Perasaan kemarin mesra-mesra aja. Sekarang kayak perang dunia" Batin Bibi Mai.


"Annelka sudah pulang belum?" Tanya Aya.


"Belum, Non"


Aya mendengus geram. Melangkah masuk ke kolam renang. Tanpa ba bi bu langsung menceburkan diri ke dalam air. Setelah melepas heels lima sentinya.


"Aduuh, kok malah nyemplung utuh begitu" Guman Bibi Mai.


"Non...jangan lama-lama. Nanti kedinginan, masuk angin"


"Sebentar doang Bi. Ngademin kepala"


Namun Aya bukanya menyelesaikan acara berenangnya. Wanita itu malah mengambil pelampung lalu naik ke atasnya.


"Waduuh kalau sudah begitu, sampai nanti malam dia juga betah" Batin Bibi Mai cemas.


Dan benar saja. Sampai malam menjelang. Aya belum keluar dari kolam renang. Masih mengapungkan diri di atas pelampungnya.


"Nyonya sudah pulang ya Bi?" Tanya Annelka begitu masuk ke dalam rumah.


"Sudah Tuan, tapi....


"Kenapa?"


"Dia sepertinya marah. Bertengkar lagi ya"


"Aku memundurkan rencana kami untuk pergi ke perkebunan teh keluarga Aya jadi bulan depan"


"Pantas saja ngamuk"


"Di mana dia?"


"Mengapung di kolam renang"


"Sejak kapan?"


"Sejak pulang tadi"


Annelka menarik nafasnya. Baru juga baikan sudah perang lagi. Tapi mau bagaimana lagi. Dia terlanjur berurusan dengan pengadilan untuk mengurus pencairan aset milik keluarga Aya. Dan proses itu paling tidak memakan waktu satu bulan lebih. Dan Annelka tidak mau ambil resiko meninggalkan proses itu. Sebab dia ingin tahu apa yang akan Duta lakukan dengan tindakannya sekarang.


Ketika dia masuk ke area kolam renang. Dilihatnya sang istri yang mengapung di kolam renang miliknya. Bajunya masih setengah basah. Hingga underwearnya yang berwarna merah terlihat samar.


"Seksi... tapi dijamin kalau malam ini kau puasa. Nyonyamu marah denganku"


Annelka berdialog dengan dirinya sendiri. Merutuki keputusannya menunda rencana liburan mereka.


"Baru juga gencatan senjata. Sekarang sudah perang lagi. Malangnya nasibku"


Batin Annelka nelangsa.


***

__ADS_1


__ADS_2