
Annelka menatap tajam Arash, yang mengajaknya bertemu keesokan harinya.
"Kau benar-benar berani untuk menemuiku" Annelka berucap dingin.
"Aku mengenal dia jauh sebelum dia bertemu denganmu. Jadi untuk apa aku takut padamu" Tantang Arash.
Annelka berdecih kesal.
"Lalu apa maumu?"
"Aku ingin tahu kehidupan pernikahan kalian"
"Kenapa kau berani ikut campur soal urusan rumah tangga kami?"
"Karena yang aku lihat Aya tidak bahagia denganmu"
"Darimana kau tahu? Yang tahu apa yang kami rasa tentu hanya kami. Karena kami yang menjalaninya" Annelka berucap sambil tertawa mengejek.
"Kau tidak tahu siapa Aya. Apa yang sudah dia lalui. Dan apa yang dia miliki" Sindir Arash.
"Aku tahu semua soal istriku. Apa kau meragukanku?"
"Apa kau tahu siapa dia? Selain pemilik WB Group" Uji Arash.
Annelka sedikit terkejut soal pertanyaan Arash.
"Apa yang tidak aku tahu soal Aya?" Batin Annelka sesaat terdiam.
"Siapapun dia, aku akan menerimanya. Baik yang buruk maupun yang baik. Aku menerima dia satu paket. Baik, buruk, masa lalu. Bahkan aku siap merencanakan masa depan dengannya" Jawab Annelka.
Menatap Arash penuh percaya diri. Annelka jelas tidak ingin menunjukkan keraguan di hatinya. Soal perasaan Aya. Sebab pada dasarnya dia begitu sulit untuk melepaskan Aya. Jika yang dia perkirakan benar adanya.
"Bagus jika kau bisa melakukan itu. Tapi jika tidak, aku akan merebutnya darimu. Membawanya pergi"
Dua pria itu saling menatap tajam. Sama-sama ingin menunjukkan siapa yang lebih kuat. Bersamaan dengan itu, Aya menerobos masuk.
"Pergilah ke restoran XX atau akan ada pertumpahan darah antara Annelka dan Arash"
Mendapat pesan dari Farris. Dan Aya langsung melesat keluar dari rumah sakit. Menuju restoran XX. Tempat Annelka dan Arash bertemu.
"Apa yang kalian lakukan? Salah..apa yang kau lakukan pada suamiku" Todong Aya pada Arash.
"Waahh aku terluka, Ay. Bisa-bisanya kau menuduhku melakukan sesuatu pada suamimu" Ucap Arash berpura-pura sedih.
Ciihhh, Annelka berdecih kesal.
"Kalau begitu apa yang kalian lakukan?"
"Kami hanya berbincang sedikit....errrr urusan pria" Jawab Arash.
Sementara itu, Annelka hanya memperhatikan interaksi kedua orang itu. Yang satu jelas menaruh rasa pada Aya. Yang satu terlihat begitu cuek.
"Jangan pernah menemui kami lagi" Aya memperingatkan.
"Tidak bisa. Aku akan di sini untuk sementara waktu. Memantau kalian"
Arash berucap sambil memberi kode akan mengawasi Annelka dan Aya.
"Apa dia sudah gila?" Tanya Annelka ketika mereka sudah berada dalam satu mobil.
"Sedikit..." Jawab Aya.
"Lalu kamu sendiri? Apa kamu ada rasa ke calon pebinor itu"
"Iisshh tidak ada. Aku tidak pernah menyukainya"
"Lalu denganku?"
"Itu....aku masih berusaha"
__ADS_1
"Ay...
"Bisa tidak jangan tanyakan hal itu" Aya menjawab dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tiba-tiba rasa sesak memenuhi dada Aya. Tidak tahu apa sebabnya.
Melihat hal itu, Annelka langsung menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Maafkan aku. Maafkan aku" Annelka berucap sambil merengkuh Aya dalam pelukannya.Tangis Aya mulai terdengar lirih.
"Inilah yang paling aku takutkan. Aku takut menyakiti perasaanmu, Ay" Batin Annelka.
Mengusap lembut punggung Aya.
***
Aya dan Annelka langsung berlari menuju ke kamar rawat Gabriel. Begitu Farris menghubungi kalau Gabriel sudah sadar. Aya sejenak melupakan air matanya yang tadi mengalir tanpa ia tahu sebabnya.
"Bagaimana?" Tanya Annelka setengah terengah-engah. Disampingnya, Aya juga mengalami hal yang sama. Bergelayut di lengan kekar Annelka.
"Dia sadar. Tapi dia mengalami amnesia" Jawab Farris.
"What??!!!" Annelka dan Aya berteriak hampir bersamaan.
"Itu hal yang wajar. Bisa terjadi pada pasien dengan keadaan seperti Gabriel. Apalagi dia juga baru bangun dari komanya"
"Apa itu akan lama? Juga sejauh apa dia kehilangan ingatannya?".
"Berapa lama kita tidak tahu. Sejauh ini dia hanya mengingat Vania. Lain dia masih berusaha mengingatnya"
Annelka menarik nafasnya pelan. Dia harus bersabar lagi rupanya.
Keduanya lantas terdiam.
"Lakukan pengawasan seperti biasa. Jika dia tahu Gabriel sudah sadar. Mungkin dia akan kembali mengincar Briel lagi. Mengingat dia gagal waktu itu. Aku pikir dia tidak akan tinggal diam. Mendengar berita ini" Perintah Annelka.
***
"Dia sudah sadar, Tuan"
"Lalu bagaimana keadaannya?"
"Dia amnesia. Hilang ingatan"
Duta tersenyum. Rupanya nasib, masih berpihak padanya.
"Kali ini kau tidak boleh gagal. Kau membuatku marah hari itu"
"Kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan" Ucap Ricky.
Tiba-tiba ponsel Duta berdering.
"Halo, Marvin...
"..."
"Oh sial!"
Duta menggebrak meja. Bagaimana bisa mereka memberikan hak itu pada Annelka.
"Ada apa, Tuan?"
"Pencairan aset WB Group disetujui. Annelka yang akan mengaksesnya penuh. Sial!"
Ricky hanya diam saja. Dia bersuara, maka kemarahan tuannya akan semakin besar. Pria itu hanya diam, memperhatikan tuannya yang terlihat begitu marah.
***
"Kau menang satu langkah, Ann" Fabian berucap.
"Ini hanyalah awal, Om. Aku pikir dia akan melakukan sesuatu yang sedikit "gila" mungkin. Mengingat dia berani meneror Om waktu itu"
__ADS_1
"Aku sudah kena. Berarti yang lain harus waspada" Kekeh Fabian.
"Semua harus waspada" Farris menambahkan. Yang datang bersama Hendra Nasution.
"Selamat siang semua" Sapa pengacara itu.
"Selamat siang, Hendra"
Pria itu duduk di depan Annelka. Membuka tasnya, lalu memberikan sebuah map.
"Surat penyataan dari pengadilan. Anda diberi akses penuh untuk mengelola aset WB Group. Tentu dengan pengawasan pengadilan"
Annelka menerima surat itu. Lalu menandatanganinya.
"Aku akan membentuk tim untuk mengelolanya. Perkebunan teh. Aku tidak paham dengan seluk beluknya"
"Tapi kau bisa menghandle managemen-nya. Untuk produksi kau bisa memberikan wewenang kepada yang ahli" Saran Fabian.
"Termasuk Om"
"Basicku terapi. Mana bisa nyemplung ke produksi teh" Tolak Fabian.
"Tapi Om adalah orang kepercayaan Mario Wibisana sejak dulu"
"Kami teman. Itu saja. Kau bisa berhubungan dengan orang yang bernama Chairil Smith"
"Pengelola perkebunan yang sekarang"
Fabian mengangguk.
"Juga pria yang bernama Yoga Pratama"
"Pratama?"
"Papa Karen" Farris menyahut.
Annelka langsung mengalihkan pandangannya ke arah Farris.
"Papa Karen adalah salah satu orang kepercayaan papa Aya. Keluarga Karenlah yang merawat Aya sejak kedua orang tuanya meninggal. Juga setelah pulang dari Guangzhou. Karena itu hubungan mereka sangat dekat"
Malam menjelang, Annelka berjalan gontai masuk ke rumah megahnya.
"Aya di mana?" Tanya Annelka sambil menikmati makan malamnya yang sedikit terlambat.
"Setelah makan langsung naik lagi. Katanya tidak ada tuan, tidak seru makannya" Jawab bibi Mai, yang membuat Annelka mengembangkan senyumnya
Selesai makan malam, pria itu naik ke kamarnya. Ketika dilihatnya sang istri yang sudah terlelap di sofa. Wajah Annelka langsung berubah muram. Melihat wajah sembab Aya.
"Apa kamu habis menangis lagi?" Tanya Annelka lirih. Rasa sedih lagi-lagi menyusup di hati pria tampan itu.
"Katakan padaku Ay, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tersenyum. Berapa kali aku melihatmu menangis. Aku tidak sanggup lagi melihatmu bersedih" Guman Annelka menatap dalam wajah Aya.
Semakin hari, semakin bimbang hati Annelka. Rasa cintanya tumbuh semakin besar pada Aya. Tapi dia juga tidak mau egois. Mengikat Aya selamanya jika nyatanya wanita itu tidak bahagia.
"Haruskah aku benar-benar melepasmu?" Tanya Annelka.
"Kenapa kau tidak membalas chat-ku" Satu pesan dari Arash yang Annelka baca ketika ponsel Aya berbunyi.
Dilihatnya, Aya memang tidak membalas satu chat-pun dari Arash. Hal itu membuktikan kalau Aya memang tidak menanggapi perasaan Arash.
Pria itu terdiam. Menatap langit malam dari balkon kamarnya. Setelah memindahkan Aya ke kasur. Membersihkan diri dan mengganti bajunya.
"Pantas saja kau betah disini. Di sini indah" Guman Annelka. Dia baru menyadari kalau mempunyai spot pemandangan yang bagus di rumahnya.
Tanpa dia sadari, Aya berguman pelan dalam tidurnya...
"Aku mencintaimu, Ann"
Satu kalimat yang mungkin akan membuat Annelka melompat saking bahagianya. Namun sayang, pria itu tidak mendengarnya. Annelka sibuk dengan pikirannya sendiri. Yang dari kemarin hanya berisi itu-itu saja. Keraguannya pada perasaan Aya.
__ADS_1
***